Bagian Ketiga Puluh Lima : Ridha”
AL-HARITS BERKATA, “RIDHA adalah ketenangan hati di bawah berlangsungnya keputusan.” Lain halnya dengan Dzun Nun yang mengatakan, “Ridha artinya kebahagiaan hati dengan berjalannya gadha.” Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah saw. bersabda,
“Seseorang yang ridha dengan Allah sebagai tuhan, ia akan mencicipi nikmatnya iman.”
Demikian pula sabdanya,
Sesungguhnya Allah dengan hikmah-Nya meletakkan ketenangan dalam ridha dan yakin. Dan meletakkan duka dan sedih dalam ragu dan marah.”
Al-Junaid mengatakan, “Ridha berarti kebenaran ilmu yang sampai ke dalam hati. Jika hakikat ilmu menyentuh hati, ilmu tersebut membawanya ke dalam ridha. Tidak seperti takut (khauf) dan pengharapan (raja”), ridha dan mahabbah merupakan ahwal yang tak pernah berpisah dari hamba, baik di dunia maupun akhirat. Dan di surga ia pun tak bisa lepas dari keduanya.”
Ibnu “Atha’ berkata, “Ridha yaitu ketenangan hati atas pilihan Allah terdahulu (gadim) untuk hamba. Dia telah memilihkan untuknya yang paling utama, hingga ia pun ridha terhadap-Nya. Dan, ridha sama halnya meninggalkan marah.” Abu Turab “Ali bin Abi Thalib ra. menjelaskan, “Tidak akan meraih ridha Allah orang yang di hatinya menganggap dunia masih berarti.”
Sirri berkata, “Lima hal yang termasuk perangai mulia kaum Mugarrabin, ridha kepada Allah, baik berkaitan dengan hal yang kausukai maupun tidak, berusaha mencintaiNya, malu kepada Allah, damai karena-Nya, gerah terhadap selain Dia.”
Al-Fudhail berkata, “Ridha bermakna jika seseorang tak mengharapkan sesuatu pun melebihi posisinya.” Ibnu Sam’un berkata, “Ridha terhadap Allah yaitu ridha karena-Nya dan terhadap-Nya. Ridha karena-Nya sebagai yang Mengatur dan Memilih, ridha terhadap-Nya sebagai Pembagi dan Pemberi, dan ridha pada-Nya sebagai Tuhan sekaligus Tuan.
Suatu ketika Abu Sa’id ditanya, “Mungkinkah seseorang ridha sekaligus marah?” Ia menjawab, “Iya. Bisa jadi ja ridha kepada Tuhannya, dan marah terhadap nafsu serta segala hal yang memutuskannya dari Allah swt.”
Seseorang berkata kepada Hasan bin Ali ra. bahwa Abu Dzar berkata, “Fakir lebih aku sukai daripada kaya, dan sakit lebih kusenangi daripada sehat.” Kemudian, Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar.” Maka aku berkata, “Barang siapa tawakal kepada baiknya pilihan Allah untuknya, ia tak berharap selain keadaan yang telah dipilihkan Allah swt.”
“ORANG BERIMAN ADALAH CERMIN BAGI ORANG BERIMAN.”
“Ali ra. berkata, “Barang siapa duduk di atas hamparan seraya meminta, berarti ia tidak ridha kepada Allah dalam setiap kondisi.” Di hadapan al-Junaid asy-Syibli mengatakan, “Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.” Maka al-Junaid berkata, “Ucapanmu itu kaukatakan saat sesaknya dada.” asy-Syibli menjawab, “Benar.” Lalu al-Junaid melanjutkan, “Sesaknya dada karena tidak ridha terhadap ketetapan (gadha) Allah.”
Ucapan di atas disampaikan al-Junaid untuk mengingatkan pangkal ridha yang lahir karena kelapangan dan keluasan dada. Kelapangan itu berasal dari cahaya yakin. Jika cahaya telah menancap dalam batin, maka hati menjadi luas dan dipenuhi manisnya cinta dan perbuatan kekasih, dikarenakan hadirnya ridha terhadap pecinta sejati. Sebab sang pecinta melihat bahwa perbuatan kekasih itulah yang la kehendaki.
Seperti dikatakan, “Segala yang diperbuat kekasih adalah kekasih.” Karena hamba itu tidak suka menjadi pelayan selain Allah dan tidak mau berbaur bersama mereka. Barang Siapa yang tidak menyukai jalan mereka, bisa jadi melihat mereka lebih berbahaya daripada manfaatnya.
Dalam sebuah berita disebutkan, “Orang beriman adalah cermin bagi orang beriman.” Karena, ketika tampak perpecahan di antara mereka maka mereka akan menghindarinya sebab perpecahan itu lahir akibat nafsu. Dan munculnya nafsu ini dipicu oleh tindakan menyia-nyiakan waktu.
Jadi, kapan pun nafsu orang-orang fakir muncul, mereka akan mengetahui bahwa ia telah keluar dari lingkaran kebersamaan. Memvonisnya telah menyia-nyiakan waktu serta mengabaikan pengaturan dan pemeliharaan yang baik. Maka dari itu, melalui perbicangan ini ia dikembalikan ke dalam lingkaran kebersamaan.









One Comment