9 Tabiat Pencari Kebaikan
Pencari kebaikan membutuhkan lima kebiasaan, di Poros kebutuhan terhadap pengetahuan mengenai batas-batas amal dan hukum-hukumnya, pelaksanaannya yang tulus ikhlas dan jujur sebagaimana diperintahkan, diwajibkan, dan disunnahkan. Pelaku kebaikan tak dapat tidak untuk membiasakan lima tabiat, yaitu jujur, benar, syukur, berharap, dan takut.
Kebenaran (al-Shawab)
Berlaku benar atau bertindak secara tepat adalah sunnah.‘ Sunnah tidaklah digapai dengan sering shalat, kerap berpuasa, dan bersedekah. Tidak pula dengan akal dan pemahaman, juga keanehan-keanehan hikmah, bahkan tidak pula dengan dakwah dan nasihat. Sunnah diraih dengan mengikuti (ittiba’) dan berserah (istislam) kepada Kitab Allah, ajaran Rasul-Nya saw. dan para imam yang terpercaya setelahnya.
Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya atas sunnah daripada akal. Tatkala manusia ingin menempuh jalan sunnah dengan akal dan pemahaman, pastilah ia akan melanggarnya dan mengambil jalan yang berbeda darinya.”
Kejujuran (al-Shidq)
Kejujuran itu ada pada empat hal, yaitu engkau beramal kemudian engkau tidak mengharapkan balasan dan terima kasih atas hal itu kecuali dari Allah, engkau tidak membatalkan (pahala) amal dengan katakata kotor dan cercaan, serta kejujuran lidah dalam berbicara. Bisa jadi orang jujur akan keadaannya dengan lisannya, tetapi ia mengkhianati Allah dalam kejujurannya. Dialah orang yang selalu bergibah dan mengadu domba.
Syukur (al-Syukr)
Syukur berarti mengetahui cobaan. Jika seseorang mengetahui bahwa setiap nikmat berasal dari Allah (bukan dari yang lain), maka nikmat itu adalah ujian Allah bagi manusia, apakah ia bersyukur atau malah kufur. Demikian halnya, setiap keburukan yang jauh dari manusia, maka Allah-lah yang menjauhkannya untuk menguji apakah ia bersyukur atau kufur kepadanya. Itulah syukur.
Jika manusia mengetahui bahwa ujian itu dari Allah, lantas menganggapnya sebagai nikmat atas dirinya dan tidak pernah memasukkan unsur selain Tuhan dalam hal itu, baik dirinya maupun orang lain, maka ia telah mensyukurinya. Bersyukur itu memang mempunyai beberapa tingkatan dan, dalam hal itu, manusia berbeda-beda dan berlapis- lapis. Apa yang kita bicarakan ini adalah yang paling rendah sedangkan yang paling tinggi tak akan dapat dicapai siapa pun dan tak ada batasnya.
Di antara wujud syukur yang mirip seperti apa yang telah kami gambarkan—hanya barangkali yang ini merupakan asal syukur—yaitu mengetahui dengan hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah dengan pengetahuan sarat keyakinan (‘ilm al-yaqin) yang tidak dicampuri keragu-raguan. Jika seorang hamba telah mengetahuinya dengan hatinya, hendaklah lidahnya menyebut-Nya, memuji-Nya, kemudian tidak menggunakan nikmat dari Sang Pemberi nikmat untuk sesuatu yang dibenci-Nya.
Rasa syukur yang lebih tinggi dari itu adalah bila engkau menganggap setiap malapetaka yang menimpa sebagai suatu nikmat, karena malapetaka yang menimpa manusia yang lain lebih dahsyat dan besar dibandingkan dengan malapetaka yang menimpamu. Pada saat itu, manusia merasa butuh bersabar, sementara ia malah bisa bersyukur.
Berharap (al-Raja’)
Berharap adalah mengharapkan diterimanya amal dan pahala berlimpah atasnya, sekaligus merasa khawatir kalau-kalau amal akan ditolak atau mungkin telah terasuki penyakit yang merusak.
Orang yang berharap itu ada tiga macam. Pertama, seseorang yang mengerjakan kebaikan dengan penuh kejujuran, ikhlas, hanya menginginkan Allah, dan mencari ganjaran-Nya. Ia mengharapkan diterimanya kebaikan itu sekaligus pahalanya dan ia amat berhati-hati untuk melakukannya.
Kedua, seseorang yang mengerjakan kejahatan kemudian ia bertobat kepada Allah. Ia berharap tobatnya akan diterima dan diberikan pahalanya. Ia sangat mengharapkan ampunan serta magfirah dan takut kalau ia sampai diberi hukuman.
Ketiga, orang yang bergelimang dosa dan hal-hal yang tak disukai untuk ia lakukan, sedangkan ia tidak suka menemui Allah dengan noda dan dosa itu. Ja mengharapkan ampunan tanpa bertobat. Ia tidak bertobat dari kejahatannya dan tidak pula menjauhinya, tetapi pada saat itu, ia sedang mengharap. Orang seperti ini dikatakan sebagai pendusta dan orang yang tergantung dengan harapan, keinginan, dan sikap antusias yang semu.
Perbuatan seperti ini akan memutus serpihan keagungan Allah dari hati manusia sehingga pengingkarannya terhadap Allah terus berlangsung, bersikap tenang di sisi kemurkaan Allah, dan merasa aman dari disegerakannya hukuman. Dialah pendusta yang terpedaya dan melampaui batas.”
Orang-orang yang patut diteladani adalah orang-orang yang memiliki rasa takut lebih besar daripada rasa berharap. Pasalnya, harapan yang sejati sama kadarnya dengan pelaksanaan ketaatan.
Takut (al-Khawf)
Ketakutan itu sebanding dengan dosa yang dilakukan. Seandainya harapan bisa dijalankan tanpa amal niscaya orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat itu sama saja nilainya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang- orang yang berhijrah serta berjuang di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah.” (Q.S. al-Baqarah: 218). Allah juga berfirman,
“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan kaum yang berbuat kebaikan? (Q.S.
al-Araf: 56).
Makna hadis berikut ini, “Seandainya harapan dan ketakutan kaum beriman ditimbang niscaya keduanya akan seimbang,” semestinya khusus untuk pelakunya. Hadis ini menjelaskan hadis yang lain, “Orang beriman itu seperti orang yang memiliki dua hati, satu hati untuk mengharap dan satu hati untuk takut” Jika orang tersebut berbuat baik, maka ia mengharap, dan jika berbuat jahat, maka ia takut, bertobat, menyesal, dan menghindar.
Orang yang mengetahui bahwa dirinya banyak berbuat jahat, hendaknya ketakutannya sebanding dengan pengetahuannya itu. Sedangkan harapannya sebanding dengan pengetahuan dirinya tentang kebaikannya. Harapan sesuai kadar upaya menuntut kebaikan, sedangkan ketakutan sesuai kadar upaya melarikan diri dari kejahatan.









One Comment