10 Cobaan dan Ujian
Dunia sebagai Cobaan
Ketahui dan yakini bahwa dunia secara keseluruhan, yang sedikit dan yang banyak, yang manis dan yang pahit, yang awal dan yang akhir, dan segala sesuatu yang berasal darinya, adalah cobaan dan ujian dari Allah Swt. terhadap manusia.
Meskipun cobaan itu banyak, beragam, dan bertingkat, tetapi seluruhnya terangkum dalam dua hal: syukur dan sabar. Apakah manusia itu akan dapat bersyukur atas suatu nikmat atau bersabar atas suatu musibah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya:?(Q.S. al-Kahf: 7).
Allah berfirman, “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain’ (Q.S. Muhammad: 4).
Allah berfirman, “Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian tentang apa yang diberikan-Nya kepada kalian.” (QS, al- An‘am: 165).
Allah berfirman, “Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain.”
(QS. al-Furqan: 20).
Allah berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah ArasyNya di atas air, agar Dia mengujimu siapakah di antara kalian yang terbaik pekerjaannya’” (Q.S. Hud: 7).
Allah berfirman, “Dan Kami pasti menguji kalian semua sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan bersabar di antara kalian dan Kami menguji berita-berita kalian? (QS. Muhammad: 31).
Dalam Alquran masih terdapat lebih banyak lagi ayat serupa. Akan tetapi, ujian untuk Adam as. lebih sedikit dari satu ayat, “Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini.’ (QS. al-Baqarah: 35). Sementara bagimu, semuanya adalah ujian.
Ujian yang Paling Sering
Sesungguhnya penghuni dunia yang paling banyak diuji adalah manusia. Manusia yang paling banyak menjadi ujian bagimu dan paling menyibukkanmu adalah kenalan- kenalanmu. Kenalanmu yang paling menyibukkanmu dan paling banyak menjadi ujian atas dirimu adalah: siapakah engkau di hadapan manusia. Mereka memandangmu dan
engkau memandang mereka, mereka berbincang-bincang denganmu dan engkau berbincang-bincang dengan mereka.
Sesungguhnya engkau adalah orang yang tak dikenal oleh orang sezamanmu dan engkaupun tak mengenalnya serta tidak pula pernah mendengar tentang dirinya. Seakan-akan engkau tidak pernah dicoba karena mereka dan seakan-akan pula mereka tidak pernah dicoba karena dirimu. Seakan-akan mereka bukan penghuni dunia di mana engkau berada di dalamnya.
Pulanglah kepada Allah dalam kesabaranmu, mintalah pertolongan-Nya, berkonsentrasilah kepada-Nya, biasakanlah menyebut nama-Nya, kurangilah teman- temanmu sebisa mungkin, bahkan tinggalkan pula yang sedikit agar engkau selamat, sesuai dengan firman Allah, “Dan Kami jadikan sebagian kalian fitnah (ujian) bagi sebagian yang lain. Apakah kalian akan bersabar dan Tuhanmu Maha Melihat? (Q.S. al- Furqan: 20). Karena itu, jauhilah sesuatu yang bisa menjadi fitnah (cobaan).
Kesabaranmu berpulang kepada kenalan-kenalanmu dan siapa dirimu di hadapan mereka. Karena itu, pandanganmu terhadap mereka dan pandangan mereka terhadapmu adalah sama-sama ujian. Pembicaraanmu bersama. mereka dan pembicaraan mereka bersamamu adalah juga sama-sama ujian.
Penjauhanmu terhadap mereka dan penjauhan mereka terhadapmu adalah juga sama- sama ujian. Penghargaan mereka terhadapmu dan penghormatanmu terhadap mereka adalah juga sama-sama ujian bagimu.
Ambillah pelajaran dari suatu tempat yang engkau lewati dan di situ ada kenalanmu, serta suatu tempat yang engkau lewati dan di situ tak ada seorang pun yang mengenalmu.
Begitu pula halnya dengan syahwat makan dan berpakaian, serta syahwat mata, baik
(terhadap) yang boleh dilihat maupun yang tidak. Di negeri yang tidak engkau mukimi,
engkau bisa selamat dari hal-hal itu. Fitnahnya akan menjauh darimu, insyaa Allah, karena pendorongnya tidak ada lagi. Demikianlah keadaanmu di seluruh permasalahan.
