Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

19 Ilmu Kesuksesan

Ada tiga pintu ilmu yang harus diketahui manusia, yang rahasia maupun yang nyata. Dua pintu menghubungkan mereka dengan Allah dan satu pintu menghubungkan mereka dengan manusia yang lain. Yang berhubungan dengan manusia adalah nasihat, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw., “Agama adalah nasihat”! Nasihat tersebut mencakup hal-hal yang rahasia maupun yang nyata, yang banyak maupun yang sedikit, untuk yang jauh maupun untuk yang dekat, kepada kawan maupun lawan. Sedangkan yang menghubungkan mereka dengan Allah adalah pintu niat dan perbaikannya, serta kehendak (iradat) dalam amal-amal, yang tersembunyi maupun yang terbuka, yang sedikit maupun yang banyak, sesuai dengan sabda Nabi, “Amal-amal itu tergantung niat.” Dan, pintu kedua adalah pengetahuan seseorang tentang dirinya.

Hakikat Nasihat

Pintu nasihat ada jika niat, jalan, dan pandangan seseorang dalam keadaan rahasia maupun terbuka adalah bahwa seandainya seluruh masalah umat dilaksanakan sesuai hati kecil dan batinnya, niscaya ia senang bah. wa umat mendapat petunjuk dalam

urusan-urusannya, menaati Tuhan mereka, dan setiap orang beruntung bisa memperoleh hak dan keadilannya.

Jika sikapnya seperti itu terhadap kelompok khawas dan berdasarkan itu pula niatnya terhadap kelompok awam, maka aku berharap ia senantiasa berada pada setiap keadaan yang terhormat dan kenikmatan nan agung yang tidak diketahui kadarnya kecuali oleh Allah.

Jika sikap terhadap kelompok khawas dan kaum awam bertentangan dengan sifat ini, maka ia tidak berhak memberi nasihat kepada kaum khawas maupun kaum awam. Pengakuannya bahwa ia menyembunyikan dan  meniatkan—dalam  hatinya—nasihat kelompok khawas dan kaum awam perlu ditolak dan tidak dapat diterima.

Kami tidak pernah mengetahui dari pintu-pintu ilmu suatu hadis yang lebih komprehensif dibandingkan hadis ini: “Agama itu nasihat.’ Tidak ada perkataan yang paling dekat, terarah, dan baik di antara amal-amal kebaikan dan amal kaum saleh dibandingkan perkataan berikut ini. Tidak ada pula yang lebih mencakup tentang hak dan keadilan dan yang lebih diridai bagi kelompok khawas dan kelompok awam, yaitu: hendaklah engkau mencintai manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri dan membenci manusia seperti engkau membenci dirimu sendiri. Nasihat bersumber dari amal-amal hati dan cabang-cabangnya berasal dari amal-amal anggota tu, buh. Nasihat bisa saja dilakukan dengan hati dan bisa saja dilakukan dengan lidah, serta bisa saja dilakukan dengan hati, lidah, dan anggota tubuh.”

Etika yang Harus Dipegang

Sesungguhnya ada sesuatu yang membuat sesuatu yang lain terkalahkan. Ada sesuatu yang membuat sesuatu yang lain terlupakan. Ada sesuatu yang menyebabkan sesuatu yang lain terlalaikan. Ada pula sesuatu yang membangkitkan sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang menambah sesuatu yang lain. Orang yang memperhatikan dirinya telah

mengetahui ha) ini. Yang paling minimalnya adalah kewaspadaan dan yang paling maksimal adalah kelupaan.”

Ketahuilah bahwa kejahatan adalah syahwat dan kebaikan adalah sesuatu yang tak begitu disukai (karena dirasa memberatkan). Syahwat mendahului dan mengungguli hal- hal yang memberatkan sampai da. tang ilmu dan kejujuran yang menghilangkan syah. wat dan memposisikan hal-hal itu pada tempatnya, Barang siapa belum mengerti dan memahami hal ini ketika mendengarnya, ia tidak akan melakukan evaluasi terhadap batinnya dan tidak melakukan perbaikan sehingga mempelajarinya dari orang-orang yang dapat melakukan  dan menggambarkannya  dengan baik. Kalau bukan  karena banyaknya pendapat tentang hal itu niscaya kami akan menulisnya.

Dua sahabat yang paling baik adalah rasa duka dan sedih terhadap urusan akhirat. Kesibukan yang paling nikmat adalah introspeksi diri (al-muhdasabah). Orang yang sering berduka, bersedih, dan melakukan jntrospeksi menganggap saat tanpa kesedihan, kedukaan, dan introspeksi sebagai—sama saja dengan—saat menganggur. Sedangkan kelengahan yang paling kecil baginya laksana dosa yang paling besar bagi orang lain.

Di antara tanda keyakinan pada manusia adalah lestarinya kesedihan dalam dirinya. Saudaraku, kalau seorang hamba tak pernah bersedih kecuali karena kasarnya tabiat, kealpaan, kelalaian, dan sedikitnya kejujuran dalam amal-amal fardu ataupun nafilah yang telah ia kerjakan, serta karena sedikitnya rasa malu dan pengawasan, maka memang patutlah ia bersedih dan berduka.

Kalau seorang hamba tak pernah bersedih kecuali karena tidak memiliki ilmu apakah ia diterima (maqbal) atau ditolak (mardtid) meski melakukan amalamal seperti yang diamalkan malaikat, jin, manusia, dan seluruh alam semesta, serta tidak pula ia tahu apakah amal-amalnya ditolak seberat biji zarah atau justru diterima seberat biji zarah, maka pastilah layak ia bersedih.

Kalau seorang hamba tak pernah bersedih kecuali ketika dikatakan kepadanya, “Pilihlah suatu waktu dari usiamu ketika engkau tidak pernah melakukan perbuatan maksiat kepada Allah karena suatu sebab tertentu, (niscaya) ia tidak menemukannya, maka patutlah ia bersedih.

Kalau seorang hamba tak pernah bersedih kecualj ketika dikatakan kepadanya, “Apakah engkau mengta. hui satu saat dalam hidupmu ketika engkau senantiasa mengerjakan seluruh perintah Allah yang diwajibkan kepadamu,” sedangkan ia (pasti) menjawab, “Aku tidak tahu maka memang seyogyanyalah ia bersedih.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker