Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Bagian Ketiga Puluh Enam : Larangan Bergunjing

ALLAH SWT. BERFIRMAN, “Adakah seseorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. al-Hujurat (49): 12)

Firman Allah di atas dipertegas dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang bersumber dari Abu Hurairah ra.

Dari Abu Hurairah ra. ada seorang laki-laki di sisi Rasulullah saw., lalu Rasulullah berdiri, tapi laki-laki itu “dak. Maka, beberapa orang berkata, “Alangkah lemahnya la. Rasulullah bersabda, “Kalian telah memakan daging Saudara kalian dan menggunjingnya.”

Dikatakan bahwa Allah swt. telah mewahyukan kepada Musa bin Imran as.,

“Barang siapa mati dalam keadaan tobat dari perilaku ghibah, ia adalah orang terakhir yang masuk surga. Dan siapa yang mati dalam keadaan tetap dalam ghibah, berarti ia orang pertama yang masuk neraka.”

Ada pula yang mengatakan, “Ibrahim bin Adham pernah diundang dalam sebuah perhelatan. Kemudian, orang-orang di sekitarnya menggunjingkan seseorang yang tidak datang pada acara tersebut. Maka Ibrahim berkata, “Sungguh, nafsuku berbuat seperti ini terhadapku. Aku mendatangi sebuah tempat yang di dalamnya orang-orang berbuat ghibah.” Ia pun keluar dan tidak makan selama tiga hari.

Berkenaan dengan pergunjingan, dikatakan bahwa perumpaan orang yang menggunjing orang lain layaknya orang yang mendirikan alat pelontar (munjanig), yang ia gunakan untuk melemparkan kebaikannya ke timur dan ke barat.

Demikian pula disebutkan, pada hari kiamat nanti, seorang hamba diberi kitab (catatannya), tetapi tidak melihat catatan kebaikan di dalamnya. Ia pun berkata, “Manakah shalatku, puasaku, dan ketaatanku?” Lalu dijawab, “Amalamalmu hilang karena engkau telah menggunjing orang lain.” Maka dikatakan, “Barang siapa digunjingkan orang lain, maka diampunilah separuh dosa-dosanya.”

Disebutkan, ada seseorang menerima kitabnya dengan tangan kanan, lalu melihat catatan kebaikannya yang tak pernah ia lakukan. Kemudian dikatakan kepadanya, “Ini karena engkau digunjingkan orang, tapi engkau tak menyadarinya.”

Suatu saat ada kabar yang disampaikan kepada Hasan Bashri, “Seseorang telah menggunjingmu,” Maka, Hasan Bashri pun mengirimkan sebuah talam berisi manisan kepada orang tersebut sambil berujar, “Aku mendengar engkau telah menghadiahkan kebaikanmu untukku, maka aku ingin membalasnya.”

Dari al-Junaid ra., ia berkata, “Aku berada di Baghdad, di sebuah tempat untuk menanti jenazah yang akan kushalatkan. Kemudian aku bertemu seorang fakir yang menampakkan jejak-jejak ahli ibadah dan meminta-minta kepada orang-orang. Aku pun berkata dalam hati, andaikan orang ini melakukan amal yang bisa menjaga dirinya, itu akan lebih baik baginya.

Lantas, aku pulang ke rumah dan melakukan wirid pada malam hari. Selesai membaca wirid, aku tidur, dan bermimpi melihat orang fakir tersebut membawa dirinya di atas sebuah dipan panjang. Lalu mereka berkata kepadaku, Makanlah daging orang tersebut karena engkau telah menggunjingnya, dan aku pun melihat ahwal. Aku berkata. Aku tidak menggunjingnya, melainkan berkata dalam hatiku.” Maka dikatakan, “Engkau tidak termasuk orang yang ridha terhadap orang seperti ia. Pergilah, dan mintalah maaf kepadanya.”

Keesokan harinya aku mondar-mandir hingga melihat orang tersebut memunguti lembaran-lembaran sayur yang jatuh karena di cuci dalam air. Aku pun mengucapkan salam kepadanya, dan ia pun menjawab, “Hai Abu Oasim, kau akan mengulang lagi?” Aku menjawab, “Tidak.” Maka, ia berkata, “Semoga Allah mengampuni kita.”

Bagian Ketiga Puluh Tujuh : Makna Futuwwah (Kedermawanan)

Ar-FATI ATAU SEORANG dermawan adalah orang yang tak lagi merancang diri, harta, dan anaknya, tetapi memberikan segalanya kepada Sang Pemilik sejati. Bahkan, apa yang diberikan itu bukanlah miliknya karena semuanya telah sirna dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka.” (QS. at-Taubah (9): 111)

Ia pun berakhlak selaras dengan firman Allah swt.,

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. an-Nahl (16): 90)

Tidaklah ia meninggalkan ketaatan sedikit pun kepada Allah berupa adil dan ihsan, kecuali mengumpulkannya. Dan tidaklah ia meninggalkan sedikit pun perbuatan keji dan mungkar, melainkan telah merangkumnya.

Maka, kedermawanan orang awam dengan harta, kedermawanan orang khas dengan harta dan perbuatan, kedermawanan para khasul khas dengan harta, perbuatan, dan ahwal: kedermawanan para nabi dengan harta, perbuatan, dan asrar. Inilah orang yang dalam batinnya mengakui, dan lahirnya tidak membuat-buat maupun riya. Rahasia antara dirinya dengan Allah tak bisa dilihat oleh dadanya sendiri, terlebih orang lain.

Salah satu kebiasaan seorang dermawan (al-fatiy) yaitu melihat makhluk dengan pandangan ridha dan menyaksikan diri sendiri dengan pandangan marah, mengetahui hak-hak manusia yang lebih tinggi, yang sederajat, atau yang lebih rendah darinya. Tak pernah menyinggung saudara-saudaranya dengan salah, hina, atau dusta.

la melihat makhluk sebagai para kekasih. Tidak pernah menganggap mereka buruk kecuali perbuatan yang bertentangan dengan syariat. Padahal, dalam masalah dosa hal itu dinisbatkan kepada setan, bukan kepada saudaranya sesama muslim, terlebih kepada Allah swt.

la pun sanggup merubah dengan tangannya. Kalaupun tidak mampu, maka ia akan merubah dengan hatinya. Ia putus asa terhadap makhluk, tidak mau meminta-minta, berhajat, menyembunyikan kefakiran, menampakkan kecukupan, tidak mengaku-aku, menyembunyikan maksud, menanggung penderitaan, mendahulukan keinginan orang Jain daripada keinginannya sendiri, tidak menghilangkan hajat orang lain, memberi tanpa berharap: tidak menuntut hak kepada siapa pun, menuntut diri sendiri atas hak orang Jain, melihat keutamaan pada mereka, menilai diri gegabah dalam semua yang dilakukan, tidak mengingkari apa yang dilakukan.

Selain itu, seorang dermawan biasa meninggalkan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat bagian nafsu. Baginya, tak ada bedanya antara pujian dan celaan yang dilontarkan oleh orang awam.

Kebiasaan lainnya adalah jujur, menepati janji, dermawan, malu, berakhlak mulia, memuliakan jiwa, lemah lembut terhadap teman, tidak mau mendengarkan hal-hal buruk dari teman, menjunjung tinggi janji dengan menepatinya, menjauhi sikap iri, dengki, dan menipu.

Kebiasaan lainnya yaitu cinta dan benci karena Allah, sebisa mungkin bersikap longgar (murah) terhadap saudarasaudaranya dengan harta dan kedudukan, tidak memberi mereka dengan harta dan kedudukan (nepotisme), berteman dengan orang-orang baik dan menjauhi orang-orang jahat. Ia memusuhi nafsunya sendiri karena Tuhannya, dan tak memiliki musuh lain selain nafsunya.

Maka, ia pun berusaha keras untuk mengalahkan nafsu sebab dikatakan, “al-fatiy adalah orang yang menghancurkan berhala: berhala manusia.” Di antara kebiasaan seorang fatiy lainnya, yaitu tidak menjauhi orang miskin karena kemiskinannya, dan tidak mendekati orang kaya karena kekayaannya.

la berpaling dari jin dan manusia (kaunain). Baginya, tak ada bedanya antara yang menetap dengan yang datang, orang yang dikenal maupun tidak, tak ada bedanya antara wali dan orang kafir dari segi makanan. Tak pernah menyimpan makanan, tidak beralasan, memperlihatkan nikmat, dan menyembunyikan cinta.

Jika bergaul, ia tidak berubah tatkala teman sepergaulannya membawa sesuatu yang banyak atau sedikit, dan tidak membuat merah wajah orang lain berkaitan dengan hal yang tidak dianjurkan syariat. Tidak mengambil keuntungan dari sahabat, dan apa yang telah keluar darinya tidak pernah kembali.

Jika diberi ia bersyukur, bila tidak maka ia bersabar. Bahkan, jika diberi ia cenderung mendahulukan orang lain, dan bila tidak diberi ia bersyukur. Demikianlah, al-futuwwah yaitu apabila ia tidak melupakan Allah karena makhluk. Futuwwah ahli makrifat dengan apa yang ia ketahui, sedangkan futuwwah selain ahli makrifat dengan tradisi dan kebiasaannya.

Kemurahan Hafi

Kemurahan hati artinya mendahulukan bagian orang lain daripada bagianmu sendiri secara mutlak, baik dunia maupun akhirat. Selain itu, bergegas memberi sebelum diminta, tidak mengharap balasan atas apa yang diberikan, cepatcepat dalam memberi, serta menganggap pemberiannya kecil dan menutupinya.

Lebih dari itu, seorang dermawan senantiasa mempersembhakan jiwa, ruh, dan hartanya kepada manusia dengan sangat malu. Ia pun tak rela jika melihat hinanya meminta di wajah kaum Muslimin.

Kemurahan jiwa dengan apa yang ada di tangan manusia itu lebih besar daripada kemurahannya sendiri serta dengan memberi dan perangai ganaah. Dan, ridha lebih besar daripada perilaku memberi. Sedangkan yang lebih besar dari itu semua adalah kemurahan memberikan hikmah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker