Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Bagian Keenam: Makna Nafsu, Ruh, Hafi,

KETAHUILAH, EMPAT NAMA ini saling berhubungan (musytarak) dalam beberapa hal yang berbeda-beda. Dalam kesempatan ini kita akan menjelaskan makna masing-masing sejauh berkaitan dengan tema yang dimaksud.

Pertama, kata al-qalb digunakan dalam dua pengertian: (1) daging melingkar yang diletakkan di sisi kiri dada. Di dalamnya terdapat lubang berisi darah hitam. Daging ini merupakan sumber dan tambang bagi ruh kehidupan, (2) kelembutan (lathifah) rabbani-ruhaniah yang memiliki hati jasmani yang bergantung kepadanya, seperti bergantungnya aksiden pada materi dan sifat pada sesuatu yang disifati. Kelembutan ini menjadi hakikat manusia yang mampu memahami, mengetahui, disapa, dituntut, diberi pahala, serta diberi hukuman.

Kedua, ruh dalam konteks ini juga memiliki memiliki dua arti: (1) materi halus beruap yang dibawa oleh darah hitam. Bersumber dari lubang hati jasmani dan menyebar melalui otot-otot yang menancap ke seluruh bagian tubuh. Aliran kelembutan ini bersemayam di dalam tubuh beserta pancaran cahaya kehidupan, rasa, penglihatan, pendengaran, dan penciuman ke anggota-anggotanya layaknya pancaran cahaya lampu ke sudut-sudut rumah.

Jadi, perumpamaan kehidupan seperti cahaya yang terpancar di tembok, dan ruh ini laksana pelita. Aliran dan gerak ruh dalam batin ibarat gerak pelita di sisi-sisi rumah akibat gerakan penggeraknya. Karena itu, ketika para dokter menyebut kata ruh maka yang mereka maksud adalah makna ini, uap halus yang dimasak oleh suhu hati: (2) kelembutan (lathifah) yang mengetahui dan memahami yang dimiliki oleh manusia.

Inilah salah satu dari dua nama al-galb, seperti yang dimaksud dalam firman Allah swt., “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS. al-Isra’ (17): 85) Dengan ungkapan lain, ruh adalah urusan rabbani yang menakjubkan. Dan kebanyakan akal dan pemahaman tak mampu mencapai hakikatnya.

Ketiga, nafsu. Perihal ini juga mengandung dua arti: Arti pertama, yang merangkum dua potensi: marah dan syahwat pada manusia. Penggunaan inilah yang populer di kalangan sufi, yaitu nafsu asal yang mencakup sifat-sifat manusia yang tercela. Mereka mengatakan, “Adalah keharusan untuk mujahadat nafs dan menghancurkan syahwatnya.” Hal ini juga disinggung dalam sabda Rasulullah saw.,

“Musuhmu yang paling keras adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.”

Arti kedua, kelembutan, yang berarti hakikat, jiwa, dan diri manusia. Tetapi digambarkan dengan bermacam macam sifat menurut perbedaan ahwal-nya. Jika ia tenang di bawah perintah dan terhindar dari kekacauan karena melawan kehendak syahwat, ia disebut jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma’innah). Allah swt. berfirman, “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr 189): 27-28)

Nafsu dalam pengertian pertama tak bisa dibayangkan akan kembali kepada Allah karena ia dijauhkan dari-Nya sekaligus menjadi pasukan setan. Jika ketenangannya belum sempurna, tetapi melawan nafsu syahwat, ia disebut dengan nafsu lawwamah. Namun bila tidak menolak syahwat, Jalu tunduk kepada tuntutan syahwat dan ajakan-ajakan setan, maka ia disebut dengan nafsu ammarah bi as-su’.

“TAK MUNGKIN SEORANG HAMBA BISA SAMPAI KEPADA ALLAH SELAMA IA TIDAK MENGHUNI TUBUH DAN MELAMPAUI DUNIA UNTUK MENJADIKANNYA BEKAL MENUJU PERSINGGAHAN TERTINGGI.”

Keempat, akal. Dalam konteks ini mengandung dua pengertian: 1) Akal yang digunakan dan ditujukan sebagai ilmu tentang hakikat-hakikat persoalan. Maka ia berarti sifat ilmu yang bertempat di dalam khazanah hati, 2) terkadang digunakan dan dimaksudkan untuk mengetahui ilmu. Jadi, ia adalah hati, kelembutan yang menjadi hakikat manusia.

Karena itu, ketika kata al-galb disebutkan dalam alQuran dan Sunnah, hal tersebut berarti sesuatu yang dapat memahamkan manusia dan mengetahui hakikat segala sesuatu.

Tidak jarang pula disematkan ungkapan samar (kinayah) dengan sebutan “Hati jasmaniah” yang ada di dalam dada. Sebab, ia memiliki hubungan khusus antara bagian ini dengan kelembutan yang menjadi hakikat manusia, sekaligus karena memiliki kaitan dengan seluruh tubuh dan berada di titik tengah.

Dengan demikian, ia yang menguasai dan mengendalikan badan, serta menjadi titik pertama untuk mengurus dan mengatur badan. Dan hati jasmaniah dan dada bagi manusia layaknya Kursi Arsy bagi Allah swt.

Tenfara Hafi

Pahamilah, dalam hati, ruh, dan alam-alam lainnya, Allah memiliki tentara-tentara yang dikerahkan. Tak ada yang mengetahui hakikat dan rincian jumlah mereka selain Allah swt. Sekarang, kita akan menyebutkan beberapa tentara hati yang berkaitan dengan tema ini.

Ketahuilah, Allah memiliki dua pasukan tentara, satu tentara bisa dilihat dengan mata, dan satu lagi hanya bisa dilihat dengan mata hati. Hati berlaku sebagai raja, sedangkan tentara-tentara tersebut berlaku sebagai pelayan dan pendukung.

Adapun tentara-tentara Allah yang bisa disaksikan dengan mata adalah tangan, kaki, telinga, mata, dan lisan. Atau secara sederhana, tentara hati bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

Kelompok pertama, pemantik yang mendorong untuk mendatangkan sesuatu yang sejalan dan bermanfaat, seperti ketenaran. Dan kadangkala mendorong untuk menolak hal yang berseberangan dan berbahaya, seperti kemahiran. Pendorong ini disebut dengan kehendak (iradah).

Kelompok kedua, penggerak anggota-anggota tubuh untuk mencapai berbagai tujuan. Hal ini disebut dengan kekuasaan (qudrah) sekaligus merupakan tentara yang tersebar di seluruh tubuh.

Kelompok-kelompok ketiga, yang mengetahui dan memberitahu benda-benda layaknya mata-mata, seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Mereka tersebar pada anggota-anggota lahir yang tersusun dari daging, lemak, syaraf, darah, dan tulang, yang dipersiapkan sebagai sarana bagi tentara-tentara tersebut.

Pekerjaan tentara kelompok ini disebut ilmu dan kesadaran (idrak). Selain itu, kelompok ketiga ini juga merupakan tentara yang mengetahui. Tentara ini terbagi menjadi dua golongan: satu golongan menempati anggota-anggota lahir, seperti panca indra, pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Dan satu golongan lagi menghuni rumah-rumah batin, semisal rongga-rongga otak yang lima, indra musytarak (yang berkaitan), imajinasi, pemikiran, ingatan, dan memori.

Potensi pertama, indra musytarak, yaitu indra yang menjadi tempat gambaran segala hal yang dihantarkan oleh indra lahir, sebagaimana gambar yang dilukis dalam cermin. Tempat kerjanya ada di bagian depan perut otak pertama.

Potensi kedua, imajinasi. Sebuah tempat penyimpanan indra musytarak yang berfungsi menampung hal-hal yang terlukis pada otak untuk disimpan sampai saat diperlukan. Karena hati hanya memiliki energi penerima dan tidak mempunyai energi penyimpan. Sementara imaji memiliki energi penyimpan dan tidak mempunyai energi penerima. Tempat beroperasinya di bagian belakang perut otak.

Potensi ketiga, ilusi. Tempat beroperasinya di bagian depan perut otak belakang. Karena kerja ilusi adalah konsep-konsep partikular yang bermacam-macam dari berbagai gambaran yang tersimpan dalam imajinasi. Jadi, jaraknya jauh sebab ia terpengaruh oleh imajinasi.

Potensi keempat, memori. Tempat bekerjanya ada di bagian belakang perut otak belakang, bersebelahan dengan tempat operasi ilusi. Karena ia menjadi tempat penampun. gan ilusi tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker