Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

Ria dan Ikhlas

Keinginan itu ada dua macam: terhadap dunia dan terhadap akhirat. Kejujuran dan keikhlasan akan terjadi jika manusia hanya menginginkan Allah dengan . amalnya dan di dalamnya tiada sedikit pun maksudmaksud duniawi.

Sedangkan ria adalah jika seluruh keinginan itu ditujukan untuk dunia. Ada manusia yang menginginkan pujian dan sanjungan dengan amalnya pada mulanya. Ada juga manusia yang menginginkan rida Allah dan kampung akhirat pada awalnya, namun kemudian ia menginginkan pula pujian dan sanjungan dengan amalnya.

Ada pula manusia yang menginginkan rida Allah dan kampung akhirat dengan amalnya, lalu ketika ia telah masuk ke dalam amal itu berdasarkan keikhlasan, ia ditimpa penyakit- penyakit kalbu seperti yang telah kami sebutkan. Ia menerimanya, ia ingin dipuji dengan amalnya, dan ia ingin pula mendapatkan kedudukan di mata makhluk Tuhan.

Ada juga manusia yang hanya menginginkan rida Allah dan kampung akhirat dengan amalnya sehingga ja dapat mengakhiri amalnya dengan hal itu. Namun kemudian, ia didesak oleh penyakit-penyakit kalbu setelah menyelesaikan amal walaupun setelah berselang beberapa saat, sehingga ia ingin dipuji dan diberi kedudukan serta jabatan di kalangan manusia dengan amal tersebut. Ini yang paling mudah (terjadi) di antara yang telah kami sebutkan.

Dalam hal ini, orang-orang berbeda pandangan. Satu kelompok berpendapat, ini bagian dari dosa dan tidak merusak amal karena amalnya telah berlalu dan ditutup dengan baik sehingga tidak merusak setelah ada akhir. Tidak ada hak bagi seorang hamba dalam urusan ini, kecuali meminta (kemurahan) kepada Allah. Penyakit-penyakit yang dialami manusia setelah itu merupakan urusan Allah. Sedangkan amal tersebut tidaklah batal.

Kelompok yang lain berpendapat, hal itu. membatalkan amal walaupun setelah waktu berlalu jika ia telah menerima penyakit itu, mencintai pujian, memasukkan unsur makhluk ke dalam amalnya, dan menginginkan pujian, kedudukan, dan gengsi dari manusia.

Amal Benar-benar Tergantung Niat

Katakan kepadaku bagaimana jika manusia ingin berbuat amal kebajikan, lalu ia mengerjakan dan dapat menyelesaikannya, tetapi ia tidak pernah mengingat keinginan kepada Allah dan kampung akhirat sebelum amal dimulai ketika ia dalam keadaan lupa dan lalai. Bukankah ini suatu amal tanpa niat dan kejujuran?

Benar.

Bagaimana jadinya amal yang telah dilaksanakan manusia tanpa diawali niat dan kejujuran?

Jika belum didahului niat dan kejujuran, maka amal itu akan tidak berarti apa-apa. Pasalnya, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung kepada niat.” Jika engkau katakan, “Aku lupa berniat,’ maka itu adalah pengakuan dan tiada hujah bagimu. Hanya dunia dan keinginanmu yang berlebih terhadanya yang melupakanmu dari berniat.

Bukankah bencana yang menimpa Adam disebabkan kelupaan dan minimnya tekad? Tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah, “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak kami dapati padanya kemampuan yang kuat? (Q.S. Thaha: 115).

Sesungguhnya sebuah amal tidak akan dapat dikatakan amal yang sesuai dengan perintah Allah kecuali jika didasari niat yang jujur, keinginan yang baik, dan mengedepankan keduanya sebelum amal itu dimulai. Itulah amal yang sesungguhnya

menurutku, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., “Semua pekerjaan tergantung

kepada niat.

Perhatikan Pula Amal Lahiriah

Ketahuilah bahwa diammu ketika membuka amal, mengingat kejujuran, memperbaiki niat dan keinginan, menghindarkan diri dari ria, dan mengingat surga dan neraka, tidak akan menambah kejujuranmu dan tidak akan mengurangi sifat riamu sehingga engkau menggunakan ketakwaan, mengedepankan niat, dan jujur dalam berkeinginan.

Jangan berbohong pada saat itu karena insan menyukai simbol kebaikan tetapi membenci substansinya. Sebaliknya, ia membenci simbol kejahatan, tetapi menyukai substansinya.

Betapa cintanya insan terhadap simbol kejujuran dan betapa berat baginya substansi kejujuran. Betapa bencinya insan terhadap simbol ria, tetapi betapa cinta dan sangat mudahnya ia menggunakan sifat ria.

Jangan menyepelekan masalah mengingat niat pada saat itu. Sesungguhnya niat dan kejujuran adalah dua nama, dan jantung keduanya adalah iradat yang jujur. Sesungguhnya nafsu dan hawa akan mencabut buah amal dengan segenap kenikmatannya.

Ketahuilah bahwa kenikmatan rasa permen dan lain sebagainya hanya akan engkau dapatkan ketika engkau telah memakannya. Manisnya hawa dan syahwat dalam pikiran adalah jika engkau ikuti sesuai kemauanmu. Ia tidak memiliki makanan dan minuman, kenikmatannya hanyalah merupakan sesuatu yang mengikuti dalam pikiran dan sumbernya.

Ketahuilah bahwa manis dan lezatnya ria adalah kelezatan yang bercampur dengan kalbu  dan  mengalir  dalam  keringat.  Hati-hatilah  terhadap  hal  itu  ketika  memulai

perbuatan, periksalah tekad, perbaikilah niat, dan jadilah orang yang benar-benar merasa diawasi Allah pada semua keadaan.

Mengubah Ria

Jika aku ingin mengerjakan amal, aku berhenti sesaat sebelum memulainya. Lalu aku mengevaluasi niat dan keinginanku, tetapi aku melihat ria telah mendahului kejujuran dan aku melihat kejujuran hilang dari diriku. Maka, aku ingin memindahkan keinginan beserta hakikatnya menjadi kejujuran, kesehatan, dan niat yang bagus. Aku ingin pula menjaga hawa beserta segala hiasan, sifat ria, dan syahwatnya. Kemudian pertanyaanku, kapan aku mengetahui bahwa aku telah melakukan hal itu dan aku telah jalankan sesuai dengan keinginanku, sementara aku sungguh ingat bahwa mengingat niat dan kejujuran tidak akan pernah bermanfaat untuk diriku sampai diikuti dengan realisasi keinginan?

Sebab, keduanya tidak berkumpul dalam satu hati.” Mungkin saja simbol keduanya bersatu, tetapi substansi keduanya tidak bersatu. Jika engkau tidak menginginkan substansi dan lebih suka dengan kemauanmu serta lebih suka kepada iradat Allah dan kampung akhirat dengan amal itu, maka engkau telah mengetahui bahwa yang ini telah hadir dan yang itu tidak ada, sama persis bila engkau mengetahui bahwa ria telah hadir dan niat telah menghilang.

Jika apa yang telah aku lukiskan kepadamu berubah menjadi samar, maka lewati saja hal itu seolaholah engkau tidak pernah ingin melakukannya sama sekali, dan jujurlah dalam hal itu. Jika engkau telah mengetahui bahwa dirimu telah jujur dengan tindakanmu melewatinya begitu saja, maka mulailah kembalj dari pangkalnya. Jika engkau mendapati dirimu rela dan tenang dengan tindakanmu meninggalkan amal itu, maka ketahuilah bahwa hal itu merupakan tanda hadirnya kejujuran dan absennya hawa dan ria. Akan tetapi, jika engkau mendapati dirimu benci untuk meninggalkannya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya hawa telah merasukimu.

Berikanlah aku suatu contoh yang lebih konkret dari ini. Seperti seseorang yang ingin membuat makanan untuk mengundang  kawan-kawannya. Ia mengevaluasi diri dan tekadnya. Akan tetapi, tiba-tiba ia ingin mengundang seseorang untuk suatu kepentingan dengannya. Ia ingin mengundang yang lain agar masa pembayaran hutangnya bisa diperpanjang, dan untuk memanfaatkan serta menguasainya. Ia juga ingin mengundang yang lain untuk meminta dukungan melakukan kezaliman. Ia mengundang yang lain untuk memperoleh kepentingan duniawi. Ia ingin mengundang seseorang agar dirinya dipuji, disanjung, dan disebut-sebut. Ia ingin mengundang seseorang untuk bincang- bincang dan berdiskusi dengan mengabaikan orang lain. Ja ingin mengundang seseorang karena suatu pertemuan yang harus dimanfaatkan dengan baik, dan lain sebagainya yang tak ada kaitannya dengan Allah, tetapi seluruhnya untuk kepentingan duniawi.

Ketika hal ini semakin jelas dalam dirinya dan keinginannya tidak pernah tertuju kepada Allah serta balasan-Nya untuk makanan yang dibuatnya, maka ia berujar dalam hatinya karena hal itu menjadi jelas baginya, “Tidak… Tetapi aku meninggalkan keinginan pertama dan menghadirkan keinginan kedua yang tertuju kepada Allah dan kampung akhirat.”

Kemudian ia berkata, “Bisa jadi saya menipu daJam hal ini, tetapi saya tidak merasakan. Saya mengundang kaum yang lain untuk mengganti posisi mereka itu dengan mengajukan niat dan keinginan yang benar dalam menghidangkan makanan. Atau, saya bisa saja tidak mengundang siapa pun.’

Jika ia melihat dirinya ketika itu menolak untuk mengundang mereka, maka sikap tidak senang untuk tidak jadi mengundang mereka dan kecintaan untuk mengundang mereka (setelah itu) merupakan pertanda bahwa ia tidak jujur dan ia sudah tertipu.

Jika ia cenderung untuk tidak mengundang dan rela dengan hal itu, maka itu pertanda kebaikan.

Sangat patut baginya untuk mengerjakan hal tersebut pada saat itu dan terus melakukannya. Jika ia menghendaki, maka  mereka bisa saja dipanggil dan  jika  ia menghendaki, bisa saja ia memanggil yang lain dengan suatu niat yang baru.

Kesalahan yang Banyak Dilakukan

Sesungguhnya penipuan, kesalahan, kekeliruan, kesengajaan, kelupaan, fitnah, dan cobaan-cobaan pada bab ini merupakan bagian dari (penjelasan tentang) keikhlasan dalam beramal dan kejujuran dalam berkeinginan. Masalah mengedepankan niat adalah sesuatu yang susah. Sedangkan ujian dalam keikhlasan sangatlah banyak. Karena kehebatannya, manusia diberi pahala yang besar atas sedikit perbuatan yang dilandasi keikhlasan.

Kendala-kendala keikhlasan terlalu banyak untuk dapat dimuat dalam buku ini. Kesahihannya juga terlalu berat untuk bisa disampaikan oleh orang yang terpercaya, tetapi tertipu dan terpedaya—dengan sisi lahiriah buku ini dan sisi lahiriah ilmu—ini. Akan tetapi, semua itu akan diketahui oleh orang yang memperhatikan diri mereka sendiri, yaitu orang-orang yang takut akan batalnya amal-amal mereka dan takut pula akan kehancuran diri mereka.”

Tidak sepatutnya seorang yang berakal terpedaya sehingga ia tidak melakukan koreksi terhadap tekadnya, berintrospeksi diri, melakukan pembersihan hati, dan merasa diawasi Allah pada setiap pekerjaan yang hendak dikerjakannya. Jika tidak, pastilah ia terpedaya. Kita memohon taufik, pemahaman, tekad dan keinginan yang benar kepada Allah.

Ketahuilah bahwa kelupaan dan kelengahan terhadap ilmu yang dapat menjernihkan amal ini adalah bentuk kebodohan yang berat, ketertipuan, keminiman perhatian terhadap diri sendiri, dan ketidakpedulian terhadap kemahatahuan Allah atas kehancuran amal. Dari sifat-sifat tercela yang telah kami sebutkan ini, Jahirlah petaka.

Kita memohon kepada Allah petunjuk, bimbingan, dan pertolongan untuk dapat melaksanakan apa yang telah kita ketahui dan bersyukur atas apa yang telah kita mengerti. Kita juga memohon kepada-Nya semoga kita diberi limpahan fadilat-Nya. Kepada-Nya kita berserah diri. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

PUJI

TIDAK MUNGKIN SESEORANG YANG SENANG DIPUJI KARENA SESUATU YANG BELUM PERNAH IA KERJAKAN, TIDAK SUKA DIPUJI KARENA AMAL YANG PERNAH IA KERJAKAN, KECUALI IA MENYUKAI KEDUANYA.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker