18 Ikhlas dan Ria
Seluruh amal kebajikan itu terbagi atas dua bentuk yang rahasia dan yang nyata. Siapa tidak mampu memperbaiki amalnya yang rahasia, maka ia akan lebih tidak mampu memperbaiki amal yang nyata. Siapa kuat memperbaiki amalnya yang nyata, berarti ia telah lebih lihai dalam memperbaiki amal yang rahasia. Demikian pula halnya dengan amal yang banyak dan sedikit. Siapa tidak mampu memperbaiki niat dalam amal yang sedikit, maka ia tidak akan lebih mampu dalam memperbaiki amal yang banyak.
Ada dua tahapan ria, yaitu seseorang yang pernah berbuat kebajikan, lalu ia mendapat pujian, kehormatan, dan penghargaan karenanya, sedangkan ia hanya menginginkan keikhlasan ketika melakukannya. Siapa tidak mampu meninggalkan ria pada apa yang ia hadapi, maka ia tidak akan mampu bersikap ikhlas terhadap amal yang karenanya ia mendapat pujian, kehormatan, dan penghargaan.
Demikian pula halnya dengan segala sesuatu, Meninggalkan apa yang belum pernah engkau miliki lebih mudah daripada meninggalkan apa yang telah engkau miliki.’
Niat: antara Kejujuran dan Kelalaian
Siapa yang paling sejati niatnya? Orang yang paling cinta niat. Siapa yang paling jauh dari niat sejati?
Orang yang paling jauh dari niat adalah orang yang paling melupakan niat. Orang yang paling melupakan niat adalah orang yang paling tidak tahu tentang niat.
Tanda ria yang pertama adalah kerelaan terhadap ketidaktahuan tentang kejujuran niat dalam amalamalnya. Tanda kejujuran yang pertama adalah perhatian terhadap pengetahuan mengenai kejujuran niat dan keikhlasan beramal.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Amal-amal itu tergantung niat.” Beliau juga bersabda, “Hal yang paling aku takuti atas kalian adalah syahwat yang tersembunyi.”
Bagaimana dengan seorang hamba yang mempelajari bagaimana beramal dan mau menanggung beban (tanggung jawab) beramal sehingga ia beramal dengan apa yang telah diketahuinya, tetapi ia tidak belajar bagaimana semestinya berniat. Kemudian ia mempelajari ilmu yang diamalkan dan ilmu yang tidak diamalkan, sementara ia tidak mempelajari.kejujuran niat, baik dalam amal yang dilandasi niat maupun tidak.
Ia hidup karena-memang ia hidup dan mati jika memang harus mati, dan ia pun tidak pernah mempedulikan hal semacam itu. Rasulullah saw., para imam, ahli ilmu, dan ahli makrifat setelah beliau selalu mengingatkan tentang ria sehingga sebagian di antara mereka pernah berkata, “Aku memasuki rumah yang gelap dan shalat dua rakaat di dalamnya dengan harapan mudah-mudahan shalat itu akan menyelamatkan diriku” Sufyan al-Tsawri? pernah berkata, “Aku tidak pernah melakukan suatu pekerjaan yang dilihat banyak orang.” Seandainya kami menulis tentang ha} seperti itu dalam buku ini, niscaya kami membutuh, kan berlembar-lembar kertas.
Orang yang telah mengetahui ria, dirinya tidak akan pernah diketahui orang lain
(maksudnya: le. bih memilih sembunyi—pen). Ia akan memperhatikan dan
mengawasinya siang dan malam. Bisa saja halhal yang membuatnya terkecoh dan terkalahkan lebih banyak dibanding apa yang menjadi keinginannya, Lalu, bagaimana halnya dengan orang yang bodoh dan mengabaikannya?
Betapa sering seseorang berbuat amal, lalu ia menganggap dirinya sebagai orang yang jujur di dalamnya dan kejujuran yang diakuinya tidak pernah jelas kecuali setelah berlalu waktu sepuluh tahun. Jika aku mau, aku katakan lima puluh tahun. Karena itu, apalah arti sepuluh, satu, lima puluh dan seratus kecuali hanya satu.
Seperti apa? Engkau telah membawa ucapan yang agung.
Seperti orang yang ingin bersedekah atau berbuat kebajikan kepada orang lain. Kemudian ia beranggapan bahwa ia mengharap rida Allah dengan hal itu, dan ia tidak pernah menginginkan balasan dan ucapan terima kasih. Kemudian tampaklah suatu kebutuhan baginya atau orang lain—sebelum mendapat kebajikan (dari yang lain)—lalu ia memenuhi kebutuhan orang yang pernah berbuat kebajikan atau bersedekah kepadanya sedangkan ia sendiri belum dapat memenuhi kebutuhannya. Sehingga, ia mengingatingat sedekahnya kepada orang itu dalam hatinya. Lantas ia mendapati orang itu tidak pernah memenuhi kebutuhannya. Karena itu, ia merasa telah memenuhi kebutuhan orang yang tidak pernah bersedekah atau berbuat kebajikan kepada dirinya. Pada saat itu, kejujurannya semakin jelas (bedanya) dari kebohongannya, dan bisa saja itu terjadi setelah berselang lama (dari melakukan kebajikan itu).
Atau, seseorang yang menjadi ahli ibadah selama lima puluh tahun. Ia melihat dirinya sebagai orang yang jujur dalam beribadah, tidak pernah menginginkan balasan dan tidak pula ucapan terima Kasih, baik dalam perkara-perkara yang tak tampak maupun perkara- perkara yang terbuka. Kemudian suatu penyakit tumbuh dalam dirinya: Orang-orang mencatat namanama kaum saleh, tetapi mereka tidak menulis namanya atau mereka menulisnya di deretan akhir. Mereka mendahulukan orang-orang yang tidak seperti dirinya dalam beribadah, maka—dalam hatinya—ia mengingkari hal itu. Akhirnya, antara kejujuran dan kebohongan dalam ibadah semakin nyata perbedaannya.
Dalam hal ini, dan hal-hal lain seperti ini, terbukti dengan jelas bahwa orang tersebut menginginkan ba. lasan dan tanda terima kasih.
Setiap amal yang pelakunya tidak awas terhadap. nya, tidak pernah mengujinya, tidak pernah melakukan tes terhadapnya, dan tidak pernah memeriksanya, adalah amal yang (masih) samar. Sesuatu yang samar tidak akan pernah jelas hakikatnya kecuali ketika diuji. Manusia itu akan diperhitungkan sesuai dengan kadar ilmu dan kebodohan mereka, kebaikan dan keburukan, serta kadar perintah dan larangan yang mereka kerjakan dan tinggalkan.









One Comment