Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

26 Mata Pengetahuan

Pengalaman Jiwa

Diriwayatkan dari seorang bijak bahwa ia pernah bertanya perihal ujian jiwa dalam kejujuran sehingga seorang hamba bisa tahu apakah jiwanya jujur atau tidak jujur, lantas al-Muhasibi berkata:

Jika seorang hamba mengetahui bahwa seseorang mendengkinya atau memusuhinya, maka ia–dengan ilimunya—memperoleh pujian dan kehormatan di kalangan manusia serta amalnya akan menjadi tertutup dari (pandangan) orang-orang. Sehingga dia— dengan amalnya yang tulus mulanya—menjadi bersikap ria dan jatuh derajatnya di sisi manusia. Jika jiwanya menolak hal itu dan lebih suka beramal, itulah tanda kejujuran sehingga ia akan membalas orang-orang yang mencelanya serta menegakkan kehormatan orang yang membenci dan memusuhinya karena ia tahu kekeliruannya.

Jika pada saat itu, detik-detik penyesalan belum muncul dan ia terus berlalu dengan kesukaannya terhadap amal, maka Allah memberi berkah kepada jiwanya. Demi Allah, dia dan kejujuran adalah sama. Dia memahami Allah dengan benar dan amalnya untuk sesuatu setelah kematian sangat tulus.

Bagaimana Mensyukuri Nikmat?

Jelaskan kepadaku tentang ucapan orang-orang bahwa mensyukuri nikmat berarti mengenalnya?

Mensyukuri nikmat berarti mengenalnya sesuai dengan kadar keberadaannya dalam hati melalui cara mengagungkannya dan mengagungkan kebaikan pemberi nikmat atasnya. Ia tidak akan dapat menjadi pengagung nikmat sampai ia suka terhadapnya. Ia tidak akan menjadi orang yang suka terhadap nikmat sampai ia mengenal kebutuhannya terhadap nikmat itu. Ia tidak akan  memikirkan  kebutuhannya  kepada  nikmat kecuali dengan merenungi akibat berbagai persoalan, kecepatan dalam mencapainya, dan ketinggian kebutuhannya kepada apa yang disuguhkan kepadanya.

Pada saat itu, nikmat dari Pemberi nikmat (Allah) menjadi besar baginya serta ia semakin mengenal anugerah dan kebaikan-Nya kepada dirinya. Lalu pada saat itu, ia ingin mendapat tambahan nikmat.

Poin pentingnya adalah bahwa siapa saja yang diberi suatu rezeki yang dengannya ia mengharapkan kerelaan Tuhan dan keselamatan dari neraka, maka semakin besar rindu kalbunya kepada Sang Pemberi.

Ia tidak akan menjadi orang yang mensyukuri seluruh nikmat dunia sampai ia mensyukuri nikmat akhirat. Ia tidak akan mensyukuri apa yang dicintajnya sampai ia mensyukuri apa yang Allah cintai. [a bukanlah orang yang pandai bersyukur kepada Allah jika tidak pandai bersyukur kepada manusia.

Siapa mengetahui bahwa ia tidak memiliki dirinya sendiri kecuali sebagaimana ia memiliki sebelum lahir dan setelah mati, maka ia telah memosisikan diri pada derajat kelemahan dan fakir dalam segi tawaduk dan ketenangan. Siapa tidak menempatkan diri dalam posisi itu dan tidak mengetahui bahwa hal itu juga merupakan ilmu keyakinan, berarti ia telah menempuh jalan kaum yang bodoh dan dia layak mendapatkan hukuman.

Malu kepada Allah

Jika engkau memikul sekantong kejahatan, maka engkau akan gemetar ketakutan ketika suatu kejahatan nampak bagi manusia. Lantas kapan akan hubunganmu dengan Allah menjadi baik? Tidak mungkin.

Ingatlah kematian seperti budak buruk yang tidak malu terhadap tuannya dan tidak meninggalkan keburukan-keburukannya serta tidak pula mengetahui kebaikan sang tuan kepadanya kecuali pada saat penghitungan dan hukuman. Ingatlah kematian dan apa yang ada setelah kematian.

Apa dugaanmu terhadap orang yang tidak suka dilihat orang lain Karena melakukan apa yang dibenci dan tidak malu jika Allah melihatnya sedang melakukan apa yang dibenci oleh-Nya.

Betapa buruk dan ajaib orang yang melakukan hal seperti itu, meninggalkan, menyia- nyiakan kesempatan, dan melakukan pekerjaan yang dibenci Allah. Kemudian ia bertakarub kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah diwajibkan dengan mengabaikan pekerjaan-pekerjaan nawafil seperti haji dan umrah, menyuruh dan melarang, menyeru manusia dengan asumsinya kepada Allah; menyuruh tetapi tidak pernah melakukan, melarang tetapi tidak pernah meninggalkan.

Apakah engkau memandang orang seperti ini mengenal Allah? Atau percaya bahwa di sisi Allah ada balasan bagi kaum yang taat dan hukuman bagi kaum yang durhaka?

Hakikat Tawaduk

Terangkanlah kepadaku tentang perkataan seseorang bahwa kerendahan hati ialah jika engkau keluar dari rumahmu, maka setiap orang yang menyambutmu engkau anggap memiliki kelebihan atas dirimu. Jika ada orang yang mengaku memiliki suatu kelebihan dengan lisannya, padahal ia belum memenuhi syaratsyarat untuk menjadi orang yang rendah hati kecuali karena keterpaksaan. Apakah orang yang rendah hati seperti itu?

Jika syarat-syarat itu merupakan hak-hak yang wajib, tetapi ia belum dapat menerimanya kecuali karena terpaksa, maka ia belum bisa dikatakan telah mencapai derajat kaum yang tawaduk.

Jika  hal-hal  itu merupakan  syarat-syarat  yang  bukan  wajib  yang  tidak menyulitkan seorang hamba untuk tidak menerimanya dari siapa pun dan ia cukup baik dalam menerima syarat yang wajib, maka ia telah menempuh jalan kaum yang rendah hati.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker