23 Nikmatnya Takut dan Rindu
Lalu, dengan apa ia bisa pindah dari derajat kesabaran ke derajat kenikmatan? Dengan pengetahuan yang bagus. Dari apa pengetahuan yang bagus itu?
Kebutuhan hati kepada Allah, kedekatan hati kepada-Nya dan kepada akhirat seakan- akan keduanya dalam jangkauan mata, menjadikan dosa-dosanya yang lalu seperti berada di pelupuk matanya, meletakkan nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya serta nikmat-nikmat yang tak dapat dihitungnya dan tak dapat disyukurinya dengan pernyataan lubuk hatinya, mengagungkan Allah dan kekuasaan-Nya beserta ancaman dan kengerian-kengerian hari kiamat, sebelumnya maupun sesudahnya, seperti alam barzah dan kematian.
Jika hal itu sudah bersemayam dalam kalbunya sementara kalbunya juga sudah tenang dengan hal itu, maka menjadi cerahlah kalbu, makmur kembali setelah mengalami kehancuran, dan bercahaya setelah mengalami kegelapan. Pada saat itu melembeklah sekat-sekat dan beralihlah anggota-anggota tubuh kepada ketaatan. Beban kesabaran pada saat itu telah gugur dan ia menapak derajat ketakutan dan kecintaan terhadap ibadah. Pada titik itu, ia akan mendapatkan kenikmatan yang terkandung di dalamnya. Itulah ibadah yang dilandasi pengetahuan yang bagus.
Ja akan masih seperti itu sampai ketika ditimpa motif-motif keduniawian dan bujukan nafsu yang jika ia condong kepadanya, ia akan terputus dari kenikmatan tersebut dan kembali ke derajat kesabaran.
Ketakutan dan cinta selama sejam lebih baik daripada kesabaran selama berhari-hari. Karena, di dalamnya terkandung ketakutan, cinta, syukur, dan penyesalan (tobat), pengagungan Allah, anggapan kecil terhadap dunia, dan keakraban dengan Allah.
Orang yang berada di derajat (yang tinggi) ini tidak (akan bisa) disusul/diikuti oleh orang yang sering melakukan puasa, banyak shalat, berhaji, dan berjihad. Demikianlah posisi amal jika diiringi dengan pengetahuan yang kuat.
Betapa Derajat Takut dan Cinta Dilalaikan
Ke mana orang-orang yang menginginkan derajat ini? Mengapa perhatian mereka terhadapnya tidak lebih besar dari perhatian mereka terhadap derajat yang lain?
Keberadaan derajat takut dan cinta di tengah derajat-derajat yang lain bagaikan permata di tengah benda-benda lain dan bagaikan mutiara ekstravagansa di tengah ribuan mutiara lainnya. Dalam tingkat ini, hanya ada sedikit orang yang termasuk, tetapi mereka besar. Beberapa hal sulit ditempuh, namun ketika engkau sudah dapat mencapainya, engkau merasakan kemudahan, kesejahteraan, dan kesenangan. Akan tetapi, beberapa hal lain sangat mudah ditempuh, namun kesulitan dan kendala muncul setelah engkau sudah dapat mencapainya.
Kaum awam memperhatikan sesuatu yang mudah-mudah saja, tetapi jika mereka sudah mendapatkan hal-hal yang pahit dan susah, mereka menjadi risau, bingung, dan menyesal. Padahal, sebelum itu mereka begitu terburu-buru untuk mencapai sesuatu yang mudah itu. _ Tidakkah engkau melihat mereka mencari ilmu, tetapi ketika mereka sudah dapat mencapai tahap penggunaan ilmu dan warak, maka engkau tidak melihat
ada yang menggunakannya, bahkan tidak ada pula yang menginginkannya kecuali satu dua orang.
Tidakkah engkau melihat mereka mempelajari keutamaan-keutamaan jihad, lalu jika mereka telah memenuhi syarat untuk wajib berjihad, engkau tidak melihat mereka menegakkannya.
Tingkatan ini sangat sulit dicapai. Engkau tak akan melihat orang yang dapat menempuhnya kecuali satu dua orang dari sekian banyak orang. Karena itulah anggota tingkatan ini jumlahnya sangat sedikit dan pencari tingkatan yang lain jumlahnya sangat banyak. Pasalnya, itulah tingkatan yang memperbudak manusia dan itulah derajat kejujuran sehingga ilmunya dianggap sia-sia. Manusia hanya mau memperbuat sesuatu yang ringan, sedikit tekad di dalamnya, hati kecil yang bersih, sikap diam sesaat, introspeksi diri, menentang hawa, dan memerangi musuh.”
Ketahuilah bahwa rida manusia terhadap keadaannya cukup lemah, sementara ujian selalu menerpanya. .
Pecinta Mendekat Segera
Pecinta akan berjuang menuju kedekatan selama masih hidup. Penakut akan selalu mengalami keselamatan. Ketika ia begitu yakin dengan siasatnya, ia akhirnya menipu diri sendiri dan meninggalkan jejakjejak masa lalunya.
Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih sedikit pada diri manusia daripada kemarahan karena Allah (li Allah), kerelaan karena Allah, kecintaan karena Allah, dan kebencian karena Allah. Yang lebih sedikit dari itu adalah kerelaan dari Allah (‘an Allah), ketundukan terhadap perintah-Nya, penyerahan segala urusan kepada-Nya.
Keselamatan manusia dari kejahatan paling banyak dicapai dengan kesabaran. Pencarian mereka terhadap kebajikan dicapai dengan menyepakati hawa. Manusia tak
bersyukur pada sebagian besar nikmat. Kriteria kebaikan yang paling dekat dengan Allah adalah yang paling berat bagi manusia. Jika manusia menerimanya dengan rasa syukur, maka itu menjadi yang paling dekat dan paling dicintai Allah.
Hamba ini mengharap rahmat Allah dengan kebajikan yang mudah-mudah sama seperti ia mengharapnya dengan kebajikan yang banyak. Dan, ia takut kepada murka Allah dengan dosa-dosa yang mudah sebagaimana ia takut kepada murka-Nya dengan dosadosa yang banyak. Kesukaan yang baik kepada banyak kebaikan tak akan terjadi kecuali pada yang sedikit juga.
Jika engkau ingin memperbaiki urusanmu lalu hal itu terasa sulit bagimu, maka nihilkan seluruh amal tathawwu‘ (yakni ketaatan atau amal keutamaan yang bukan fardu) dan tujukan seluruh konsentrasimu untuk hal itu. Engkau akan dibantu dalam hal itu, insya’ Allah.









One Comment