Bagian Ketiga Puluh: Muhasabah dan Manfaatnya: I’tisham dan Istiqamah
HAKIKAT MUHASABAH BERARTI memerinci perbuatan yang telah lalu dan yang akan datang. Berdasarkan ijmak ulama, muhasabah hukumnya wajib, dan menuntut untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah (itisham). Selain itisham, ada juga istigamah (lurus dan teguh).
Perbedaan antara i’tisham dan istigamah yaitu: Ptisham artinya berpegang kepada Kitab Allah swt. dan memerhatikan batasan-batasannya, sedangkan istigamah bermakna teguh dan lurus, serta tidak condong kepada salah satu ujung dari hal-hal yang dijadikan pegangan.
Di samping itu, istigamah ditujukan untuk dirinya sendiri maupun selain dirinya. Istigamah untuk diri sendiri karena ia menjadi perantara untuk memasukkan magam al-jam’ (penyatuan) dari lembah perpecahan. Allah swt. Mahatahu.
Bagian Ketiga Puluh Satu: Syukur dan Kebahagiaan sebagai Ahwal dan Hikmah sebagai Amalannya
SAAT ENGKAU MENGETAHUI bahwa seluruh kenikmatan semata-mata berasal dari Allah swt. maka inilah ilmu yang mendorong lahirnya rasa syukur. Ilmu ini hukumnya wajib karena termasuk bagian keimanan kepada Allah swt. Dia berfirman,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian. Maka (semua itu) dari Allahlah (datangnya).” (QS. an-Nahl (16): 53) Bersyukur kepada pemberi nikmat merupakan hal wajib karena termasuk bagian dari keimanan. Karena itu, ahwal yang tumbuh dari ilmu ini berupa kegembiraan dan kebahagiaan yang disebabkan oleh nikmat-nikmat Allah Swt,
Dalam konteks ini, kegembiraan berarti syukur sebab ditujukan untuk dirinya sendiri. Hukumnya pun wajib, dan termasuk bagian serta buah dari iman kepada Allah swt.
Demikian pula dengan perilaku syukur yang ditujukan Untuk dirinya sendiri maupun selain dirinya. Ditujukan untuk dirinya sendiri sebab memanfaatkan kenikmatan sesuai tujuan penciptaan dan menjadi kesempurnaan hikmah.
Sedangkan yang ditujukan untuk selain dirinya guna memelihara nikmat-nikmat yang ada sekaligus menambahkannya. Singkat kata, syukur artinya menggunakan nikmat sesuai tujuan pemberiannya.
Dengan begitu, barang siapa memiliki ahwal yang sedang, hingga mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, berarti ia adalah orang bijak. Sebab hikmah itu (kebijaksanaan) sama halnya meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, baik ilmu maupun amal. Dan Allahlah Pemberi pertolongan.
Bagian Ketiga Puluh Dua: Tawakal dan Adabnya
Tefwidh, Taslim, Biqah, dan Ridha
MANAKALA ENGKAU MENGETAHUI bahwa Allah swt. itu Berdiri Sendiri dan Maha Mendirikan yang lain, inilah ilmu yang menuntut tindakan tawakal. Kemudian, engkau memahami keluasan ilmu dan hikmah-Nya, serta kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Sehingga ahwal yang lahir dari ilmu ini berupa penyandaran dan ketenangan hati kepada Allah, serta tidak kacau karena bergantung kepada-Nya. Tak ada kewajiban terhadap ilmu dan ahwal tawakal selain menahan diri dari sebab-sebab terlarang. Namun meskipun mulia, tawakal ini lebih rendah derajatnya daripada tafwidh dan taslim. Sebab tujuan tawakal untuk mendatangkan keuntungan dan menolak kerugian (bahaya), sedangkan hakikat tafwidh dan taslim berarti patuh dan tunduk terhadap perintah, tanpa pilihan dalam segala yang telah ditentukan Allah swt.
Adapun tsigah artinya mengikatkan hati dan tidak terputus terhadap pembenaran-pembenaran yang dikandunghya. Tsigah merupakan penyempurna bagi semua magam Ian ahwal. Jika ridha itu terjadi setelah adanya sesuatu yang diputuskan, tafwidh dan taslim terjadi sebelum ada Sesuatu yang diputuskan.
Kadar yang wajib dari ridha manakala ia ridha dengan akal, meski tabiatnya tidak senang karena ketidaksenangan berada di luar pilihan hamba. Jadi, barang siapa dalam pikirannya tidak menyukai sesuatu yang digunakan Allah untuk menguji para hamba-Nya di dunia maupun akhirat, atau mengeluh dengan lidahnya maka ia telah berdosa dan melanggar kewajiban ridha. Dan Allahlah Maha Pemberi pertolongan.
Bagian Ketiga Puluh Tiga : Macam-macam Niat: Qashd, Azm, dan Iradah
NIAT ADALAH SARANA selain iman untuk memeroleh kebahagiaan yang agung di dunia maupun akhirat. Jika engkau mengetahui hal ini, kau harus memahami hakikat niat.
Membentenginya dari bagian-bagian duniawi yang membuatnya keruh sebagai bentuk kewajiban, dan dari tujuan-tujuan dan balasan-balasan ukhrawi sebagai anjuran (sunah). Dengan ungkapan yang lebih sederhana, niat bertujuan membedakan antara satu maksud dengan maksud lainnya.
Selain niat, ada pula gashd, ‘azm, dan iradah. Gashd berarti memusatkan perhatian (himmah) terhadap tujuan yang dimaksud: ‘azm yaitu menguatkan dan menggiatkan tujuan tersebut, iradah artinya menyingkirkan rintanganrintangan yang melemahkan.
Bagian Ketiga Puluh Empat : Kejujuran dan Tanda-fandanya
Intishal, ittishal, Tahqiq, dan Tafrid
KEJUJURAN BAGI ALLAH swt. merupakan sifat Dzatiyyah yang bersumber dari makna Kalam-Nya. Dalam sifat hamba, kejujuran berarti tidak adanya perbedaan antara rahasia dan terang-terangan, lahir dan batin. Dengan sifat jujur, tercapailah seluruh magam dan ahwal.
Meski keikhlasan beserta keagungannya itu memerlukan kejujuran, tetapi kejujuran tidak membutuhkan apa pun. Karena hakikat keikhlasan dalam beribadah yaitu menghendaki Allah dengan berlaku taat. Karena, terkadang Allah menjadi tujuan seseorang dalam shalat, tetapi justru ia melalaikan dengan ketidakhadiran hatinya.
Kejujuran yaitu menghendaki Allah dengan beribadah disertai kehadiran bersama-Nya. Jadi, setiap orang yang jujur berarti ikhlas, tetapi tidak setiap orang yang ikhlas itu jujur. Inilah makna terpisah (infishal) sekaligus bersambung (ittishal). Terpisah dari selain Allah dan bersambung dengan-Nya melalui kehadiran hati.
Adapun tahqiq artinya membedakan berbagai magam dan ahwal satu sama lain, dan memurnikannya dari segala sesuatu selain Allah dan noda-noda. Tafrid bermakna berdirinya hamba bersama Allah tanpa ilmu maupun ahwal. Sebab ia menyaksikan kesendirian Allah dalam menciptakan segala wujud dan kekuasaan-Nya yang mencakup segala sesuatu.
“ORANG YANG JUJUR BERARTI IKHLAS, TETAPI SETIAP ORANG YANG IKHLAS ITU JUJUR.”









One Comment