Bagian kedua Belas: Makna al-Asma’ al-Husna
PAHAMILAH, MENURUT MAZHAB Ahlus Sunnah seluruh Asmaul Husna itu merujuk kepada Dzat dan tujuh sifat. Ini berbeda dengan kelompok Muktazilah dan para filosof. Asma tersebut bukanlah penyematan, bukan pula yang diberi nama. Demikianlah pandangan yang benar karena pengertian nama adalah lafazh yang diciptakan untuk menunjukkan sesuatu yang diberi nama.
Ketahuilah, kesempurnaan dan kebahagiaan hamba itu hanya dengan berakhlak seperti akhlak Allah, serta berhias dengan makna-makna Asma dan sifat-sifat-Nya sejauh yang bisa ia gambarkan. Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa kemiripan dalam setiap sifat menghendaki kesamaan. Itu sangat jauh.
Tidakkah kautahu Allah itu berada tidak pada suatu tempat. Dia Hidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Berbicara dan Aktif, dan manusia juga demikian. Akankah engkau melihat bahwa yang menetapkan sifat-sifat tersebut bagi manusia serupa dan sama. Persoalannya tidak demikian. Tetapi kesamaan itu berarti kesamaan dalam jenis dan esensi.
Sementara itu, keistimewaan Allah adalah Dia itu wujud yang Wajibul Wujud dengan Dzat. Dengan kekuasaan-Nya maka wujudlah segala sesuatu yang mungkin wujud dengan keteraturan dan kesempurnaan yang paling indah.
Keistimewaan ini sama sekali tak terbayangkan kemiripan maupun kesamaannya, bahkan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah swt. Jadi, seluruh makhluk tidak akan mengetahui selain kebutuhan alam yang teratur dan sempurna ini terhadap Pencipta Yang Hidup, Mengetahui, dan Kuasa.
“MAKNA ASMA-ASMA ALLAH ITU TERANGKUM DALAM EMPAT KATA YANG TERMASUK AL-BAAIYAT ASHSHALIHAT, YAITU: SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLA ALLAH WA ALLAHU AKBAR.”
Makrifat semacam ini memiliki duajalan: Pertama, berhubungan dengan ilmu, dan yang diketahui membutuhkan perancang. Kedua, berkaitan dengan Allah dan yang Dia ketahui, yaitu asma-asma yang diturunkan dari sifat-sifat yang tidak termasuk dalam hakikat dan esensi Dzat.
Jika kita katakan bahwa Dia Hidup, Mengetahui, dan Kuasa, itu berarti sesuatu yang samar (mubham) yang memiliki sifat hidup dan kuasa karena hamba tidaklah mengetahui selain dirinya terlebih dahulu, kemudian membandingkan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat dirinya.
Mahasuci sifat-sifat Allah yang menyerupai sifatsifat kita. Dengan demikian, mustahil untuk mengetahui Allah secara hakiki selain Allah sendiri. Bahkan, mustahil mengenali kenabian, kecuali sang nabi sendiri. Sehingga selain nabi tidak akan mengetahui kenabian melainkan sekadar namanya.
Jika dikatakan, “Lantas, apakah puncak makrifat kaum arifin terhadap Allah swt.?” Kami menjawab, “Puncak makrifat mereka, jika tersingkap kemustahilah pengetahuan hakikat Dzat Allah bagi selain Allah. Dan, keluasan makrifat orang-orang yang telah menggapai marifatullah dengan mengetahui asma dan sifat-sifat-Nya.
Maka, sejauh apa pengetahuan dan keajaiban kekuasaan-Nya, serta keindahan ayat-ayat-Nya di dunia maupun di akhirat yang tersingkap bagi mereka. Di sinilah Jetak perbedaan derajat makrifat kepada Allah swt. Allah Maha Mengetahui.
Ketahuilah, keseluruhan Asma Allah al-Husna itu merujuk pada sepuluh hal:
- Asma yang hanya menunjukkan Dzat-Nya, seperti ucapanmu, “Allah,” dan yang mendekati nama al-Haqq, jika dimaksudkan sebagai Dzat yang Wajibul Wujud.
- Asma yang merujuk pada Dzat disertai penegasian (salab), seperti al-Quddus, as-Salam, al-Ghaniy, al-Ahad, dan lain-lain. Karena al-Quddus adalah Dzat yang dari-Nya dicabut segala sesuatu yang terpikir dalam benak dan masuk dalam dugaan. As-Salam merupakan Dzat yang dari-Nya tercabut segala aib dan kekurangan. Al-Ghaniy yaitu Dzat yang dari-Nya tercabut semua hajat. Dan, alAhad bermakna Dzat yang dari-Nya tercabut padanan dan keterbagian.
- Asma yang merujuk Dzat dengan penyandaran, seperti al-‘Ali, al-‘Azhim, al-Awwal, al-Akhir, azh-Zhahir, al-Bathin, dan lain-lain. Karena al-‘Ali adalah Dzat yang mengatasi segala Dzat dalam segi derajat, daninimerupakan bentuk penyandaran. Al-Azhim yaitu sifat yang menunjukkan Dzat yang melampaui batas-batas penangkapan indra. Al-Awwal berarti yang mendahului segala yang wujud. Al-Akhir adalah yang menjadi tempat kembali seluruh wujud. Azh-Zhahir bermakna Dzat yang disandarkan kepada dalil akal. Dan, al-Bathin merupakan Dzat yang disandarkan kepada pengetahuan indra dan ilusi.
- Asma yang merujuk kepada Dzat disertai pencabutan (salab) dan penyandaran (izhafah), seperti al-Malik dan al-‘Aziz. Al-Malik yaitu Dzat yang tidak membutuhkan apa pun, tetapi segala sesuatu membutuhkan-Nya, Sedangkan al-Aziz berarti Dzat yang tiada duanya: sangat dibutuhkan, tapi sulit diraih dan digapai.
- Asma yang merujuk pada Dzat disertai sifat ketetapanNya, seperti al-Hay, al-Alim, al-Gadir, al-Murid, as-Sami’ al-Bashir, dan al-Mutakallim.
- Asma yang merujuk kepada ilmu disertai penyandaran, seperti al-Hakim, al-Khabir, asy-Syahid, dan al-Muhshi. Karena al-Hakim menunjukkan ilmu yang disandarkan kepada objek ilmu yang paling mulia. Al-Khabir menunjukkan ilmu yang disandarkan pada hal-hal batin (tidak tampak). Asy-Syahid menunjukkan Sang Maha Mengetahui yang disandarkan kepada apa yang disaksikan. Dan al-Muhshi mengindikasikan ilmu yang mencakup objek-objek yang diketahui yang terbatas dan terhingga.
- Asma yang merujuk kepada kekuasaan disertai tambahan penyandaran, seperti al-Qawiy, al-Matin, dan al-Qahhar. Sebab, al-quwwah adalah kesempurnaan kekuasaan, al-matanah menunjukkan kuatnya kekuasaan, al-qahr menjadi pengaruh dominasi kekuasaan terhadap hal yang dikuasai.
- Asma yang merujuk kepada kehendak (iradah) disertai perbuatan dan penyandaran, seperti ar-Rahman, arRahim, ar-Ra’uf, dan al-Wadud. Karena ar-Rahman merujuk kepada kehendak yang disandarkan pada pemenuhan hajat orang yang butuh danlemah.Ar-Ra’fah menunjukkan kuatnya rahmah, yaitu keberlebihan dalam rahmat. Sementara al-Wadud merujuk kepada kehendak yang disandarkan kepada ihsan dan pemberian nikmat. Pelaksanaan rahmat menuntut adanya orang yang butuh, sedangkan pelaksanan alwudd tidak memerlukan hal ini, memberi nikmat sejak awal (tanpa sebab).
- Asma yang merujuk kepada Dzat disertai sifat sandaran, seperti al-Khalig, al-Bari, al-Mushawwir, al-Wahhab, Ar-Razzaq, al-Fattah, al-Basith, al-Qabidh, al-Khafidh, ar-Rafi’, al-Mu’iz, al-Muzhil, al-‘Adl, al-Mugit, al-Mughits, al-Mujib, al-Wasi’, al-Bahits, al-Mubdi, al-Mu’id, al-Muhyi, al-Mumit, al-Muqaddim, al-Mu ‘akhir, al-Waliy, al-Barr, at-Tawwahb, al-Muntaqim, al-Muqsith, al-Jami’, al-Mu thi, al-Mani’, al-Mughni, al-Hadi, dan lain-lain.
- Asma yang merujuk kepada makna perbuatan disertai penyandaran, seperti al-Majid, al-Karim, dan al-Lathif. Karena al-Majid menunjukkan luasnya penghormatan disertai kemuliaan Dzat. Demikian pula al-Karim. Adapun al-Lathif menunjukkan perbuatan disertai kelembutan.









One Comment