Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

Memperbaiki Hubungan Diri dengan Allah

Diriwayatkan dari sejumlah kaum bijak bahwa alMuhasibi pernah menulis surat kepada salah seorang saudaranya:

Aku wasiatkan kepadamu, saudaraku, untuk memperbaiki apa yang ada di antara dirimu dengan Allah, mengedepankan cinta-Nya atas hawa nafsumu, mengejar pekerjaan orang yang bermuamalah denganmu.

Ketahuilah bahwa hari-harimu sedikit, sedangkan dirimu cuma satu. Jika hari-harimu berakhir, maka tiada jalan kembali bagimu dan tiada hari pengganti untukmu. Jika dirimu binasa, maka tiada lagi dirimu yang lain.

Saudaraku, apakah engkau tahu apa yang dimaksud islah antara dirimu dan Allah?

Yaitu, agar Dia tidak didatangi sesuatu yang berasal darimu kecuali jika di dalamnya terkandung ridaNya, dan janganlah engkau didatangi sesuatu dariNya kecuali engkau rela dengannya. Jika engkau tidak memiliki kemampuan untuk rida terhadap segala hukum dan perintah Allah yang engkau terima, maka jangan kehilangan kesabaran karena sesungguhnya Allah memiliki kerelaan terhadap keadaan hamba-Nya selama hamba-Nya rela dengan hukum-Nya.

Allah memiliki kerelaan terhadap kesabaran hamba-Nya atas perintah dan hukum-Nya selama si hamba memang bersabar atas hal itu, sehingga Dia memiliki kerelaan dalam keduanya. Sedangkan amalmu hendaknya berupa penepatan terhadap janji-Nya dan syukur terhadap segala nikmat-Nya.

Sementara kebutuhanmu berupa makrifat dan ampunan-Nya. Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dan keturunannya, serta menciptakan surga sebagai balasan bagi kaum yang taat dan memperoleh rahmat dari-Nya, sekaligus menciptakan neraka untuk kaum yang selalu melakukan maksiat dan mendapat murka-Nya. Makanya, kita berlindung kepada Allah dari segenap kemurkaan dan hukuman-Nya. Peliharalah hari-

harimu, saudaraku, baik malam maupun siang, dan seluruh keadaan di mana kau berada di dalamnya ataupun di atasnya.

Pelihara, bersihkan, murnikan, dan selamatkan nuranimu sampai menjadi bersih dari ketakutan terhadap hukuman dan kosong dari harapan terhadap balasan. Sesungguhnya engkau tidak akan pernah luput dari pandangan Allah walau sekejap. Ia senantiasa melihatmu dan menghitung amalmu walau seberat biji sawi dan zarah sekalipun agar engkau dibalas dengan hal itu pada hari kiamat. Jika baik, ia pasti akan baik dan jika buruk, ia pasti akan buruk.

Janganlah sekali-kali lalai mengingat-Nya karena sesungguhnya engkau membutuhkan- Nya, sebaliknya, Dia tidak pernah membutuhkanmu.

Ketahuilah saudaraku, bahwa sumber segala ucapan adalah ilmu. Sumber segala pekerjaan adalah ilmu. Sumber semua itu adalah taufik bersama dengan kemampuan menggunakan akal sehat dan banyak berpikir. Jika engkau mampu untuk tidak dengan sesuatu yang lebih tahu darimu tentang Allah, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya ucapan, ilmu, amal dan lain sebagainya adalah yang diinginkan Tuhan. Sesungguhnya manusia yang paling utama adalah yang paling dekat dengan Allah, sedangkan orang yang paling dekat dengan-Nya adalah orang yang paling mengetahui di antara mereka.

Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Manusia itu. berbeda karena pengetahuan.” Sementara Ibn Mas‘id pernah berkata, “Umur habis dengan sembilan persepuluh (9/10) ilmu” Maksudnya adalah ilmu tentang Allah.

Ketahuilah saudaraku, manusia hanya dapat bersikap ikhlas dalam bekerja sesuai dengan kadar pengetahuan mereka (terhadapnya). Mereka dapat bersikap tawaduk sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Mereka dapat mensyukuri nikmat Allah sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Mereka berharap dan takut kepada Allah sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Mereka dapat berbaik sangka berdasarkan kadar pengetahuan mereka. Mereka dapat bersabar untuk bertahan melakukan ketaatan,

menghindari kemaksiatan, menyembunyikan ketaatan, dan menahan berbagai musibah yang diturunkan hukumhukum-Nya sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Dan mereka mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah sesuai dengan kadar pengetahuan mereka.

