16 Kebaikan dan Kejahatan
Memahami Latihan dan Mencermati Diri
Barang siapa termasuk kaum yang menaruh perhatian terhadap dirinya sendiri dan diberi pemahaman tentang latihan (tajribah),! maka dialah yang telah mencapai pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan, mengetahui dari mana dan bagaimana kedua hal itu, mengungkapkan, menggambarkan, memahami, mengkritisi, dan berbicara dengan penuh kearifan. Baginya, nasihat yang didengar adalah tambahan untuk lebih bisa memahami, mengetahui, dan menerangkan nasihat, serta menjadi nilai plus bagi kecerdasannya sekaligus rahasia kebutuhannya.
Sedangkan siapa termasuk kaum yang selalu memperhatikan diri sendiri, tetapi belum diberi pemahaman tentang latihan, maka ia akan dapat mengetahui kebaikan dan keburukan sesuai dengan tingkat perhatiannya, dapat melukiskan sifat dan isj pengetahuan tersebut serta dari mana dan bagaima. na pengetahuan itu diperoleh, kendati—dalam hal itu—ia kurang bisa mengungkapkan dengan kearifan, Baginya, nasihat merupakan tambahan untuk lebih memahami kebaikan dan keburukan.
Sedangkan siapa tidak diberi pemahaman dan tidak pula memiliki perhatian (terhadap dirinya), maka ia tidak akan dapat berbicara dengan lidahnya saat harus berbicara dan tidak dapat melakukan penalaran dengan hatinya saat sedang mendengarkan.
Diriwayatkan bahwa sebuah hikmah berkata, “Siapa mencariku, tetapi ia tak dapat mencapaiku, hendaklah ia beramal dengan sebaik-baik pengetahuan yang ia miliki dan meninggalkan seburuk-buruk pengetahuan yang ia miliki”
Hikmah dan Pemeriksaan
Manfaat setiap perkara itu bertingkat-tingkat. Demikian pula bahayanya. Ada yang manfaatnya lebih besar dari bahayanya. Ada pula yang bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Dapat kita lihat bahwa sebagian besar perhatian orang tertuju kepada perbaikan hal-hal dengan sedikit bahaya. Mereka lebih sering memperbaiki sesuatu yang
sedikit bahayanya ketimbang yang memiliki banyak bahaya. Pencarian mereka terhadap hal-hal yang memiliki sedikit manfaat lebih sering ketimbang terhadap hal-hal yang memiliki banyak manfaat.
Sebagian perkara lebih sulit ditinggalkan oleh manusia dibanding yang lain. Orang yang memiliki keinginan tidak patut untuk salah dalam hal ini, tetapi selayaknya ia memeriksa seluruh persoalan dengan penuh ketelitian, perhatian, pemahaman, dan daya kritis. Sehingga, ia mengetahui apa saja yang sulit ditinggalkannya sekaligus apa yang paling selamat dan bermanfaat baginya. Dengan demikian, ia akan menjadikan kesungguhan, semangat baru, pengetahuan, ilmu, pemahaman, kecerdasan, perhatian, berikut daya kritisnya untuk hal-hal yang—baginya—sulit ditinggalkan dan paling banyak bahayanya.
Dalam konteks itu, sikap manusia memang bermacam-macam. Betapa banyak orang yang agak mudah meninggalkan sesuatu yang sulit bagi orang lain, tetapi agak sulit meninggalkan sesuatu yang mudah ditinggalkan orang lain. Sebaliknya, orang tersebut sulit mencari sesuatu yang mudah bagi orang lain, tetapi mudah mencari sesuatu yang sulit dicari orang lain. Sebabnya, ia mencintai sesuatu yang tidak dicintai orang lain dan ia membenci sesuatu yang tidak dibenci orang lain.
Bisa jadi kedua masalah itu sama-sama berbahaya dan salah satu dari keduanya lebih berbahaya dibanding yang lain. Beban untuk meninggalkan yang satu tidak kalah sulit— bagi pelakunya—dibanding dengan meninggalkan yang lain. Akan tetapi, pengetahuan manusia tentang metode yang tepat sangat terbatas, Kelambanan dalam hal itu (umumnya) dikarenakan sesuatu yang lebih sulit—di mata dia—untuk ditinggalkan. Sedangkan yang lebih perlu ditinggalkan, baginya, adalah yang lebih sedikit bahayanya dan lebih mudah untuknya, ketimbang yang lebih banyak bahayanya. Ia lemah dan tidak berdaya meninggalkan yang banyak bahayanya.
Hal seperti ini tidak akan diketahui kecuali oleh orang yang sering membolak-balik dan meneliti berbagai permasalahan secara serius sehingga ia melihat apa yang menjadi faktor-faktor penyebabnya. Kemudian ia tidak melihat pada dirinya modal besar untuk
meninggalkan penyebab tersebut sehingga ia berkata, “Saya tidak meninggalkan hal ini, tetapi saya meninggalkan sesuatu yang memang sulit ditinggalkan oleh diriku.” Tidaklah rusaknya urusan yang hendak ia tinggalkan itu—yang memang lebih berat baginya sama seperti rusaknya urusan yang tidak hendak ia tinggalkan.|[]









One Comment