Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

Tidak Gila Kehormatan

Syubhat lain yang dibenci Allah adalah ketamakanmu terhadap kedudukan, kehormatan, dan pujian dari makhluk, serta ketakutanmu terhadap kejatuhan kedudukanmu di mata makhluk. Itulah di antara hal-hal yang dapat menjatuhkan kedudukanmu di sisi Allah.

Ahli makrifat dan ahli iradat tidak senang dilihat Allah dalam keadaan tertaut dengan hal seperti itu. Makrifat telah mendorong mereka untuk mengagungkan Allah dan mengedepankan cinta-Nya agar Tuan mereka tidak melihat mereka sementara pada diri mereka terkandung sesuatu yang dibenci-Nya. Mereka benci terhadap apa yang tidak disukai Allah pada orang lain, maka bagaimana mungkin mereka rela dengan hal yang sama pada diri mereka?

Makrifat menolak jika ditempati sesuatu yang dibenci Allah. Iradat juga menolak disibukkan dengan sesuatu yang tidak disukai Allah. Mereka sering kali disibukkan oleh makrifat untuk memikirkan banyaknya nikmat Allah atas mereka, kelemahan mereka dalam bersyukur, ketidakmampuan mereka menghitung jumlah nikmat Allah, semakin banyaknya dosa mereka, dan banyaknya mereka mengingat rasa malu kepada Allah jika mereka  meminta  surga.  Tak  pernah  terbetik  kata  surga  untuk  mereka  dalam  hati

sementara antara mereka dan Allah terbentang rasa malu dan ketakutan kepada-Nya. Musibah yang terjadi pada diri mereka yang karenanya mereka takut kehilangan rida Allah sedangkan murka-Nya atas mereka lebih besar bagi diri mereka dan lebih menyakitkan bagi hati mereka dibanding dengan kehilangan surga dan ketakutan kepada neraka, serta dibanding dengan orang-orang yang mendapatkan bahaya dari para setan, godaan dunia, kesukaan terhadap perhiasan bagi pecinta dunia ketika melakukan ibadah dan ketaatan, banyaknya niat yang rusak, dan penyakit-penyakit yang menimpa niat. Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang berduka cita dan berlinangan air mata karena takut dilihat Allah.

Oleh karena itu, saudaraku, janganlah ada hal lain yang lebih engkau perhatikan dibanding dengan makrifat dan iradat. Sesungguhnya kebaikan selalu mengikuti keduanya, sedangkan keduanya adalah tanda penglihatan Allah terhadap hamba- hamba-Nya.

Mendengar dan Berpikir karena Allah

Wahai saudaraku, setelah menyadari adanya pengamatan Allah ketika engkau bertekad dan ketika engkau bergerak atau diam, agar engkau senantiasa mendengar demi Allah dan berpikir karena-Nya. Sesungguhnya dalam Alquran yang diturunkan kepada kita terdapat penjelasan mengenai segala sesuatu dan ilmu tentang segala sesuatu.

Hendaklah engkau mengatur dan merenungkan Alguran pada siang maupun malam hari. Usahakanlah dirimu memahami dan melaksanakannya. Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak mernbaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata Qawh mahfazh)” (Q:S. Yaunus: 61).

Jangan melupakan pengawasan Zat yang segala sesuatu—sampai yang paling kecil semisal zarah sekalipun—tidak pernah menjadi asing bagi-Nya, yang tidak pernah kenyang dan tidak pernah jenuh kKarenanya. Sesungguhnya Allah tidak pernah melalaikannya. Dia selalu melihatmu, menyoroti sesuatu di hati kecilmu, dan menghitung dosa-dosa seberat biji sawi dan zarah sehingga engkau akan mendapatkan balasan karenanya.  Tidakkah engkau  mendengar  firman  Allah,  “Sesungeguhnya  Allah  tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar’? (QS. al-Nisa: 39).

Kesempurnaan Muraqabah

Ketahuilah saudaraku, hampir tak ada sesuatu yang baik kecuali karena sesuatu sebelumnya atau sesuatu sesudahnya. Sesuatu yang membuat baik sikap mawas (muraqabah) sebelumnya adalah mendedikasikan diri kepada Allah dan konsisten menaati-Nya dengan senantiasa merasa diawasi, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.

Sedangkan sesuatu yang membuat baik dedikasi kepada Allah sebelumnya ada empat, yaitu tobat, lebih mengutamakan apa yang dicintai Allah daripada apa yang dibenci-Nya, ramah terhadap ciptaan-Nya, tidak terlalu berbahagia dengan beban dunia, dan tidak bersedih atas segala kekurangan. Itulah derajat kaum yang warak dan kanaah.

Yang membuatmu kuat atas hal itu ialah membenarkan janji Allah, memercayai segala jaminan-Nya, mengharapkan sesuatu yang membuatmu berkecukupan, dan konsisten untuk cepat beralih dari dunia.

Maksud dari lebih mengedepankan apa yang Allah cintai ketimbang apa yang Allah benci adalah bahwa tak ada yang lebih layak dengan hal seperti itu selain Allah. Itu berarti engkau perlu mengedepankan cinta kepada-Nya daripada hawa nafsumu. Ini sekaligus merupakan suatu kewajiban atas kaum yang menjauhi dan melarikan diri dari-Nya agar

mereka kembali kepada-Nya dan berhubungan dengan-Nya. Bagaimana Dia tidak akan dikedepankan orang yang terbiasa berdekatan dan berdedikasi kepada-Nya?

Sedangkan maksud kelemahlembutan (uns) adalah bahwa engkau menjadi orang yang paling lemah lembut kepada makhluk-Nya. Siapa mengenal-Nya, mengenal kelembutan- Nya, mengetahui pemberianNya yang banyak, kebijakan-Nya, kebajikan-Nya, kasih-Nya, dan keutamaan-Nya, maka ia akan bersikap intim kepada makhluk-Nya.

Bagaimana manusia akan merasa diawasi oleh Zat yang tidak mengenalnya? Bagaimana manusia akan berdedikasi kepada Zat yang tidak dipercayai dan tidak disikapi dengan lembut?

Sedangkan yang membuat baik muraqabah setelahnya adalah syukur. Aku bersaksi bahwa jika engkau memikirkan apa yang engkau baca dan engkau menginginkan kedudukan ini, niscaya engkau akan melihatNya dengan pandangan sedih dan takut kalau-kalau Dia tidak menerimamu, menganggap kotor keinginan dan langkahmu, menolakmu dari pintu-Nya, sementara engkau maju kepada-Nya seperti itu.

Iktibar

Gunakanlah kekuatan iktibar (kontemplasi) untuk seluruh persoalanmu. Suatu persoalan itu sesungguhnya masih tertutup bagimu atau hilang dari dirimu. Jika engkau melihat urusanmu sebagaimana orang-orang yang beriktibar, maka hampir-hampir engkau mencapai maqamnya orang-orang yang mendeteksi dan menyelidiki hal-hal yang tak ada pada dirimu, juga magamnya orang-orang yang menyingkap hal-hal yang tertutupi, sehingga engkau dapat melihat keindahan dan kesuraman perkara-perkaramu itu, serta kebagusannya dan kejelekannya. Engkau juga akan mengetahui dari mana yang baik itu menjadi baik dan dari mana yang buruk itu menjadi buruk. Dari situ, engkau akan dapat mengikuti sesuatu yang membawa keselamatanmu dan menjauhi sesuatu yang menyimpan kehancuranmu. Dengan iktibar engkau akan mengetahui manusia berdasarkan  kedudukan  mereka  dalam  berkata  dan  bertindak. Engkau  akan  dapat

mengetahui mereka sekaligus posisi dan mazhab mereka dengan nur al-itibar (cahaya

iktibar) dan potensi ilham, insyd’ Allah.

Sikap Hemat

Saudaraku, engkau harus bersikap hemat dan ketat di seluruh persoalanmu. Sesungguhnya sikap hemat lebih potensial untuk kemapanan dan lebih selamat dari bencana-bencana. Sikap ketat akan memberi manfaat kepada pelakunya di saat sulit dan tidak membahayakan mereka di saat luang.

Perluaslah makrifat semampumu. Makrifat itu tidak sama dengan amal. Amal memiliki batas akhir sedangkan makrifat tidak terhingga. Sebab, dengan makrifat engkau bisa menyempurnakan titah Allah dan menegakkan hak-Nya. Tak ada seorang pun yang dapat mencapai itu karena Allah lebih agung dan mulia dibanding jika manusia mencapai hakikat hak-Nya.

Pada sisi lain, mereka berbeda-beda dalam tingkat (lebih atau kurangnya) pengetahuan (makrifat), meskipun penambahan pengetahuan, kenyamanan, semangat, kegembiraan, dan ketenangan merupakan nikmat dari Allah, sedangkan pengurangannya adalah siksaan-Nya akibat dosa atau tiadanya syukur manusia.

Hati-hati Terhadap Dosa Kecil

Waspadailah dosa kecil—yang tidak Allah sukai—pada amal dan niatmu, pada keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, sebagaimana engkau bersikap _hatihati terhadap dosa besar. Sesungguhnya setiap sesuatu yang merusakmu sekecil apa pun di mata Allah sama dengan sesuatu seharga seratus ribu dinar yang merusakmu. Sedangkan dunia seluruhnya (yang merusakmu) tak ada bedanya dengan sesuatu sekecil apa pun yang merusakmu. Daya rusak keduanya sama saja, tak ada bedanya.

Demikianlah halnya seluruh amal. Kerusakan yang ditimbulkan oleh sesuatu yang banyak sama dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh sesuatu yang sedikit.

Cintailah kebaikan yang kecil sama sebagaimana engkau mencintai kebaikan yang besar. Sesungguhnya Allah menerima kebaikan yang sedikit dari manusia sebagaimana Dia juga menerima yang banyak. Demikianlah halnya seluruh amal.

Cukuplah dengan penerimaan Allah terhadap kebaikan kecil dari hamba-Nya, maka si hamba  akan  merasa  memperoleh  suatu. kemenangan.  Amal-amal  manusia  secara keseluruhan adalah kecil kecuali yang diterima oleh Allah. Jika Allah menerima satu di antara amal-amal itu, ia akan menjadi besar meskipun sebelumnya ia kecil.

Ketahuilah bahwa kebaikan yang kecil lebih selamat dibanding amal besar tapi disertai ria, kekaguman pada diri, dan rasa berjasa Karena itu, hati-hatilah dan jangan lengah kepada hal itu.

Ketahuilah, di dalam amalmu terkandung keinginan (iradat) dan angan-angan. Lihatlah keinginanmu pada seluruh amalmu seperti keinginan kaum yang selalu bersyukur dan rida, serta angan-anganmu di dalamnya seperti angan-angan kaum yang berlebihan terhadap dirinya. Tidak ada sesuatu yang lebih disukai kaum yang selalu rida dibanding sesuatu yang diridai Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih disukai kaum yang senantiasa bersyukur dibanding sesuatu yang menyebabkan mereka bersyukur kepada Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih utama bagi kaum yang berlebihan atas diri mereka dibanding sesuatu yang dengannya mereka harapkan ampunan Allah.

Ketahuilah bahwa aku tidak khawatir atasmu dan orang sepertimu karena amal yang sedikit, tetapi aku khawatir akan makrifatmu yang sedikit dan iradatmu yang lemah.

Aku tidak khawatir atasmu dan orang sepertimu karena amal tathawww’ yang sedikit. Aku

tidak pula khawatir karena sikap warak untuk tidak melihat kepadanya sebagaimana

orang lain melihat, atau karena engkau tidak meninggalkan berbagai kesenangan yang dihalalkan Allah atas dirimu.

Aku hanya khawatir jika engkau menentang suatu perkara yang dibenci Allah dan tidak memberimu manfaat, yang tersembunyi dari manusia tapi nyata di sisi Allah sehingga merusak seluruh apa yang kau inginkan atas dirimu. Atau, engkau melihat dirimu lebih utama daripada orang lain sehingga menghancurkan segala hal yang engkau berada di dalamnya.

Aku mengkhawatirkan dirimu jika engkau tidak memeliharanya sebagaimana engkau mengamalkannya sehingga hal itu akan menghancurkan segala hal yang telah engkau bangun dan di dalamnya engkau berada. Atau, engkau tidak melaksanakan kewajiban bersyukur terhadap-Nya sehingga engkau pantas banyak dicela karena mengkufuri nikmat melebihi pujian yang engkau harapkan.

Atau, engkau menganggap banyak dan baik amalmu (idlal)*! di hadapan Allah sehingga itu menjatuhkan dirimu di sisi-Nya. Atau, engkau memberi sesuatu kepada seseorang atau engkau menyiksa seseorang karena hal itu. Padahal engkau telah mengetahui firman Allah yang berbunyi, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu. menjadilah dia bersih (tidak bertanah)? (Q.S. al-Baqarah: 264). Mungkin ia bertekad untuk melaksanakan amal yang diinginkannya, tetapi ia tidak mendapatkannya sebagaimana ia mendapatkannya tanpa tekad.

Menyempurnakan Tekad

Bagaimana dengan seseorang yang mengerjakan sesuatu yang wajib tanpa permintaan dan tekad atasnya, sehingga mungkin aku khawatir tekadnya menjadi lebih banyak dibanding apa yang dimilikinya?

Inilah di antara hal telah kami katakan, bahwa sesuatu itu tidak akan terjadi kecuali ada sesuatu sebelumnya dan sesuatu sesudahnya. Jika tidak ada tekad terhadap suatu makrifat, maka akibatnya seperti yang engkau sebutkan.

Makrifatnya ialah jika permulaan dirinya berupa kebutuhan (iftiqar) kepada Allah dan tidak seperti orang yang sombong (taalli) kepada Allah.

Tawakal dicapai seseorang jika ia bersendiri dengan catatan hatinya dalam menyerahkan apa yang ditakdirkan kepada Tuhan, serta lepas dari daya dan upaya. Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi.” (QS. al-Kahf: 23). Perintah Allah ini merupakan tambahan atas sikap tawakal.

Allah juga berfirman, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah? (QS. Ali ‘Imran: 159). Musyawarah adalah kebutuhan, bukan kekayaan. Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta pertolongan kepada orang yang tidak seperti dirinya sekaligus agar mempertahankan sunnahnya sebagai sunnah bagi orang-orang sesudahnya.

Bagaimana dengan orang yang seperti diriku dan seperti dirimu jika melalaikan Allah pada hal-hal yang meniscayakan ketundukan kepada-Nya?

Tidakkah engkau mendengar firman Allah, “Hukum itu hanya milik Allah, kepada-Nya aku bertawakal” (Q.S. Yusuf: 67). Maka, akibat yang dialami Yaqub persis seperti apa yang ia inginkan.

Juga ucapan Nabi Yisuf dalam Alquran, “Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku cenderung untuk (memenuhi kejnginan) mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. Maka, Tuhannya memperkenankan doa Yitsuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Yusuf: 3335). Allah menyempurnakan urusan Nabi Ydsuf ketika menganggap dirinya tidak mampu serta mengaku membutuhkan Allah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

Ada juga firman Allah, “Seandainya Engkau menyelamatkan diri kami dari (musibah) ini niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur’? (QS. Yunus: 22). Mereka memohon kepada-Nya, tetapi mereka tidak pernah menyerahkan segala urusan kepada- Nya. Tidak sebelum masalahnya ada maupun setelahnya. Allah berfirman, “Maka, tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar” (QS. Yunus: 23). Allah tidak pernah menuntaskan urusan mereka.

Ada juga firman Allah, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya.” (QS. al-Araf: 189-190).

Kemudian perhatikanlah  ucapan Adam Ketika maju untuk menerima  amanat tanpa merasa butuh. Ia tidak dapat menyempurnakan tugasnya sehingga ia dianggap bodoh dan zalim.

Tekad apa yang diperlukan seorang yang ditangannya tidak ada urusan?

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker