15 Keyakinan dan Kebanggaan
Keyakinan Sejati
Keyakinan ada tatkala beramal. Keyakinan yang benar adalah mempersaksikan balasan pahala dan hukuman bukan dengan banyaknya nafkah dan banyak bicara. Dalam hal itu, tidak dibutuhkan gerakan kedua bibir, tetapi yang dibutuhkan adalah iman, akal, pengetahuan, dan manajemen lahiriah dan batiniah yang baik.
Engkau mengetahui kejujuran dan mengetahui pula kebohongan sebagai lawannya. Engkau mengetahui kebajikan dan mengetahui pula kejahatan sebagai lawannya. Kemudian engkau berusaha memperteguh kejujuran dan menafikan lawannya. Engkau mengetahui yang pokok (ashl) dari yang cabang (far‘) sehingga kesibukan memperteguh kejujuran menjadi yang pokok dan menafikan lawannya menjadi cabangnya. Sesungguhnya yang pokok akan menghasilkan cabang.
Selama manusia Iebih disibukkan oleh yang cabang ketimbang yang pokok, maka tak akan tersudahi kesibukannya. Selama pokok masih tetap utuh, setiap kali cabang yang satu hilang, maka muncullah cabang lain yang menggantikannya.
Kebanggaan sebagai Biang Penyakit Hati
Senang kepada kebanggaan diri adalah pokok atau sumber. Darinya muncul cinta kekuasaan dan kehormatan di tengah manusia. Darinya juga muncul kesombongan, kecongkakan, kemarahan, kedengkian, dendam, eksklusivitas, dan fanatisme kelompok. Jiwa kita terlalu asyik dengannya dan dialah pusat perhatian jiwa. Kebanggaan diri lebih dicintai jiwa dibanding satu-satunya ibu yang dimilikinya sendiri.
Aku mendapatkan cerita bahwa (kebanggaan) itu adalah sisa (penyakit) terakhir dalam hati orang-orang yang meninggalkan dunia untuk kepentingan akhirat. Hal itu karena amat sulitnya jiwa untuk mengatasinya.
Senjata penyakit hati ini untuk menguasai (menghancurkan) amal saleh para pembaca Alquran yang tidak mantap lagi arif adalah kesombongan diri, kebanggaan terhadap amal, dan penghinaan terhadap manusia.
Kami pernah melihat orang yang beramal saleh seperti shalat, puasa, sedekah, haji, dan jihad, namun kesombongan diri mereka berlebihan. Ya, kami pun pernah melihat orang yang tawaduk karena hasrat berlebih akan kebanggaan. Aku tidak tahu apakah aku pernah melihat ahli ibadah yang bebas dari kebanggaan.
Jika ia merasakan sisa kelezatan makanan, maka ia tidak beruntung dengan kelezatan itu, entah ia seorang ahli ibadah atau zahid. Bagaimana ia akan menjadi zahid sedangkan kezuhudan tidak bersamanya di satu tempat
Siapa berusaha menghilangkan kesombongan dirinya dan diberkati Allah, ia akan dapat menghilangkannya sehingga mudah ia menempuh jalan menuju cinta Allah, arah iman, jalan istikamah, dan rute kaum saleh. Ia juga akan mudah untuk jujur dalam amalnya sehingga jiwanya tenang dalam ketundukan dan kerendahan hati. Selain itu, ia akan mudah menempuh jalan keadilan.
Seseorang tidak mampu mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak mampu menahan kemarahan bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak sanggup menerima kebenaran bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak sanggup bersikap tawaduk yang merupakan hiasan ketakwaan bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak bisa konsisten dalam kejujuran bila dalam dirinya ada kesombongan. Ja tidak bisa menanggalkan kedengkian bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak dapat meninggalkan iri hati bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak dapat meninggalkan sikap fanatik bila dalam dirinya ada
kesombongan. Ia tidak kuasa menyelamatkan hatinya bila dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak kuasa menerima nasihat bila dalam dirinya ada kesombongan. Dan, ia tidak mampu selamat dari penghinaan bila dalam dirinya ada kesombongan.
Betapa banyak bahaya rasa bangga. Betapa besar kerusakannya. Betapa nyata masalahnya. Betapa sedikit manfaatnya. Betapa sering kaum khawas dan kaum awam tergiur dengannya. Betapa sering manusia melalaikannya. Betapa sedikit pengetahuan mereka tentangnya. Dan, betapa kuatnya mereka menuruti rasa bangga.
Hawa nafsu laksana hukum yang dianutnya, keangkuhan laksana saudara dan pendukungnya, sementara kezaliman adalah ajarannya, kemarahan adalah penguasanya, ria adalah pembantunya, ujub adalah pembantunya yang terlemah, kedengkian adalah panglima tentaranya, dan dendam adalah temannya bermusyawarah.
Rasulullah saw. bersabda, “Kesombongan dan kedengkian memakan (pahala) kebaikan- kebaikan seperti api melahap kayu bakar:-’’ Sebagian perawi mengatakan, “dendam dan kedengkian”’.
Pada Siapa Terletak Kebanggaan
Kebanggaan diri di kalangan makhluk adalah sesuatu yang umum, baik kaum budak, kaum miskin, kaum kaya, kaum lemah, kaum kuat, kaum melek agama, maupun kaum ulama. Setiap orang memunculkan kebanggaan diri sesuai dengan tingkat kemungkinan pemunculannya. Orang yang tidak dapat memunculkannya, maka ia akan (bisa saja) berbangga—ketika berinteraksi dengan manusia—secara rahasia dalam dirinya, karena insan sejatinya tidak dapat meninggalkan perasaan bangga diri, baik yang dilakukan secara rahasia maupun secara terang-terangan.
Bagaimana pandanganmu jika orang itu marah kepada orang lain dalam hatinya? Bagaimana ia iri? Bagaimana berkeliling di sekitarnya untuk mencari aibnya? Dan, bagaimana ia menghukuminya dengan hukum hawa nafsu
Kalaulah ia memiliki secara lahiriah apa yang dimilikinya secara batiniah, pastilah ia akan memperlihatkan yang tersembunyi dalam batinnya.
Yang paling buruk, bahaya, dan tercela adalah bila rasa berbangga terjadi pada orang- orang yang melek agama. Pasalnya, ia akan nyaris selalu berbangga kepada orang lain karena faktor-faktor agama. Jika tidak, maka engkau bisa melihat bekas-bekasnya.
Subhana Allah! Apa yang sebetulnya bisa dibanggakan oleh orang-orang yang melek agama dan pembantu-pembantunya?
Hal itu menunjukkan kepadamu betapa cepat mereka merasa dengki. Betapa sering mereka marah kepada diri sendiri dengan berbangga diri serta kepada apa saja yang mereka dapati dari manusia berupa hal-hal yang tidak penting baginya.’ Itu semua bersumber dari penyakit dan gerak bangga diri, hal yang tak boleh dilakukan oleh calon penghuni surga, tidak pula para malaikat dan tidak pula para nabi. Kaum melek agama ingin membolehkan hal itu untuk dirinya sendiri dan hendak menjunjungnya di atas kepala.
Yang patut dilakukan orang yang jujur dalam beragama adalah pertama-tama berusaha memadamkan kebanggaan dari hatinya, kemudian meletakkannya di bawah telapak kedua kakinya. Seandainya seorang laki-laki shalat zuhur kemudian merawat dirinya dan memperbaiki salah satu aspek kesombongan, bukan seluruh kesombongan, kemudian seorang lainnya memberi sedekah emas seberat timbangan dirinyadengan cara yang bagus—kepada orang-orang lapar pastilah orang yang pertama itu lebih patut diirikan.
Nikmat atasnya lebih besar dan terima kasih atasnya Jebih banyak menurut ahli ilmu dan makrifat.
Lantas bagaimana halnya jika ia bangun pagi tanpa memiliki kemauan kecuali perhatian kepada kebanggaan terhadap diri sendiri, pengalamannya, dan pengetahuannya!
Sedangkan yang lain, bangun pagi dengan kemauan dan cintanya untuk memperhatikan masalah penghapusan kesombongan dari hatinya, keteguhan dalam bertawaduk, dan kerendahan diri atas pengalamannya dalam cahaya tawaduk dan pengetahuannya akan faidah-faidahnya.
Berbahagialah bagi orang yang disibukkan dengan kesibukan semacam itu. Betapa bermanfaatnya kesibukan yang ia lakukan. Betapa ia diridai di sisi . Penguasa kehidupannya. Betapa tenang hatinya!!
Ambillah pelajaran mengenai masalah ubudiyah dari kedua orang tersebut. Salah satunya lebih senang menjadikan dirinya laksana seorang hamba sahaya seperti ia diperintahkan, sedangkan yang lain lebih suka menjadikan dirinya selaku raja. Yang manakah di antara kedua orang ini yang berhak memperoleh hadiah dari raja dan siapakah di antara keduanya yang layak mendapat hukuman yang menyakitkan?
Terapi Kesombongan
Anda telah melukiskan tentang sisi negatif, keburukan, dan bahaya kesombongan. Sekarang jelaskan kepadaku cara menghindarinya. Karena, sesungguhnya jika orang sakit sudah mengetahui penyakitnya, maka ia ingin selanjutnya mengetahui obatnya. Demikianlah, siapa ingin mengetahui aib dirinya, maka ia ingin pula untuk mengetahui cara memperbaiki aibnya itu.
Sesungguhnya Bani Adam diberi tugas menurunkan burung dari udara, lalu ia bisa menurunkannya. Ia ditugaskan untuk mengeluarkan ikan besar dari lautan, ia dapat mengeluarkannya. Ia ditugaskan untuk mengeluarkan emas dan perak dari perut bumi, ia sanggup mengeluarkannya. Ia ditugaskan untuk mengambil hewan melata, hewan ternak, hewan liar, dan hewan buas dari daratan-daratan dan hutan-hutan, ia pun mampu menundukkan dan menguasainya. Ia ditugaskan untuk mengambil ular berbisa dan ular
kecil, maka ia kuasa mengambilnya. Ia ditugaskan untuk mengungguli setan, maka ia bisa mengunggulinya. Ia ditugaskan untuk mengetahui bintang-bintang di langit beserta nama-namanya, titik edarnya, titik munculnya, dan titik terbenamnya. Ia juga ditugaskan untuk memahami rumah matahari dan bulan beserta titik edar, titik terbit, dan titik terbenamnya. Ia juga ditugaskan untuk mengetahui tentang anak yang tidak memiliki orang tua, ia dapat mengetahuinya. Ia diberi tugas untuk mengetahui penyakit orang sakit dan sebab-sebab penyakitnya dengan melihat air kencing (urine) tanpa melihat kepada orangnya, ia pun sanggup mengetahui penyakitnya sekaligus obatnya.
Ia diberi tugas untuk mempelajari perjalanan sejarah raja-raja pada abad-abad pertama, ia mampu mempelajari dan menulisnya.’
Segala hal yang ditugaskan kepadanya sebenarnya membawa dirinya menuju tanggung jawab untuk mencari tambahan duniawi dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan masalah agama.
Ia ditugaskan untuk meluruskan dirinya yang satu, tetapi ia tidak pernah melakukan pelurusan, sementara tidak ada kewajiban atasnya untuk memperhatikan kerusakan orang lain. Ia tidak pernah ditugaskan kecuali untuk memperbaiki kerusakan dirinya sendiri, tetapi ia sendiri tidak pernah melakukan perbaikan itu. Karena itu, ia hanya tahu sebagian bentuk kesalehan. Apa yang tidak diketahuinya, maka tetap saja ia tidak mengetahuinya tanpa usaha untuk mengetahuinya. Kerusakan diri yang ia ketahui, ia lupakan untuk diperbaiki.
Seseorang tidak pernah dibebankan untuk berpuasa, menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji, berwuduk, dan bersuci karena orang lain. Bahwa dirinya dibebani tak ada kaitannya sedikit pun dengan kesalehan orang lain. Kesalehan dan ketakwaan seseorang adalah untuknya sendiri dan tercatat dalam timbangannya, tidak sedikit pun berada dalam timbangan orang lain.
Demikian pula halnya dengan niat dalam peker. jaan. Niatku tidak bermanfaat untuk pekerjaanmy dan tidak pula niatmu akan bermanfaat untuk pe. kerjaanku kalaupun niatnya benar, serta tidak akan membahayakan kalaupun rusak. Manfaat dan bahaya niat kembali kepada si pemilik niat dan pemilik amal. Jiwa itu tunggal, jika ia menjadi persoalan psikologis baginya, berarti ia tidak mampu membedakan kebaikannya dari keburukannya dan tidak pula bagian depannya dari bagian belakangnya.
Ia berbuat tanpa mengetahui apakah ia berada di depan atau di belakang kecuali dengan penampakan amal dan klaim. Ia tidak tahu untuk apa ia bekerja, untuk kepentingan dunia atau kepentingan akhirat. Ia tidak dapat membedakan antara kedua hal itu. Ia tidak dapat memeriksa keinginannya dalam bekerja, cintanya terhadap pekerjaan, dan ketakutannya dalam bekerja. Ia tidak dapat memahami pekerjaan, dan tidak dapat menelaah hatinya, karena itu, ia telah merusak kebaikan dengan kejahatan, tetapi ia tidak merasakannya.
Secara lahiriah ia maju, tetapi secara batiniah mundur. Secara lahiriah ia mendekat kepada Allah, tetapi secara batiniah menjauh dari-Nya.
Subhana Allah!! Adakah pengetahuan yang dibebankan pada manusia yang tidak membuatnya sibuk memperhatikan dan memahaminya? Hanya orang bodohlah yang menyia-nyiakan pengetahuan yang telah dibebankan kepadanya dan diambil janji darinya.
Kejahatan dan kerusakan masuk ke dalam dirinya, tetapi ia tidak tahu dari mana masuknya, dari mana ia mendatanginya, bagaimana keadaannya, apa jalan keluar darinya, sehingga akhirnya ia tetap saja linglung dan bingung. Padahal, ia telah melampaui udara dan lautan. Maka, ia mengenali keburukan itu karena sesuatu yang menyibukkannya, berupa hal-hal keduniawian yang dibebankan Allah kepadanya sesuai kemampuannya, dan Dia jamin kecukupannya—entah ia peduli dengannya atau tidak.
Kemudian orang itu dikuasai oleh keinginan untuk berkreativitas dan nafsunya. Seandainya ia memberi perhatian terhadap pengetahuan mengenai kerusakan,
kesalehan, kebaikan, dan keburukan dirinya, serta diikuti oleh ketakutan terhadap kerusakannya, sebagaimana ia memperhatikan urusan dunia yang kami sebutkan dan menjadi tanggung jawabnya, niscaya ia akan tahu tentang kerusakan dan kesalehannya seperti ia tahu tentang makna duniawi. Ia mampu untuk hal itu. Tetapi, ia rela menempuh jalan agama dengan penuh kebodohan. Sebaliknya, ia tidak rela menempuh jalan dunia kecuali dengan ilmu dan kritisisme. Kapan pun engkau mau, maka engkau akan melihatnya berada di jalan dunia sementara ia menyangka dirinya berada di jalan akhirat.
Bersamaan dengan itu, sejumlah orang yang menjauh dan menyimpang dari Allah telah menganggap diri mereka sebagai ulama dan penunjuk atas Jalan Allah. Padahal, mereka adalah orang-orang yang bingung, mengada-ada, dan dikuasai keragu-raguan sehingga kaum yang bodoh mengira mereka orang, orang yang dapat memberi petunjuk sedangkan mereka sendiri buta dan bingung. Kita hanya bisa mengucap: inna li Allahi wa inna ilayhi raji‘an.’”
Kesombongan dan kebanggaan diri suatu ha) asing yang datang kepadamu sehingga engkau menghindarkan diri dan menjauh darinya. Akan tetapi, kesombongan itu merupakan suatu hal yang telah menguasai dirimu. Kesombongan itu mampir dan menguasai rumah, duduk di tengah-tengah majelis, mengambil segala kebaikanmu, menguasai tempat terbaik dalam dirimu, bersandar di atas sandaran kursinya, dan menggunakan pembantu-pembantunya untuk hal-hal yang sesuai dengan keinginan hawa nafsunya baik ketika pulang maupun ketika pergi.
Aku tidak ingin berpanjang lebar tentang sifatsifat derivatif (furii’) sehingga engkau menjadi jenuh dan menjauh. Akan tetapi, aku menunjukkanmu sumber (ashl) yang jika dapat engkau atasi, maka akan berpengaruh terhadap seluruh ranting-ranting (furit’)nya. Yaitu, keputusasaan karena makhluk, entah mereka membahayakan atau memanfaatimu, memberi izin atau mencegahmu, menghidupkan ataupun mematikanmu. Hendaklah hatimu konsisten sebab hati adalah sumber segala sumber dan pokok segala permasalahan.
Jika engkau seorang murid sejati yang senang melihat akibat berbagai persoalan, maka tutuplah pintu ketamakan dirimu lalu bukalah pintu keputusasaan dirimu dan menyendirilah untuk hal itu dengan segaja keinginanmu serta menyendirilah pula dalam mencarinya, seperti orang yang tidak memiliki apa pun kebutuhan duniawi kecuali satu kebutuhan.
Bertekadlah dengan benar bahwa engkau akan menyerahkan dirimu kepada Allah pada sisa usiamu—jika engkau memang memandang-Nya layak untuk hal itu. Subhdna Allah, betapa Tuhan Maha tidak membutuhkan penghuni langit dan bumi, serta betapa kebutuhan mereka terhadap Tuhan begitu mendesak.
Saudaraku, jadikan dirimu laksana seorang tawanan di tangan ahli zamanmu pada masa hidupmu dalam mengikuti kerelaan Allah dan terlepas dari cobaan kebanggaan. Sesungguhnya tawanan itu adalah orang yang dimiliki, bukan orang yang memiliki, tidak berambisi untuk mezalimi siapa pun, dan tidak pula dapat memenangkan diri dari seorang yang zalim. Setelah itu engkau akan merasakan manisnya zikir dan lezatnya munajat dalam ibadah kepada Allah.
Aku hanya mengatakan kesimpulan kepadamu seperti ini: keluarkan dan iris kesombongan dari hatimu dengan keputusasaan terhadap manusia karena kepu. tusasaan seperti itu akan mengembalikanmu kepada Allah. Kembalimu kepada Allah adalah ketenangan hatimu kepada-Nya. Ketenangan hatimu kepada-Nya menumbuhkan ketaatan kepada-Nya dan menyampai. kanmu pada derajat hamba-hamba-Nya yang khawas, Pencapaianmu menuju kaum khawas akan menurun. kan derajatmu di mata hamba-hamba. Pencapaian derajat kaum khawas juga akan mengantarmu pada pencapaian kehormatan ubudiyah. Pencapaian kehor. matan ubudiyah akan menundukkan hatimu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga, Dia akan memuliakanmu berkat ketaatanmu dan engkau akan tunduk kepada-Nya. Dia juga akan memuliakanmu berkat ibadahmu. Allah berfirman, “Keagungan itu milik Allah, milik rasul-Nya, dan milik kaum beriman’? (Q.S. al-Munafiqun: 8). Allah juga berfirman tentang orang yang tercela
karena kesombongan, “Demikianlah Allah mencetak atas setiap hati orang yang
sombong dan pemaksa” (Q.S. Ghafir: 35).
Bagaimana rmembedakan antara dua kebanggaan itu?
Kebanggaan yang tercela akan menjauhkan dirimu dari taat kepada Allah dan kebanggaan yang terpuji akan menambah kepatuhanmu terhadap-Nya.
Ketahuilah bahwa masalah akan meluas jika berakhir di kesempitan dan itu tidak lain dari memutus ketamakan dan menggunakan keputusasaan (terhadap makhluk). Jika engkau telah berada di lembah roh, ketenangan, dan kebahagiaan, lalu engkau dapat menikmatinya bersama orang-orang yang termasuk dalam tingkatan zikir (mengingat Allah), dapat merasakan manisnya munajat, dan dapat menangis karena takut kepada- Nya, maka engkau akan dapat pula merasakan manisnya keyakinan, kebahagiaan rida, ketenangan penyerahan diri, dan ringannya beban diri sehingga akhirnya engkau bisa melihat kepada orang yang tersiksa dan terkungkung dalam jeratan kebanggaan diri.
Ketika itu aku mengucapkan salam sejahtera. Engkau berada di pagi dan sore hari dalam keadaan tidak bersedih dan berduka kecuali yang berkaitan dengan masalah akhirat. Allah melihat tekad dan kemauanmu dalam satu lembah, sedangkan manusia yang tidak melihat tekad dan kemauanmu berada di lembah yang lain.[]
DOSA:
Meremehkan dosa kecil adalah pangkal bagi dosa besar. Awalnya adalah kehati-hatian, kemudian menjadi ketidaksengajaan, kemudian menjadi dosa kecil, dan akhirnya menjadi dosa besar.









One Comment