Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

27 Hakikat Tawakal

Aku memuji Allah kepada kalian semua dengan pujian. orang yang tidak pernah mengenal suatu kebaikan kecuali yang berasal dari-Nya dan tidak mengenal sesembahan selain-Nya. Aku memohon kepada-Nya tawakal kaum yang mengabdi dengan jujur kepada-Nya.”

Sesungguhnya Allah mengkhususkan ahli wilayah-Nya dalam persaingan sehat dalam berdedikasi  (ghibthat al-ingitha))  kepada-Nya,  untuk mengenalkan  nikmat-Nya  yang banyak dan kebaikan-Nya yang berkesinambungan kepada mereka, sehingga duka lara dunia sirna dari hati mereka dan kesibukan akhirat semakin membesar di dada mereka karena diisi dengan wibawa Tuhan mereka. Kemudian mereka membiasakan hati mereka dengan ketundukan ubudiyah dan melemparkan diri mereka di jalan tawakal kepada Allah.

Ketahuilah saudaraku, engkau tak dapat dianggap bertawakal kepada Allah kecuali dengan memutus segala harapan kepada selain Allah. Bagaimana dirimu tidak dermawan jika memutus setiap hubungan dari hatimu dan hatimu berkonsentrasi penuh untuk menerima Allah, dan kesejatian tawakal kepada-Nya. Allah mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya.

Orang yang bertawakal dengan sejati adalah orang yang menganggap sebagian kecil dari pemberian Allah sebagai suatu pemberian yang besar menurut nilai dirinya yang kecil, karena pengetahuannya tentang keagungan nilai Allah. Ia merasa tenang dengan spirit keyakinan, yaitu kedudukan yang diirikan kaum yang rakus akan dunia.

Siapa yang hatinya beranggapan bahwa tidak ada nikmat di langit dan bumi melainkan milik Allah, maka hatinya akan merasa tenang dari siksaan ambisi. Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3). Dia juga berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.  Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam,” (QS. al-Araf: 54).

Jika engkau membiasakan hatimu dengan kepercayaan diri, maka sesungguhnya engkau sedang melihat kepada Allah, karena kekuasaan itu milik Allah tanpa keikutsertaan makhluk-Nya. Dan ambisimu atas dunia akan semakin membesar sebanding dengan tindakanmu meninggalkan kepercayaan diri.

Karena itu, tentanglah ambisimu atas dunia dengan kepuasan terhadap bagian (rezeki)- mu karena sesungguhnya engkau akan segera memusuhi ambisimu atas dunia sebab ambisi itu tidak pernah memberi dan tidak pernah melarang.

Orang yang bertawakal atas Allah tidak membutuhkan pemberi dan pelarang selain Allah. Sebab, ia membutuhkan Allah dan tidak membutuhkan orang Jain. Hatinya merasa tenang dari keresahan-keresahan sehingga tidak ada bahaya makhluk yang dapat mengancam hatinya.

Siapa percaya kepada selain Allah, ia tidak diperlukan. Orang yang bertawakal selayaknya bertakwa sehingga Allah memberinya jalan keluar dan rezeki yang tidak pernah disangka-sangka dan tidak pernah mengurangi seperti yang disangka. Allah berfirman, “Dan siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (QS. al-Thalaq:

3).

Orang yang bertawakal selalu bertawakal kepada Allah pada seluruh kebutuhannya, entah itu persoalan yang duniawi ataupun ukhrawi, dan ia memutuskan harapan kepada

selain Allah. Ia tidak pernah melihat dirinya sebagai tempat ikhtiar bagi dirinya sendiri, karena Allah cukup baginya. Siapa seperti itu berarti ia telah mencapai spirit keyakinan.

Inilah derajat yang tidak ada derajat lain yang lebih tinggi darinya dalam hal ketenangan hati kepada Allah dan janji-Nya, karena ia telah menjadikan Allah sebagai pelindung yang mencukupinya dari seluruh makhluk-Nya. Siapa menjadikan Allah sebagai pelindung yang mencukupinya, ia tidak akan mengalami kehilangan segala sesuatu, karena Allah telah menjamin dirinya dan Allah Pemilik kesuksesan.

Ketahuilah bahwa engkau dan seluruh makhluk terpaksa menuju Allah di tiap keadaan, gerak, dan diam. Sebab, Dia Mahakaya. Siapa percaya kepada selain Allah, berarti ia telah merasa melihat sebuah kekuasaan yang lebih besar dari kekuasaan Allah. Siapa percaya kepada Allah, maka ia tidak membutuhkan kekuasaan lain, karena Allah cukup baginya. Pada Allah terkandung peninggalan dari seluruh makhluk dan tidak ada pada diri makhluk mana pun suatu peninggalan dari Allah, karena Allah adalah Yang Mahakaya.

Jika engkau mengetahui bahwa Allah cukup bagi siapa yang bertawakal kepada-Nya, bagaimana engkau tidak meminta kecukupan dengan bertawakal kepada Allah?

Bukankah engkau mengetahui bahwa Zat Pemberi rezeki telah membagi-bagi penghidupan di antara makhluknya? Dia juga telah mengutamakan sebagian makhluk atas yang lain dalam hal rezeki. Dia telah memberikan dan memperhitungkan apa yang Dia putuskan.

Lalu, bagaimana engkau ingin meminta kemampuan yang telah diberikannya kepadamu?

Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkan kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu” (Q.S. Al-An’am: 12)

Lantas bagaimana mungkin engkau memohon kepada selain Allah agar dhindarkan dari bahaya atau diberi manfaat?

Bagaimana engkau takut kehilangan kebaikan yang diinginkan Allah denganmu. Jika Dia tidak menginginkan kebaikan denganmu, lalu siapa yang akan memberikan kebakan kepadamu?

Orang yang bertawakal kepada Allah tidak pernah menengok dunia, karena dia tidak melihatnya sebagai suatu yang bahaya bagi dirinya, dan tidak pula ia melihatnya dan dirinya serta seluruh didalamnya kecuali untuk Allah. Sama saja baginya, apakah mengarungi laut, berjalan di darat bersikap intima tau bersikap galak, bekerja atau duduk. Karena Allah cukup bagi orang bertawakal kepada-Nya. Tidak engkau mendengar firman Allah, “bukankah Allah cukup untuk melindungi hambah-hambahnya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah.” (Q.S. Al- Zumar:

36)

Orang bertawakal kepada Allah cukup dengan ilmu tentang Allah, makai a dapat menhindari kesibukan dengan yang lain, karena ia tahu bahwa yang memberinya manfaat adalah Allah satu-satu-Nya.

Dan juga, jika hatimu mantap kepada Allah, maka engkau tidak akan pernah takut kepada yang lain, karena Allah cukup bagi orang yang bertawakal kepada-Nya.

Di antara tanda orang yang bertawakal adalah bahwa ia mengedepankan kejujuran yang membahayakannya atas kebohongan yang memberinya manfaat, karena orang yang bertawakal kepada Allah tidak tepat jika takut kepada yang lain.

Begitu pula jika ia diperintah untuk melakukan kebajikan dan mencegah kemungkaran, maka ia tidak pernah takut kecuali kepada Allah, sebab harapannya terhadap Allah lebih besar dibanding ketakutannya terhadap ancaman makhluk. Itu karena orang yang bertawakal  kepada  Allah  selalu  mengeluarkan  segala  ketakutan,  kekhawatiran  dan

kesedihan selain terhadap  Allah  sehingga ketakutan  dan  harapannya  berhubungan dengan Allah.

Ketahuilah bahwa pertolongan akan hadir ketika engkau mengeluarkan alam dari hati sehingga, pada saat itu, secara perlahan akan berubah menjadi jalan keagungan dan kebutuhan Allah, karena engkau mengetahui bahwa tidak ada pencegah, tidak ada pemberi, tidak ada penimbul bahaya dan pemberi manfaat kecuali Allah satu-satu-Nya.

Janganlah engkau membenci Allah dengan kebodohanmu  sehingga engkau tunduk kepada ketakutan yang dimunculkan setan, kemudian ia menguasai dirimu pada saat itu. Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Setan menjanjikan (menakuti-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir). Sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia- Nya) lagi Maha Mengetahui? (Q.S. al-Baqarah: 268).

Lantas, apa yang membahayakanmu dari ancaman setan bersama dengan adanya jaminan dari Allah Yang Maha Pengasih?

Ketahuilah bahwa engkau tidak akan pernah termasuk orang yang bertawakal kepada Allah sehingga engkau dapat menempuh jalan lurus berdasarkan ketenangan kepada Allah dan sehingga engkau menyembah Allah dalam keadaan rela, karena engkau tidak mengetahui yang lain.

Jika engkau mencapai derajat ini maka keagungan Allah atas pekerjaan hatimu karena semua makhluk dibatasi oleh hak-Nya atas mereka.

Ketahuilah bahwa Allah mengkhususkan kaum yang bertawakal dengan derajat keselamatan dan menutup  segala bentuk penyesalan  dari  diri mereka. Karena  itu, mereka melihat kepada Allah sesuai dengan harapan mereka.

Dia telah menutup hati mereka dari selain-Nya karena mengharapkan kebaikan-Nya dan mereka tidak perlu mengingat yang lain.

Ketahuilah bahwa engkau tak akan menjadi orang yang bertawakal sebelum engkau bersih dari setiap kekuasaan dirimu dan kekuasaan dunia, serta sebelum engkau tidak percaya kecuali kepada Allah dan engkau melihat perbekalan hidupmu cuma di tangan Allah.

Tidakkah engkau sadar bahwa ambisimu berada dalam kekuasaan Allah? Apakah di langit terdapat suatu penghalang yang menghalangimu dari Allah?

Ketahuilah bahwa engkau tidak mampu memaksakan rezekimu sebagaimana engkau tidak dapat memaksa kematian. Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Allah yang menciptakan kamu sekalian kemudian memberi kalian rezeki kemudian mematikan kalian kemudian menghidupkan kalian? (Q.S. al-Rum: 40).

Saudaraku, tenanglah dengan janji Allah menyangkut rezeki-Nya sebagaimana engkau tenang bahwa engkau pasti akan mati. Serta jauhkanlah hatimu dari mengingat-ingat sebab-sebab (datangnya rezeki).

Ketahuilah bahwa Allah memberimu rezeki bisa karena suatu sebab dan bisa pula tanpa sebab, dan tiap sebab itu adalah tetap. Engkau tidak mengetahui kapan rezekimu datang sebagaimana engkau tidak tahu kapan kematian akan menjemputmu.

Tidakkah engkau tahu. bahwa Allah telah menjanjikanmu rezeki, dan rezekimu yang tidak kelihatan dengan gadha’, serta waktu yang di dalamnya rezeki itu pasti turun. Kalaupun toh engkau berdalih dengan segala dalih agar rezeki itu datang sebelum waktunya, maka engkau tak akan pernah mampu melakukannya, hatta ia turun pada waktunya.

Tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab)

rezeki kalian dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepada kalian. Maka, demi Tuhan

langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar akan (akan terjadi)

seperti perkataan yang kalian ucapkan. (QS. al-Dzariyat: 22-23).

Ketahuilah bahwa orang yang percaya kepada Allah hatinya akan bersih dari tuduhan demi Allah. Meskipun engkau di bawah bayang-bayang suatu sebab, hatimu tetap tak akan pernah condong kepada sebab tersebut, dan hendaklah hatimu senantiasa bersama Allah.

Ketahuilah bahwa hamba sahaya tidak berinfak kecuali dengan izin tuannya. Makanya, ikatlah hatimu kepada Tuanmu. Soalnya, jika Ia memberimu, maka penghuni bumi tidak akan mampu mencegahmu dan jika Ia mencegahmu, maka penghuni bumi tidak akan mampu memberimu, karena kekuasaan-Nya demikian besar. Dengan tawakalmu kepada-Nya, itu akan cukup bagimu.

Oleh karena itu, hati orang yang bertawakal akan tenang kepada “sesuatu yang terjamin’. Siapa memutuskan diri dengan sebab-akibat, ia hanya melihat Allah, sebab takdir Allah sangat dekat dengan orang yang bertawakal dan sebagainya. Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. al-‘Ankabut: 60).

Orang  yang bertawakal  sangat mengetahui—dengan  penuh  keyakinan  dan  hatinya tenang kepada hal itu—bahwa apa yang diberikan dan ditentukan untuknya meskipun berada di tengah hembusan angin niscaya ia akan mengejarnya. Dan bahwa apa yang belum diberikan dan ditentukan untuknya meskipun berada di hadapannya dan ia dibantu penghuni langit dan bumi untuk mencapainya niscaya ia tidak akan mampu atas hal itu. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kelaparan. Kamilah yang mermberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian? (Q.S. al- Isra’: 31). Allah juga berfirman, “Dan hanya kepada Allah, hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman? (Q.S. al-Maidah: 23). Maka, tidaklah betul iman mereka sebelum bertawakal kepada Allah. Allah juga berfirman, “Kepada Allahlah

kami bertawakal? (Q.S. Yunus: 85). Allah juga berfirman, “Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah rnenunjukkan jalan kepada kami”? (Q.S. Ibrahim: 12).

Tawakal adalah sumber iman karena ia merupakan suatu kewajiban atas hamba- hambanya. Iman tak akan mewujud kecuali dengan tawakal. Tawakal itu bertambah dan berkurang sebagaimana halnya iman. Manusia sendiri bertingkat-tingkat dalam masalah tawakal dan iman itu sesuai dengan tingkat keyakinan.

SABAR:

Sabar itu tiga macam: sabarnya orang yang berjuang untuk bersabar (mutashabbin), sabarnya orang yang sabar (shabin), dan sabarnya orang yang sangat sabar (shabbar). (Abu ‘Abd Allah ibn Khafif).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker