Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Bagian Kedelapan: Makna Kedamaian karena Allah swt.

PAHAMILAH, SALAH SATU efek terbesar dari cinta adalah kedamaian. Dan hakikat kedamaian yaitu kebahagiaan dan kegembiraan hati karena sesuatu yang tersingkap baginya, berupa kedekatan Allah beserta keindahan dan kesempurnaan-Nya. Seorang sufi berkata, “Hakikat kedekatan adalah merasakan segala sesuatu dengan hati serta damainya nuyani bersama Allah swt.”

Aku mengatakan bahwa ini menjadi perantara untuk mencapai kedekatan, bukan kedekatan itu sendiri. Sebab, hal ini merupakan kesucian hati dari sesuatu selain Allah swt. Jika hati telah suci dari selain-Nya, Dia hadir bersama hamba karena tidak ada hijab antara hamba dan Allah selain diri dan sifat-sifat-Nya.

Jika hamba telah Fana’ dari diri dan sifat-sifat-Nya, serta mengetahui bahwa seluruh alam ini berdiri karena kekuasaan Allah, maka ia mengetahui kedekatan Allah secara penyingkapan (kasyf). Ia mengerti kehendak-Nya sebagai kekhususan, dan mengetahui kekuasaan-Nya dalam mewujudkan dan mengabadikan.

Sifat-sifat itu tak pernah terpisah dari sesuatu yang disifati, tetapi melekat padanya. Bila orang makrifat berbicara, ia tidak berbicara dengan dirinya sendiri: begitu pula ketika ia mendengar, sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Jadi, ahwal para “arifin atau orang-orang yang telah makrifat itu muncul karena kedekatan Allah, sedangkan ahwal kaum Abrar disebabkan mereka mengerti wujud Tuhan dengan mengetahui kekuasaan-Nya untuk mencegah dan memberi, mencipta kebahagiaan dan membuat kesengsaraan.

Para ahli makrifat (arifin) melihat Tuhan mereka di dunia dengan mata yakin dan mata hati. Di akhirat, mereka menyaksikan Tuhan dengan mata kepala. Dia dekat dengan mereka di dunia maupun akhirat.

Kedekatan-Nya di akhirat tidak berbeda dengan kedekatan di dunia, melainkan melalui naiknya kelembutan dan kasih sayang. Jika tidak demikian, hilanglah kedekatan jarak di sana-sini, dan sama sekali tak ada penyandaran antara Dia dan makhluk, baik di dunia maupun akhirat.

Kemudian, makrifat ini membuahkan kedamaian (uns) dengan syarat hadirnya kejernihan. Kedamaian pun membuahkan ketenangan (sakinah), berupa kekuatan yang mengimbangi pemberuntakan hati. Ia meneguhkan dan menghentikannya sampai batas keseimbangan dalam etika kehadiran. Nikmat kedekatan dalam kedamaian ini akan menerbangkan hati para arifin dan melahirkan pemberuntakan. Karena ketika dalam kondisi kecukupan manusia cenderung melampaui batas.

Adapun thuma’ninah adalah wujud setelah itidal yang disebabkan oleh rasa bahagia dan gembira karena hati mengetahui anugerah. Wujud ini hadir bersama keadamaian (uns), sekaligus pada dirinya sendiri thuma’ninah menjadi tujuan. Ketenangan menjadi perantara yang mendorong untuk memiliki adab dan i’tidal (lurus).

Di antara buah mahabbah adalah kelapangan dan kemanjaan. Jika kedamaian (uns) telah abadi dan kokoh, ia tidak dikotori oleh kegelisahan hati karena tidak mampu melihat ahwal. Hal itu akan melahirkan kelonggaran dalam ucapan, perbuatan, dan munajat. Demikian itu juga sama sekali tidak layak mendapatkan penghormatan dan pengagungan yang meniscayakan hadirnya kebesaran.

Seseorang yang memperoleh ketenangan dan kelonggaran, ia layak mendapatkan sesuatu yang tidak layak bagi orang yang segan. Karena salah satu perbuatan Allah yang mungkin yaitu Dia meridhai perbuatan yang dilakukan suatu kaum.

Dan akan marah terhadap perbuatan kaum lain karena ahwal mereka sekaligus hikmah yang lebih dahulu untuk mereka. Oleh sebab itu, Dia cemburu jika kalam-Nya didengar, kecuali oleh orang-orang istimewa bagi-Nya. Allah swt. berfirman,

“Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya.” (QS. al-Isra (171: 46)

Berkaitan dengan rahasia hal ini, Dia mengungkapkan dalam firman-Nya,

“Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar.” (QS. al-Anfal (8): 23)

Inilah hijab ghirah (kecemburuan), dan hakikatnya adalah menjaga waktu di sisi Allah agar tidak ternodai dengan ketamakan.

Salah satu buah dari cinta adalah kerinduan, dan ini lebih utama daripada kedamaian. Karena kedamaian akan membatasi pandangan yang disingkapkan oleh pesona kekasih kepadanya, dan pandangan itu tidak membentang hingga tak terlihat olehnya. Seseorang yang merindu laksana orang kehausan. Dahaganya tak akan hilang oleh air lautan.

Karena ia lebih mengetahui persoalan-persoalan Ilahiah yang terungkap padanya dibanding apa yang tak terlihat olehnya, laksana sebiji atom dibandingkan dengan luasnya wujud. Dan, Allah memiliki sifat yang Mahatinggi.

Makrifat ini menuntut lahirnya kegalauan, kegelisahan, dan kehausan yang terus-menerus. Karena hakikat kegelisahan adalah kecepatan gerak sekaligus mencampakkan kesabaran guna meraih apa yang dicari. Sementara itu, hakikat dari kehausan yaitu pencarian yang sungguh-sungguh terhadap sesuatu yang pasti dibutuhkan.

Barang siapa yang kegelisahan dan kehausannya memuncak, ia akan mengalami kegembiraan. Sebuah kerinduan yang telah menguasai hati pencarinya.

Setelah meraih semuanya, ketahuilah bahwa wajd memiliki beberapa ahwal. Pertama, ketakjuban (dahsy), sebagaimana firman Allah swt., “Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya (Yusuf), mereka kagum kepada keelokan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya.” (QS. Yusuf, 12: 31) Oleh sebab itu, hakikat ketakjuban disini diartikan sebagai hilangnya kesadaran hati karena dikejutkan oleh sesuatu yang agung.

Kedua, kekaguman, yang berarti jika ia sedikit tenang dan berulang-ulang mengetuk hati maka hati menjadi kagum dan bingung, tapiia tetap abadi. Ketiga, merasa damai dan tenang seolah tidak ada apa pun yang memasukinya, dan tak sesuatu pun yang mengetuknya. Inilah yang disebut dengan tamkin.

“SESEORANG YANG MERINDU LAKSANA ORANG KEHAUSAN. DAHAGANYA TAK AKAN HILANG OLEH AIR LAUTAN.”

Syaikh ra. berkata, “Tamkin adalah isyarat puncak ketenangan. Hal ini disebabkan oleh ahwal apa pun yang ditemui pecinta bersama Allah. Sehingga ahwal itu terkadang menguatkannya, kadangkala ia menguatkan ahwal, kadang-kadang bervariasi, dan terkadang ia mengalami kemapanan dan tenang. Demikian ini terjadi dalam setiap keadaan. Maka, ketika tenang ia naik ke tingkat lain agar tingkat yang dituju menjadi ahwal dan yang ditinggalkan menjadi magam.”

Pahamilah, jika hamba menemukan ahwal seperti di atas di tengah keramaian, tetapi tak menemukannya di tempat sepi maka ia termasuk orang yang sakit. Ia harus melakukan muhasabah dan menuntut diri dengan berbagai tanda.

Apabila ia menemukan ahwal di tempat sepi, bukan di keramaian berarti itu baik, tapi belum mencapai puncak kesempurnaan. Sebab, kesempurnaan terjadi ketika tidak ada perbedaan ahwal, baik di tempat sepi maupun ramai, di rumah maupun dalam perjalanan, saat longgar atau sibuk.

Karena waktu luang menjadi syarat dalam permulaan (per. jalanan), bukan pada ujungnya.

Adapun batasan cinta yang wajib yaitu kecenderungan yang lahir dari keyakinan terhadap dasar-dasar keimanan, dalam kaitannya dengan Dzat dan sifat-sifat Allah. Jika ia tidak mengetahui salah satu dasarnya, berkuranglah cinta sebanding dengan dasar tersebut.

Ia juga telah melakukan dua dosa, dosa karena bodoh, dan karena hilangnya buah iman. Sementara hakikat iman adalah kehadiran hati bersama Allah, serta menyaksikan jejak-jejak yang menunjukkan wujud-Nya. Allah Mahatahu.,

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker