8 Amal dan Pembersihan Diri
Penyucian adalah perpindahan dari kejahatan kepada “fondasi” kebaikan.” Sering kali bangunan hancur, sementara fondasinya tetap utuh, tetapi tidak mungkin bangunan akan utuh jika fondasinya hancur.
Siapa belum menyucikan diri sebelum beramal, maka sesungguhnya kejahatan akan mencegahnya dari manfaat kebaikan. Karena itu, meninggalkan kejahatan lebih diutamakan, baru kemudian mencari kebaikan.
Nafsu sangat takut terhadap penyucian diri dan lari menuju “amal-amal yang mengandung ketaatan” karena beratnya beban kesucian atasnya dan (lebih) ringannya beban ketaatan tanpa kesucian.
Jika bersuci telah didulukan dari amal ketaatan, setelah diri ringan bergerak ke tempat bersuci, maka kebutuhan kepada pengetahuan tentang dorongandorongan yang bisa menjadi sumber pencarian kebaikan, dan pengantar menuju kepada Allah, adalah sangat besar.
Siapa memiliki perhatian terhadap jiwanya dan khawatir akan kerusakannya, maka ia akan mencari dorongan-dorongan halus dengan kedalaman kecerdasan dan kerincian pemahaman, hingga ia sampai kepada jiwanya. Jika ia telah sampai kepada jiwanya, maka ia akan berpegang erat kepadanya dan akan mengambil tindakan atasnya. Sebab, pengetahuan tentang kendala-kendala amal adalah sebelum melakukannya, dan pengetahuan jalan adalah sebelum menempuhnya. Kebutuhan manusia untuk mengetahui diri dan hawa nafsunya, musuhnya, dan kejahatan lebih besar jika ia seorang
yang pintar. Dan, ia akan sangat merasa membutuhkannya jika ia seorang yang cerdas dan memperhatikan dirinya.
Sesungguhnya tidak mengerjakan tiap kebaikan itu lazim bagi seorang hamba, sedangkan seluruh kejahatan itu lazim ditinggalkannya. Siapa meninggalkan kejahatan, ia berada dalam kebaikan dan setiap pelaku kebaikan tidaklah pasti juga termasuk ahli/kaum kebaikan.
Dalam pengetahuan seorang hamba tentang kejahatan terkandung ilmu kebaikan sekaligus ilmu kejahatan. Sedangkan dalam pengetahuannya tentang kebaikan tidak terkandung dua ilmu itu sekaligus. Pasalnya, setiap orang yang dapat memilah kebaikan dari kejahatan, ia akan tanggalkan dan tinggalkan kejahatan sehingga yang tersisa saat itu adalah kebaikan seluruhnya. Sangat mungkin kebaikan itu diketahui, tetapi ia tidak dapat dipisahkan dengan baik dari petaka kejahatan yang merusak dan mencarinya karena kebaikan itu bercampur baur dengan kejahatan, sedangkan kejahatan tetaplah kejahatan secara keseluruhan.
Cara Setan Menyesatkan Manusia
Setan sering kali menyesatkan manusia dari Allah dengan kebaikan, juga dengan kejahatan. Setan menyesatkan manusia dengan kebaikan karena mereka tidak mengetahui sesuatu yang merancukan kebaikan dengan kejahatan. Karena itu, mereka tidak tahu soal itu dan nafsu-nafsu mereka berbisik bahwa mereka berada dalam kebaikan dan petunjuk, jalan kasih sayang, dan sikap istikamah, padahal mereka tengah sesat dari jalan Allah serta menyimpang dari jalan kasih sayang-Nya dan sikap istikamah kepada-Nya.
Itu terjadi karena banyaknya penyakit yang menimpa amal-amal dan sedikitnya ilmu orang yang beramal tentang penyakit tersebut. Inna li Allah wa inna ilayhi rajiun (Sesungguhnya kita milik Allah dan niscaya kita kembali kepada-Nya).
Antara limu, Amal, dan Manfaat
Betapa manusia sangat lalai dengan dirinya, hawa nafsunya, dan musuh-musuhnya. Karena itu, kita berlindung kepada Allah dari kelengahan, kealpaan, dan kelupaan yang menimpa dan melantakkan amal-amal.
Dalam kasus orang yang meninggalkan kejahatan, tingkat peninggalannya terhadap kejahatan akan
’ sebanding dengan pengetahuannya tentang bahaya kejahatan itu, sementara ia tegak menjalankan suatu kewajiban yang bisa mengantarkannya pada kedekatan dengan Allah. Sedangkan orang yang melaksanakan kebaikan, tingkat pelaksanaannya terhadap kebaikan akan sebanding dengan apa yang ia harapkan dan ketahui dari manfaat kebaikan itu serta dari suatu anggapan bahwa ilmu, amal, dan manfaat itu masingmasing berdiri sendiri. Boleh jadi ada ilmu, tetapi tidak dikerjakan oleh pemiliknya, dan boleh jadi ada ilmu dan praktiknya, tetapi tak ada manfaat di dalamnya, atau bahkan ada ilmu, praktik, dan manfaat, tetapi setelah itu, yang ada hanya penyia-nyiaan dan kekecewaan. Akan tetapi, boleh jadi hamba itu berilmu, lalu menerapkannya, mengambil manfaatnya, memperoleh keselamatan karenanya, lantas dirinya menjadi sempurna.
KEBAIKAN DAN KEJAHATAN
Sesungguhnya tidak mengerjakan tiap kebaikan itu lazim bagi seorang hamba, sedangkan seluruh kejahatan itu lazim ditinggalkannya. Siapa meninggalkan kejahatan, ia berada dalam kebaikan dan setiap pelaku kebaikan tidaklah pasti juga termasuk ahli/kaum kebaikan. Dalam pengetahuan seorang hamba tentang kejahatan terkandung ilmu kebaikan sekaligus ilmu kejahatan. Sedangkan dalam pengetahuvannya tentang kebaikan tidak terkandung dua ilmu itu sekaligus.









One Comment