Ujian dalam Amal
Pekerjaan yang sedang engkau lakukan adalah ujian. Bisa saja engkau ingin menarik perhatian manusia—dengan amal itu—sehingga kebanyakan mereka mengetahui kebaikanmu. Karena itu, amal-amalmu adalah ujian.
Jika engkau berhaji lalu engkau seorang diri tanpa orang yang engkau kenal dan mengetahui kebaikanmu, maka itu lebih selamat bagimu. Jika tidak, maka itu adalah ujian, lalu pikirkanlah bagaimana engkau bisa selamat darinya.
Jika engkau keluar dari suatu negeri di mana kebaikanmu dikenal, lalu engkau keluar darinya sedangkan mereka tidak tahu ke mana keinginanmu, maka itu lebih selamat bagimu. Akan tetapi, jika mereka tahu, maka itu adalah ujian, lalu renungkanlah bagaimana engkau selamat darinya.
Demikian halnya dengan peperangan dan ujian orang yang berperang. Ujian dan cobaan mereka dalam peperangan lebih besar daripada ujian yang dialami orang lain yang mengerjakan kebajikan. Sebelum memasuki kancah peperangan, mereka dalam keadaan sehat dan prima, tetapi kemudian ujian datang ketika mereka telah memasukinya, baik berupa saling iri di antara sesama mereka, ketamakan mereka terhadap anak panah yang mereka harapkan, ketamakan mereka terhadap perlengkapan perang, ataupun terhadap apa saja yang dibuat untuk orang-orang yang berperang.
Aku telah mendengar tentang seseorang yang sedang berperang yang sering bersenandung ketika bertemu musuh dan memiliki nama besar di kalangan tentara sukarela (al-mathu’ah). Orang itu berkata, “Kuda-kuda sudah keluar, tetapi aku tidak diizinkan ikut keluar menunggang kuda perang. Mengenai keselamatan, aku senang
mereka selamat, tetapi aku tidak suka jika mereka mendapatkan barang rampasan sedangkan aku tidak berada di tengah-tengah mereka.”
Aku pernah melihat orang yang iri karena orang lain diberi perlengkapan perang yang lengkap; ia tidak diberi sedangkan orang lain diberi, seperti seseorang yang iri kepada sebagian temannya. Aku pernah melihat orang yang berperang, tetapi tidak pernah mendapatkan barang rampasan, dan ia ingin seandainya tidak pernah berperang.
Saudaraku, tidaklah aman setiap orang yang masuk ke dalam pekerjaan duniawi maupun ukhrawi jika dalam pekerjaan itu mereka ditimpa penyakit-penyakit yang merusak. Setan menyerang mereka melalui aibaib dan ujian-ujian seperti ini dan bahkan lebih dari ini.
Karena itu, hendaklah semua orang berhati-hati atas setiap pekerjaan duniawi dan ukhrawi yang sedang ia lakukan. Hendaklah ia selalu merasa diawasi Allah dan hendaklah ia berinteraksi denganNya dengan penuh keikhlasan. Hendaklah ia ingat atas pengamatan Allah terhadap kerusakan hati kecilnya dan pengamatan makhluk atas perbuatannya. Sesungguhnya tukang sapu lebih mulia dari orang yang berpuasa itu, orang yang menjalankan shalat itu, orang yang berperang yang benci jika kaum muslim memperoleh barang rampasan perang bangsa Romawi itu, dan orang yang hanya duduk- duduk dalam rumahnya di Bagdad tapi ingin memperoleh barang rampasan dari mereka itu.
Hati-hatilah terhadap orang yang mendekatimu atau yang engkau dekati sebab orang- orang yang menjauhimu atau yang engkau jauhi pasti akan selamat dari dirimu dan engkaupun akan selamat dari diri mereka.
Nanti, orang-orang itu tidak akan pernah mendengar lagi banyak amal mereka yang secara kasat mata diharapkan bisa mendatangkan banyak pahala dan derajat yang tinggi bagi pelakunya, kemudian mereka iri dan ingin (berandai-andai) seperti orang yang tidak pernah melakukan kebaikan-kebaikan semisal yang mereka lakukan, lalu mereka diperlihatkan Allah sesuatu yang tidak pernah perkirakan.









One Comment