14 Pujian dan Celaan
Seorang tidak menginginkan balasan dan ucapan terima kasih atas perbuatannya, sedangkan ia dikenal sebagai orang yang selalu berbuat kebaktian dengan menjalankan shalat, bersedekah, berpuasa, dan lain sebagainya. Ia pernah dipuji suatu kaum sehingga ia sangat bahagia. Selain itu, ia pernah pula dicela kaum yang lain sehingga ia sangat kesal dan benci, sampai kemudian ia tahu sendiri perubahan sikap kedua kelompok tersebut. Bagaimana orang ini tahu niatnya padahal kecintaan terhadap pujian dan kebencian terhadap celaan masih tetap bersemayam dalam hatinya? Orang yang ria sangat senang kepada pujian dan sangat benci kepada celaan.
Sesungguhnya ia benci jika orang-orang tidak senang kepada pujian yang baik dan ia juga benci jika mereka senang kepada celaan, baik ketika mereka sedang beramal maupun tidak—jika ini bukan penafsiran yang keliru. Orang yang ria senang kepada pujian dan benci kepada celaan. Sebaliknya, orang yang jujur tidak suka itu; membenci
pujian dan mencintai celaan. Sesungguhnya sebagian besar kaum yang jujur pernah dipuji dan diagungkan, tetapi semua itu tidak membahayakan dirinya.
Perbedaan antara keduanya yaitu bahwa keinginan orang yang ria dalam beramal adalah memperoleh gengsi duniawi dan kedudukan di kalangan manusia
sehingga amalnya dirusak oleh niat dan keinginannya, entah ia mendapatkan yang ia inginkan itu atau tidak, entah mereka memujinya atau tidak, entah mereka mencelanya atau tidak.
Orang yang tidak ria membenci celaan bila (karena) dalam celaan terkandung sesuatu yang tak disukai—seperti kejatuhan martabat di mata manusia, kebencian dari kaum beriman, dan sebagainya. Sedangkan pujian yang baik dan ucapan indah ia sukai bila sebagai sarana perlindungan Allah dan sebatas sebagai harapan terhadap pujian yang baik, ucapan yang indah, cinta dari manusia, dan kasih sayang mereka terhadapnya. Kebulatan niat dan tekadnya ada sejak awal hingga akhir urusannya. la tidak menginginkan dengan hal itu kecuali rida Allah dan kampung akhirat, apakah ia dipuji, dicela, disukai, atau dibenci mereka.”
Ketakutan Terhadap Pergeseran Niat
Barangkali seseorang mulanya yakin bahwa keinginannya dalam beramal adalah keinginan akhirat, kemudian sedikit demi sedikit beralih menjadi keinginan dunia. Ini merupakan sesuatu yang samar. Pengetahuan dan perhatian orang pada umumnya akan hal ini sangat sedikit. Sebaliknya, kelengahan dan kealpaan mereka terhadapnya sangat besar. Sudah sepatutnya perhatian orang beriman terhadap hal itu lebih besar dibanding perhatiannya terhadap amal-amal lahiriahnya karena amal-amal anggota tubuh tak dapat diubah dan dialihkan dari keadaannya. Tak ada jaminan bahwa niat tidak akan rusak meskipun pada awalnya benar dan sehat: bisa saja niat berubah dari yang sebelumnya baik menjadi lebih buruk dan lebih merusak pada masa mendatang.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Amal-amal itu tergantung kepada niat dan bagi seseorang balasan sesuai niatnya.”
Amal bisa saja terwujud dengan niat ataupun tanpa niat. Makanya, manusia sangat membutuhkan pengetahuan tentang niat sekaligus tentang bagaimana niat itu bisa rusak. Segala amal akan dianggap baik jika niatnya baik dan dianggap rusak jika niatnya rusak. Sesungguhnya semua yang tengah kami sebutkan adalah gambaran (sifat) amal. Hakikat dan sahihnya niat memiliki tanda-tanda selain ini.
Seluruh amal mengandung dua sisi. Satu sisi mengandung niat dan satu sisi lagi tidak mengandungnya. Amal yang tidak berlandaskan ketaatan kepada Allah atau sunnah Rasulullah tidak mengandung niat. Amal yang mengandung niat adalah ketaatan kepada Allah yang berdasarkan jalan-Nya dan sunnah. Akan hal itu, manusia terbagi menjadi dua kelompok: yang mengenal niat dan yang tidak mengenalnya.
Kelompok yang mengenal niat terbagi lagi menjadi dua, yaitu kelompok yang puas melihat niat dengan angan-angan dan kecerobohan, serta kelompok yang tidak percaya diri atas niat dan tidak memperhatikan kecuali yang benar (menguntungkan) bagi mereka pada saat penimbangan (amal), yaitu ujian (mihnah) dirimu.
Teliti Mengawasi Hati
Sebagian orang beranggapan bahwa dirinya benci kepada pujian dan sanjungan karena berhati-hati dengan amalnya dan takut akan fitnah. Ia tidak menghiraukan kesan dan prasangka orang tentang dirinya. Sebab, sebagian besar prasangka orang lain tidaklah sama dengan apa yang mereka sangka sampai mereka melihat
kejujurannya ketika ia menjelaskan.”! Hendaklah seorang hamba mengevaluasi dirinya | ketika sedang dipuji, disanjung, dicela, atau dinisbatkan kepada sesuatu yang ia benci. Hendaknya kekagumannya kepada pujian dan sanjungan adalah kekaguman terhadap tertutupinya (sitr) amal yang telah kami katakan, harapan terhadap pujian yang baik dan
ucapan yang indah seperti firman Allah, “Aku berikan atasmu suatu cinta yang berasal dari diri-Ku? (QS. Thaha: 39). Juga firman-Nya, “Kami datangkan untuknya balasan di akhirat? (QS. al-‘Ankabut: 27), yaitu, pujian. Allah juga berfirman, “Dan Kami berikan untuknya kebaikan di dunia? (QS. al-Nahl: 122), yaitu pujian yang baik. Serta firman Allah, “Dan jadikanlah untuk-Ku lidah kejujuran tentang orang lain, (QS. al-Syu‘ara: 84), yaitu pujian yang baik.
Nabi Muhammad saw. bersabda tentang seseorang yang berbuat amal dengan mengharapkan rida Allah, lalu ia dipuji dan disanjung manusia, “Itulah berita gembira bagi kaum beriman yang disegerakan.’” Juga, sabda beliau tentang hamba yang dicintai Allah, “Ia tidak akan pernah dapat mengeluarkan dirinya dari dunia sehingga ia memenuhi telinganya dengan apa yang disukai.’ Sabda beliau yang lain, “Kalianlah syuhada Allah di muka bumi, dan lain sebagainya seperti yang disebutkan dalam Alquran dan sunnah.
Jika kegembiraannya terhadap kebaikannya yang disebut-sebut merupakan simbol terima kasih terhadap perahasiaan (sitr) Allah atas dirinya dan pujian untuk Allah karena dia telah dijadikan-Nya termasuk orang yang dikenang kebaikannya, maka itu bukanlah kegembiraan yang keliru, tetapi merupakan wujud syukur dan permintaan tambahan rahmat.
Tanda keselamatan niatnya ketika itu adalah bertambahnya ketawadukan kepada Allah dan syukur atas nikmat-nikmat-Nya serta kesungguhan ketaatan kepada-Nya. Bersamaan dengan itu, ia patut kembali ke jalan ketakutan terhadap ditariknya nikmat- nikmat secara perlahan (al-istidraj) dan ia—sepatutnya—lebih mencintai amalnya yang tersembunyi dibanding amalnya yang lahiriah karena takut akan fitnah seperti yang menimpa kaum saleh akibat pujian dan sanjungan yang mereka dengarkan—sekiranya penjauhan larangan dan kemakruhan, pensucian diri, dan pemujian didengar pelakunya. Itu sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Siapa memuji saudaranya di hadapannya, maka seakan-akan Musa menusuk tenggorokannya dalam keadaan sangat marah.” Juga sabda Nabi yang lain, “Seandainya ia mendengar (pujian)mu, maka ia tidak beruntung. Serta sabda Nabi yang lain, “Jika engkau melukai orang, maka Allah akan melukaimu.”
Jika niat dan maksudnya adalah mensyukuri Allah atas perahasiaan (sitr)-Nya dan memuji Allah atas nikmat-nikmat-Nya serta atas kegembiraan hatinya ketika mendengar sanjungan seraya berharap (dirinya) bisa menjadi teladan, maka jika ia termasuk orang yang layak untuk diikuti seperti yang difirmankan Allah, “Dan jadikanlah kami pemimpin bagi kaum yang bertakwa’? (QS. al-Furqan: 74), maka aku berharap hal itu tidak akan membahayakannya dan tidak merusak amalnya.
Disebutkan dari Muthrif ibn ‘Abd Allah bahwa ia pernah berkata, “Pujian dan sanjungan yang pernah kudengarkan hanya kuanggap sebagai sesuatu yang kecil.” Ziyad ibn Abi Muslim berkata, “Tak ada seorang pun yang mendengar pujian atau sanjungan kecuali dibujuk untuk ria oleh setan, tetapi orang yang beriman akan senantiasa melakukan evaluasi.” Ibn al-Mubarak berkata, “Benar apa yang keduanya katakan.” Yang disebutkan Ziyad adalah hati kaum awam, sedangkan yang disebutkan Muthrif adalah hati kaum khawas.
Akan tetapi, jika niat dan maksudnya ketika mendengar hal itu dan merasa senang adalah mencari kedudukan dan kehormatan di kalangan manusia, maka itulah keadaannya yang paling buruk yang membuat amalnya sia-sia.
Puji dan Cela bagi yang Saleh dan yang Ria
Kaum ria adalah mereka yang maksud dan _ niatnya—di awal dan akhir amalnya— mencari sanjungan, pujian, posisi, penghormatan di kalangan manusia, dan ingin memperoleh manfaat dengan amal itu. Merekalah orang yang akan mendapat siksa dan celaka di dunia dan akhirat.
Jika ia mengetahui hal yang benar, yakni ia seharusnya tidak takjub dengan arti itu semua dan tidak pula takjub dengan kehormatan yang ia peroleh dari mereka, maka ia tiada berdosa.
Tanda-tandanya yaitu ia bertambah tawaduk dan menjadi ketakutan terhadap penyalahgunaan nikmatnikmat (al-istidraj). Amalnya yang tersembunyi lebih ia cintai dibanding yang tampak karena ia bersemangat untuk menempuh jalan kaum saleh. Berdasarkan itu, ia patut mencintai amal-amal mereka dan gelar kesalehan yang mereka sandang—sehingga mereka menjadi bagian kaum saleh—sekaligus takut terhadap ujian (fitnah) yang lazim baginya, terhadap apa yang lazim bagi ahli pujian dan sanjungan— ketika disanjung atau dipuji—, sebagaimana beberapa sabda Nabi, “Engkau telah melukai orang itu,’ “Seandainya ia mendengarmu, maka ia tak akan beruntung,’ “Engkau telah memotong leher saudaramu,” “Jauhilah pujian karena sesungguhnya memuji itu sama saja dengan menyembelih,” “Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka lemparlah debu ke wajahwajah mereka,” “Seandainya seseorang berjalan ke orang lain dengan pisau yang tajam, maka itu lebih baik baginya dibanding jika ia dipuji di hadapannya.” Hadis-hadis lain semacam itu jumlahnya sangat banyak.
Ketakutan orang yang suka dipuji lebih besar daripada harapannya karena ketakutan tidak membahayakannya sedangkan harapan tidak dapat dijamin fitnahnya.
Tanda orang-orang yang ria dan gila kehormatan di dunia ialah bahwa mereka senang mendengar pujian sehingga menambah kesombongan, keangkuhan, dan kelalaian mereka dalam menyalahgunakan nikmat. Mereka terus berangan-angan dan berhasrat untuk lebih mencintai amal lahiriah dibanding amal batiniah. Mereka tidak pernah takut terhadap ujian dan bencana.
Begitu juga ketika ia membenci celaan, sebenarnya ia membencinya karena ingin posisinya selalu dipuji dan disanjung agar ia mendapatkan kehormatan, keagungan, kedudukan, dan jabatan di kalangan manusia. Itulah kebencian yang tidak sehat dan sangat tercela. Sedangkan orang yang benci itu sebetulnya tertipu dan terpedaya.
Akan tetapi, jika hal itu hanya merupakan wujud cintanya terhadap perahasiaan (sitr) Allah atas dirinya dan ketidaksukaan terhadap terbukanya perahasiaan itu karena ia tidak pernah dibenci manusia sampai kemurkaan Allah mendatanginya sebelum kemurkaan
manusia; jika kebencian (terhadap celaan) karena faktor ini, maka sesungguhnya hal ini dibenci baik oleh orang jujur maupun yang tidak jujur, sehingga tidaklah perlu ia dicela.
Tanda (orang itu) adalah ketundukan, kepasrahan, evaluasi, perenungan secara jernih akan jalan cinta Allah, jalan istikamah, arah iman, dan kesungguhan di dalamnya.









One Comment