Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

20 Introspeksi Diri

Katakan kepadaku bagaimana seharusnya aku melakukan introspeksi diri agar aku mengenali diriku?

Segala sesuatu bisa diketahui melalui indikasiindikasi, tanda-tanda, dan contoh-contoh. Aku memberikan perumpamaan sebagai sebuah jawaban terhadap pertanyaanmu.

Sesungguhnya manusia,  dalam hal kesamaan dan perbedaan setelah memperoleh pengetahuan dan pengalaman, ibarat keranjang yang diletakkan di pinggir jalan dan di dalamnya terdapat botol-botol tertutup yang berisi penuh  cairan, kemudian  dilewati banyak orang tanpa mereka ketahui apa yang ada di dalamnya. Selanjutnya, salah seorang dari mereka menemukannya seraya berkata, “Aku akan membuka keranjang ini dan  akan aku  ketahui  apa  isinya.”  Kemudian  ia membukanya  sehingga  ia melihat botolbotol yang berisi penuh, tetapi ia tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Ia membuka penutup botolnya sehingga ia mencium bau minyak wangi misik, bau minyak ikan ambar, bau minyak pohon ben, bau sesuatu yang busuk, bau bunga yasmin, bau bunga melati, dan seluruh bau-bauan dari berbagai jenis parfum dan minyak-minyakan. Di antaranya ada pula bau korek api, bau minyak tanah, bau aspal, dan bebauan yang tidak dapat dicium karena baunya yang menyengat.

Manusia ibarat botol-botol dalam keranjang. Akan tetapi, mereka berbeda dalam hal pengetahuan dan akhlaknya sama seperti isi botol-botol itu.

Engkau sendiri juga laksana keranjang, sementara akhlak dan adabmu laksana botol- botol. Bau yang harum adalah sebaik-baik moral dan etikamu. Bau yang amis adalah seburuk-buruk keduanya.

Jati diri tidak akan diketahui kecuali setelah dicoba dan diuji. Ujilah dirimu sehingga engkau tahu apa yang terkandung di dalamnya. Jika engkau ingin mengetahuinya, berinteraksilah bersamanya, memeriksa tekadnya, dan pertajamlah tatapanmu terhadapnya sehingga engkau mengetahui kesabaranmu pada saat engkau dibodoh- bodohkan oleh orang yang bodoh, bukan pada saat yang disenangi hawa nafsumu.

Kenalilah ketawadukanmu ketika tidak dikasari oleh orang yang kasar dan ketika engkau dihormati seseorang karena dalam keduanya terkandung godaan. Sesungguhnya manusia bisa saja memperlihatkan kerendahan hatinya ketika dihormati (dengan harapan) agar penghormatan kepadanya semakin bertambah, dan bisa saja ia bersikap rendah hati ketika dikasari (dengan harapan) agar ia tetap dianggap sebagai orang yang rendah hati di kalangan manusia. Ambillah sikap dalam keadaan seperti itu dan periksa kembali niatmu.

Kenalilah sikap diammu ketika takut akan jatuhnya kehormatanmu di hadapan orang- orang yang menganggapmu selaku orang terhormat dan mulia. Kenalilah pula kejujuranmu pada situasi saat banyak orang membaik-baikkan diri dan berpura-pura.

Kenalilah ketulusanmu ketika engkau mencintai dirimu sendiri, kawanmu dan lawanmu sehingga engkau mengetahui apakah  engkau mencintai orang  Jain seperti engkau mencintai dirimu. Kenalilah pula kesabaranmu ketika engkau meninggalkan syahwat yang telah dikuasai kesabaranmu. Dapatkah engkau meninggalkannya?

Kenalilah kewarakanmu saat engkau mampu untuknya. Dapatkah engkau bertahan dalam kewarakan jika situasi itu menjadi kacau bagimu? Kenalilah pula akalmu ketika meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu di dunia dan tidak pula bermanfaat di akhirat sckaligus tidak ada pula balasannya dari Allah. Dapatkah engkau meninggalkan hal itu?

Kenalilah keamanahanmu saat hawa nafsu mulai menggodamu. Dapatkah engkau melaksanakan amanatmu dengan baik pada saat itu? Kenalilah pula ambisimu saat menggebu hasratmu. Dapatkah engkau berputus asa pada saat itu?!’

Jika engkau adalah orang yang terpuji pada waktu dan situasi seperti itu, betapa bagus kebaikanmu. Pujilah Allah, mintalah tambahan karunia-Nya, dan teruskanlah sikapmu itu karena sesungguhnya engkau berada di jalur istikamah, jalan cinta, dan arah iman.

Jika engkau adalah orang yang tercela pada situasi-situasi itu, perbaikilah akhlak dan tingkah lakumu karena sesungguhnya ada kerusakan yang parah dalam dirimu. Engkau sedang tidak berada di jalur istikamah, tidak pula di jalan cinta, dan tidak pula di arah iman. Takutlah kepada Allah serta periksa dan perbaiki kembali kerusakan dirimu.

Pada sebagian keadaanku, muncul dari diriku sesuatu yang aku murkai dan aku sangat menyesal terhadapnya.

Kemurkaanmu terhadapnya berasal dari pengetahuanmu tentang keadaan-keadaan itu. Penyesalanmu  terha dapnya  adalah  obatnya.  Jika  engkau  melihat  aib  orang  Jain, ingatlah aibmu dan kemarahanmu terhadap dirimu sendiri. Seandainya maslahat dan manfaat diri manusia ada dalam apa yang engkau inginkan dan senangi, pastilah seluruh manusia adalah orang-orang yang saleh, tetapi mereka menganggap kesalchan diri ada pada apa yang kau benci dan kehancurannya ada pada apa yang engkau cintai dan senangi.

Di antara introspeksi diri yang dapat engkau lakukan adalah menjauhkan dan menolak hawa nafsu sehingga engkau katakan, “Wahai diri, sesungguhnya engkau tidak akan mampu menipu dan mengalahkan Allah. Karena itu, jangan menerima tipu daya setan dan tidak pula kemenangannya. Janganlah engkau menuruti hawa nafsumu sehingga ia menjerumuskan dan menghancurkanmu.”

Sesungguhnya aku tidaklah membawamu kepada sesuatu yang tidak engkau miliki kekuatan dan ilmunya. Sesungguhnya aku melihatmu mencintai, bagi dirimu, sesuatu yang engkau benci bagi orang lain dan engkau membenci, bagi dirimu, sesuatu yang engkau sukai bagi orang lain.!

Jangan Menipu Diri

Aku melihatmu mencintai kaum yang bersikap tawaduk, jujur, dan amanah schingga jika engkau melihat kubur dan jejak peninggalan mereka, maka engkau akan mencintainya seperti asumsimu dan engkau membenci sifat-sifat mereka yang dengannya mereka memperoleh cinta darimu. Bahkan, jikapun mereka mampu memusuhi musuhmu setelah menghilang darimu, niscaya itu adalah harapanmu. Baik engkau ingin menipu Allah karena engkau tahu bahwa Dia mengawasimu atas hal itu ataupun jika engkau tidak dapat berbuat kebajikan dengan baik.

Saudaraku, sesungguhnya orang lapar itu sangat menginginkan roti dan orang haus sangat mendambakan air. Andai roti dan air diletakkan di atas meja yang berada di hadapannya atau digantungkan di kedua lehernya, maka tetap saja ilmu orang yang lapar dan haus tentang keberadaan roti dan air bersamanya tidak akan bermanfaat bagi mereka berdua—tidak pula kedekatan jarak keduanya—kecuali bila mereka makan dan minum.

Demikian pula dirimu. ilmumu tentang kebaikan, keakraban dengannya, dan kecintaanmu terhadapnya tidak akan berguna sehingga kebaikan itu ada pada dirimu dan engkau  benar-benar  menjadi  ahli  kebajikan.  Namun,  aku  tidak  menganggapmu

menyukainya, tetapi engkau tertipu atau menipu diri sendiri dalam klaimmu bahwa engkau menyukainya.

Saudaraku, apakah engkau pernah melihat orang haus yang mampu mendapatkan air dingin tapi tidak meminumnya kecuali orang yang mengaku-aku haus yang tidak benar- benar haus.

Atau, apakah engkau pernah melihat seorang lapar yang mendapatkan makanan tapi tidak memakannya kecuali ia seorang yang mengaku-aku lapar yang sebenarnya tidak lapar.

Betapa jelas batalnya klaimmu bahwa engkau mencintai kebaikan dan termasuk salah satu ahlinya jika engkau mengkiyaskan kecintaanmu terhadap dunia dengan kecintaanmu terhadap akhirat. Karena, aku melihat jika engkau menginginkan dunia, maka engkaupun tidak menghendaki selainmu menjadi pemiliknya. Lantas, jika engkau menginginkan amal kaum yang saleh seperti yang engkau anggap, maka_ tidak ada yang paling berat bagimu selain bahwa engkau harus menjadi pelakunya. Seandainya engkau mencintainya niscaya engkau sangat menginginkan tidak seorangpun yang mendahuluimu dan memiliki yang lebih banyak daripada yang engkau miliki.

Saudaraku, Kapankah engkau kenyang lagi jenuh mendustai dan menipu Allah? Kapankah, dari masa hidupmu, engkau menginginkan namamu tertulis bersama mama- nama kaum yang saleh dan rendah hati, kaum yang ikhlas dan senantiasa memberi nasihat, kaum yang selalu bersyukur dan rela, kaum yang senantiasa bersabar dan pasrah, kaum yang percaya dan tawakal, kaum yang berserah diri dan takut, kaum yang senantiasa rindu dan bijak, serta kaum yang alim dan penuh keyakinan.

Aku katakan dengan sungguh-sungguh kepadamu. Jika seseorang diam karena mementingkan diri sendiri, maka engkau patut diam dalam posisimu sebab aku melihatmu begitu mementingkan dan mendekati dunia, yang disertai dengan keyakinanmu bahwa dunia tidak ada artinya dan keinginanmu untuk meninggalkan jalan

kaum saleh dan ahli kebajikan, serta kerelaanmu untuk tidak bergaul dan berdekatan dengan Nabi Muhammad saw. di surga.

Seandainya engkau bersahabat dengan Nabi di dunia, kemudian engkau meninggalkan seluruh urusan dunia dan mengedepankan persahabatan dengan beliau, niscaya yang engkau tinggalkan adalah sesuatu yang lebih hina dibanding dengan yang engkau peroleh. Lalu, bagaimana dengan persahabatan di surga yang disertai kepemilikan yang abadi di sisi Allah dan para kekasih-Nya? Juga, bersama para nabi, kaum yang jujur, para syuhada, dan kaum saleh dalam suasana yang penuh dengan kenikmatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan yang abadi?

Evaluasilah dirimu, saudaraku. Lihat apa yang terkandung di dalam penipuan ini. Lihat apa yang telah mengalahkanmu dan keyakinanmu. Atau, tipu daya macam apa yang telah masuk ke dalam dirimu?

Pikirkanlah tentang timbangan amalmu kelak dan pertanyaan Allah kepadamu tentang amal-amal seberat zarah dan biji sawi, juga yang lebih besar ataupun lebih kecil dari itu.

Pikirkanlah tentang cepatnya ajal berakhir, dan pendeklah dalam angan-angan, sehingga engkau tidak dapat meninggalkan angan-anganmu dan tidak pula ia dapat meninggalkanmu barang sekejap mata, tidak pada malam hari dan tidak pula pada siang hari.

Subhana Allah. Bagaimana engkau tidak bingung dan kehilangan akal karena kaget terhadap urusanmu?

Evaluasilah urusanmu. Pikirkan apa yang diinginkan dari dirimu. Yang diinginkan darimu adalah jika engkau beramal atau tidak beramal, maka inginkanlah kerelaan Allah dengannya. Apakah yang engkau bisa lebih sedikit dari ini? Ini dalam hal nafilahmu. Sedangkan dalam fardumu, engkau tidak diizinkan untuk meninggalkan barang sedikit pun sehingga engkau mengerjakan sesuatu sesuai dengan perintah dan meninggalkan

sesuatu sesuai dengan larangan. Engkau tidak pernah ditugasi sesuatu yang tidak bisa engkau taati dan tidak pula dibebani dengan sesuatu yang tidak pernah dibebankan kepada orang lain.

Dengan hal itu, engkau diharapkan agar menginginkan kebajikan untuk manusia. Jika engkau tidak menginginkan suatu kebajikan untuk mereka, maka jangan menginginkan kejahatan untuk mereka. Apakah yang engkau bisa lebih sedikit dari ini? Atau, engkau rida bahwa manusia menginginkan kebajikan untuk dirimu sedangkan engkau menginginkan kejahatan untuk mereka?

Yang diinginkan darimu, janganlah menjadikanmu sebagai di atas manusia dalam jiwamu, tidak dalam hatimu, dan tidak pula di lidahmu. Apakah yang engkau bisa lebih sedikit dari ini? Padahal, engkau dan semua orang telah diseru untuk melakukan hal ini, bukan engkau saja.

Perangkat yang Tepat Katakan kepadaku. Jika engkau melanggar hal ini dan engkau menginginkan selain Allah dengan amalmu serta engkau ingin pula mengangkat dirimu di atas manusia atau engkau tidak mencintai sesuatu untuk mereka, apakah engkau mendapatkan atau menerima apa yang engkau harapkan dari hal itu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa engkau akan berada di jarak yang paling jauh dengan Allah jika seperti itu?

Kendati demikian, aku tidak pernah melihatmu mencari dinar atau dirham sehingga memberimu manfaat dan dapat menemanimu pada hari-hari yang engkau jalani. Akan tetapi, engkau mencari pujian, penghormatan, dan kedudukan dengan hal itu. Engkau telah memilih suatu jalan/cara yang dengannya engkau patut mendapat sikap benci orang-orang yang berbeda denganmu, dan orang-orang yang sepaham denganmu ketika mengemuka urusan rahasiamu—yang memang pasti akan mengemuka suatu ketika.

Kesabaran tidak pernah mewariskan alasan dan dalih bagi manusia. Siapa tidak pernah bertemu Allah dengan kenikmatan rida sesuai dengan perintah-Nya, hendaklah ia menemui Allah dengan kesabaran dan (penjauhan dari) sesuatu yang dibenci-Nya. Dan, siapa belum pernah bertemu Allah dengan membenci larangan-Nya, janganlah ia menemui Allah dengan cinta untuk-Nya, tetapi dengan kesabaran. Sebab, kesabaran tidak lagi menyisakan dalih bagi manusia.

Dari yang sedikit ada pelajaran bagi orang ba, nyak. Sesungguhnya jika ahli dunia menginginkan sesuatu, maka mereka mulai dengan permintaan, Mereka meminta suatu perangkat yang dengannya mereka mengerjakan hal itu. Jika tidak, maka tidak ada sama sekali jalan bagi mereka untuk menuju kepada pekerjaan itu.

Jika seluruh ahli dunia berkumpul dengan mem. bawa perangkat tiap industri, maka apakah mereka mampu melihat lubang suatu jarum kecuali dengan alat yang memang alatnya: Demikian pula dengan segala hal.

Pernahkah engkau melihat seorang tukang pemasang ladam mampu melakukan pekerjaannya dengan alat yang digunakan tukang jahit? Atau, mampukah tukang jahit melakukan pekerjaannya dengan menggunakan alat tukang pemasang ladam?

Demikian pula dengan setiap pekerjaan. Tukang besi tidak akan mampu melakukan pekerjaannya dengan menggunakan alat tukang kayu, tidak pula tukang kayu akan dapat melakukan pekerjaannya dengan menggunakan alat tukang sepatu.

Demikian pula dengan amal akhirat. Amal akhirat tidak akan mampu dikerjakan kecuali dengan perangkatnya. Perangkat pokoknya adalah ilmu, makrifat,  dan  kemampuan mengambil kesimpulan dari pengamatan. Semua itu adalah petunjuk perangkat.

Cinta Dunia Pangkal Tiap Bencana

Nabi Muhammiad saw. bersabda, “Kecintaanmu terhadap sesuatu akan membutakan dan menulikan dirimu.”?’ Nabi ‘Isa as. bersabda, “Cinta dunia adalah pangkal setiap dosa.”

Obat paling mujarab yang dapat dimanfaatkan kaum beriman dalam masalah agamanya adalah memutuskan cinta dunia dari hatinya. Jika ia telah melakukannya, maka meninggalkan dunia” baginya adalah sesuatu yang remeh dan pencarian akhirat adalah sesuatu yang mudah. Dan, ia tidak akan dapat memutusnya kecuali dengan alatnya. Aku tidak pernah mengatakan bahwa perangkat yang dapat digunakan untuk memutus dunia adalah kemiskinan, kekurangan sesuatu, banyak melakukan puasa, shalat, haji dan jihad. Akan tetapi, perangkat utamanya adalah pikiran, angan-angan yang singkat, melakukan evaluasi tobat dan pensucian, mengeluarkan keangkuhan dari hati, melazimkan sikap rendah hati, mengisi hati dengan ketakwaan, melestarikan kesedihan, dan memperbanyak kedukaan terhadap apa yang dihadapi.

Betapa banyak orang yang mengerjakan amalamal? yang kami lukiskan ini sementara cinta dunia semakin bertambah dalam hatinya. Banyak manusia yang tidak memperbanyak amal-amal itu, dan cintanya kepada dunia sangatlah kurang karena ia mengambil dari satu sisi, yaitu dengan mendisiplinkan dirinya untuk berpikir dan memendekkan angan-angan. Akan tetapi, segala yang dibolehkan Allah itu kemudian diletakkan sesuai dengan perintah Allah. Hatinya terbiasa dengan menyebut dekatnya masa kematian beserta segala penderitaannya, seperti kubur, pertemuan dengan Allah, dan penghisaban yang panjang. Ia tidak tahu di kelompok mana dirinya akan diletakkan dan di bagian mana namanya akan ditulis. Apakah di kelompok orang-orang yang akan dikumpulkan di surga atau kelompok orang-orang yang akan digiring ke neraka. Ia berpikir mengenai dosa-dosa yang sekiranya ahli dunia disiksa karenanya, maka mereka hancur sepanjang keabadian ahli neraka di dalamnya. Yang lebih pedih dari itu adalah kemurkaan Allah atas penghuni neraka.

Ia takut kalau-kalau rida Allah luput dari penghuni surga. Ia mengurangi pemikiran tentang dunia dan segala kenikmatannya karena sesungguhnya hati bersama pemikiran

akan selalu hidup, jika pikirannya berkaitan dengan akhirat, dan sebaliknya, ia akan mati jika pikirannya berkaitan dengan dunia.

Tidak patut bagi seorang hamba untuk menghendaki kehormatan, pujian, penghargaan, sanjungan dari manusia, dan kelebihan nikmat duniawi sebagai pengisi sisa-sisa umurnya di dunia. Ia sepantasnya menghendaki hal-hal itu diberikan kepada musuh bebuyutannya, atau orang yang paling mendengkinya, dan tidak diberikan kepada kerabat-kerabatnya, sahabat-sahabatnya. Seusainya ia berharap bahwa hal itu bisa menjadi tebusan neraka baginya, sehingga kalaupun ia dipanggil menujunya dan untuk dipenjarakan dalam penjara (neraka) yang sempit, ia akan menolaknya, memilih tempatnya sendiri, dan ia akan hati-hati dengan, dan menjauh dari, neraka itu, sebagaimana tuntutannya sebelum itu.

Sekiranya dalam diri seorang hamba hanya terkandung harapan untuk dapat memperbaiki apa yang rusak dari umurnya di masa lalu, maka hendaklah ia memperbaikinya dan melepaskan diri dari (bayang-bayang) masa lalu. Hendaklah ia menjadikan kesedihan, kedukaan, pertemuan yang sedikit dengan orang lain sebagai beban dirinya disertai dengan doa dan ketundukan. Hendaknya ia juga menjadikan kematian sebagai pusat perhatiannya dan mencari solusi cepat untuk keluar dari (jebakan) dunia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker