6 Takut dan Mawas Diri kepada Allah
Sesungguhnya maqam paling mulia dan terhormat adalah takut dan mawas diri kepada Allah (muraqabat Allah).Di antara sikap mawas yang terbaik adalah mawas yang dilakukan manusia dengan rasa syukur atas nikmat, pengakuan terhadap keburukan, dan permintaan ampun atas kesalahan, sehingga hatinya terbiasa dengan situasi ini dalam seluruh perbuatan. Tatkala lengah, ia mengembalikannya kepada maqam ini—dengan izin Allah.
Di antara pengertian mawas kepada Allah (muraqabat Allah) adalah meninggalkan perbuatan dosa, melepaskan diri dari kesibukan duniawi, dan senantiasa memiliki perhatian untuk mengevaluasi diri.
Di antara amal hati yang bisa membersihkannya dan amat diperlukan adalah keikhlasan, kepercayaan diri, syukur, tawaduk, penyerahan diri, nasihat, serta mencintai dan membenci karena (berharap rida) Allah.
Sekecilnya nasihat adalah tentang sesuatu yang sulit engkau tinggalkan tapi engkau harus melakukannya. Bila engkau tak mampu dalam hal itu berarti engkau telah bermaksiat atas Allah dengan meninggalkan nasihat untuk hamba-hamba-Nya. Yang
lebih sedikit dari itu: jangan mencintai sesuatu yang dibenci Allah untuk seorang manusia dan jangan membenci apa yang dicintai Allah untuk mereka.
Hal yang kami gambarkan ini merupakan kewajiban atas makhluk yang tidak bisa ditinggalkan walau sekejap pun, dengan hati maupun perbuatan anggota tubuh.
Keadaan lain di atas ini, yang merupakan keutamaan (fadilat) bagi hamba, yaitu membenci apa yang dibenci Allah untuk manusia dan mencintai untuk mereka apa yang dicintai Allah.
Seseorang datang kepada ‘Abd Allah ibn al-Mubarak seraya berkata, “Berilah wasiat kepadaku.” Jawabnya, “Mawaslah kepada Allah.” Maka, orang itu bertanya, “Bagaimana cara mawas kepada Allah?” Ia menjawab, “Hendaklah ia malu kepada Allah.”
Mawas diri dan munajat tergantung pada di mana engkau meletakkan hatimu. Hendaknya engkau meletakkan hatimu di bawah arasy, lalu bermunajatlah dari sana.
Ada dua cara mengembalikan hati kepada mawas diri kepada Allah. Pertama, mengarahkan pandangan sekaligus mengingat ilmu, sesuai dengan firman Allah, “Sesungguhnya Dia Mengetahui apa yang ada di dalam dada.” (Q.S. Hud: 5). Allah juga berfirman, “Dia mengetahui apa yang ada di dalam diri kalian, maka berhati-hatilah terhadap-Nya” (QS. al-Baqarah: 235). Kedua, mengingat keagungan karena adanya kenikmatan.
Diriwayatkan bahwa Allah berwasiat kepada Ibrahim a.s., “Hai Ibrahim, tahukah engkau mengapa Aku jadikan dirimu sebagai seorang kekasih?” Jawab Ibrahim, “Tidak, wahai Tuhanku.” Jawab Allah, “Karena lamanya engkau berdiri di hadapanku.” Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan berdirinya Nabi Ibrahim itu adalah dengan hati, bukan dengan shalat.
Ini sesuai dengan Alquran, “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat? (Q.S. Shad: 46)
Juga dengan hadis Nabi, “Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan hadis
dari Haritsah, “Seakan-akan aku melihat singgasana Tuhanku secara nyata.”?”
Etika Mawas kepada Allah
Amal yang paling tinggi derajatnya adalah jika engkau menyembah Allah dengan gembira terhadap Tuanmu, kemudian dengan penghormatan atas-Nya, kemudian dengan rasa syukur, kemudian dengan ketakutan, dan yang terakhir adalah dengan kesabaran.
Bentuk-bentuk kesabaran adalah beragam, yakni tashabbur, shabr jamil, beralih menuju
ketakutan dan syukur, kemudian menuju pengagungan, dan menuju kebahagiaan.”
Siapa menginginkan sikap zuhud, hendaklah ia menganggap sedikit sesuatu yang dianggap banyak oleh orang lain, menganggap banyak dunianya yang sedikit, menganggap kecil bencana besar yang menimpa dirinya, dan menganggap besar sesuatu yang dianggap kecil oleh orang lain.
Jika nafsumu mengajakmu kepada sesuatu yang memutus kebahagiaanmu, maka buatlah suatu hukum antara dirimu dan jiwamu berupa rasa malu kepada Allah.
Sesungguhnya kaum yang cerdik pandai jika diajak nafsu—dengan tipu dayanya—untuk memutus diri mereka dari jalan keselamatan mereka, maka mereka menyidangkan nafsu mereka kepada rasa malu terhadap Allah sehingga nafsu itu dihinakan oleh hukum rasa malu.
Jalan keluar dari ketertipuan adalah baiknya prasangka hati dan jalan untuk baiknya prasangka hati adalah melakukan apa yang dibenci demi Allah dan membohongi nafsu.
Yang termasuk ketulusan adalah jika engkau senang ketika semua orang lebih baik dari dirimu sendiri.
Diceritakan kepada Ibn al-Mubarak tentang seorang ahli ibadah beribadah tanpa fiqih, ia
langsung berkata, “Seandainya saja antara diriku dan dirinya terdapat sebuah lautan.”
Siapa menjauh dari Allah, maka ia tidak akan pernah bersabar atas manusia. Sedangkan siapa menjauh dari selain Allah, maka ia tidak akan pernah bersabar dari manusia.
Siapa membaca Alquran, maka ucapannya dan ucapan semua orang tak ada artinya.
Hari-hari itu sangatlah singkat, maka apa yang terjadi atas manusia jika ia menghibahkan dirinya kepada Allah?
Ketundukan (tawaduk) untuk Allah adalah rasa hina hati.
Nikmat yang utama adalah mengetahui ilmu tentang bagaimana menjalankan kewajiban yang ditetapkan Allah, kemudian kesehatan dan kekayaan, kemudian akal.
Hamba sedikit pun tak patut menolak hukum-hukum Tuannya. Hendaklah ia rela dengan hukum yang berasal dari Tuannya dan harus bersabar. Karena itu, manusia itu memiliki dua pilihan, yaitu. menerima dengan penuh kerelaan atas apa yang Dia cintai dan menerima dengan penuh kesabaran atas apa yang Dia benci.









One Comment