5 Takut dan Sedih
Saudaraku, perhatikan kalbumu ketika ia memiliki harapan dan lekatkanlah hatimu dengan pikiran-pikiran akhirat. Jangan meninggalkan kalbu dan ajaklah ia membayangkan kengerian masa depan ketika telah berpisah dengan dunia dan meninggalkan apa yang diusahakan penghuninya dalam jiwa mereka, dalam mengotori kehormatan, berlaku sombong, dan mengurangi nilai-nilai agama. Kemudian mereka meninggalkan itu semua dan mendatangi Allah seorang demi seorang. Pada saat itu, muncullah ketakutan alam kubur, pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, kengerian- kengerian hari kiamat, keterdiaman di hadapan Allah, serta pertanyaan mengenai ucapan dan perbuatan mereka—sampai yang seberat biji sawi atau zarah.
Dan, pertanyaan kepadanya tentang masa muda (bagaimana ia menghabiskannya); usia (bagaimana ia mengisinya); harta (dari mana ia memperolehnya, dari siapa ia menghindarkannya, dan untuk apa ia membelanjakannya); ilmu (apa yang ia perbuat dengannya); serta seluruh perbuatan (baik yang dilakukannya dengan jujur ataupun dengan bohong).
Saudaraku, bila kalbumu sibuk dengan hal seperti itu dan nyaman dengannya, padahal engkau memiliki susunan akal yang sehat, maka hatimu akan menimbang lidahmu*! dan engkau tidak terbebas dari ketakutan yang lazim serta kesedihan yang berkelanjutan dan kesibukan yang membelenggu kalbumu.
Aksi Iblis “Menyerbu” Hati
Sesungguhnya iblis memagarimu dalam area dosa melalui bisikan nafsu dan kehancuran/kerusakan hatimu.
Hati rusak jika kosong dari ketakutan dan kesedihan yang seharusnya memenuhinya. Pada saat itu iblis membisiki hati dengan rayuan tentang harapan-harapan duniawi, bagaimana (harus) mengumpulkannya karena perasaan takut miskin yang disertai mendekamnya panjang angan-angan dalam hati, keberpalingan hati dari Allah, terputusnya tanda-tanda keagungan Allah darinya, dan kekosongannya dari rasa hormat dan rasa malu terhadap-Nya.
Jika iblis menemukan hati dalam keadaan terisi, maka ia merasa terganggu dan menjauhinya tanpa menemukan jalan masuk dari kiri-kanannya. Sebab, hati yang penuh dengan rasa takut (al-khawf), kesedihan, dan pikiran adalah hati yang terang dan bercahaya.
Seorang hamba melihat jalan masuk iblis dengan cahaya hatinya, maka ia menolak ajakannya dan berpegang teguh kepada cahaya hatinya yang dikokohkan Allah sehingga ia sanggup mengalahkannya, lalu iblis lari terbirit-birit menuju hati yang telah kehilangan ketakutan (al-khawf). Maka, iblis menghancurkan dan menganiayanya sehingga tidak ada sedikit pun cahaya di dalamnya.
Bagi iblis, tiada yang lebih berat ketimbang cahaya. Jika menemukan cahaya, ia merasa terganggu dan menjauh. Ia tidak mampu melawan cahaya kecuali jika manusia lalai.
Hati yang bercahaya adalah hatinya orang yang selalu awas dan siaga. Jika hatinya lengah, maka ia mati, menjadi gelap, dan cahayanya padam sehingga segala sesuatu yang dirancukan atau dikeruhkan sang musuh menjadi susah dibedakan. Dengan begitu, iblis telah melakukan penipuan terhadap manusia dan memenuhi hatinya dengan kelalaian, kemudian ia memagarinya dengan dosa-dosa. Jika ia memaksakan diri untuk bangkit, sedangkan ia rida dengannya, maka ia akan dikuasai oleh kegelapan yang lebih pekat sehingga menggelapkannya. Lalu, iblis menghuni hatinya sehingga ia melakukan dosa-dosa kecil sampai terjerumus ke dalam dosa-dosa besar.
Bagi iblis, tidak ada yang lebih mengagumkan daripada kegelapan, kepekatan, dan padamnya nur kalbu. Baginya, tidak ada yang lebih berat daripada cahaya, kebeningan, kebersihan, dan kecemerlangan. Sesungguhnya tempat iblis hanyalah kegelapan. Jika kegelapan tidak ada, maka tiada tempat baginya, dan ia tak mampu bertahan dalam cahaya.dan gemerlap.
Aku telah mendapatkan berita bahwa Nabi Muhammad saw. sangat benci manakala memasuki rumah yang gelap sampai ia diterangi oleh lampulampu.









One Comment