Bagian Kesepuluh: Makna Kedekatan
ALLAH SWT. BERFIRMAN,
“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (QS. al-‘Alag (96): 19)
Sujud adalah posisi paling dekat antara hamba dengan Tuhannya. Ia menjadi dekat ketika merasakan nikmatnya sujud. Dengan sujudnya, ia telah melipat hamparan semesta, baik yang ada maupun yang akan ada. Ia bersujud di ujung selendang keagungan, lalu mendekat.
Sebagian sufi berkata, “Aku tidak merasakan kehadiran. Maka kukatakan, Ya Allah, Ya Tuhan. Lantas, aku merasakan hal itu lebih berat daripada gunung.” Lalu ditanya, “Mengapa demikian?” Ia menjawab, “Karena seruan itu datang dari balik hijab. Lantas, apakah engkau melihat teman: duduk memanggil sahabatnya?” Itu tiada lain merupakan isyarat, pengawasan, kehalusan, dan kelembutan.
Inilah yang digambarkan magam yang mulia. Di dalamnya ada kedekatan, tetapi ia memberi kesadaran penghapusan dan menunjukkan kemabukan. Demikian itu terjadi bagi orang yang jiwanya hilang dalam cahaya ruhnya karena dominasi kemabukan dan kuatnya penghapusan. Ketika bangun dan sadar, maka ruhnya melepaskan diri dari jiwa, dan jiwanya melepaskan diri dari ruh.
Kemudian, setiap hamba kembali ke posisi dan magamnya masing-masing, seraya berkata, “Ya Allah, Ya Rabb” dengan lidah jiwa yang tenang, kembali ke magam hajatnya dan posisi kehambaannya. Sementara ruh tak mampu berkata-kata karena disibukkan berbagai penyingkapan dalam kesempurnaan ahwal. Keadaan ini lebih sempurna dan lebih dekat daripada yang pertama.
Sebab, dengan lepasnya ruh melalui berbagai penyingkapan ia berada dalam kedekatan, dan membangun gambaran kehambaan dengan kembalinya kekuasaan jiwa ke posisi kefakiran. Bagi ruh, bagian kedekatan tetap terpenuhi dengan cara menegakkan gambaran kehambaan dari jiwa.
Imam al-Junaid berkata, “Sesungguhnya Allah swt. mendekati hati hamba sejauh kedekatan mereka kepadaNya. Maka, lihatlah apa yang dekat dari hatimu.” Abu Ya ‘gub as-Susi berkata, “Selama hamba berada dalam kedekatan, ia tak akan menjadi orang dekat selama tidak melihat kedekatan karena kedekatan. Jika ia tidak sanggup melihat kedekatan karena kedekatan, maka itulah kedekatan.”
Seorang sufi berkata,
Telah kutemukan Engkau dalam sirri, lalu lidahku bermunajat kepada-Mu kami berkumpul sebab beragam makna dan berpisah karena berbagai arti jika aibmu bukanlah mengagungkan pandangan mataku maka cinta akan membuatmu dekat dari berbagai penjuru
Dzun Nun berkata, “Semakin dekat seseorang kepada Allah, ia akan semakin segan.” Sahl berkata, “Di antara magam kedekatan, magam terendah adalah malu.” Nashr Abadi berkata, “Dengan mengikuti sunah akan diraih makrifat, dengan menunaikan ibadah wajib akan dicapai kedekatan, dengan membiasakan sunah akan digapai cinta.” Segala puji hanya milik Allah semata.
Bagian Kesebelas: Kemuliaan Ilmu dan Kewajiban Mencarinya
KETAHUILAH, KARENA ILMU dan amal diciptakanlah langit dan bumi beserta segala isinya. Allah swt. berfirman, “Allahlah) yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kau mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. ath-Thalag (65): 12)
Cukuplah ayat di atas menjadi dalil atas kemuliaan ilmu dan kewajiban mencarinya, terlebih ilmu tauhid.
Allah swt. berfirman,
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat (51): 56)
Cukuplah ayat ini menjadi petunjuk atas kemuliaan ibadah dan senantiasa melaksanakannya. Jadi, alangkah agung kedua hal ini karena menjadi tujuan diciptakannya dunia dan akhirat. Maka, hak seorang hamba agar tidak menyibukkan diri kecuali untuk keduanya, ilmu dan ibadah, serta tidak mengikuti selain keduanya. Namun, ilmu adalah hal yang paling mulia dari kedua mutiara ini, tetapi harus disertai ibadah. Jika tidak, ilmu akan sia-sia.
Pahamilah, adalah wajib untuk mendahulukan ilmu daripada ibadah. Hal ini karena dua alasan, pertama, agar ibadahmu menjadi sah dan benar, kedua, ilmu yang bermanfaat akan membuahkan takut dan segan kepada Allah dalam hati hamba. Takut dan segan ini akan melahirkan ketaatan dan mencegah maksiat atas taufik dan pertolongan Allah swt. Selain kedua hal ini, tak ada yang dituju oleh hamba dalam beribadah kepada Allah swt. Maka dari itu, engkau harus mencari ilmu yang bermanfaat.
“HAK SEORANG HAMBA AGAR TIDAK MENYIBUKKAN DIRI KECUALI UNTUK ILMU DAN IBADAH, SERTA TIDAK MENGIKUTI SELAIN KEDUANYA.”
Pertama-tama, engkau harus mengetahui dan mengenal sesembahanmu, lalu menyembahnya. Bagaimana bisa kau menyembah Dzat yang tidak kaukenal Asma dan sifatsifat Dzat-Nya, sifat wajib dan mustahil bagi-Nya. Atau, barangkali engkau meyakini sesuatu dalam sifat-sifat-Nya dengan keyakinan yang tidak benar sehingga ibadahmu sia-sia.
Setelah itu, engkau dituntut mengetahui kewajibankewajiban syariat yang wajib kaukerjakan agar dapat menunaikan apa yang telah diperintahkan. Engkau pun wajib mengenali larangan-larangan syariat yang harus kautinggalkan supaya kaubisa meninggalkannya.
Ketahuilah, ilmu yang menjadi kewajiban setiap mukalaf itu ada tiga macam. Pertama, ilmu tauhid. Kewajibanmu adalah sejauh mengetahui dasar-dasar agama dan kaidah-kaidah akidah. Kedua, ilmu sirri, yaitu ilmu yang berhubungan dengan hati beserta peran-perannya, baik kewajiban maupun larangan.
Ketiga, ilmu ibadah lahiriah yang berkaitan dengan tubuh dan harta. Kemudian, Allah mewajibkanmu untuk mengetahui apa yang wajib kauketahui dan menunaikan apa yang wajib kaukerjakan, serta meninggalkan segala hal yang wajib kautinggalkan.
Dengan demikian, engkau telah menunaikan semua yang diwajibkan Allah kepadamu sehingga jadilah kau ahli ilmu yang beramal. Dan, hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.









One Comment