Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

17 Kelengahan dan Kewaspadaan

Apa yang membuat kaum khawas dan kaum awam lamban terhadap sesuatu yang mengandung bahaya lebih banyak dan lebih susah mereka tinggalkan?

Aku telah memberi tahumu bahwa manusia itu bermacam-macam. Ada sesuatu yang lebih selamat daripada yang lain bagi mereka, tetapi ada juga sesuatu yang lebih berbahaya bagi mereka ketimbang yang lain. Namun, aku tidak mengetahui apa yang lebih banyak pada manusia, yang lebih dominan pada mereka, yang paling berbahaya, dan tidak pula yang paling sulit ditinggalkan oleh mereka, baik kalangan khawas maupun kalangan awam, yang alim terpelajar maupun yang bodoh.

Kelengahan yang paling susah adalah yang engkau lalaikan dan engkau tidak ketahui. Dan, yang paling dahsyat dan paling banyak pada diri manusia, Menurutku, adalah kekaguman pada diri sendiri (ujub)?

Renungkan apakah engkau melihat seseorang yang menurut dirinya sendiri adalah seorang yang tidak tahu mengenai urusan akhirat dan urusan dunia?

Pikirkan apakah engkau melihat seseorang yang mendapati sesuatu yang tidak ia ketahui dan bukan pula sebagai profesinya, tetapi ia berkata, “Aku mengetahui tentang hal itu?” Orang bodoh—yang sebetulnya terpedaya—dan berlagak tahu ini perlu  diajari ilmy akhirat karena minimnya kadar akhirat dalam hatinya dan minimnya penghormatan terhadap kesucian-kesucian Allah.

Renungkan pula apakah engkau melihat ada orang yang lebih tinggi derajat dan ilmunya, menurut orang yang lengah, terpedaya, dan bodoh itu, ketimbang dirinya, lalu ia mengaku-aku dengan seperti itu, kecuali dalam hal-hal yang tak dapat ia sanggah dan ia tolak.

Apa yang engkau harapkan akan menjadi sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi mereka?

Kewaspadaan adalah sumber segala kebaikan sebagaimana halnya kelengahan adalah sumber segala kejahatan. Betapa banyak orang yang merasa dirinya sangat waspada padahal sebenarnya ia lengah. Betapa—tanpa sadar—mereka lebih menyukai kelengahan dibanding kewaspadaan.

Tanda-tanda kewaspadaan yang paling nyata adalah rasa sedih dan duka, serta persiapan yang baik untuk kesedihan dan kedukaan itu. Sedangkan tandatanda kelengahan yang paling nyata adalah sikap riang dan angkuh karena keduanya melupakan dan melalaikan kewaspadaan. Meninggalkan kewaspadaan berarti pula meninggalkan persiapan untuk sesuatu setelah kematian.

Apakah yang dimaksud dengan kelengahan dan kewaspadaan?

Kewaspadaan berarti menganggap ajal sudah dekat, mawas terhadap maut, dan berpikir tentang kejadian yang akan menimpa manusia setelah kematian. Dari sini, pintu amal lalu terbuka sehingga engkau bisa bergegas kepadanya sebelum kematian bergegag kepadamu. Engkau pun dapat memanfaatkan setiap kesempatan dalam hidupmu sebelum datangnya ajal, Jika manusia diberi sikap konsistensi atas hal itu, maka sumber- sumber kebaikan dipastikan muncul da. rinya. Insyda Allah Azza wa Jalla.

Sedangkan kelengahan berarti lama berangan-angan dan melupakan hari yang dijanjikan kecuali sepintas saja. Seorang hamba tidak akan terus-menerus dalam kelengahan. Seorang hamba tak akan selamanya berada dalam kelengahan kecuali jika

ia “melempar kebajikan ke balik punggungnya” Dari kelengahan, lahirlah sikap menunda- nunda dan keterperosokan dalam lautan dosa.

Agar Tidak Lengah

Apakah ada sesuatu yang menguatkan diriku untuk selalu waspada dan meninggalkan kelengahan?

Ya. Yaitu, keikhlasan berdoa, bersahabat dengan orang yang menginginkan apa yang engkau inginkan, dan menjauhkan orang yang tidak menginginkan apa yang engkau inginkan (itu). Pasalnya, bersahabat dengan orang yang tidak menginginkan apa yang engkau inginkan akan dapat membahayakan dirimu, sedangkan engkau sendiri tidak merasakannya. Sebaliknya, bersabahat dengan orang yang menginginkan apa yang engkau inginkan akan memberimu manfaat dan tidak membahayakan dirimu meskipun engkau tidak merasakannya.

Sesungguhnya manusia itu hancur karena tiga hal: kelengahan, kemenangan (penguasaan), dan kebodohan. Betapa banyak orang yang memiliki ketiganya. Jikalau engkau katakan bahwa sesungguhnya aku tidak tahu siapa yang akan menyelamatkannya, niscaya engkau benar.

Jadilah orang yang mencintai berdasarkan kebaikan. Jangan menjadi orang yang ingin

dicintai berdasarkan kebaikan.’

Segala sesuatu yang tidak mengandung manfaat dan pelayanan, maka tidak mungkin pula di dalamnya ada niat. Sedangkan segala sesuatu yang mengandung manfaat dan pelayanan, maka ia tidak boleh dilakukan kecuali dengan niat.

Aku heran dengan orang yang memiliki niat lemah dalam kebaikan-kebaikannya dan niat kuat  dalam  syahwat-syahwatnya.  Itu  tidak  akan  terjadi  kecuali  pada  mereka  yang

terpedaya dan terkamuflasekan, atau pada orang yang memperdaya dan mengkamuflasekan.

Barang siapa memiliki dua sifat, maka ia telah menguasai segala permasalahannya, yaitu yang mengetahui “kenapa” dan “belum”. Ia akan mengatakan, “Kenapa aku belum beramal? Kenapa aku beramal? Kenapa aku tidak beramal?” Siapa tidak tahu, maka apa yang ia dapatkan adalah sesuai dengan ketidaktahuannya.

Jauhkan delapan sifat dari akhlakmu, yaitu merasa terbebani dalam berbicara dan berucap, berselisih, mencari muka, terlalu banyak bercanda, menipu, berbuat jahat, memberatkan orang lain, dan bersikap emosional.

Melalaikan apa yang dibenci Allah adalah wujud kerasnya hati. Kekerasan hati berarti juga sirnanya kenikmatan amal. Hilangnya kenikmatan amal berarti juga sedikitnya ketaatan. Sedikitnya ketaatan berarti pula sedikitnya syukur. Meninggalkan syukur berarti kehancuran apa yang engkau kerjakan, ketidakmakbulan apa yang engkau minta, dan terputusnya tambahan (rahmat).

Sesungguhnya engkau berada di suatu zaman di mana orang yang paling selamat di antara manusia adalah seorang yang lapar dan buas, sekaligus sangat bersedih dan berduka.

Kelaparan akan memecah jiwa. Kekenyangan akan membangkitkan ketamakan. Kelaparan berarti pula kekuatan sedih dan duka. Sedih dan duka juga berarti kekuatan untuk menahan kelaparan. Sedih dan duka memutus syahwat dan hasrat.

Insan itu cenderung melampaui batas, gemar durhaka, suka menunda-nunda, dan berwatak pelupa. Itu jika ia tak memiliki tekad, suka melamun, dan sering putus asa ketika bertemu dengan hal yang susah, kurang bersyukur ketika mendapat nikmat, dan berdusta untuk memperdayai dan menipu.

Pengetahuanmu tentang aibmu dan aib orang lain sama saja. Siapa belum pernah mengetahui aib orang lain, ia akan tahu aibnya sendiri. Jika aib orang lain tampak bagimu di saat aibmu sendiri tidak tampak bagimu, maka engkau akan mendapatkan aibmu melalui aib orang lain. Jika aibmu tampak bagi dirimu di saat aib orang lain yang sama tidak kelihatan bagimu, maka jangan engkau limpahkan hal itu kepada orang lain sehingga akan tampak bagimu sesuatu yang sama dengan yang tampak dari dirimu. Amatilah, periksalah, perhitungkanlah, ambillah dengan melaksanakan apa yang paling sulit diambil, dan jangan meminta permakluman untuknya. Jika engkau meminta permakluman, maka jangan terima darinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker