Perbedaan kedua kehendak ini bahwa kehendak yang kadim berdiri sendiri dalam menciptakan dan tak bisa diusahakan. Sementara kehendak yang baru berdiri sendiri dalam bekerja, serta tidak memiliki kuasa untuk menciptakan.
Kezaliman hanya dinisbatkan pada kehendak yang baru, sedangkan kehendak yang kadim bebas dari kezaliman, sebagaimana firman Allah swt., “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yunus (10): 44)
Perbedaan Anfara Ilmu dan Makrifaf
Makrifat adalah kedekatan itu sendiri, atau adanya sesuaty yang menyentuh hati dan meninggalkan pengaruh padanya, lalu berpengaruh kepada anggota-anggota tubuh lainnya.
Dengan kata lain, ilmu itu layaknya melihat api, dan makrifat laksana menggunakan api guna menghangatkan tubuh. Secara bahasa, makrifat berarti ilmu yang tidak mengandung keraguan. Sedangkan menurut istilah, ilmu yang tidak mengandung keraguan karena yang diketahui adalah Dzat Allah swt. beserta sifat-sifat-Nya.
Jika ditanyakan, “Apakah makrifat Dzat dan sifat itu?” Maka jawabannya, “Makrifat Dzat, jika seseorang mengetahui bahwa Allah itu Wujud, Esa, Sendiri, Dzat, Sesuatu Yang Agung, berdiri sendiri, dan tak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Sedangkan makrifat sifat-sifat yaitu bila engkau mengetahui Allah swt. itu Hidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan sifat-sifat lainnya.”
Apabila ditanyakan, “Apakah rahasia makrifat itu?” Jawabannya, “Rahasia dan ruh makrifat adalah tauhid. Caranya, engkau menyucikan Hidup, Ilmu, Oudrat, Iradah, Pendengar, Penglihatan, dan Kalam-Nya dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk, tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
Ketika ditanyakan, “Apakah tanda makrifat itu?” Jawabnya, “Hidupnya hati bersama Allah karena Dia telah mewahyukan kepada Daud as., “Tahukah engkau apakah makrifat kepada-Ku itu? Nabi Daud menjawab, Tidak. Maka Allah menjelaskan, “Hidupnya hati dalam menyaksikan Aku.”
Apabila ditanyakan, “Lantas, pada magam apakah bisa terjadi makrifat hakiki?” Maka jawabannya, “Pada magam ruyah dan musyahadah dengan sirri hati. Ia tiada lain menyaksikan mmakrifat (pengenalan) karena makrifat hakiki itu berada pada kedalaman kehendak.
Kemudian, Allah menghilangkan beberapa hijab dan menunjukkan kepada mereka cahaya Dzat dan sifat-sifatNya dari balik hijab tersebut agar mereka mengenal-Nya. Tetapi, Dia tidak melenyapkan seluruh hijab supaya orangorang yang menyaksikan-Nya itu tidak terbakar. Dengan ungkapan ahwal, seorang sufi berkata,
Oh… andai Aku tampak tanpa hijab tentulah Aku melelehkan seluruh makhluk tapi hijab itu lembut maknanya dengan hijab ini hiduplah hati para pecinta
Ada yang mengatakan, “Matahari hati seorang makrifat itu lebih terang dan lebih cerah daripada matahari siang. Karena matahari siang itu terkadang mengalami gerhana, sedangkan matahari hati tak pernah mengalami gerhana: matahari siang tenggelam pada petang hari, sementara matahari hati tidak pernah tenggelam.” Berkaitan dengan hal ini, mereka melantunkan syair berikut,
Sungguh, matahari siang tenggelam pada malam hari tapi matahari hati tak pernah tenggelam, siapa mencintai kekasih ia terbang kepadanya karena rindu bertemu kekasihnya
Dzun Nun berkata, “Hakikat makrifat yaitu melihat Allah dalam asrar, dikarenakan datangnya cahaya-cahaya yang halus.” Karena itu, mereka melantunkan,
Para ahli makrifat memiliki hati yang bisa mengetahui cahaya Allah dengan sirru sirri dalam hijab tuli dari makhluk, dan buta dari pandangan mereka bisu mengucapkan pengakuan dusta
Sebagian orang bertanya, “Kapankah hamba mengetahui dirinya telah mencapai makrifat?” Ia menjawab, Jika di dalam hatinya sudah tak ada lagi ruang untuk selain Tuhannya.” Seorang ulama sufi berkata, “Hakikat makrifat adalah mengetahui Allah tanpa perantara, tanpa gambaran, dan tanpa kekaburan.”
Hal ini sebagaimana ketika “Ali bin Abi Thalib ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau menyembah Dzat yang engkau lihat atau tak kaulihat?” Ali menjawab, “Tidak, namun aku menyembah Dzat yang aku lihat tapi tidak dengan penglihatan mata, melainkan penglihatan hati.”
Demikian pula saat Ja’far ash-Shadiq ditanya, “Apakah engkau telah melihat Allah?” Ia menjawab, “Aku tidaklah menyembah Tuhan yang tak kulihat” Kemudian ia ditanya, “Bagaimana kaubisa melihat-Nya, sementara Dia adalah Dzat yang tak bisa ditangkap mata?” Ia berkata, “Penglihatan mata tak bisa melihat-Nya, tapi hati melihatNya dengan kesungguhan iman. Dia tak bisa diketahui dengan indra dan tak bisa diukur oleh manusia.”
Seorang bijak ditanya tentang hakikat makrifat, ia pun menjawab, “Pengosongan sirri dari segala kehendak, meninggalkan kebiasaan, ketenangan hati di sisi Allah tanpa ikatan, dan tidak berpaling dari Allah kepada selain-Nya. Tidak mungkin mengetahui hakikat Dzat Allah maupun hakikat sifat-sifat-Nya, dan tak ada yang mengetahui siapa Dia kecuali Dia sendiri. Dan, keagungan hanya milik Allah semata.”
Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah, dan Mu’ayanah
Pada dasarnya, empat kata ini sinonim dan memiliki arti sama. Namun, terdapat perbedaan pada kesempurnaan penampakannya, bukan pada asalnya. Kedudukan bashirah terhadap akal seperti kedudukan sinar mata bagi mata.
Kedudukan makrifat terhadap bashirah layaknya kedudukan bola matahari bagi sinar mata, yang menjadikannya bisamengetahui hal-hal yang tampak maupun tersembunyi. Sedangkan hidup adalah tauhid itu sendiri, seperti firman Allah swt., “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia Kami hidupkan.” (QS. al-An’am (6): 122)
Adapun yagin adalah manakala keyakinan dan ilmu telah menguasai hati serta tak ada lagi sesuatu yang berlawanan, hingga keduanya melahirkan makrifat dalam hati. Inilah yang disebut dengan yagin. Karena hakikatnya yaitu jernihnya ilmu yang diusahakan (muktasab), hingga menjadi layaknya ilmu primer (dharuri).
Lalu hati menyaksikan segala hal yang disampaikan syariat, baik urusan dunia maupun akhirat, sebagaimana ungkapan, “Air itu meyakinkan (aigana al-ma”)” jika bersih dari kekeruhan.
Selanjutnya, ilham berarti tercapainya makrifat tanpa disertai sebab maupun usaha, melainkan melalui ilham dari Allah karena sucinya hati dari menganggap baik segala hal yang berada di dua alam (kaunain). Sedangkan firasat (farasah) yaitu memahami pertanda atau sinyal yang datang dari Allah yang menjadi penghubung antara Dia dan hamba.
Dia mempergunakannya untuk menunjukkan hukumhukum batin. Hal ini tak bisa terjadi, kecuali dalam tingkat perkiraan yang lebih rendah daripada ilham. Karena ilham tidak memerlukan pertanda, sedangkan firasat membutuh. kan pertanda. Begitu pula dengan ilham, ada yang Umum dan yang khusus. Dan Allah swt. Mahatahu.









One Comment