Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabun Nufus Karya Al Muhasibi

21 Keinginan, Kejujuran, dan Hawa Nafsu

Allah sungguh mampu menundukkan hawa nafsu bagi kejujuran, meskipun hal ini tak sering terjadi (pada seseorang). Orang yang mengetahui hal yang sedikit ini jumlahnya sedikit. Sebaliknya, orang yang tidak tahu jumlahnya sangat banyak. Pasalnya, kehendak untuk beramal terjadi sebelum amal itu,” syahwat dan hawa nafsu muncul menyertai amal, sedangkan niat dan kejujuran berada di belakang keduanya. Setiap kali seorang hamba berkehendak atau bertekad untuk beramal, baik dalam waktu dekat maupun jauh,

maka hawa nafsu, syahwat, niat yang jujur akan bersegera menuju hatinya dengan mengingatingat apa yang bisa diharapkan dan dicitakan dari amal seperti itu, berupa kebutuhan-kebutuhan duniawi, kesenangan-kesenangannya, manfaat-manfaatnya, dampak-dampaknya, kelezatan-kelezatannya, dan segala sesuatu yang menyenangkan, serta sesuatu yang memperbaiki posisinya di tengah manusia dan yang membuatnya dikenang dengan pujian, sanjungan, kehormatan, kedudukan, ketinggian, dan kekuasaan.

Keinginan yang jujur nanti akan menghilang. Selama ia hilang, hati akan menerima semua itu, tak pernah menolaknya sedikit pun, karena hati harus memiliki harapan terhadap amal yang diinginkannya. Manusia adalah makhluk yang paling banyak lupa pada saat itu akibat pujian, sanjungan, kelembutan, penghormatan, kehormatan, kepemimpinan, dan kedudukan yang dibawa jiwa dan hawa ke dalam hati secara keseluruhan termasuk yang sering kali menghiasi, memikat, sekaligus membuatnya senang. Oleh karena itu, kelengahan dan kelupaan terhadap keinginan yang jujur semakin bertambah banyak.

Seandainya tempat sesuatu yang dikagumi dan dipikat hati adalah kepahitan dan ketidaksenangan, maka hati tak akan pernah menerima kelupaan dan kelengahan,” tetapi karena kesepakatan itu  telah datang, maka kemudian hati menjadi tenang dengan kerusakan tersebut.

Siapa dikaruniai Allah nikmat sehingga keinginan yang jujur berada di depan hawa dan syahwat dirinya dan sehingga ia mendambakan rida Allah dan kampung akhirat dengan amalnya, maka dalam hal ini, kesibukan hati dan segenap harapannya pada saat itu tertuju kepada rida Allah dan balasan-Nya. Apa yang dibawa jiwa dan hawa, sebagaimana telah kami sebutkan, tak akan pernah diterima hati dan pasti ditolaknya atas mereka. Di situ terkandung nikmat yang paling agung dan pelakunya perlu bersyukur sebanyak-banyaknya.

Bila Nafsu Mendahului Keinginan yang Benar

Jika nafsu, hawa, dan syahwat mendahului keinginan (iradat) yang benar, maka orang yang mengalaminya perlu diam, melakukan perenungan, dan berpikir sehingga hatinya bersih dari nafsu, syahwat, dan hawa yang menimpanya, serta meletakkan keinginan (terhadap) Allah di posisi itu, bahkan di depannya. Ia akan diterima hati, baik dalam keadaan yang membuatnya tidak senang atau malah menyenangkannya, kemudian ia berhati-hati dan waspada sampai ia mengakhiri amal yang dibuka dengan keinginan yang benar itu dan setelah menyelesaikannya, selama hayat masih dikandung badan.

Ketahuilah bahwa mcelaksanakan hal ini lebih berat daripada memindahkan batu karang dan menaiki sesuatu yang tajam (h. 104) kecuali oleh orang yang dianugerahi Allah kemampuan untuk itu dan perhatian kepadanya sebagai ekspresi ketakutan akan kerusakan dirinya dan kesia-siaan amalnya. Sebab, sang musuh memaksa, bersungguh- sungguh, dan bermaksud menipu dalam upayanya membiuskan penyakitpenyakit yang merusak amal, maka ia perlu senantiasa mengamatinya sebelum merasuk ke dalam amal, setelah masuk, ataupun setelah keluar darinya.

Bila Keinginan Sudah Benar

Jika ia mengedepankan keinginan dan niat yang jujur, benar, dan tidak mengandung penyakit, lalu ia tindak lanjuti dengan amal, menafikan hawa, mencegah nafsu, menentang syahwat, dan memerangi musuh, maka bila sang musuh melawannya setelah masuk ke amal, maka sang musuh memperlihatkan penyakit-penyakit yang merusak amal—sebagaimana yang telah kami sebutkan. Jika ia menerimanya sampai ketika mengakhiri amalnya, maka rusaklah sumber/asalnya yang benar dan kokoh. (h. 104).

Jika ia tidak pernah menerima apa pun yang mendatanginya ketika beramal, kemudian ia menafikan dan mencegahnya, maka hal itu tak akan membahayakan dirinya sama sekali.

Jika ia menerimanya kemudian sadar sebelum menyelesaikan perbuatan, lalu ia menyesal, kembali, bangkit, menghilangkan kelengahan, kemudian menutup pekerjaan itu dengan penyesalan, maka hal itu tak akan membahayakan dirinya.

Jika  ia  mengakhiri  pekerjaan  dengan  kejujuran  dan  keadaan  sehat,  maka  ia akan menuntutnya dalam perbuatan itu untuk merusaknya walaupun setelah waktu berlalu.

Sepatutnya manusia bertakwa kepada Allah, bersikap ikhlas kepada-Nya ketika beramal, mempersembahkan niat untuk-Nya sebelum dan sesudah setiap amal sampai menjelang kematian sehingga seluruh amalnya hanya untuk Allah semata. Ia tidak meminta balasan kecuali dari Allah, memerangi musuh yang sedang berkuasa, menentang hawanya, mengekang nafsunya, menjaga syahwat yang bergejolak dalam kalbunya, dan mengetahui siapa yang berinteraksi dengannya serta untuk siapa ia berbuat dan balasan siapa yang ia cari.

Hendaklah ia berbuat amal dengan harapan yang membara terhadap balasan Allah dan ketakutan yang sangat akan hukuman-Nya. Sesungguhnya jika ia berusaha keras untuk itu, berarti ia telah berbuat amal dengan syahwat, kebodohan, dan kecintaan (h. 105) akibat dipacu oleh harapan dan ketakutan (raghbah dan rahbah) sehingga ia dapat menghilangkan penyakit-penyakit yang merusak amal-amallnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Jika ia berusaha keras untuk itu, maka seakan-akan ia telah memadukan seluruh hawa dan kejujuran. Ia tidak pernah peduli apakah hal itu sesuai dengan hawa ataupun tidak sesuai. (h. 105) Sedangkan ia tidaklah perlu menentang hawa jika ia memang selamat dari kejahatannya, dan itu tidak membahayakan dirinya, seakan-akan ia menyepakatinya.

Seorang hamba perlu berhenti dan bertanya tentang apa yang telah ia kerjakan, untuk siapa ia berbuat, dan apa yang ia inginkan dengan perbuatannya?

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker