Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

11 Evaluasi Diri

Sesungguhnya aku melihat pada diri manusia sesuatu yang dicela dan saya senang jika dapat selamat dari cela, pelecehan, dan aib. Aku tidak tahu apakah diriku selamat atau tidak darinya.

Sesungguhnya manusia sangat bodoh ketika mengetahui aib dirinya dan sangat pintar ketika mengetahui aib orang lain. Sehingga, ia menghina aib setiap pelaku perbuatan dan setiap pelaku amal dunia dan akhirat, serta menghina aib siapa saja yang derajatnya sama dengan dirinya sekaligus berlagak lebih besar dari setiap orang yang melihatnya. Jika ia melihat aib dirinya, maka ia mengabaikannya dan mengalihkan penglihatannya pada aib-aib mereka, seakan-akan ia buta dan tak pernah melihat aibnya.

la mengharapkan pemakluman untuk dirinya, tetapi tidak untuk orang lain. Ia sangat cerdik untuk meminta pemakluman bagi dirinya dan sangat dungu untuk meminta pemakluman bagi orang lain. Pada saat itu, ia menyembunyikan, untuk sahabatnya, sesuatu yang ia benci jika orang lain menyembunyikannya untuk dirinya sendiri, ketika ia melihat aib seperti itu dari sahabatnya.

Jika engkau melihat suatu aib, kesalahan, atau kekeliruan dari orang lain, maka anggaplah dirimu dalam posisinya, kemudian renungkan apa yang pernah engkau sukai saat ia menyambutmu (dengannya) seandainya ia melihat darimu sesuatu yang engkau lihat darinya. Sembunyikan hal itu untuknya dalam hatimu karena sesungguhnya ia menyukai darimu seperti apa yang pernah engkau sukai darinya.

Demikian pula jika engkau melihat sesuatu yang baik, maka engkau ingin mengetahui ilmu keselamatan dari sifat hasad terhadapnya.

Wajar, jika orang yang paling dungu atasmu ketika engkau tergelincir dalam kesalahan adalah orang yang mencari pembenaran dan jalan keluar bagi kesalahanmu. Jika ia tidak mendapatkan suatu pembenaran, maka hal itu menjengkelkannya dan ia menyembunyikan posisinya. Ketika engkau baik ia akan senang, tetapi jika ia tidak senang, maka tidak berarti engkau berbuat buruk kepadanya.

Karena itu, tetaplah bersamanya, baik ketika gagal ataupun sukses. Jika engkau sudah seperti itu, maka engkau tidak akan suka menghilangkan nikmat yang dianugerahkan Allah atas siapa pun, baik nikmat dalam agama maupun nikmat dalam perkara dunia. Engkau pun tidak akan suka jika seseorang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan tidak pula suka jika rahasia kegagalannya terbongkar. Sesungguhnya jika engkau melakukan itu dengan hatimu, maka seluruh sifat hasad akan hilang dari hati, agama, dan duniamu.

Saat bisikan hati yang buruk menguasai hati nuranimu, maka evaluasi yang baik dalam seluruh urusanmu akan sanggup mengatasi kehadirannya.

Evaluasi untuk Keselamatan

Ketahuilah bahwa engkau didahului menuju hati nuranimu oleh rasa iri, prasangka buruk, dan dengki. Maka, jadikanlah evaluasi sebagai suatu kesibukan yang lazim engkau lakukan. Jadilah seorang yang selalu membangun sebagaimana kata orang dahulu, “Orang beriman itu selalu membangun dan tidak seperti pengumpul kayu api di malam hari.”

Oleh karena itu, berhenti dan lihatlah sudut-sudut hati kecilmu dengan pandangan mata yang tajam dan pengamatan yang cermat. Jika engkau mendapati sesuatu yang terpuji, maka pujilah Allah dan teruslah berlalu. Akan tetapi, jika engkau melihat sesuatu yang menjengkelkan, maka ikutilah dengan evaluasi dan pemeriksaan yang baik terhadapnya. Sesungguhnya orang yang masuk ke dalam rumahmu tanpa izin pastilah ia masih

bersembunyi di dalamnya.” Jika suasananya gelap, maka engkau tak akan merasakannya, kecuali engkau mempunyai lampu ilmu yang terang dan jelas, serta perhatian untuk menangkapnya dan menentang caranya masuk rumah yang tidak didasarkan kesabaran dan kewenangan. Seandainya engkau mencobanya niscaya engkau tahu bahwa apa yang aku katakan adalah seperti kataku.

Ia masuk ke dalam rumahmu tanpa seizinmu. Ia masuk tanpa ada jaminan bahwa ia tidak akan merusak yang dimasukinya. Jika orang yang masuk tanpa izin itu melihatmu dalam keadaan lemah dan mengabaikan, maka ia akan menjadi pemukim dan pengatur rumah itu sehingga ia berkuasa atas kebebasan rumahmu dan atas kehormatanmu. Jika ia melihatmu tengah menentangnya dan tersembunyi kelemahanmu niscaya ia mencari titik lalai dan kelengahanmu. Lalu, jika ia mendapatkan kesempatan, maka ia akan mengacaukan apa yang pernah engkau perbaiki dan menghancurkan apa yang pernah engkau bangun. Oleh karena itu, mengertilah jika engkau memang benar mengerti dan terimalah nasihat jika engkau memang mau menerima nasihat.

Seandainya sejumlah biaya habis untuk kepergianmu menuntut ilmu, lalu engkau harus mengeluarkan biaya yang besar dan engkau menyewakan rumahmu untuk kepentingan itu, maka keuntungan yang akan engkau peroleh lebih banyak dari apa yang engkau sewakan dan jerih payahmu. Karena, sesungguhnya engkau mendapatkan banyak kebaikan dalam timbanganmu pada hari kiamat dengan melakukan evaluasi diri yang jujur dan segera melakukannya sebelum sirna kenikmatannya.” Sesungguhnya evaluasi diri itu merupakan salah satu anugerah Allah yang paling besar, di mana Allah memuliakan orang-orang keistimewaan-Nya dengan evaluasi diri dan mengagungkan kenikmatan mereka di dalamnya (maksudnya: kenikmatan dalam melakukan evaluasi diri atau murajaah—pen.). Sesungguhnya besar kecilnya nikmat tergantung kepada kebutuhan. .

Renungkan apakah engkau pernah melakukan evaluasi terhadap dirimu dan persoalanmu. Jika engkau melakukannya, maka engkau akan mendapatkan kemaslahatan dan perbaikanmu di dalamnya atau, pada waktu bersamaan, engkau akan

mendapatkan sesuatu yang rusak di dalamnya. Jika engkau tidak pernah melakukan evaluasi terhadap persoalanmu, maka ia akan lenyap sampai hari kiamat.

Evaluasi sebagai Asas Suluk

Aku selalu menganjurkanmu dan diriku agar memperbanyak evaluasi diri karena besarnya kebutuhan dan tuntutan untuk itu. Bila engkau bergantung kepada kebaikan, maka kebaikan itu ada dalam evaluasi dan nisbatnya.” Bila tidak, maka tidak akan ada pula. Meninggalkan evaluasi diri berarti seperti orang yang kalah dan tunduk kepada musuhnya sehingga hancur sedangkan engkau tidak merasakan.

Jika engkau meremehkan apa yang aku katakan, maka sesungguhnya sebagian besar kebutuhanmu kepada evaluasi diri ada pada saat shalat wajib, kemudian setelahnya, demikian pula pada seluruh urusanmu.

Seandainya engkau termasuk orang yang kehilangan urusannya, niscaya engkau mengetahui penyesalan dan peratapan diri yang menjangkitimu akibat engkau tinggalkan evaluasi diri pada saat shalat wajib. Engkau tidak sadar apa yang imam baca, dan tidak pula sadar apakah engkau tengah menjalankan shalat wajib atau shalat sunnah, apakah engkau sedang shaJat atau sedang tidak shalat, padahal engkau termasuk orang yang sedang bermunajat kepada Tuhan.

Engkau telah mendengar bacaan  imam  dengan  kedua  telingamu, khusyuk dengan berdirimu, konsentrasi terhadap ayat Alquran yang sedang dibaca imam pada saat shalat wajib—yang tidak ada kewajiban yang lebih wajib darinya. Engkau selesai, tetapi apa yang kami gambarkan terlihat dari dirimu. Engkau seperti orang yang tidak pernah melakukan shalat itu karena sedikitnya evaluasi yang engkau lakukan terhadap dirimu.”

Bisa saja sesuatu yang terlintas dalam benakmu atau engkau pikirkan dan belum engkau lupakan  adalah  pertanyaan,  apakah  engkau  senang  jika  hal  itu  terjadi  padamu

sebagaimana engkau lupa bahwa engkau memiliki seratus dinar. Jawabanmu pasti:

tidak.

Oleh karena itu, berilah perhatian kepada evaluasi diri sesuai dengan kebutuhanmu kepadanya sebab umur yang engkau miliki sebetulnya adalah (hanya) yang terisi sikap awasmu. Awasmu adalah evaluasi terhadap kemanfaatan dan kedekatanmu (kepada Tuhan). Jalan menuju-Nya adalah melalui akal, dan yang di luar itu adalah kelengahan dan kealpaan yang memunculkan syahwat yang mendidihkan hati. Dalam hal itu terkandung persetujuanmu terhadap nafsumu yang menyeru kepada keburukan (al- ammarah bi al-st’) dan hawa yang menyesatkan dari jalan Allah serta menyimpang dari jalan cinta-Nya. Di dalamnya terdapat terkaman setan sebagai musuh keji yang menyantapmu mentah-mentah dan berlari seperti mengalirnya darah serta dapat melihatmu dalam keadaan engkau tidak dapat melihatnya.

Malik ibn Dinar” berkata, “Hati orang yang berbakti mendidih dengan amal-amal kebajikan dan hati orang yang berdosa mendidih karena perbuatan dosa.” Karena itu, jagalah dirimu dengan melakukan evaluasi. Jika engkau telah mengusir hal-hal yang dibenci, maka berarti engkau telah memperbaikinya dan engkau telah berpaling darinya. Jika engkau telah melihat selain itu, berarti engkau telah memuji Allah dan perhatianmu terhadap hal itu merupakan suatu tambahan atau kedekatan bagimu.”

Jika engkau memiliki perhatian terhadap masalah evaluasi diri, ketahuilah bahwa hal itu adalah puncak nikmat dari Allah dan puncak kedekatan kepada-Nya. Yang paling berhak engkau dekati dengan baik adalah nikmat-nikmat Allah yang kunci-kunci khazanahnya adalah rahmat-Nya. Maka, carilah tambahan dari-Nya dengan bersyukur atas-Nya. Yang paling patut engkau jauhi adalah nafsu yang menyeru pada kejahatan (alammarah bi al- si’). Bersikap tidak baik kepadanya berarti menentangnya, karena sesungguhnya dalam penentangan terhadapnya ada persetujuan terhadap rida Allah.

Jangan Remehkan Dosa Kecil

Siapakah ahli iradat (kaum yang menginginkan Allah —pen.)?

Siapa saja yang tidak pernah melangkah ke nafilah dengan aib dan aurat.’

Bagaimana menjaga lisan? Diam.

Bagaimana cara berhati-hati dalam berbicara?

Tidak menyebut aib orang lain yang sebenarnya engkau harapkan akan mendapatkan balasan jika engkau menyebutnya.” Agar engkau tidak menyebut aib orang lain, maka takutlah untuk mengingat hukuman. Peganglah teguh sikap itu dan ajaklah orang lain agar mau melakukan seperti yang engkau lakukan.

Sesungguhnya manusia itu akan disiksa karena meremehkan yang kecil dan itulah yang menjerumuskannya ke dalam dosa besar. Meremehkan dosa kecil adalah pangkal bagi dosa besar. Awalnya adalah kehati-hatian, kemudian menjadi ketidaksengajaan, kemudian menjadi dosa kecil, dan akhirnya menjadi dosa besar. Akibatnya, engkau tidak merasakan sehingga engkau benci melihat dirimu layaknya engkau sedang melihat orang lain. Meninggalkan dosa kecil bermakna meninggalkan dosa kecil sekaligus dosa besar.

Orang yang paling kuat dan jujur tekadnya terus bertekad dan tidak pernah ragu-ragu ketika  sudah bertekad. Orang  yang  paling  lemah  kehendaknya  bertekad  kemudian menghancurkan tekadnya dan hampir tidak lagi bertekad.

Orang seperti inilah yang dipermainkan oleh setan dan hawa nafsu. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi setan dan hawa nafsu karena setan banyak tahu tentang kekurangan tekadnya, dan sedikit pengamalan tekadnya. Orang yang teguh adalah orang yang berakhlak mulia dalam setiap tingkatan.

LIDAH:

Janganlah lengah soal lidah sebab ia bagaikan seekor hewan buas berbahaya yang mangsa pertamanya adalah pemiliknya sendiri. Tutuplah pintu omonganmu sekuat- kuatnya. Jangan membukanya kecuali jika harus membukanya. Jika engkau membukanya, maka hati-hatilah, Penuhi kebutuhanmu untuk berbicara sekadarnya saja.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker