Bagian Ketiga Puluh Delapan : Perihal Akhlak Mulia
ALLAH SWT. BERFIRMAN,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang” bodoh. (QS. al-A’raf (6): 199)
Artinya, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu dan memberi orang yang tak mau memberimu, menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungan denganmu, mengabaikan orang yang menjahilimu: berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu. Rasulullah saw. diutus membawa akhlak mulia, beliau bersabda,
“Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengerti.”
Dan termasuk bentuk-bentuk kedermawanan yaitu menyebarkan salam, memberi makanan, menyambung silaturahmi, shalat malam saat orang-orang tengah tidur, dan menggapai kemuliaan dengan menjauhi hal-hal haram.
Adapun akhlak mulia yang menjadi amalan penduduk surga di antaranya ucapan lembut yang diikuti dengan perbuatan mulia, dan membalas orang yang berbuat baik lebih dari kebaikan yang dilakukannya.
Orang yang berakhlak mulia berarti telah mendorongmu meminta kepadanya dan selalu minta maaf, berlawanan dengan pelaknat yang selalu membanggakan diri. Ia senantiasa melupakan kesalahan saudara-saudarnya, bergegas memenuhi hajat mereka, serta mencurahkan dunia untuk orang yang membutuhkannya.
“KEHORMATAN DAN KEKAYAAN ITU KELUAR DAN BERKELILING, LALU MEREKA BERTEMU DENGAN QANA’AH, DAN MENETAP DI DALAMNYA.”
Bagian Ketiga Puluh Sembilan: Qana’ah
ALLAH SWT. BERFIRMAN,
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Nahl (16): 97)
Sebagian besar pakar tafsir mengatakan, kehidupan yang baik (al-hayah ath-thayyibah) di dunia dalam ayat di atas adalah qana’ah karena merupakan anugerah Allah swt., Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Oana’ah adalah kekayaan yang tiada pernah sirna.”
Nabi saw. juga mengatakan, “Barang siapa menginginkan teman maka Allah cukup baginya. Siapa yang menginginkan penghibur maka al-Quran cukup baginya. Barang siapa menginginkan kekayaan maka qana’ah cukup baginya. siapa pun menginginkan penasihat maka kematian cukup baginya. Dan, barang siapa yang empat hal ini tidak mencukupi baginya maka neraka akan cukup baginya.”
Diceritakan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,
“Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi orang yang paling taat beribadah. Jadilah orang yang ganaah, pastilah engkau menjadi manusia muslim yang paling bersyukur, dan sedikitkanlah tertawa karena banyak tertawa mematikan hati.”
Allah swt. berfirman,
“Allah benar-benar akan memberikan rezeki yang baik (surga) kepada mereka.” (QS. al-Hajj (221: 58)
Berkenaan dengan ayat ini, ada yang mengatakan bahwa maksud ungkapan rezeki yang baik (rizqan hasana) berarti sikap qanaah.
Wahb berkata perihal ayat di atas, “Kehormatan dan kekayaan itu keluar dan berkeliling, lalu mereka bertemu dengan qanaah, dan menetap di dalamnya.”
Dalam Kitab Zabur disebutkan, “Orang yang qana’ah itu kaya, meskipun lapar. Demikian pula dalam Kitab Taurat dikatakan, “Anak Adam bersikap ganaah hingga menjadi kaya, beruzlah dari manusia hingga selamat, dan tidak dengki hingga tampak muru ‘ah-nya.
Ia merasa lelah sebentar, lantas menikmati istirahat panjang.” Ada yang mengatakan, “Allah swt. meletakkan lima hal pada lima tempat, kehormatan dalam taat, kehinaan dalam maksiat, kewibawaan dalam shalat malam, hikmah dalam perut yang kosong, dan kekayaan dalam ganaah.”
Seorang ulama berkata, “Balaslah orang yang rakus terhadapmu dengan sikap ganaah, layaknya menuntut balas terhadap musuhmu dengan gishash.” Ada juga yang mengatakan, “Barang siapa kedua matanya lelah karena melihat apa yang ada di tangan orang maka panjanglah kesedihannya.”
Konon dikatakan bahwa Abu Yazid mencuci bajunya di padang sahara bersama sahabatnya, lalu sahabat tersebut berkata kepadanya, “Kita gantungkan baju di atas tembok kebun anggur.” Abu Yazid pun membalas ucapannya, Janganlah kautancapkan tiang di tembok orang.” Lalu sahabat itu berkata, “Kita gantungkan di atas pohon.” Abu Yazid menjawab, “Tidak, karena itu akan merusak dahan pohon.”
Sahabat itu berkata lagi, “Kita bentangkan di atas rumput. Abu Yazid menjawab, “Tidak, rumput itu makanan ternak.” Akhirnya, ia hadapkan punggung ke arah matahari, sementara bajunya di atas punggung tersebut sampai kering salah satu sisinya, lalu membaliknya hingga kedua sisinya kering.”
Bagian Keempat Puluh: Tentang Peminta-minta
BARANG SIAPA MEMINTA-MINTA, padahal ia memiliki makanan pokok untuk satu hari, itu sama halnya telah merampok orang-orang lemah dan miskin. Barang siapa berniat mencari akhirat, Allah akan menempatkan kekayaannya di dalam hati dan menjadikannya sebagai orang kuat, sementara dunia akan mendatanginya dengan suka rela. Dan, siapa yang bertujuan mencari dunia maka Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, kekuatan dan urusannya pun tercerai-berai.
Tidak ada dunia yang datang kepadanya selain yang sudah ditentukan untuknya. Barang siapa membuat perhatiannya menjadi satu, Allah mencukupinya dalam urusan dunia maupun akhirat. Barang siapa perhatiannya bercabang-cabang maka Allah tidak peduli di lembah manakah ia binasa. Seluruh dunia dari awal hingga akhir tak bisa menyamai satu kesedihan, terlebih umurmu yang pendek, sementara dunia yang kauraih hanya sedikit.
Selain itu, barang siapa ridha terhadap apa yang telah dibagikan Allah kepadanya maka Allah akan memberkahi apa yang telah dianugerahkan dan melapangkannya. Siapa yang tak mau meminta-minta berarti ia telah diberi anugetah terbaik.
Siapa pun yang kaubutuh terhadapnya maka rendahlah engkau di hadapannya. Jika engkau ingin hidup bebas, jangan membiasakan untuk berharap kepada yang lain, dan teguhlah dalam sifat qana’ah. Lantas, bagaimana bisa orang bebas yang mencari (murid) merendahkan diri kepada hamba, sedangkan ia telah menemukan segala yang ia inginkan di sisi Tuannya.
Sekiranya seseorang mengetahui apa yang ada dalam tindakan meminta-minta, tak seorang pun yang akan melakukan tindakan tersebut. Sebaliknya, andaikan orangorang mengetahui apa yang terdapat dalam hak orang yang meminta-minta, tentulah mereka tak akan pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Tak seorang pun meminta hajat kepada seseorang, dikabulkan atau tidak, melainkan harga dirinya telah jatuh selama empat puluh hari.
Bagian Keempat Puluh Satu: Kasih Sayang terhadap Makhluk Allah
KETAHUILAH, KASIH SAYANG terhadap makhluk Allah berarti mengagungkan urusan Allah swt. Maka dari itu, hendaknya engkau memberikan apa yang mereka minta darimu, tidak membebani di luar kemampuan mereka, dan tidak menyapa mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan ketahui. Selayaknya engkau bahagia atas segala hal yang menjadikan mereka bahagia, dan bersedih dengan sesuatu yang telah membuat mereka sedih.
Engkau berpikir bagaimana mewujudkan kepentingan keagamaan dan duniawi mereka, dan bagaimana cara menolak apa yang membahayakan urusan agama dan dunia mereka. Bahkan, seumpama seekor lalat jatuh ke wajah salah seorang dari mereka, tentu kau akan bersedih hati.
Oleh sebab itu, sepatutnya menjaga hati seorang mukmin secara syar’iitu lebih kausukai daripada sekian kali pergi haji dan perang. Sebaiknya kau lebih memilih kehormatan saudaramu daripada kehormatanmu sendiri, dan lebih memilih kehinaan dirimu daripada kehinaan saudaramu.









One Comment