Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Bagian Kedua Puluh Satu: Hak Allah swt. yang Wajib Diperhatikan

ADA DUA MACAM hak Allah swt. yang wajib diperhatikan. Pertama, menunaikan semua kewajiban: kedua, meninggalkan hal-hal haram.

Menunaikan setiap kewajiban dan meninggalkan jarangan adalah bentuk ketakwaan. Barang siapa melaksanakan sebagian dari hal ini, berarti telah menjaga diri dari akibat yang akan diterima, berupa keburukan di dunia maupun akhirat. Dan ia akan menerima kenikmatan surga dan ridha Allah swt.

Ketahuilah, Allah swt. tidak bisa didekati, melainkan dengan ketaatan kepada-Nya. Bentuk ketaatan tersebut seperti melaksanakan yang wajib atau sunah, dan meninggalkan yang haram atau makruh.

Di antara bentuk ketakwaan adalah mendahulukan kewajiban atas sunah, serta mendahulukan meninggalkan yang haram daripada makruh. Lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Mereka menyangka telah ber-tagarrub kepada Allah, padahal mereka jauh dari-Nya.

Salah seorang dari mereka meninggalkan ibadah wajib demi memelihara yang sunah, melakukan perbuatan haram demi meninggalkan yang makruh. Begitu pula banyak orang yang memelihara bentuk-bentuk ketaatan, sementara hatinya menyimpan riya, benci, dengki, sombong, ujub dengan amal, pamer terhadap Allah dengan ketaatannya.

Maka pahamilah, takwa itu ada dua macam: satu bagian berhubungan dengan hati, dan ini terbagi dua, pertama, wajib, seperti ikhlasnya amal dan iman, kedua, haram, se. perti riya dan menghormati berhala.

Jenis takwa yang kedua berhubungan dengan anggota lahir, seperti pandangan mata, tamparan tangan, berjalan. nya kaki, dan ucapan lidah. Ketahuilah, jika takwa sudah benar, ia akan melahirkan sikap wara”. Sikap wara’ berarti meninggalkan sesuatu yang tak mengandung dosa karena takut terjerumus pada hal-hal yang mengandung dosa. Allah swt. Mahatahu. Ketahuilah, kebaikan dunia dan akhirat telah dikumpulkan ke dalam satu perilaku yang disebut takwa. Maka, renungkanlah ayat-ayat al-Quran yang menyebutkan perihal takwa. Betapa sering al-Quran menggantungkan kebaikan kepada takwa serta menjanjikan pahala terhadapnya. Begitu seringnya Kitab ini menyandarkan kebahagiaan pada ketakwaan. Oleh sebab itu, pahamilah bahwa hal-hal khusus berkaitan dengan urusan ibadah ada tiga prinsip: Pertama, pertolongan dan dukungan sehingga kaumau melakukan amal. Demikian ini diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa, sebagaimana firman Allah swt., “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang takwa.” (QS. an-Nahl (16): 128)

Kedua, menyempurnakan amal dan memperbaiki kecerobohan hingga sempurna. Ini juga bagi orang-orang yang takwa, seperti firman Allah swt., “Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu.” (QS. al-Ahzab (33): 71)

Ketiga, diterimanya amal ketika telah sempurna. Ini juga untuk orang-orang yang bertakwa, seperti firman Allah swt., “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Ma ‘idah ISI: 27)

Selain itu, pusaran ibadah ada pada tiga prinsip dasar, taufik, perbaikan, dan penerimaan. Dan Allah swt. telah menjanjikan semua itu pada ketakwaan serta memuliakan semua orang yang bertakwa, baik mereka meminta maupun tidak. Jadi, takwa adalah tujuan. Tak seorang pun yang melewatkannya, dan tak ada tujuan selainnya.

Kenalilah, batasan takwa menurut pendapat guru-guru kita adalah mmenyucikan hati dari dosa serupa yang belum pernah kaulakukan. Sehingga seorang hamba memiliki tekad kuat meninggalkannya. Hal ini berfungsi sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari para ahli maksiat.

Jika hatinya telah terbiasa melakukan hal tersebut, ia dikatakan sebagai orang bertakwa. Maka, tobat dan tekad juga disebut takwa. Dalam halini, tingkatan takwa ada tiga, takwa dari syirik, takwa dari bidah, dan takwa dari perbuatan maksiat beserta turunannya.

Berlainan dengan hal di atas, keburukan itu ada dua macam: Utama, yaitu segala hal yang dilarang untuk mendidiknya, seperti perbuatan maksiat murni, dan tidak utama, yaitu semua perbuatan yang dilarang untuk mengayominya, seperti berlebihan dalam hal-hal halal layaknya makanan mubah yang dikonsumsi dengan syahwat.

Adapun takwa jenis pertama adalah takwa wajib yang, jika ditinggalkan pasti mendatangkan azab: dan yang kedua, takwa kebaikan dan adab, jika ditinggalkan akan mengakibatkan penahanan, hisab, dan celaan. Barang siapa menunaikan takwa yang pertama, ia berada dalam takwa tingkat pertama. Itulah tingkatan orang-orang yang istigamah dalam ketaatan.

Dan, barang siapa menunaikan takwa kedua, maka ia menempati tingkatan takwa tertinggi. Dengan demikian, apabila hamba telah menggabungkan semua perilaku meninggalkan maksiat maupun berlebihan, berarti ia telah menyempurnakan arti takwa sekaligus menjalankan sikap wara secara sempurna yang menjadi kendali problematika agama.

Hal-hal yang harus dilakukan di sini adalah menjaga lima anggota pokok, mata, telinga, lidah, perut, dan hati. Selayaknya seseorang bersungguh-sungguh dalam menjaga kelima anggota ini dari segala hal yang dikhawatirkan membawa bahaya, seperti tindakan haram, sikap berlebihan, serta menghambur-hamburkan yang halal.

Jika penjagaan terhadap lima anggota ini berhasil, engkau bisa berharap untuk sanggup memenuhi semua rukun yang lain, dan telah menunaikan hak takwa dengan segenap tubuhmu karena Allah swt.

Ketahuilah, para ulama akhirat telah menyebutkan hal-hal yang dibutuhkan hamba. Dalam hal ini, ada tujuh puluh perilaku terpuji berikut lawan-lawannya yang tercela. Di samping itu, berbagai tindakan dan usaha wajib yang membahayakan terhadap hal tersebut akan kita lihat pada dasar-dasar tentang pengobatan hati.

Dalam urusan ibadah, semua ini sama sekali tak bisa dihindari sehingga kita akan menyaksikan empat hal, yaitu, bahaya orang-orang yang bersungguh-sungguh, fitnahfitnah hati yang merintangi, mengaburkan, dan merusak. Empat hal lainnya yang berlawanan serta menjamin kelurusan hati, pengaturan ibadah, dan perbaikan bagi hamba.

Empat penyakit itu adalah, angan-angan, tergesa-gesa, dengki, dan sombong. Sedangkan empat kebajikan yaitu, mernotong angan-angan, berhati-hati dalam segala urusan, menasihati manusia, serta tawadhu’, dan khusyuk. Inilah dasar-dasar bagi kesembuhan dan kerusakan hati. Karena itu, berusahalah sekuat tenaga untuk menghindari penyakit-penyakit ini serta memperoleh kebajikan di atas, niscaya engkau meraih harapan dan tujuan. Insya Allah.

Panjang angan-angan akan menjadi penghalang seluruh kebajikan, sekaligus mendorong untuk mematuhi semua keburukan dan fitnah yang menjerumuskan makhluk ke dalam segala bencana. Oleh sebab itu, ketahuilah, jika engkau panjang angan-angan maka dalam dirimu akan bergelora empat hal:

  1. Meninggalkan ketaatan dan bermalas-malasan, sembari berkata, “Akan kukerjakan itu nanti.”
  1. Meninggalkan dan menunda-nunda tobat, seraya bergumam, Kelak, aku akan bertobat.”
  1. Menjadikanmu cinta dan rakus terhadap dunia, sambil berkata, “Apa yang akan kupakai dan kumakan?” lalu kausibuk mengurusnya. Atau, setidaknya hatimu akan disibukkan olehnya. Maka sia-sialah waktumu dan akan banyak merasakan kesedihan.
  1. Kerasnya hati dan lupa terhadap akhirat. Karena, jika engkau mengangankan hidup yang panjang, engkau tak akan mengingat akhirat, bahkan tidak akan mengingat kematian maupun alam kubur. Dengan demikian, pikiranmu hanya tercurah pada dunia hingga hatimu menjadi keras, sebagaimana firman Allah swt., “Kemudian, berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.” (QS. al-Hadid (57): 16) Sebab, kelembutan dan kejernihan hati hanya dapat diraih dengan mengingat kematian, alam kubur, dan hiruk-pikuk akhirat.

Berkaitan dengan perihal panjang angan-angan, para ulama mengatakan bahwa hal itu adalah keinginan untuk hidup lama dengan waktu yang telah direncanakan. Sebaliknya, memotong angan-angan berarti tidak menentukan angan-angan dan membatasinya pada kehendak dan ilmu Allah dalam zikir, atau dengan memperbaiki keinginan.

Jika engkau mengingat hidupmu karena kau akan hidup satu tarikan nafas lagi, atau satu jam lagi secara jelas dan pasti, berarti engkau termasuk orang yang beranganangan. Dan itu merupakan bentuk kemaksiatan yang kaulakukan sebab turut menentukan hal-hal gaib.

Apabila engkau membatasi angan-angan dengan kehendak dan ilmu Allah swt., seperti mengatakan, “Jika Allah menghendaki maka saya hidup…” engkau tidak termasuk orang yang berangan-angan, dan telah memotong anganangan karena tidak menentukannya. Maksud zikir di sini yaitu zikir hati, dalam rangka membiasakan dan meneguhkan hati untuk berzikir. Jadi, pahamilah dengan benar!

Angan-angan itu ada dua macam, angan-angan awam dan angan-angan khusus. Angan-angan awam yaitu menginginkan kehidupan abadi untuk mengumpulkan dan menikmati dunia. Dan ini adalah kemaksiatan. Kebalikannnya yaitu dengan mermotong angan-angan. Adapun anganangan khusus berarti hasrat untuk hidup abadi guna menyempurnakan amal kebaikan yang membahayakan.

Inilah sesuatu yang tak dapat dipastikan kebaikannya. Karena, bisa jadi ia merupakan kebaikan tertentu yang jika dilaksanakan atau disempurnakan tidak membawa kebaikan bagi hamba, bahkan besar kemungkinan ia tidak melakukan kebaikan

“KETAHUILAH, ALLAH SWT. TIDAK BISA DIDEKATI, MELAINKAN DENGAN KETAATAN KEPADA-NYA.”

Maka dariitu, diawal shalat, puasa, dan lainnya, seorang hamba tidak diperbolehkan memastikan akan menyempurnakan amalan-amalan tersebut. Karena hal itu merupakan persoalan gaib, dan sama sekali bukan menjadi tujuan. Akan tetapi, hendaknya ia membatasi dengan pengecualian dan syarat kebaikan agar terhindar dari buruknya angan-angan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker