Potensi kelima, penguasa (mutasharrifah). Tempat beroperasinya di bagian tengah otak karena merupakan potensi yang paling kuat. Di samping itu, dalam keadaan tertentu ia menerima dari imajinasi, dan dalam keadaan lain menyampaikan kepada imajinasi, baik dalam kondisi tidur maupun jaga.
Ia juga menyampaikan sekaligus mengambil dari memori saat lupa. Maka yang paling layak baginya berada di antara kedua suhu panas agar memudahkan mengambil dan memberi keduanya. Dan, Allah Mahatahu.
Hati memerlukan tentara-tentara di atas karena ia butuh kendaraan, juga untuk melakukan perjalanan menuju Allah dan melewati beberapa persinggahan guna bertemu dengan-Nya. Untuk itulah ia diciptakan.
Kendaraannya tiada lain adalah tubuh, dan bekalnya yaitu ilmu dan amal. Tak mungkin seorang hamba bisa sampai kepada Allah selama ia tidak menghuni tubuh dan melampaui dunia untuk menjadikannya bekal menuju persinggahan tertinggi.
Oleh sebab itu, ia perlu merawat tubuh dengan cara menghadirkan segala hal yang sesuai, seperti makanan dan lain-lain, serta mengusir segala sesuatu yang mengganggu dan mungkin mengakibatkan kehancuran.
Jadi, demi memperoleh makanan, ia butuh dua tentara, (1) tentara batin, yaitu kemarahan untuk mengusir hal-hal merusak dan menuntut balas terhadap musuh:j, (2) tentara lahir, berwujud tangan, kaki, dan senjata, yang digunakan bekerjanya tentara kemarahan, kemudian memerlukan makanan.
Ketika tidak mengenali makanan, syahwat untuk mengetahuinya makanan beserta alatnya tidak berguna. Karena itu, guna mengetahui makanan ini ia memerlukan dua tentara. Pertama, tentara batin: kesadaran indra pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Kedua, tentara lahir, mata, telinga, hidung, dan lain-lain.
Selebihnya, penjelasan detail tentang kebutuhan terhadap tentara-tentara ini beserta hikmahnya merupakan perihal yang panjang dan memerlukan berjilid-jilid kitab. Mahasuci Allah Yang Mahamurah dan Mahabijaksana.
Ketahuilah, pembagian itu ada tiga, materi, aksiden, dan substansi murni. Ruh hewani adalah materi halus layaknya pelita yang menyala. Kehidupan merupakan pelita, darah adalah minyaknya, indra dan gerak menjadi cahayanya, syahwat adalah suhunya, marah merupakan asapnya, potensi yang mencari makanan dan tinggal dalam hati berlaku sebagai penjaga dan wakilnya.
Ruh itu dimiliki oleh semua binatang karena ia merupakan sesuatu yang sama di antara semua ternak dan segala jenis binatang. Sedangkan manusia adalah materi, dan pengaruh-pengaruhnya merupakan aksiden. Ruh tidak bisa mengetahui ilmu, tidak mengetahui jalan makhluk, dan tidak mengetahui hak pencipta. Ia hanya pelayan yang tertawan oleh kematian tubuh.
Jika minyak darah bertambah, ia akan padam akibat suhunya naik. Dan, jika minyak darah berkurang, ia juga padam karena semakin dingin. Padamnya ruh disebabkan oleh matinya tubuh. Di samping itu, sapaan Allah dan taklif Rasulullah tidak ditujukan untuk ruh ini sebab binatang ternak dan yang sejenisnya tidak diberi beban taklif dan tidak dikenai hukum-hukum syariat.
Manusia dibebani dan dikenai taklif tiada lain karena makna lain tertentu yang ada padanya. Makna tersebut adalah jiwa yang berpikir dan ruh yang halus. Ruh ini bu. kanlah materi maupun aksiden karena ia menjadi urusan Allah swt., seperti dikabarkan dalam firman-Nya, Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS. al-Isra” (17): 85)
Urusan Allah itu bukan materi maupun aksiden, tetapi substansi yang kekal dan abadi, tidak bisa rusak, tidak pudar, tidak fana”, dan tidak mati. Ia meninggalkan tubuh, dan menunggu waktu untuk kembali ke tubuh pada Hari Kiamat kelak, sebagaimana dijelaskan syariat. Dari ruh ini, lahirlah kebaikan atau keburukan tubuh.
Ruh hewani dan seluruh potensi menjadi tentara ruh ini. Jika ruh hewani meninggalkan tubuh maka fungsi potensi hewaniah berhenti sehingga yang bergerak pun akan diam. Adapun diamnya sesuatu yang bergerak disebut kematian.
Walaupun demikian, meski ruh termasuk urusan Allah dan berada dalam tubuh sebagai makhluk asing, tetapi ketahuilah, ia tidak hinggap dan tinggal di suatu tempat. Tubuh bukan tempat hinggapnya ruh maupun hati, namun alat bagi ruh. Allah swt. Mahatahu.
Berikut ini penjelasan firman Allah swt.,
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, mereka jatuh tersujud kepadanya.” (QS. al-Hijr (15): 29)
Taswiyah bermakna perbuatan yang terjadi di tempat yang bisa menerima ruh, yaitu tanah dalam kaitannya dengan Adam as., dan nuthfah dalam hubungannya dengan anak-anak Adam.
Dengan pemurnian dan pelurusan watak serta berjalan melalui fase-fase penciptaan menuju puncak tujuan, hingga berakhir dalam kejernihan dan keselarasan berbagai bagian kepada tujuannya. Pada akhirnya, ia akan siap menerima dan menahan ruh, seperti kesiapan sumbu pelita setelah menyedot minyak bakar untuk menerima dan menahan api.
Adapun an-nafkhu (peniupan) berarti menyalanya cahaya ruh di tempat penerimaannya. Karena peniupan menjadi sebab yang menyalakan, dan gambaran peniupan merupakan hal yang mustahil bagi Allah, sedangkan sebab tersebut tidak mustahil. Maka ia mengungkapkan akibat dari peniupan tersebut: menyala pada sumbu nuthfah.
Peniupan itu mengandung gambaran dan hasil (akibat). Bentuk peniupan itu sendiri dengan mengeluarkan udara dari dalam perut seseorang ke dalam perut orang yang ditiup: ke sumbu nuthfah, hingga nuthfah itu pun menyala.
Adapun sebab yang membuat cahaya ruh menyala adalah sifat Dzat yang berbuat dan tabiat tempat yang menerimanya. Sifat Dzat yang berbuat adalah kedermawanan sekaligus sebagai sumber wujud. Dia memancarkan Dzat-Nya kepada segala maujud secara nyata. Sifat tersebut dinamakan qudrah (kekuasaan). Sebagai misal, pancaran cahaya matahari pada segala sesuatu yang bisa disinari tatkala tidak ada hijab antara keduanya.
Dan sesuatu yang menerima sinar adalah segala hal yang memiliki warna, bukan udara karena ia tak memiliki warna. Selain itu, sifat penerima adalah kesamaan dan kelurusan yang terjadi akibat keselarasan, seperti firman Allah swt., Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya.
Permisalan sifat penerima seumpama sifat-sifat cermin. Sebelum diasah hingga bening, cermin tak bisa menerima gambar meskipun gambar itu lurus di depannya. Jika ia telah bening maka di dalamnya tercetak gambar dari gambar yang lurus di depannya.
Demikian pula, bila terjadi kesejajaran pada nuthfah, muncullah ruh dari Sang Pencipta ruh, tanpa terjadi perubahan saat ini pada-Nya. Bahkan, ruh itu sudah terjadi sebelumnya akibat berubahnya tempat dan kesejajaran saat ini.
Selanjutnya, maksud dari pancaran kedermawanan bahwa kedermawanan Ilahiah menjadi sebab terciptanya cahaya wujud pada setiap esensi yang dapat menerima kedermawanan. Inilah yang disebut dengan pancaran (faidh).
Tidak sebagaimana dipahami dalam peristiwa memancarnya air dari wadah ke tangan karena hal itu berarti terpisahnya bagian air yang ada di dalam wadah dan tersambung dengan tangan. Sungguh, Mahasuci Allah dari hal-hal sernacam ini.
Sementara itu, menyingkap makna esensi ruh dan mengetahui hakikatnya menjadi bagian rahasia. Bahkan, Rasulullah pun tak mengizinkan seseorang yang bukan ahlinya untuk menyingkapnya. Jika engkau termasuk ahlinya maka dengarkanlah. Ketahuilah, ruh itu bukan materi yang bertempat pada tubuh layaknya air yang menempati wadah.
Bukan pula aksiden yang melekat pada hati atau otak, seperti melekatnya hitam pada sesuatu yang berwarna hitam dan ilmu pada orang yang berilmu. Akan tetapi, ruh adalah substansi yang tak dapat terbagi-bagi menurut semua orang yang memiliki mata hati.
Sebab, jika ruh bisa dibagi, tentu saja bagian tertentu bisa jadi akan ditempati ilmu tentang sesuatu, dan bagian lain ditempati kebodohan terhadap sesuatu yang sama. Sehingga secara bersamaan ia mengetahui sesuatu sekaligus tidak mengetahuinya. Dan ini mustahil. Demikian ini menunjukkan bahwa ruh tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terbagi.









One Comment