Bagian Pertama: Fondasi Agama
KETAHUILAH, SECARA RINGKAS dua kalimat syahadat mengandung penegasan tentang Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, kebenaran Rasulullah saw., dan bangunan iman berdasarkan empat fondasi di bawah ini:
Fondasi pertama, mengenal Allah, yang meliputi sepuluh prinsip, yaitu: ilmu (pengetahuan) tentang wujud Allah, sifat gidam dan baga -Nya, dan bahwa Dia bukan substansi, materi, maupun aksiden. Dia tidak terbatasi oleh suatu arah, tidak menetap pada sebuah tempat, dan Dia Maha Melihat dan Maha Esa.
Fondasi kedua, mengenal sifat-sifat Allah swt. yang terdiri atas sepuluh prinsip: mengenali bahwa Allah itu Hidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, Mahabenar dalam menyampaikan berita, suci dari hal-hal baru, dan sifat-sifat-Nya adalah kadim.
Fondasi ketiga, mengenali perbuatan-perbuatan Allah swt., yang berkisar atas sepuluh prinsip: perbuatan-perbuatan hamba adalah ciptaan Allah, akibat kehendak-Nya, perbuatan-perbuatan itu merupakan sesuatu yang diupayakan (muktasab),
Dia adalah Pemberi anugerah kepada makhluk, Dia berhak memberi beban syariat (taklif) di luar kemampuan, Dia boleh menyakiti makhluk, Dia tidak wajib memerhatikan hal yang lebih maslahat, tidak ada kewajiban kecuali atas dasar syariat, pengutusan para nabi as. adalah perkara ja’is (boleh), dan kenabian Muhammad saw. yang didukung ber. bagai mukjizat merupakan kepastian.
Fondasi keempat, perkara yang hanya didengar (samiyyat) mencakup sepuluh prinsip, hari pengumpulan makhluk (hasyr), hari kebangkitan (nasyr), azab kubur, pertanyaan Munkar dan Nakir, shirat, penciptaan surga dan neraka dan hukum-hukum imamah.
Bagian Kedua: Adab
NABI MUHAMMAD SAW. bersabda,
“Tuhanku telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan baik.”
Adab adalah pendidikan lahir dan batin. Jika lahir dan batin seorang hamba telah bersih, ia akan beranjak menjadi sufi yang beradab. Barang siapa membiasakan diri mengikuti adab-adab sunah maka Allah menerangi hatinya dengan cahaya makrifat.
Tidak ada magam (kedudukan) yang lebih mulia dibanding mengikuti sang kekasih, Rasulullah saw., dalam menjalankan perintah-perintah, perbuatan, dan akhlaknya, serta berperilaku sebagaimana adab beliau, baik ucapan, perbuatan, tekad, maupun niat.
Perbuatan adil antara Allah dan hamba itu terletak pada tiga hal, meminta pertolongan, usaha, dan adab. Hamba meminta pertolong, Allah yang membantu untuk bertobat. Hamba berusaha, Allah yang memberi taufik (pertolongan). Dan hamba berperilaku dengan adab yang baik: Allah yang memberi karamah (kemuliaan).
Barang siapa beradab seperti adab orang-orang saleh, ia pantas meraih hamparan karamah. Siapa pun yang beradah layaknya adab para wali maka ia pantas mendapat hamparan gurbah (kedekatan dengan Allah): barang siapa beradab sebagaimana kaum shiddigun, ia berhak atas hamparan musyahadah (menyaksikan Allah), siapa yang beradab semisal para nabi, maka ia layak memeroleh hamparan uns (kasih sayang Allah) dan inbisath (kemudahan dari-Nya).
Sebaliknya, barang siapa terhalang dari adab, berarti ia telah terbentengi dari segala kebaikan, barang siapa tidak terdidik dengan perintah dan didikan para guru, maka ia tidak beradab dengan Kitab dan sunah.
“PERBUATAN ADIL ANTARA ALLAH DAN HAMBA ITU TERLETAK PADA TIGA HAL: MEMINTA PERTOLONGAN, USAHA, DAN ADAB.”
Siapa pun yang tidak berperilaku dengan adab para salik pemula (ahli bidayah), bagaimana ia bisa mengaku memiliki magam para peraih puncak (ahli nihayah). Barang siapa tidak mengenal Allah maka dia tidak akan pernah menghampiriNya, dan siapa saja yang tidak beradab dengan perintah dan larangan-Nya, berarti ia jauh dari adab.
Adapun adab khidmah (pengabdian kepada Allah) adalah tidak melihat khidmah tersebut, namun melihat secara total Dzat yang membuatnya melakukan khidmah itu, yaitu adalah Allah swt.
Karena ketaatannya, seorang hamba bisa mencapai surga, dan dengan adabnya ia sampai kepada Allah swt. Selain itu, tauhid merupakan suatu keharusan yang berkonsekuensi pada keimanan.
Jadi, barang siapa tidak memilikiiman, ia tidak memiliki tauhid. Dan iman merupakan keharusan yang melahirkan konsekuensi syariat. Karena itu, barang siapa tak memiliki syariat maka ia tidak memiliki iman maupun tauhid.
Di samping itu, syariat juga menjadi kewajiban yang melahirkan konsekuensi adab. Oleh sebab itu, barang siapa tak memiliki adab, ia tidak memiliki syariat, iman, maupun tauhid.
Meninggalkan adab adalah faktor yang menyebabkan seseorang “terusir”. Barang siapa tak berperilaku dengan adab yang baik saat berada di karpet kehormatan, ia akan dikembalikan ke pintu gerbang istana. Siapa pun tidak beradab di pintu gerbang istana, ia akan dikembalikan ke aturan binatang melata.
Adab yang paling bermanfaat adalah mendalami agama, zuhud terhadap dunia, dan mengetahui kewajibanmu terhadap Allah swt. Jika seseorang yang telah mencapai magam makrifat meninggalkan adab terhadap Allah, ia akan binasa bersama orang-orang binasa.
Dikatakan, ada tiga yang haljika bersamanya seseorang tidak akan terasing (ghurbah): menjauhi orang ragu, adab yang baik, dan menahan diri dari tindakan menyakiti. Sebagian besar adab ahli ibadah adalah membersihkan hawa nafsu, mendidik anggota tubuh, memelihara batasan-batasan (perintah dan larangan), dan meninggalkan syahwat.
Sementara adab kebanyakan orang khusus (khawash) adalah menyucikan hati, menjaga rahasia-rahasia (asrar), menepati janji, memelihara waktu, tidak menghiraukan berbagai bisikan, etika yang baik dalam proses pencarian (thalab), dan melanggengkan kehadiran hati di sisi Allah (hudhur).
Maka, barang siapa memaksa nafsunya untuk mengikuti adab, itulah orang yang beribadah kepada Allah secara ikhlas.
Ada yang mengatakan, inilah ma’rifatul yagin (mengenal Allah tanpa sedikit pun keraguan). Ada pula yang mengatakan dengan mendasarkan pada firman Allah dalam hadis qudsi,
“Barang siapa Kukehendaki untuk menjaga asma dan sifat-sifat-Ku maka kuwajibkan ia berada dalam adab. Barang siapa menginginkan untuk menyingkap hakikat Dzat-Ku, Kuwajibkan ia untuk memperoleh kebinasaan. Maka pilihlah mana yang kaukehendaki, adab ataukah kerusakan? Barang siapa tidak beradab kepada waktu, maka waktunya adalah kemurkaan. Jika murid tidak mengikuti adab, ia akan kembali lagi ke tempat semula.”
Alkisah, Abu “Ubaid al-Oasim bin Salam berkata, “Aku memasuki kota Mekah, lalu duduk di teras Ka’bah. Aku tidur menyandar pada dinding Ka’bah dan menyelonjorkan kakiku.
Kemudian, “Aisyah al-Makkiyah mendatangiku seraya berkata, Wahai Abu “Ubaid, konon engkau adalah orang berilmu, maka itu terimalah kata-kata dariku, janganlah kau berada di dekat Ka’bah, kecuali dengan adab. Jika tidak demikian, namamu akan dihapus dari daftar orang-orang yang dekat (ahlul gurb).”
Abu “Ubaid pun mengatakan, “Aisyah termasuk salah seorang ahli makrifat.” Seorang sufi lain berkata, “Tetaplah mengikuti adab, baik lahir maupun batin. Setiap kali orang berperangai buruk secara lahir, pasti akan dihukum secara lahir. Dan setiap kali orang berbuat keburukan secara batin, ja akan dihukum secara batin.”
Adab adalah mengeluarkan apa yang bercokol di dalam potensi dan perangai, ke dalam tindakan nyata. Hal ini terjadi pada orang-orang yang memiliki karakter saleh.
Karakter atau sajiyah adalah hasil perbuatan Allah. Manusia tidak memiliki kuasa untuk menciptakannya, seperti terciptanya api di dalam batang kayu. Ia murni perbuatan Allah. Andil manusia hanyalah melakukan usaha untuk mengeluarkan api itu.
Demikianlah, jadi adab itu bersumber dari karakter yang baik dan anugerah Ilahi. Ketika batin kaum sufi disiapkan Allah dengan karakter-karakter sempurna, maka dengan praktik dan latihan yang baik, mereka bisa mengeluarkan apa yang ada di dalam jiwa menjadi tindakan nyata, seraya menjaga konsentrasi bahwa itu adalah ciptaan Allah.
Dengan demikian, mereka masuk dalam golongan orang-orang yang beradab dan terdidik (muhadzdzah).
Adab Ahlul Hadhrah Ilahiyyah terhadap Ahlul Qurb
Semua adab diterima dari Rasulullah saw. karena beliaulah tempat berkumpulnya adab, baik lahir maupun batin. Allah swt. telah memberitahukan tentang kualitas adab beliau saat berada dalam hadhrah (yaitu ketika beliau berada di Sidratul Muntaha bersama Jibril, ed) dengan firman-Nya,
“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS. an-Najm (531: 17)
Inilah salah satu adab yang samar (ghamidh), yang hanya dimiliki Rasulullah saw. Di samping itu, Allah swt. juga telah mengabarkan perihal kelurusan hati beliau yang suci dalam “berpaling” dan “menyambut”.
Beliau berpaling dari selain Allah dan hanya menghadap kepada-Nya. Beliau meninggalkan seluruh bumi dan negeri dunia dengan seluruh bagiannya: seluruh langit dan negeri akhirat beserta segala bagiannya. Beliau tak pernah menyesali apa yang lepas darinya karena berpaling dari itu semua. Allah swt. berfirman, “Supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian.” (QS. al-Hadid (57): 23)
Konteks ayat di atas berlaku umum. Kalimat “ ” adalah pemberitahuan tentang kondisi Nabi saw. dengan sifat khusus, diambil dari makna ayat yang ditujukan untuk umum. Maka, kalimat “ ” adalah kondisi beliau dalam hal berpaling (dari dunia dan akhirat beserta isinya).
Sedangkan dalam kondisi menyambut, beliau menerima apa yang disampaikan kepadanya dengan sepenuh hati dan jiwa, di tempat yang dekat dengan Jibril sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Kemudian, beliau berlari dari Allah karena malu, segan, dan hormat.
Beliau menempatkan dirinya dalam lipatan kelemahan dan kefakiran, agar hawa nafsunya tidak leluasa dan melampaui batas. Sebab, perbuatan melampaui batas ketika sedang dalam kondisi serba cukup menjadi tabiat nafsu, sebagaimana firman Allah swt., “Ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena ia melihat dirinya serba cukup.” (QS. al-‘Alag (961: 6-7)
Pada saat mawahib? datang kepada ruh dan hati, nafsu mencuri-dengar. Jika ia memperoleh sedikit saja bagian
“BARANG SIAPA TERHALANG DARI ADAB, BERARTI IA TELAH TERBENTENGI DARI SEGALA KEBAIKAN.”
dari anugerah, maka ia merasa cukup, lalu berbuat melampaui batas. Dari perbuatan melampaui batas ini kemudian muncul penyia-nyiaan terhadap kelapangan.
Sementara itu, berlebihan dalam kelapangan akan menutup pintu kelapangan yang lebih banyak. Perbuatan melampaui batas itu terjadi karena sempitnya wadah jiwa untuk menerima pemberian.
Musa as. mengalami salah satu dari dua kondisi ini (berpaling dan menyambut) saat berada di hadhrah (sisi Allah), matanya tak beralih dari yang dilihatnya, dan tidak menoleh pada apa yang telah lepas darinya dengan menyesal, karena adabnya yang baik.
Akan tetapi, jiwanya dipenuhi anugerah. Dan saat itulah nafsu mencuri-dengar, berharap mendapat jatah dan bagian. Ketika nafsu itu memperoleh bagian, ia merasa serba cukup. Apa yang diperolehnya itu memenuhinya hingga tumpah ruah. Ruangnya menjadi sempit.
Maka, hawa nafsu itu pun melampaui batas karena menyalahgunakan kelapangan. Ketika itu, Musa berkata, “Tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau (QS. al-A’raf (7): 143). Akan tetapi, Musa tak sanggup menerima itu. Dia tak kuat bersabar dan teguh dalam menerima tambahan anugerah.
Di sinilah perbedaan antara al-Habib (Nabi Muhammad) dan al-Kalim (Nabi Musa). Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata, “Rasulullah saw. tidak kembali kepada penyaksi hawa nafsunya itu, maupun apa yang dia saksikan, melainkan seluruh dirinya menyaksikan Tuhannya. Beliau menyaksikan sifat-sifat Allah yang tampak padanya, yang menghayuskannya tetap berada pada tempatnya saat itu.”
Ungkapan ini diperuntukkan bagi mereka yang menganggap hal ini sesuai dengan apa yang telah kami jelaskan sebagaimana ucapan Sahl bin Abdullah di atas. Sungguh, Allah Maha tahu.









One Comment