Siapa ketinggalan pengetahuan mengenai Allah, maka ia akan dimasuki kekurangan pada seluruh yang kami sebutkan sesuai dengan kadar pengetahuan yang luput darinya dan sesuai dengan kadar pengetahuan yang diberikan kepadanya. Demikian pula kebaikan dan kejahatan yang menjadi bagiannya.

Karena itu saudaraku, carilah pengetahuan dari pemiliknya dengan sungguh-sungguh, karena sesungguhnya para ulama telah mencapai ilmu apa yang seharusnya mereka capai berdasarkan tingkat kualitas pencarian mereka dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Jika engkau berada di pagi hari dan menginginkan sedikit kebaikan, maka lihatlah bagaimana engkau mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhanmu pada malam hari dan bagaimana tobatmu terhadap apa yang engkau sesali. Allah berfirman, “Jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambahkan (nikmat) kepada kalian”?” (Q.S. Ibrahim: 7) Allah juga berfirman, “Bertobatlah kalian sernua kepada Allah wahai kaum yang berirnan, sernoga kalian beruntung? (Q.S. al-Nur: 31).

Jika engkau mendapati suatu kebajikan, lihatlah dari siapa permulaannya dan pada siapa penyempurnaannya. Seandainya dikatakan kepadamu, “Kepada siapakah engkau paling suka berbuat?” niscaya engkau akan menjawab, “Allah” Karena itu, hendaklah hati kecilmu sesuai dengan apa yang dikatakan dan diakui lidahmu.

Ketahuilah saudaraku, ahli dunia dan akhirat berada di antara suka dan duka. Ahli suka akhirat adalah penghuni surga dan sesungguhnya kebahagiaan mereka yang paling utama adalah melihat Allah. Kebahagiaan paling utama kaum beriman di dunia adalah kebahagiaan mereka terhadap Tuhan dan bahwa mereka adalah hamba Tuhan serta

membenarkan hal itu dengan murakabah dan munajat kepada Tuhan dan dengan segala amal (yang diniatkan) untuk-Nya. Tanda keintimannya dengan amal adalah adanya kenikmatan beramal kepada-Nya dan keseriusan cinta untuk melayani-Nya.

Mustahil orang yang beramal dapat bersikap mesra dengan amalnya sementara ia sendiri tidak mesra terhadap Zat yang untuk-Nya ia beramal atau sementara ia tidak takut kepada-Nya.

Ketahuilah saudaraku, seandainya ketaatan dan sikap istikamah kepada Allah yang engkau cari dan atasi dari dirimu—ataupun juga dari seluruh jiwa manusia—maka tetap saja adalah kecil di hadapan Allah. Bagaimana tidak, sedangkan hal itu merupakan satu kekayaan berharga pada hari-hari yang singkat.

Engkau perlu konsisten  dan menjaga  tekad  untuk selalu berteman dengan  Tuhan. Seandainya seluruh dunia milikmu, lalu engkau mencurahkannya sekaligus dirimu bersamanya sebagai tanda syukur terhadap suatu pengetahuan yang diberikan kepadamu, bahwa Dia adalah Tuhanmu, bahwa engkau adalah hambaNya, bahwa Dia memerintahkanmu untuk berubudiyah kepada-Nya, dan melarangmu untuk berubudiyah kepada selain-Nya, niscaya semua itu merupakan sesuatu yang kecil dan hina di sisi nikmat-Nya atasmu dalam hal itu.

Karena itu, jangan menyia-nyiakannya dengan kesibukan yang tidak engkau butuhkan karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan pengetahuanmu tentang kebaikan-Nya kepadamu sebagaimana engkau tidak membutuhkan penyikapan buruk terhadap dirimu. Sesungguhnya manusia itu antara dosa dan nikmat, antara syukur dan istigfar.

Segala puji bagi Allah atas ilmu dan nikmat-Nya kepada kita. Keutamaan Allah atas kita sungguhlah besar.

BERHARAP DAN TAKUT:

BERHARAP (RAJA’) MENDORONGMU UNTUK TAAT, TAKUT (KHAWF) MENGHINDARKANMU DARI MAKSIAT, DAN MURAQABAH MEMBAWAMU KEPADA JALAN KEBENARAN HAKIKI. (IBRAHIM AL-NASHR ABADZI).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker