Berkenaan dengan hal di atas dikatakan, kedamaian bersama Allah tak termuat oleh penganggur tak akan bisa dicapai dengan usaha para pekerja mereka yang damai para lelaki pilihan semuanya pilihan: beramal karena Allah
Barang siapa diliputi kedamaian (uns), ia tak memiliki keinginan selain menyendiri dan menyepi. Al-Wasithi berkata, “Tidak akan mencapai posisi kedamaian, orang yang tidak merasa gerah dengan seluruh alam.”
Abu al-Husain al-Warrag mengungkapkan, “Tidak akan ada kedamaian bersama Allah, melainkan disertai pengagungan. Barang siapa yang engkau damai bersamanya maka hilanglah rasa ketakjuban dari hatimu kepadanya, kecuali Allah swt. Sebab, setiap kali kau merasa damai karena-Nya, engkau akan semakin segan dan ta’zhim kepada-Nya.”
Bisa jadi kedamaian tersebut karena taat dan ingat kepada Allah, dan membaca kalam-Nya beserta seluruh pintu kedekatan dengan-Nya. Kadar kedamaiannya berupa nikmat dan anugerah Allah, bukan kedamaian yang dialami para pecinta. Kedamaian di sini adalah peristiwa mulia yang terjadi ketika batin suci, lalu dibersihkan dengan kejujuran hati, kesempurnaan takwa, pemutusan berbagai sebab dan ketergantungan, serta penghapusan beragam pikiran dan bisikan.
Adapun hakikat kedamaian yaitu membersihkan wujud dengan beratnya pancaran keagungan dan beredarnya ruh dalam medan-medan penyingkapan (fath). Kedamaian ini mempunyai kemandirian untuk mencakup kedekatan, lantas menggabungkannya dengan kewibawaan.
Dalam kewibawaan (haibah) ini terkumpul ruh, dan sifat ini kemudian menjadi kedamaian Dzat. Sedangkan kewibawaan Dzat terjadi pada magam baga’ setelah menyeberangi jembatan fana”. Keduanya bukanlah kedamaian dan kewibawaan yang lenyap karena fana”. Kewibawaan dan kedamaian sebelum fana’ itu akan tampak karena menyaksikan sifat-sifat keagungan dan keindahan.
Inilah posisi pemberian warna (magam talwin). Dan setelah fana”, Kami menyingkapnya dalam magam tamkin dan baqa” karena menyaksikan Dzat. Dari kedamaian ini, lahirlah ketundukan nafsu muthma’innah, dan dari kewiba
waan muncullah kekhusyukan nafsu. Sedangkan Khudhu’ dan khusyuk itu berdekatan. Keduanya dibedakan dengan perbedaan yang sangat lembut yang dapat dikenali hanya melalui isyarat ruh. Sungguh, Allah Mahatahu.









One Comment