Bagian Keempat Puluh Dua : Penjelasan Perihal Bahaya Dosa
BERUNTUNGLAH BAGI SIAPA yang, ketika mati, mati pula dosa-dosanya. Ada yang mengatakan, “Dosa yang paling besar adalah orang yang menzalimi orang lain yang tak mengenal dan melihatnya.” Barang siapa taat kepada Allah, Dia akan menundukkan segala sesuatu kepadanya.
Dan, siapa yang durhaka kepada-Nya maka Dia tundukkan orang itu kepada semua hal dan menjadikan segala sesuatu menguasainya. Andaikan dalam keterusmenerusan melakukan dosa tidak ada balasan, melainkan segala hal yang menimpanya, seperti keluasan, kesempitan, sehat, dan sakit itu menjadi hukumannya, maka cukuplah itu untuknya. Sekiranya dalam meninggalkan maksiat tidak ada balasan selain kebalikannya, hal itu pun sudah mencukupinya.
Sesungguhnya, seorang hamba benar-benar akan terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan. Laknat itu bukan berupa hitam di wajah atau berkurangnya harta, tetapi laknat adalah setiap kali orang keluar dari suatu dosa, lajatuh kembali ke dalam dosa yang sama, atau lebih buruk.
Karena itu, jangan sampai ketika tobat engkau lebih lemah daripada saat berbuat dosa, sepanjang engkau mengingkari bergantinya masa, saudara, dan istri. Karena dosa-dosa melahirkan itu semua.
Lebih dari itu, dosa-dosa itu akan melahirkan pengingkaran terhadap penciptaan binatang melata dan tikus rumah, melupakan al-Quran atau sebagian ilmu, serta bacaan al-Quran dari orang-orang merdeka.
Sehingga hukuman itu menjadi tempat untuk kesulitan dan keberatan. Hukuman masing-masing dari segi kesamaan sampai dalam persoalan mimpi. Bisa jadi hukuman bagi
dosa adalah dosa yang setimpal manakala dosa itu besar. Seperti halnya pahala ketaatan. Dan, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah swt.
Bagian Keempat Puluh tiga: Shalat Ahlul Qurb
JIKA ENGKAU MEMASUKI Shalat, lupakanlah dunia beserta penghuninya. Menghadaplah kepada Allah swt. layaknya engkau menghadap kepada-Nya pada hari kiamat kelak. Ingatlah ketika kau berdiri di hadapan Allah tanpa juru bicara antara kau dan Dia. Dia menghadap kepadamu. Kau pun berbisik kepada-Nya dan mengetahui siapa dirimu di hadapan-Nya karena Dialah Sang Raja yang Mahaagung.
Kepada salah seorang sufi dikatakan, “Bagaimana eng
kau mengucapkan takbir pertama?” Ia menjawab, “Ketika mengucapkan Allahu Akbar, sertakanlah perasaan ta’zhim kepada Allah bersamaan dengan huruf alif, rasa segan bersama huruf lam, dan rasa diawasi bersama huruf ha ‘.
Ketahuilah, ada di antara manusia ketika mengucapkan Allahu Akbar,” ia tenggelam dalam menyaksikan keagungan. Seluruh alam semesta berada dalam angkasa keluasan dadanya, seperti sebutir biji di atas hamparan bumi. Kemudian, ia campakkan sebutir bijiitu, hingga tak merasa takut kepada bisikan maupun suara hati.
Bagian alam semesta yang terbayang dalam batin menjadi layaknya biji sawi yang dicampakkan. Lantas, bagaimana bisa waswas itu menekan hamba semacam ini?” Dan, Allah Mahatahu.
Semoga Allah swt. menjadikan kita dan kalian termasuk golongan hamba-hamba yang dekat dan ulama-Nya yang mengamalkan ilmu serta pilihan-Nya yang tulus.
Semoga Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, Muhammad saw., penutup para nabi dan pemimpin al-ghurril muhajjalin,” beserta keluarga dan para sahabat dekat, istri-istri beliau yang baik dan suci, para keturunan beliau yang tulus, serta semua nabi, rasul, dan para malaikat. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.









One Comment