Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Bagian Kedua Puluh Dua: Hakikat Akhlak Baik dan Perangai Buruk

KETAHUILAH, SEMUA KEBAHAGIAAN dan amal kebajikan yang terus-menerus (al-bagiyyat ash-shalihat) yang tetap bersamamu ketika perahumu tenggelam itu terletak pada dua hal. Pertama, kebersihan dan kesucian hati dari selain Allah, seperti firman-Nya, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Sywara’ (26): 89). Kedua, penuhnya hati dengan makrifatullah yang menjadi tujuan penciptaan alam dan pengutusan para rasul as. Akhlak mulia adalah perilaku atau sikap yang merangkum kedua hal di atas. Dan aku tidak mengetahui perbuatan yang memiliki keutamaan melebihi akhlak yang baik. Karena itu, Allah swt. memuji Nabi saw. sebagai sosok yang berakhlak mulia dalam firman-Nya,

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Oalam (68): 4)

Dalam firman-Nya yang lain,

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan oleh-Nya.” (QS. Fathir (35): 10)

Perkataan yang baik (al-kalim ath-thayib) adalah tauhid dan makrifat. Dan amal saleh berarti kesucian hati, yang kemudian mengangkat derajat tauhid dan makrifat. Pengangkatan di sini artinya hadir dan terpengaruhnya hati oleh tauhid dan makrifat, agar mau menunduk dengan khudhu’, tenang, dan segan. la pun semakin dekat dengan Allah swt.

Manusia itu memiliki aspek batin, dan para rasul diutus untuk meluruskan, membersihkan, dan menyempurnakannya. Aspek batin ini melahirkan akhlak terpuji secara mudah, tanpa ragu-ragu dan berpikir. Inilah makna hakikat akhlak mulia. Sementara perangai buruk merupakan kebalikan akhlak mulia. Maka ketahuilah, semua akhlak terpuji maupun tercela berasal dari tiga sifat. Ketiganya laksana induk dari semua akhlak.

Sifat pertama, akal beserta potensi dan kesamaanya karena ilmu dan hikmah. Dan hakikat hikmahnya adalah kemampuan membedakan antara kebenaran dengan kebatilan dalam hal keyakinan, membedakan kejujuran dan kebohongan dalam ucapan: memilah antara perbuatan baik dan buruk.

Sifat kedua, potensi marah yang mendorong timbulnya bahaya, yang memang diciptakan untuk fungsi ini. Kesempurnaan dan ketenangan potensi ini jika ia tunduk kepada hikmah. Bila hikmah mengisyaratkan kebebasan, maka ia bebas. Jika hikmah mengisyaratkan agar bersikap tertekan, ia pun tertekan layaknya anjing piaraan.

Sifat ketiga, potensi syahwat yang mendatangkan manfaat. Tabiat syahwat ini diciptakan untuk patuh pada akal sehingga kebaikan dan ketenangannya pada saat ia tunduk pada hikmah. Maka ketahuilah, yang dituntut akhlak yaitu sikap moderat dan berada di tengah-tengah dalam segala perkara. Hal ini selaras dengan firman Allah swt., “Dan janganlah kaujadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah kau terlalu mengulurkannya.” (QS. al-Isra (17): 29)

“MANUSIA ITU MEMILIKI ASPEK BATIN, DAN PARA RASUL DIUTUS UNTUK MELURUSKAN, MEMBERSIHKAN, DAN MENYEMPURNAKANNYA.”

Jadi, persamaan dalam tiga sifat di atas menjadi rukun keempat. Contoh tenangnya sifat-sifat ini ada pada potensi hikmah yang mengandung sikap melampaui batas, pemborosan, dan titik tengah, atau yang sering disebut hikmah. Maka, berdasarkan hikmah dan kesamaannya lahirlah perancangan, kebaikan pikiran, dan penyelaman terhadap amal-amal yang rumit, serta penyakit nafsu yang samar.

Di samping itu, tindakan gegabah melahirkan rekayasa, tipu daya, kelicikan, dan lain-lain, kecenderungan berlebihan melahirkan kebodohan, kedunguan, ketololan, dan kegilaan: kedunguan yaitu sedikitnya pengalaman, kebodohan berarti benarnya tujuan disertai perilaku yang salah: kegilaan berarti kerusakan tujuan maupun perilaku.

Adapun potensi marah mengandung ketenangan yang disebut dengan keberanian. Ia melahirkan kedermawanan, keberanian, menahan amarah, dan menepati janji. Potensi marah juga memiliki kecenderungan berlebihan yang melahirkan sikap sombong, ujub, kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Ia Juga mengandung kecerobohan yang melahirkan sikap meremehkan, merendahkan, panik, dan membatasi diri sekadar untuk melakukan kewajiban.

Sebaliknya, potensi syahwat memiliki ketenangan yang disebut kehormatan (‘iffah). Ia melahirkan sikap dermawan, sabar, wara”, suka membantu, dan tidak tamak, sikap berlebihan yang melahirkan sikap tamak, rakus, dan lain-lain, kecerobohan melahirkan sikap dengki, senang mengumpat, mencaci, dan lain-lain.

Dengan demikian, induk akhlak terpuji adalah hikmah, keberanian, kehormatan, dan keadilan, serta menyempurnakan ketiganya. Selain apa yang telah disebut di atas adalah turunan dari keempat sifat ini. Dan, tidak ada seorang pun yang mencapai kesempurnaan keempat sifat ini kecuali junjungan kita, Rasulullah saw. Hanya kepada Allahlah tempat memohon pertolongan.

Befasan, Hakikat, Puncak, dan Tanda-tanda Jewadhu Secara sederhana, tawadhu’ bisa diartikan meniru akhlak Allah swt., serta mencukupkan diri dengan kehidupan akhirat. Inilah makna sabda Nabi saw.

“Barang siapa tawadhu karena Allah, maka Dia akan mengangkatnya.”

Batasan tawadhu’ yaitu mengontrol berbagai keadaan dan pilihan agar tidak berlebihan dan ceroboh, hingga engkau tidak sombong atau hina. Sementara hakikat tawadhu adalah hina, tunduk, dan patuh kepada kebenaran dengan mudah. Kebenaran di sini digunakan untuk menyebut Allah dan perintah-perintah-Nya. Puncaknya, ketika seseorang tidak merasa hina ketika memuji dan tidak merasa sakit ketika dicela.

“BATASAN TAWADHU’ YAITU MENGONTROL BERBAGAI KEADAAN DAN PILIHAN AGAR TIDAK BERLEBIHAN DAN CEROBOH, HINGGA ENGKAU TIDAK SOMBONG ATAU HINA.”

Sebab telah mengetahui hikmah Allah dan bertauhid dalam perbuatan karena ia tak akan merasa hina di hadapan tuannya. Inilah metode orang-orang yang bertauhid.

Orang yang tawadhu’ menganggap dirinya memiliki harga diri, lalu ia rendahkan, sedangkan orang yang mengesakan tidak menganggap diri memiliki harga yang perlu direndahkan. Orang yang tawadhu’ mengontrol perbuatan-perbuatan bebasnya, hingga tidak menjadi Sombong maupun penakut, meski mengalami kehinaan tanpa dikehendaki.

Caranya yang terpenting dengan ridha dan merasakan kenikmatan karena semuanya terjadi menurut kekuasaan, Ilmu, dan kehendak Allah swt. Ia tak merasa rendah karena tak mampu mengetahui hikmah Allah.

Keindahan perlakuan-Nya hanya bisa diketahui dengan kehinaan. Seseorang yang sombong, bodoh, dan lalai, maka bandangannya terbatas pada melihat pelaksanaan perbuatan. Semakin rendah dirinya, ia akan semakin takabur,

Dalam hal ini, para ulama Allah tidak menyaksikan selain Allah dan tidak pernah mencurigai keputusan-Nya. Bahkan, mereka mengetahui bahwa hal tersebut merupakan tanda kemuliaan mereka.

Beberapa imam menyebutkan, makrifat itu tak akan ditemukan, kecuali dalam hati orang-orang tawadhu’ yang menjadikan kehinaan sebagai sifat pribadi mereka. Dengan kekuasaan dan pandangan Allah, mereka tidak merasa sempurna ketika diangkat sampai langit, dan tak merasa kekurangan ketika direndahkan serendah-rendahnya. Ini disebabkan mereka sudah tak memiliki kehendak maupun pilihan karena mengetahui bahwa kesempurnaan mutlak itu terletak pada apa yang diputuskan dan ditentukan Allah untuk mereka.

Dan karena mereka menemukan tambahan dari Allah dalam ahwal mereka. Inilah derajat kaum Mugarrabin. Adapun sikap tawadhu’ orang-orang saleh sejauh makrifat mereka terhadap diri sendiri dan Tuhan mereka.

Sedangkan tanda sikap tawadhu-nya dengan tidak menolak kebenaran yang diperintahkan. Jika ia merasakan ketenteraman karena hal itu, berarti ia sombong dalam menerima kebenaran sekaligus merupakan bentuk kemaksiatan besar. Dan, Allah Mahatahu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker