Bagian Kelima Belas: Hakikat Ikhlas dan Riya’ Hukum dan Pengaruhnya
KETAHUILAH, IKHLAS MENURUT para ulama ada dua macam, ikhlas dalam beramal, dan ikhlas dalam mencari pahala. Adapun ikhlas dalam beramal adalah kehendak untuk mendekat kepada Allah swt., mengagungkan urusan-Nya, dan menjawab seruan-Nya. Munculnya keikhlasan semacam ini didorong oleh keyakinan yang benar. Kebalikan dari semuanya adalah nifag (kemunafikan) atau mendekat kepada selain Allah swt.
Adapun ikhlas dalam mencari pahala berarti kehendak untuk memperoleh keuntungan akhirat dengan melakukan kebaikan. Kebalikannya adalah riya atau keinginan mendapatkan keuntungan dunia dengan amal akhirat, baik mengharap dari Allah maupun dari manusia.
Karena yang diperhitungkan dalam perilaku riya yaitu apa yang diinginkan, bukan dari siapa. Selain itu, kedua bentuk keikhlasan di atas mempunyai pengaruh yaitu bahwa keikhlasan dalam beramal menjadikan amal sebagai pendekatan (tagarrub), dan keikhlasan mencari pahala membuat amal diterima serta memperoleh pahala berlimpah.
Sebaliknya, kemunafikan itu merusak amal dan mengeluarkannya dari posisi taqarrub. Sementara riya mengakibatkan ditolaknya amal. Lantas, pada posisi ikhlas yang bagaimana, dan dalam perbuatan taat yang manakah ia harus berada?
Pahamilah, menurut sebagian ulama amal itu ada tiga macam: amal yang mengandung kedua macam ikhlas di atas sekaligus, ibadah lahir yang asal: ibadah yang tidak me. ngandung keikhlasan mencari pahala, tetapi mengandung keikhlasan beramal, yaitu hal-hal mubah yang diambil sebagai bekal.
Guru kita berkata, “Setiap ibadah asal yang mungkin dibelokkan kepada selain Allah mengandung keikhlasan amal. Dan kebanyakan ibadah batin mengandung keikhlasan dalam beramal.”
“IKHLAS MENURUT PARA ULAMA ADA DUA MACAM: IKHLAS DALAM BERAMAL, DAN IKHLAS DALAM MENCARI PAHALA.”
Berkaitan dengan keikhlasan dalam mencari pahala, guru kita berkata, “Jika dengan melakukan ibadah-ibadah batin seseorang menginginkan keuntungan dunia dari Allah, hal itu termasuk riya.” Maka, tidak salah jika kebanyakan ibadah batin mengandung kedua macam ikhlas, begitu pula ibadah-ibadah sunah.
Oleh karena itu, saat melaksanakan ibadah-ibadah batin dan sunah harus disertai kedua macam keikhlasan ini sekaligus. Dan perbuatan-perbuatan mubah yang diambil sebagai persiapan hanya mengandung keikhlasan dalam mencari pahala tanpa keikhlasan beramal.
Karena dengan sendirinya ia tak bisa dijadikan sebagai taqarrub, melainkan sekadar sebagai persiapan untuk melakukan taqarrub. Sementara waktu atau momen ikhlas melakukan amal harus bersamaan dengan amal dan ikhlas mencari pahala, atau mungkin sedikit terlambat dari amal Menurut sebagian ulama, bisa jadi keikhlasan dalam mencari pahala ini diperhitungkan sesudah melakukan amal. Jika amal berjalan tanpa keikhlasan, maka persoalannya telah berlalu dan tak mungkin diulang lagi. Allah Mahatahu.
Ketahuilah, telah menjadi kewajiban hamba untuk mewaspadai sepuluh hal saat mengerjakan amal, yaitu: Kemunafikan, riya, kekacauan, menyebut-nyebut kebaikan, menyakiti, menyesal (atas kebaikan), ujub, meratap, menganggap enteng, dan takut terhadap cercaan manusia. Lalu syekh kita menyebutkan lawan masing-masing berikut bahayanya terhadap amal.
Lawan kemunafikan adalah memurnikan amal karena Allah, lawan riya yaitu ikhlas mencari pahala, lawan kekacauan adalah takwa, lawan menyebut-nyebut kebaikan adalah menyerahkan amal kepada Allah: lawan menyakiti berupa membentengi amal, lawan menyesal berarti meneguhkan jiwa, lawan ujub yaitu mengingat anugerah Allah, lawan meratap adalah dengan memanfaatkan kebaikan, lawan menganggap enteng ialah mengagungkan pertolongan, lawan takut terhadap cercaan manusia yaitu takut kepada Allah swt.
Selanjutnya, pahamilah bahwa kemunafikan itu merusak amal, dan riya meniscayakan ditolaknya amal. Mengungkit-ungkit kebaikan dan menyakiti akan merusak sedekah seketika. Menurut sebagian ulama, kedua sifat ini menghilangkan pelipatgandaan sedekah.
Mereka pun sepakat bahwa penyesalan (terhadap kebaikan) itu merusak amal. Selain itu, ujub menghilangkan pelipatgandaan amal, ratapan dan menganggap enteng akan meringankan bobot amal. Karena itulah, engkau ha. rus memutus rintangan yang berbahaya dan kritis ini. Dan, Allahlah tempat meminta pertolongan.









One Comment