Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

Celaka Hamba Akibat Kebajikan

Ada pendapat bahwa amal-amal yang menghancurkan manusia adalah kebajikan- kebajikan yang mereka anggap sebagai penyelamat, padahal kebajikan-kebajikan itu adalah penghancur karena telah bercampur dengan sikap ria, suka pujian dari makhluk, mencari kedudukan dengan ketaatan-ketaatan, menegakkan harga diri, cinta kekayaan, dan kecenderungan kepada balasan makhluk.

Ketika mereka berada di hadapan Allah, ternyata Allah menganggap perbuatan mereka sebagai tidak ada, sedangkan mereka tidak pernah merasakannya sama sekali. Itu karena mereka tergesa-gesa menginginkan balasan pekerjaan dari makhluk di dunia sehingga mereka menjadi tercela dan yang tersisa me mang hanyalah cela. Mereka tidak pernah mendapatkan balasan dari perbuatan mereka kecuali seperti orang yang mengejar fatamorgana atau abu (beterbangan).

Bukanlah formalitas amal yang diinginkan, bukan pula hiasan lahiriahnya, tetapi ketakwaan kepada Allah dan apa yang membuat orang menjadi dekat kepada Allah. Andai saja antara manusia dan tiap perbuatan yang menjauhkan dari ketakwaan kepada Allah, juga dari Allah sendiri, sama dengan jarak antara timur dan barat!

Allah bercerita tentang iblis, musuh manusia yang paling keji, “Kemudian Aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka? (QS. al-A’raf: 17). Meskipun sifat iblis yang ada dalam Alquran hanya itu, tetapi manusia hendaklah berhati-hati terhadapnya.

Seandainya engkau melihat sebagian besar manusia niscaya engkau dapati bahwa mereka disiksa karena kebajikan dan sedikitnya perhatian terhadap pembersihan amal, serta penuhnya ruang jiwa dengan cinta pujian dari makhluk.

Kadang-kadang manusia disiksa karena perbuatan dosa, tetapi tanda ujian pada seluruh manusia itu beragam. Sebagian besar manusia hanya mengetahui orang-orang yang diuji dengan dosa-dosa dan mereka tidak mengetahui orang-orang yang diuji dengan kebajikan, kecuali sedikit di antara mereka yang memiliki nur, kecerdasan, firasat, kecermatan, dan kecerdikan.

Hal itu karena orang yang berbuat kebajikan sekaligus menyenangi ujiannya lebih banyak ketimbang orang  yang  menakuti  ujiannya, dan  orang-orang  yang  tidak mengetahui ujiannya lebih banyak daripada yang mengetahui ujiannya.

Ada manusia yang mengetahui ujian dan pembatal amal kemudian ia dikuasai hawa nafsunya. Ada pula manusia yang mengetahui, tetapi perhatian terhadapnya sangat sedikit sehingga ia menjadi lengah.

Ketahuilah bahwa (kalau toh ada) orang yang beramal dan mengetahui penyakit-penyakit yang bisa merusak amal-amalnya, juga memperhatikan diri dan amalnya, sekaligus awas, tidak lengah, serta takut terhadap penyakit, (mereka itu saja) hampir-hampir tidak akan selamat  kecuali yang  berpegang  teguh  kepada  Allah; lalu  bagaimana  halnya dengan orang  yang  tidak  tahu,  lengah, dikuasai  hawa nafsu, dan  senang  dirasuki penyakit?

Bahaya Ujian

Pada masa kita sekarang, dunia dicari secara khusus dengan segala cara, dengan kebajikan maupun dengan dosa. Karenanya, hati-hatilah terhadap seluruh ujian kebajikan dan dosa agar engkau tidak gagal seperti apa yang menimpa orang lain dalam meninggalkan larangan dan menunaikan perintah.

Hendaklah tekadmu untuk melihat cermin pikiran seperti tekadmu untuk beramal, bahkan lebih dari itu. Sejatinya syahwat dosa, kejahatan, makanan, minuman, pakaian, gedung, kendaraan, emas, dan perak tidak lebih berkuasa atas para pemiliknya dibanding dengan

syahwat kehormatan, cinta tahta, membangun kekuasaan, mencari kedudukan, diterimanya perintah dan larangan, terpenuhinya kebutuhan, dan cinta keadilan bagi tetangga, sahabat, saudara, serta pemujian terhadap orang-orang bajik atas kebaikan- kebaikan mereka.

Kadang engkau mendapati orang yang bisa menguasai syahwat dosa sehingga ia bisa meninggalkan dosa dan beralih ke amal-amal kebajikan. Kemudian ia melemah ketika harus menjernihkannya dan ia dikuasai syahwat dalam amal-amalnya. Ia melakukan banyak kebaikan dengan segala kekuatan, kemampuan, rasa dahaga, dan keterjagaan, tetapi ia tidak mampu menguasai syahwatnya ketika harus membersihkan amal- amalnya.” Inna li Allah wa inna ilayhi raji‘un akan apa yang terjadi pada diri kita. Betapa besar bahaya yang menimpa kita dan betapa kita lengah dari bahaya besar.

Waspadai Nafsu dan Tipuan Setan

Ketahuilah bahwa aku tidak pernah memintamu untuk menjauhkan diri dari amal-amal kebajikan karena setiap amal yang tidak engkau kerjakan hari ini tidak akan engkau dapatkan balasannya di kemudian hari. Akan tetapi, aku mengingatkanmu akan tipu daya setan dan hawa nafsumu yang menyeru kepada keburukan (al-ammarah bi al-si’).

Keutamaan Alquran atas kalam yang lain laksana keutamaan Allah atas makhluknya. Allah berfirman, “Maka, jika engkau membaca Alquran, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. al-Nahl: 98).

Allah berfirman, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Q.S. Fathir: 6).

Allah berfirman, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Yusuf: 53).

Allah berfirman, “Demikianlah nafsu membujukku (Samiri)? (Q.S. Thaha: 96).

Allah berfirman, “Yaqub berkata, ‘Hanya dirimu sendiri yang memandang baik perbuatan

(yang buruk) itu. Maka, kesabaran yang baik (itulah kesabaranku).” (Q.S. Yusuf: 83).

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya” (QS. Qaf: 16).

Allah berfirman, “Dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Q.S. Shad: 26).

Allah berfirman, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. al-Qashash: 50).

Allah berfirman, “Dan orang itu menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaan itu melewati

batas.” (Q.S. al-Kahf: 28).

Allah berfirman, “Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka,

sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.’ (QS. al-Qamar: 3).

Masih banyak lagi ayat lain yang menyebutkan tentang sikap permusuhan iblis dan pencelaan nafsu dan hawa.

IBADAH:

LANDASAN IBADAH ITU KERENDAHAN HATI, SEMENTARA KERENDAHAN HATI ITU TAKWA. LANDASAN TAKWA ITU INTROSPEKSI, SEDANGKAN LANDASAN INTROSPEKSI ITU RASA TAKUT DAN BERHARAP. RASA TAKUT DAN BERHARAP MUNCUL DARI PEMAHAMAN TERHADAP JANJI DAN ANCAMAN ALLAH. PEMAHAMAN TERHADAP JANJI DAN ANCAMAN ALLAH MUNCUL KARENA INGAT

BALASAN ALLAH. DAN, INGAT BALASAN ALLAH ITU MUNCUL DARI PENALARAN DAN PERENUNGAN. (AL-MUHASIBI).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker