4 Merawat Kalbu
Ikatlah kalbumu, saudaraku, dengan dorongan dorongan akhirat dan tautkanlah dengannya. Jagalah hatimu dari dorongan-dorongan dunia dan ingatan yang mendorong kepada ketamakan dan ambisi tertentu.
Jangan izinkan hatimu ditemani oleh sesuatu (dunia) yang merepotkan bila dicari dan bisa memadamkan cahaya hati.” Jadilah orang yang antusias memadukan antara hati dan tindakan-tindakan terpuiji. Takutilah dirimu dengan hukuman dunia—yang terbayang di benak—dan sedikitnya kemampuanmu untuk bersyukur. Perbanyaklah pengetahuanmu tentang kelemahan syukurmu sehingga jiwamu dihindarkan dari pikiran- pikiran tentang masalah dunia dan hasrat untuk mendapat kelebihan duniawi.
Jika engkau dapat menenangkannya dari ingatan
akan kelebihan duniawi dan membawanya ke tingkat ketakutan terhadap apa yang di depannya, maka engkau akan merasa puas dan rela sekaligus terbebas dari tuntutan dunia dengan ketamakan dan ambisinya. Sehingga, engkau akan kembali ke akhirat dengan antusiasme dan hasrat terhadapnya, karena sesungguhnya nafsu itu dibangun atas dasar ketamakan.
Bahaya Ketamakan pada Dunia
Tempat munculnya antusiasme dan hasrat terletak pada ketamakan, sedang pembinaan jiwa juga didasarkan pada kaidah-kaidah ketamakan. Ketamakan terhadap dunia menjadikan ketamakan sebagai sarana mencari kelebihan dunia. Sebaliknya, Ketamakan terhadap akhirat menggunakan ketamakan sebagai alat mencari tambahan amal akhirat dengan bersikap antusias dan berhasrat padanya.
Seorang bijak ditanya, “Apa wahana ketamakan?”
Sang bijak menjawab, “Kerakusan, ambisi, dan mengedepankan keinginan. Di mana saja nafsu menempati ketamakannya, maka nafsu telah menghadirkan perangkatnya, mengumpulkan alatnya, dan bersungguh-sungguh dalam menuntutnya”’
Jika nafsu berhasil memaksa orang untuk menuruti hawanya, maka ia telah memperbudaknya, melemahkannya, menghinakannya, mengejutkannya, meletihkannya, merampas akalnya, menginjak kehormatannya, mengabaikan harga dirinya, dan memisahkannya dari agamanya. Meskipun ia seorang yang alim, berakal, cerdik, cerdas, fasih, bijak, dan mengerti, tetap saja ia dikotori dan dijatuhkan. Semua jtu mungkin untuknya walaupun orang itu alim dan pintar. Hawa nafsu akan menjadikannya orang yang bodoh, dungu, tolol, dan lembek setelah sebelumnya ja menguasai berbagai ilmu.
Dengan diturutinya hawa nafsu berarti nafsu telah menuangkan sebuah cangkir beracun sehingga membuatnya tergiur. Lalu ia dengan ilmu, akal, pemahaman, serta ketajaman hikmah dan pandangannya menjadi tergiring dan terseret oleh hawa nafsunya.” Ia pun mendapatkan celaan di dunia dari para pemuka dan tokohnya. Ja ditelantarkan dari nikmat Allah dan pandangan manusia yang kritis. Riwayatnya pun berakhir dengan penyesalan yang panjang, baik ketika meninggal dunia ataupun pada hari kiamat.
Agar Jiwa Peduli Akhirat
Jika seorang hamba yang tamak mengalihkan jiwa dari dorongan-dorongan duniawi dan akal yang dikalahkan hawa nafsu, maka dengan sendirinya jiwa akan membawa ketamakannya kepada dorongan-dorongan ukhrawi karena ia memang dibangun atas dasar ketamakan.”
Jika nafsu terbebas dari dorongan-dorongan dunia dan berputus asa dari makhluk, maka ia akan membawa hasrat dan ketamakannya kepada dorongandorongan akhirat. Sehingga, ia bersungguh-sungguh mencarinya, menghindari dunia, menentang hawa nafsu dan setan, serta mengikuti ilmu. Ia menjadi mitra akal dan bersabar atas apa yang menunjukkannya kepada kebenaran sehingga ia selamat dan menyelamatkan.









One Comment