Keempat, pendapat Muktazilah bahwa Allah menghendaki perbuatan taat meskipun tidak terjadi. Karena menghendaki perbuatan taat adalah kesempurnaan. Sebaliknya, Dia membenci kemaksiatan walaupun telah terjadi karena menghendaki perbuatan maksiat adalah kekurangan.
Sedangkan ungkapan Mazhab Asy’ari yang menyatakan bahwa sekiranya Dia menghendaki sesuatu yang tidak terjadi, berarti itu kekurangan dalam kehendak-Nya. Karena kehendak ini tidak terlaksana dalam hal-hal yang berhubungan dengannya. Andaikan Dia menghendaki maksiat, tetapi terjadi, hal itu adalah ketumpulan dalam kebencianNya. Dan ini juga suatu kekurangan.
Kelima, kaum Muktazilah menghendaki Allah untuk memerhatikan yang lebih maslahat bagi para hamba-Nya karena meninggalkan halitu adalah kekurangan. Sementara Mazhab Asy’ari mengatakan, hal ini tidak wajib atas Allah karena keharusan merupakan kekurangan, dan kesempurnaan-Nya. Jika Dia tidak terbelenggu oleh hamba, maka pertolongan adalah milik Allah.
Pahamilah, barang siapa menisbatkan kehendak dan usaha kepada diri sendiri, ia termasuk Qadariyah. Dan siapa pun yang menafikan usaha dan kehendak ini dari dirinya berarti ja seorang Jabariyah. Barang siapa menisbatkan kehendak kepada Allah dan menisbatkan usaha kepada hamba, berarti ia seorang Sunni dan sufi yang benar. Karena kekuasaan dan gerak hamba termasuk makhluk Allah. Keduanya menjadi sifat dan usaha seorang hamba.
Selain itu, takdir (gadar) adalah nama untuk sesuatu yang terjadi dengan ketentuan perbuatan Sang Mahakuasa, sedangkan gadha” merupakan makhluk-Nya. Perbedaan antara gadha dan gadar: gadar lebih umum dan gadha lebih khusus.
Perencanaan adalah gadar, dan menuntun gadar dengan segala ukuran dan keadaan menuju sesuatu yang dituntutnya termasuk gadha’. Dengan demikian, gadar adalah pengukuran sesuatu sebelum terjadi, dan gadha’ yaitu pemutusan persoalan, sebagaimana dikatakan, “Hakim telah memutuskan.”
Hawa Nafsu
Ketahuilah, para pengikut hawa nafsu itu ada enam sekte. Setiap dua di antaranya berlawan satu sama lain. Enam kelompok tersebut adalah: Tasybih dan Ta’thil, Jabariyah dan Qadariyah, menolak dan mendukung. Tasybih dan Ta’thil berlawanan, Jabariyah dan Qadariyah bertentangan: yang menolak dan yang mendukung berseberangan. Masing. masing terpecah menjadi dua belas sekte. Mereka semua menyimpang dari jalan lurus, dan hanya satu kelompok yang selamat, yaitu kelompok tengah-tengah, Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kelompok Musyabihah dianggap berlebihan dan keterlaluan dalam memastikan sifat-sifat Allah, hingga menyerupakan-Nya dan menganggap mungkin bahwa Dia berpindah, hinggap, menetap, duduk, dan lain-lain. Kelompok Muathilah juga keterlaluan dalam menafikan penyerupaan Allah sehingga mereka terjerumus dalam penegasian (ta’thil).
Sedangkan Jabariyah maupun Qadariyah sama-sama jauh dari jalan lurus. Karena siapa pun yang menafikan kehendak dan usaha dari dirinya, maka ia seorang Jabariyah, dan siapa pun yang menisbatkan kehendak dan usaha pada diri sendiri, berarti ia termasuk Qadariyah. Lantas, barang siapa menisbatkan kehendak kepada Allah dan menyandarkan usaha kepada hamba berarti ia seorang Sunni.
Selain itu, kalangan Rafidhah dan Nashibah sama-sama jauh dari jalan yang lurus. Mazhab Rafidhah mengaku cinta kepada Ahlul Bait, tetapi berlebihan dalam memaki dan membenci para sahabat. Sebaliknya, mazhab Nashibah berlebihan dalam sikap fana tik terhadap para sahabat, hingga terjerumus dalam memusuhi Ahlul Bait dan menuduh Ali ra. sebagai orang zalim dan kufur.
Maka, dalam hal ini Ahlus Sunnah menempuh jalan tengah. Mereka mencintai Ahlul Bait maupun para sahabat, dan Allah menjaga lidah mereka dari membicarakan salah satu dari keduanya, kecuali untuk menyanjung dan memujinya. Segala puji, sanjungan, dan syukur bagi Allah swt.
Tentang Qadha’ Kadangkala, kata gadha” diartikan sebagai sesuatu yang pasti terjadi (mubram), seperti firman Allah swt.,
“Maka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” makajadilah ia.” (QS. Ghafir (40): 68)
Selain itu, tidak jarang pula ditujukan untuk memberitahu tentang wajibnya hukum wajib bagi Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia.” (QS. al-Isra (17): 23) Sebab, jika ini berarti ketentuan yang pasti, tentu tak ada sesuatu selain Allah yang disembah. Karena mustahil bila pengaruh tidak mengikuti pemberi pengaruh. Demikian pula firman-Nya, “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat (51): 56) Ayat ini berlaku sebagai pemberitahuan. Sebab, jika merupakan gadha” dan hukum yang wajib atas seluruh hamba, maka akan terjadi perselisihan karena tak ada sesuatu yang membedakan.
Pahamilah, Allah swt. telah memutuskan perkara sejak Zaman azali bahwa segala perbuatan dan perkataan terikat dan bergantung kepada hamba. Apa yang Dia putuskan maka Dia laksanakan sehingga tidak mungkin diubah, dan tak bisa juga dikatakan bahwa Allah merubah apa yang telah Dia putuskan.
Karena Allah tidak mempertentangkan diri sendiri dalam perkara yang telah Dia putuskan, dan Dia tak main-main serta tidak mengikuti hasrat. Dia membuat keputusan menurut tuntutan hikmah, dan sesuatu yang lahir berdasarkan hikmah tak ada yang merubahnya, apa yang Dia tentukan menurut perbuatan hamba layaknya menanam dan kawin, apa yang Dia tetapkan berdasarkan perbuatan hamba seperti doa dan istigfar.
Ketahuilah, Allah swt. telah menegaskan perbuatan hamba di beberapa tempat dalam al-Quran, seperti firmanNya, “Sebagai Balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-Waqi’ah (56): 24) Atau dalam firman-Nya, “Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kaujumpai mereka.” (QS. at-Taubah (9): 5) Akan tetapi, Dia juga menegasikan perbuatan hamba di beberapa tempat lain, seperti firman-Nya,
“Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kalian yang melempar ketika kalian melempar, tetapi Allahlah yang melempar.” (QS. al-Anfal (8): 17)
Ayat di atas mengandung hikmah bahwa Allah swt. menciptakan dan menentukan perbuatan hamba, sementara hamba-lah yang berusaha sekaligus menjadi sebab. Karena hamba yang melakukan ibadah, maka Allah yang membalasnya.
Andaikan bukan karena penisbatan perbuatan-perbuatan tersebut dalam penciptaan maupun usaha, tentu takda yang menyembah dan yang disembah. Jadi, tampak jelas bahwa manusia adalah yang menyembah dan berusaha, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Disembah dan Menciptakan.
Ketahuilah, perbuatan itu ada dua macam: (1) apa yang dilakukan hamba berupa usaha yang dinisbatkan kepadanya. Karena itulah diturunkan kitab-kitab dan diutus para rasul as. Juga dipastikan hajat terhadap akal guna menegakkan hujjah dan menjelaskan sasarannya, (2) apa yang diperoleh hamba sebagai balasan, yaitu apa yang ada di tangan Allah dan di tangan hamba. Keduanya tidak terjadi, kecuali selaras dengan yang diusahakan hamba, sesuai firman-Nya, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahanmu).” (QS. asy-Syura (42): 30), beserta ayat-ayat lain yang serupa.
“ILMU ITU LAYAKNYA MELIHAT API, DAN MAKRIFAT LAKSANA MENGGUNAKAN API GUNA MENGHANGATKAN TUBUH.”
Maka dari itu, barang siapa memahami kalimat di atas, ia dapat memahami maksud firman Allah yang dinisbatkan kepada hamba. Sebagai contoh, algojo memotong tangan pencuri. Bisa dikatakan yang memotong adalah si algojo karena dialah yang berusaha.
Dapat juga dikatakan yang memotong adalah Allah melalui tangan algojo karena Allahlah yang membalas tangan yang dipotong tersebut ketika terlihat si algojo. Bisa juga dikatakan bahwa si pencuri adalah orang yang memotong tangannya sendiri karena dialah yang memulai kejahatan sehingga tidak memperoleh selain apa yang telah ia perbuat.
Jadi, perbuatan yang muncul dari Allah merupakan ba. lasan bagi pihak yang dipotong, sedangkan dari orang yang memotong berupa usaha. Hal tersebut tidak bertentangan satu sama lain.
Berkaitan dengan hal di atas, banyak dalil tegas yang di. nyatakan dalam al-Quran. Barang siapa memahami kalimat ini dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan takut kecuali kepada diri sendiri, dan tak akan berharap selain kepada Allah swt.
la berkata, “Di manakah hamba Allah? Kita semua dalam Dzat Allah adalah orang-orang tolol.” Dalam arti, pandangan kita terhadap gadha ‘-Nya menyiratkan prasangka bahwa hamba akan dimaafkan atas apa yang ia lakukan.
Di samping itu juga menyiratkan suatu pandangan terhadap perintah dan larangan serta pilihan bebas hamba, yang mengantarkan dugaan bahwa hamba diperbudak melalui apa yang ia lakukan. Namun demikian, pernyataan yang benar berkenaan dengan hal ini jika diyakini bahwa hamba itu butuh kepada Allah dalam seluruh perbuatan, ucapan, dan ahwal-nya.
Bahkan, ia bergerak dalam kehendak-Nya, tidak terpaksa dan tidak ditundukkan layaknya binatang dan bendabenda mati. Akan tetapi, ia memperoleh pertolongan dalam naungan sebab-sebab kebahagiaan dan kerendahan, atau tercampakkan dalam naungan sebab-sebab kesengsaraan. Apabila dikatakan, kehendak (gudrat) yang baru memiliki jejak pada hal-hal yang dikuasai. Dan hal ini adalah kemusyrikan yang samar. Bila kehendak tak memiliki jejak pada sesuatu yang dikuasai, hal itu berarti Jabariyah.
Selain itu, ada pula yang mengatakan, “Disebut syirik hanya jika kehendak memiliki jejak pada penciptaan, sedangkan pengaruhnya ada pada usaha. Dan, Allah swt. bukanlah Dzat yang berusaha sehingga menciptakan persekutuan.
Sebaliknya, apabila kehendak tidak memiliki jejak pada sesuatu yang dikuasai, berarti wujud-Nya sama dengan tiada. Itu sama halnya Dia Mahakuasa tanpa gudrat. Dan, ini mustahil.
Pahamilah, barang siapa menyangka Allah telah menurunkan kitab-kitab, mengutus para rasul, memerintah dan melarang, menasihati dan memberi janji kepada makhluk yang tak memiliki kekuatan dan pilihan bebas, berarti Dia berperangai cacat dan perlu diobati. |
Demikian ini disebabkan oleh perbedaan manusia dalam menggali dalil al-Quran sebelum memahaminya, hingga mereka terjerumus ke dalam Jabariyah dan Qadariyah. Karena mereka tak mampu membedakan antara kehendak Allah yang kadim dengan kehendak manusia yang baru.









One Comment