Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

2 Merawat Jiwa

Jika engkau mengenal kebenaran, berarti engkau mengakuinya. Kebenaran akan menunjukimu bahwa Allah mewajibkanmu suatu kewajiban batiniah bersama kewajiban lahiriah. Yaitu, pembenaran rahasia-rahasia, keinginan yang istikamah, niat yang jujur, tekad yang bulat, hati yang bersih dari segala yang dibenci Allah, dan penyesalan seluruh pelanggaran terhadap larangan Allah pada masa lalu dengan hati dan anggota tubuh.

Itulah perintah yang dijadikan Allah sebagai pelindung atas perbuatan-perbuatan anggota tubuh. Karenanya, apa pun pekerjaan lahiriah manusia, disaring dulu lewat batin. Apa pun yang sesuai dengan batinnya, maka jadilah dan diterimalah lahirnya. Apa pun yang bertentangan dan merusak batinnya, maka perbuatan-perbuatan lahiriahnya akan dikembalikan kepadanya meskipun banyak jumlahnya. Aspek lahiriah akan tiada berarti karena rusaknya aspek batiniah.

Semua itu sesuai dengan firman Allah, “Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang

tersembunyi.

Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan

(pada hari kiamat) disebabkan apa yang mereka telah kerjakan” (QS. alAnam: 120).

Sesuai pula dengan sabda Nabi, “Sesungguhnya semua pekerjaan tergantung niat dan sesungguhnya (balasan) bagi tiap orang adalah (sama dengan) apa yang ia niatkan.’”

Nabi juga bersabda, “Dalam diri Bani Adam (manusia) terdapat segumpal daging yang bila kondisinya baik, baiklah seluruh jasadnya, bila rusak, rusaklah seluruh jasadnya (atau amalnya), ingat itu adalah hati”?

Juga sabda Nabi, “Sesungguhnya malaikat pasti akan membanyak-banyakkan pekerjaan manusiasetelah wafatnya—di sisi Allah. Kemudian malaikat berkata, “Hamba-Mu masih bersamaku sampai engkau mewafatkannya.” Lalu ia menyebutkan kebaikankebaikan amalnya, melebih-lebihkannya, membagusbaguskannya, dan memberikan pujian kepadanya.

Kemudian Allah berfirman, “Engkau benar-benar menjaga amal hamba-Ku dan Aku benar-benar mengawasi hatinya. Sesungguhnya amal hamba-Ku yang engkau banyak- banyakkan dan bagus-baguskan belumlah tulus bagi-Ku. Aku tidak akan menerima amal hamba-Ku kecuali yang tulus kepada-Ku.”

Oleh karena itu, kenalilah jiwamu. Periksalah kondisi-kondisi jiwamu dan carilah simpul hati kecilnya dengan perhatian dan kasihmu kepadanya. Sebab, engkau tidak memiliki jiwa selainnya. Jika jiwamu rusak, maka itulah bencana dan kehancuran terbesar.

Saudaraku, perketatlah pengawasan kepada jiwa dengan mata yang awas dan tajam sehingga engkau mengenal bencana-bencana amal jiwa dan kerusakan nuraninya sekaligus mengetahui apa yang menggerakkan lidahnya. Kemudian ambil hawa nafsunya yang nyata lalu kendalikan dengan hikmah ketakutan dan perlawanan yang tepat kepada jiwamu. Kembalikanlah jiwamu—dengan penuh kelembutan—kepada keikhlasan, keinginan yang lurus dalam nuraninya, logika yang jujur dalam kata-katanya, niat istikamah dalam kalbunya, penjauhan pandangan dari apa yang dibenci Pemiliknya (Allah) sekaligus meninggalkan penglihatan yang sia-sia menuju penglihatan yang dibolehkan, yakni perkara-perkara yang bisa menggiring hati pada cinta dunia.

Ajarilah jiwa untuk tidak mendengar apa pun yang dibenci Pemiliknya, yakni hawa nafsu dan maksiat, baik saat gembira, sedih, leluasa maupun sempit. Ajarilah jiwa untuk memperbaiki makanan yang masuk ke dalam perutmu dan penutup auratmu. Ajarilah jiwa seluruh harapannya. Dan cegahlah kemaluannya dari seluruh yang dibenci Tuannya.

Bersamaan dengan itu, awasi dan hilangkan kelengahan-kelengahan dari hatimu pada setiap gerak dan tenangmu. Juga ketika diam dan bicara, ketika masuk dan keluar, ketika beraktivitas, ketika cinta dan benci, serta ketika tertawa dan menangis.

Perhatikanlah itu semua karena setiap jenis yang kami sebutkan memiliki satu sebab bagi nafsu, satu sebab bagi ketaatan, dan satu sebab bagi kemaksiatan.

Jika engkau lalai, menuruti hawa nafsu, serta lupa memeriksa niatnya, maka seluruh yang aku sebutkan untukmu bisa menjadi sumber kemaksiatan. Jika engkau terjerembab dalam  kelalaian  kemudian  kembali  awas menentang  hawa  nafsu  (diri,  jiwa),  maka penyesalan atas kelalaian dan kejatuhan diri akan membayangimu. Semua itu akan kembali menjadi suatu kebaikan dan ketaatan bagimu.

Karena itu, periksalah ia dengan perhatian yang dinamis. Sebab, sesungguhnya saat itu engkau tengah memotong jalan maksiat dari iblis dan membuka pintu kebajikan. Tidak ada kesuksesan yang terwujud kecuali dengan perkenan Allah Yang Mahaagung.

ZUHUD

Siapa menginginkan sikap zuhud, hendaklah ia menganggap sedikit sesuatu yang dianggap banyak oleh orang lain, menganggap banyak dunianya yang sedikit, menganggap kecil bencana besar yang menimpa dirinya, dan menganggap besar sesuatu yang dianggap kecil  oleh orang lain.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker