28 Untaian Petuah Ringkas
Siapa tidak mengetahui sesuatu pada dirinya yang datang dari Allah, hampir dapat dikatakan bahwa ia tidak mengetahui apa yang muncul dari dirinya pada (untuk) Allah. | Ketahuilah saudaraku, siapa menaati Allah tetapi tidak pernah takut kepada-Nya, berarti ia telah menaati-Nya dalam amal tetapi telah durhaka kepada-Nya dalam meninggalkan ketakutan. Lalu bagaimana dengan orang yang durhaka kepada-Nya sekaligus tidak takut kepada-Nya?
Andai engkau tidak pernah mengambil sesuatu dari dunia kecuali (sebagai) bekalmu, padahal engkau tidak pernah meniatkannya untuk mendambakan Allah, maka Allah akan memutus hubungan denganmu. Pun, andai engkau meninggalkan bekal duniamu, sedangkan engkau tidak pernah meniatkannya untuk mendambakan Allah, maka Allah memutus hubungan denganmu.”
Andai engkau memikirkan dua hal tentang Allah, niscaya engkau melihat-Nya dengan rasa syukur yang besar kepada-Nya. Dalam hal ini, Dia tidak pernah menjual tiket ke surga dengan syarat engkau tinggalkan kebutuhanmu di dunia. Pun, Dia tidak pernah menjual tiket ke neraka dengan syarat engkau penuhi kebutuhan duniawimu.
Kenalilah nikmat, tentu engkau termasuk ahlinya (orang yang sanggup “merasakan’- nya—peny.). (Karena) sesungguhnya binatang tidak dapat mencium bau wewangian misik meskipun dekat lubang hidungnya.
Jadilah pembela kebenaran, tentu kebenaran akan mencintaimu.
Jadikan dirimu pengikut di jalan petunjuk. Jangan jadikan dirimu komandan menuju jalan kesesatan.
Waspadailah syahwat yang tidak abadi dan penyesalan yang tidak fana.
Temanmu hari ini adalah temanmu kelak di kuburmu. Amalmu saat ini adalah amalmu kelak. Karena itu, lihatlah siapa temanmu dan apa amalmu?
Ingatlah Allah selalu saat bergejolak nafsumu, niscaya Allah memedulikanmu tatkala engkau berjumpa dengan-Nya.
Berlindunglah kepada Allah dari suatu perbuatan yang secara lahiriah adalah ketaatan,
tapi secara batiniah adalah kemaksiatan.”!
Kebenaran tidak akan pernah meninggalkan kesenangan bagi pelakunya, sedangkan kebatilan tidak akan pernah menyisakan pahala akhirat bagi pelakunya.
Siapa mengetahui apa yang di hadapannya, maka apa yang ada di tangannya menjadi
hina baginya.”
Jika disempurnakan pengetahuan orang tentang dunia, maka ia akan heran terhadap para pemiliknya. Pun jika ia buta tentang pengetahuan akhirat, maka ia akan takjub terhadap para pemiliknya.
Siapa (betul-betul) mengenal dunia, ia akan memutuskannya, dan siapa belum mengenal dunia, ia akan mengabdi untuknya. Siapa mengenal akhirat, ia akan mengabdi untuknya, dan siapa belum mengenal akhirat, ia akan memutuskannya.
Sedikit-dikitnya manfaat syahwat (keinginan) bagimu di dunia adalah sesuatu yang paling berbahaya bagimu di akhirat. Sedikit-dikitnya syahwat akhirat yang menjadi bebanmu di dunia adalah sesuatu yang paling engkau inginkan di akhirat.
(Bila sudah) sebegitu mudahnya seseorang berupaya menyaingi kemuliaan para pemilik kemuliaan, maka ia telah ditunjukkan pada titian tangga yang menaikkan para pecinta pada kedekatan dengan Allah.
Ikhtiar manusia untuk berubudiyah adalah obat, pendingin hati, dan penerang mata.
Pencarian manusia terhadap kebebasan adalah bencana yang menutupi pandangan mata.
Amal orang yang bernalar didasarkan cinta, sedangkan amal orang yang mendengar (tanpa bernalar) didasarkan keterpaksaan. Karena itu, beramallah seperti amal orang yang mendengar lalu memahami, dan berpikir lalu mencermati (mengerti). Janganlah beramal seperti amal orang yang mendengar tapi tak pernah melihat (menalar).
Betapa banyak nikmat yang berubah menjadi siksaan dan hukuman. Sebaliknya, betapa banyak hukuman yang berubah menjadi nikmat.
Jika engkau ingin mencintai sesuatu, maka seringseringlah menyebutnya karena sesungguhnya ingat dan lupa itu tak pernah menyatu.
Pelaku kebaikan yang sejati dan disyukuri akan diberi pahala di akhirat dan ditambah kebaikannya di dunia. Ditambah karena syukurnya dan diberi pahala karena kesejatiannya.
Di antara ibadah yang paling bermanfaat adalah jika seorang hamba menanam pada dirinya sikap menganggap kecil dunia.
Di antara ibadah yang paling baik adalah jika hati seorang hamba dipenuhi dengan cinta ketaatan. Jika cinta telah sedemikian melimpah di hatinya, anggotaanggota tubuhnya pun akan bergerak sesuai dengan hati yang dilihatnya. Sehingga, boleh jadi anggotaanggota tubuh beribadah sementara hatinya tengah menganggur.
Lantas bagaimana cara hati beribadah, sedang anggota tubuh tidak mengikutinya? Bagaimana pula hati dapat menjalarkan ibadah kepada anggota tubuh?
Yakni dengan menjadi wadah bagi rasa sedih, duka, rasa membutuhkan, takut, menyesal, tawaduk, dan tak berdaya kepada Allah, serta menjadi tempat ketulusan, cinta terhadap apa yang Allah cintai, dan benci terhadap apa yang Allah benci.
Jika ia, melalui hatinya, berhubungan dengan Allah berdasar hal-hal tadi, maka anggota tubuhnya akan segera bertindak seperti yang dilihatnya (atau dicernanya—peny.) dari hati sehingga terpancarlah (cahaya) ketaatan. Hati akan demikian bila sesuatu yang bakal dibawanya pada hari kiamat telah merasuki “titik-titik noda’-nya.
Pada kesempatan lain, (dia berkata):
Jika hatinya dipenuhi dengan pengetahuan mengenai nikmat Allah, kebahagiaannya dengan Allah, keintimannya dalam ibadah kepada Allah, kerinduannya terhadap cinta Allah, cintanya untuk bersyukur kepada Allah, dan harapannya terhadap ampunan Allah.
Jika ia dari hatinya berhubungan dengan Allah berdasar hal-hal itu, maka ia akan terbawa pada ibadah anggota tubuh beserta hati sehingga ia menjadi seorang yang beramal yang terkandung dalam amalnya kehangatan, kebahagiaan, dan kenikmatan.”
Di antara ibadah yang paling mulia adalah bersikap takut kepada Allah dengan (menjalankan) apa yang Allah cintai. Jika engkau tak kuasa lagi dengan hal itu, maka bersikap takutlah kepada Allah dengan apa yang Allah benci sembari berusaha kembali kepada keadaanmu semula karena begitu antusias terhadapnya. Pada kondisi itu, tumpahkan saja kerinduan yang mendalam kepadanya. Pasalnya, jika Allah melihatmu dalam keadaan seperti itu, sedang rindu dan bersemangat, Dia akan memalingkan sesuatu yang telah merampasmu.
Dalam masalah ini dan masalah sebelumnya, serta dalam seluruh amal, hendaklah orang yang beramal memikirkan apa yang ada di hati dan anggota tubuh. Lantas, hendaklah ia memulai dengan apa yang ada dalam hati baru kemudian yang ada di anggota tubuh. Sebab, hati ibarat batang dan anggota tubuh adalah rantingnya. Ranting tidak akan pernah tegak tanpa batangnya.”
Di antara akhlak yang paling baik adalah jika kerendahan hati menjadi perangai seorang hamba. Dan di antara tindakan yang paling baik adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu.
Bersungguh-sungguhlah dan jangan berputus asa. Jangan pula berkata ketika mengingat kaum yang saleh, “Andai bukan karena dosa-dosaku, niscaya aku mengharapkan tarekat kaum saleh,’ sehingga perhatianmu terhadap dosa-dosamu melalaikanmu dari beramal. Sesungguhnya pembawa beban berat yang bersungguh- sungguh menjatuhkan apa yang dibawanya lebih utama daripada orang yang di pundaknya tiada beban apa-apa.
Jika engkau ingin dilihat Allah dengan rahmat, maka lihatlah kaum yang saleh dengan iri terhadap ketaatan mereka (ghibthah) dan kepada kaum yang durhaka dengan iba.
Jika dalam hati seorang hamba terdapat perhatian terhadap jiwa, maka semakin besarlah kekhawatirannya terhadap jiwa dan harapannya kepada manusia.” Jika hatinya kosong dari kedukaan dirinya, maka ia akan berprasangka baik kepada jiwanya dan harapannya kepada jiwanya semakin besar serta ia akan takut kepada manusia.
Siapa memiliki pikiran panjang dalam empat hal, maka ia akan diwarisi kesedihan dan kedukaan. Satu dari keempatnya sudah cukup, yaitu: jika engkau memikirkan ilmu Allah dalam hatimu, di mana namamu dalam Umm al-Kitab, apa nilai akhir dalam buku induk untukmu, dan jika engkau mengingat dosadosamu.
Siapa mempunyai pikiran panjang dalam empat hal, maka ia akan diwarisi ketakutan dan kekhawatiran. Satu dari keempatnya sudah cukup, yaitu: siapa memikirkan kematian, cepatnya akhir ajal, perjalanan menuju kubur, dan merenung sejenak tentang penghitungan dan neraka yang tidak bisa ditahan oleh siapa pun.
Jangan menentang Allah dalam cinta-Nya sebab berarti engkau telah menganggap-Nya kalah.
Jangan mendahulukan seseorang daripada Allah sebab Dia akan menyerahkanmu kepada orang yang engkau dahulukan itu.
Sampai kapan engkau akan menganggap kesibukan sebagai penolong?
Jika engkau tidak meninggalkan orang yang menghancurkanmu, maka engkau akan dikejar orang yang menipumu.
Jika engkau ingin membagi sedekah atau kebajikan pada manusia ataupun orang lain yang dekat denganmu, hendaknya engkau mulai dari orang yang rumahnya paling dekat dengan rumahmu dan orang yang paling membutuhkan sedekahmu. Kemudian orang
yang berikutnya, dan engkau tidak perlu mengingat orang yang jaub darimu atau yang tidak membutuhkan sedekahmu.
Karena itu saudaraku, dekatkanlah “rumah” (posisi)-mu terhadap Allah. Ungkapkanlah kepada-Nya tentang kebutuhanmu kepada-Nya, maka engkau akan tampil dalam deretan terdepan dari orang-orang yang menerima kebajikan-Nya. Untuk itu, mengertilah saudaraku, jika engkau memang mengerti.
Seandainya engkau memiliki budak-budak yang sebagian mereka ingin engkau bebaskan, tidakkah engkau memulai dengan yang paling lurus jalan hidupnya dan yang paling tulus kepadamu serta yang paling banyak melayanimu?
Sesungguhnya jika engkau belum meninggalkan apa yang dibenci Allah, maka engkau tak akan diingat oleh-Nya sebagai orang yang mencintai-Nya.
Berilah Allah apa yang telah mencukupimu, niscaya Allah memberimu apa yang pasti terjadi.
Siapa suka berdekat-dekat dengan Allah, hendaklah meninggalkan apa yang membuatnya jauh dari-Nya.
Jadikanlah penglihatanmu di hadapanmu, karena sesungguhnya Zat yang ada di belakangmu telah membalasmu.
Seandainya engkau melihat orang yang menjual bagian akhiratnya dengan bagian dunia orang lain, niscaya engkau heran kepadanya. Karena itu, juallah bagian dunia orang lain dengan bagian surgamu, sebab sesungguhnya yang tersisa darimu tak lain adalah rezeki orang lain.
Jangan meminta pujian dari orang yang meninggal dunia karena engkau akan mendapat celaan dari orang yang belum meninggal.
Tinggalkan ketakutan dunia, engkau akan mendapatkan keamanan akhirat, dan carilah keamanan akhirat dengan ketakutan dunia.
Jika syahwat menunjukkan diri padamu, maka ingatlah akibatnya. Betapa banyak syahwat yang kenikmatannya hilang darimu dan yang tersisa hanyalah kerugiannya.
Sesungguhnya orang yang merusak akhirat atas dirimu adalah orang yang tidak engkau butuhkan di dunia. Lalu, apa ketenangan yang engkau peroleh darinya?
Seandainya engkau melihat seorang pria di antara jamaah dan setiap orang memberdayainya dengan berbagai cara, kemudian engkau belum pernah melihatnya tunduk dan menyerah, serta mengabdi kepada orang yang ia harapkan dapat memberi keselamatan, niscaya engkau membodohi pendapat dan pikirannya. Janganlah sekali- kali engkau seperti dirinya.
Tidak pernah seseorang mendapatkan aroma yang lebih harum dari aroma akhlak yang baik.
Sesungguhnya bagimu terdapat tiga perkara yang satu sama lain menyibukkanmu, yakni sikapmu terhadap Tuhanmu, introspeksi diri yang engkau lakukan, dan ingatanmu terhadap dosa-dosamu.
Tolaklah tantangan-tantangan syahwat dengan kesedihan dan penyesalan atas dosa- dosa masa lalu yang kenikmatannya telah berakhir dan yang tersisa hanyalah penderitaannya padamu. Curahkan kesedihan ke dalam hatimu, sebagai suatu legitimasi atas janji Allah. Kondisikanlah hatimu dengan ketakutan sebagai wujud kehati-hatian terhadap janji Allah. Bersikaplah rendah hati kepada-Nya sebagai wujud rasa membutuhkanmu kepada kasih sayang-Nya dan wujud kekerdilanmu ketika mengingat keagunganNya. Hilangkan sikap mencari muka dari manusia sebagai wujud pengutamaan cinta-Nya. Pelihara rasa syukur untuk-Nya atas segala kebaikan-Nya
kepadamu dengan cinta ibadah kepada-Nya. Pelihara rasa takut terhadap-Nya dengan membenci segala bentuk kemaksiatan. Pelihara nikmat makrifat-Nya dengan cintamu terhadap pengawasan-Nya, dan pelihara rasa cinta terhadap pengawasan-Nya dengan menjalin keintiman dengan-Nya—tidak dengan makhluk-Nya.
Manusia itu memiliki derajat dan kedudukan. Siapa melihat dengan mata hatinya, maka ia akan melihat derajat dan kedudukannya pada jalan akhirat, sebagaimana ia melihat derajat dan kedudukan ahli dunia dengan mata kepala.
Siapa pun tidak berhak dengan kedudukan dunia dan akhirat karena makrifat hatinya dan tidak pula dengan zikir lidahnya, tetapi karena perbuatan ahlinya dan melaksanakan segala syaratnya, sebagaimana halnya, kaum miskin tidak mendapatkan manfaat dari pengetahuannya tentang enaknya orang kaya, apa yang dimiliki orang yang mendapat nikmat, berbagai jenis makanan, permadani dan pakaian. Demikian pula, pengetahuanmu tentang pekerjaan kaum saleh tidak akan bermanfaat bagimu jika engkau tidak mengerjakan perbuatan yang mereka lakukan, bahkan hal itu akan menjadi alasan yang memberatkan atasmu. Allah adalah tempat memohon taufik dengan rahmatNya.[]
DUNIA DAN AKHIRAT:
Manusia yang baik adalah mereka yang tidak terpengaruh akhiratnya oleh dunianya, dan tidak pula meninggalkan dunianya sama sekali karena akhiratnya. (al-Muhasibi).









One Comment