Salah seorang ulama kenamaan berkata, “Pegang teguhlah ilmu, lapar, rendah diri, dan puasa. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi, dan lapar adalah hikmah.” Abu Yazid al-Busthami pernah mengatakan, “Tak sehari pun aku berpuasa karena Allah, melainkan aku melihat satu pintu hikmah di hatiku yang belum pernah kulihat sebelumnya.”
Kerendahan diri adalah ketenangan dan keselamatan, dan puasa merupakan sifat abadi yang tiada bandingannya, Seperti firman Allah swt., “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. asy-Syura (42): 11)
Oleh karena itu, barang siapa mengenakan sifat ini, ia akan mewarisi ilmu, makrifat, dan musyahadah (menyaksikan Allah).
Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman,
“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku, dan Akulah yang membalasnya.”
Bagi Allah, bau tak sedap yang keluar dari mulut orang berpuasa itu lebih harum daripada aroma misik. Sedangkan kesibukan dunia dan dominannya syahwat pada hati akan melahirkan semua sifat tercela. Maka, tak ada lagi harapan mendekat (kepada Allah) selama sifat-sifat tercela itu tak digantikan dengan sifat-sifat terpuji.
Seorang ulama berkata, “Selama hamba masih dikotori oleh selain Allah, ia tak pantas mendekat dan bersanding dengan-Nya sebelum menyucikan hati dari selain Dia.” Utsman ra. berkata, “Jika hati itu suci, ia tak akan kenyang membaca al-Quran. Sebab, dengan kesucian itu, hati akan naik menyaksikan Sang Pembicara (Allah). Tak ada yang lain.”
Ketahuilah, segala hal selain Allah menjadi penghalang dari-Nya. Andaikan bukan karena gelapnya semesta, cahaya Sang Gaib (Allah) pasti akan tampak. Sekiranya bukan karena fitnah nafsu, semua hijab pasti tersingkap.
Jika bukan karena rintangan-rintangan, seluruh hakikat pasti terungkap. Sekiranya bukan karena berbagai penyakit diri, kuasa Allah pasti akan terlihat jelas. Andaikata bukan karena ketamakan, cinta-Nya pasti akan tertancap tajam.
Bila tak ada bagian yang abadi, kerinduan pasti membakar ruh. Jika manusia tidak jauh dari-Nya, tentu Tuhan bisa disaksikan. Jadi, ketika hijab tersingkap, sebab-sebab pasti terungkap. Seluruh rintangan akan hilang dengan memutus ikatan-ikatan ini.
Kau menyaksikan rahasia
yang telah lama tersembunyi darimu pagi telah menyingsing Setelah kau menjadi gulitanya kaulah penghalang hati dari rahasia Sang Gaib
Jika bukan karena engkau, Penghujung hati itu tak akan menjadi tabiatmu jika kau jauh darinya, ia akan ditempati di atas pundak kasyf yang terlindungi tenda-tendanya tibalah pembicaraan yang tak membosankan didengarkan, Natsr dan nazham-nya menarik bagi kami
Seorang ulama lain mengatakan, “Jika Allah menghendaki keburukan terhadap hamba, niscaya Dia akan menutup pintu amal dan membuka pintu kemalasan untuknya.”
Suatu kala, seorang laki-laki mendatangi Mu’adz, lalu berkata, “Beritahu aku tentang dua orang. Pertama, yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, banyak beramal, dan sedikit dosa, tetapi keyakinannya lemah dan senantiasa diselimuti keraguan.”
Mu’adz menjawab, “Keraguannya itu pasti akan menghilangkan amalnya.”
“Lalu yang kedua, beritahu aku tentang seseorang yang sedikit amalnya, banyak dosanya, tetapi memiliki kuat keyakinannya,” lanjut laki-laki itu. Mu’adz pun diam.
Sejurus kemudian ia berkata, “Demi Allah, jika keraguan orang pertama menghapus amal-amal kebaikannya, tentulah keyakinan orang kedua akan menghapus semua dosanya.” Lantas Mu’adz memegang tangannya dan berkata, “Aku tak pernah bertemu orang yang lebih mengerti agama dari orang ini.”
Amalan Abu Yazid al-Busthami
Abu Yazid al-Busthami ra. berkata, “Aku tinggal selama 12 tahun untuk mengasah diri, lima tahun menggosok cermin hati, dan satu tahun melihat antara keduanya. Ternyata dalam diriku terdapat ikatan, dan selama 50 tahun aku bekerja untuk memutuskannya. Aku mencari cara bagaimana memutuskannya. Aku pun mengalami penyingkapan. Aku melihat semua makhluk adalah mayat. Lalu, kubaca takbir empat kali untuk mereka.”
Ungkapan ini mengandung makna—hanya Allah yang Maha tahu —bahwa Abu Yazid berusaha melakukan mujahadatu an-nafs (perang melawan hawa nafsu), menghilangkan noda dan kotoran hawa nafsu beserta sifat-sifat yang menyelimutinya, seperti ujub, sombong, rakus, iri, dengki, dan lain-lain yang menjadi kebiasaan hawa nafsu.
Ia pun berusaha menghilangkan semua itu dengan memasukkan hawa nafsunya ke dalam tungku ancaman Allah. Ia pukul nafsu itu dengan palu-palu perintah dan larangan hingga kelelahan. Ia mengira nafsunya telah bersih, lalu melihat cermin keikhlasan hatinya.
Ternyata, masih adasisa-sisasyirik tersembunyi, seperti riya, melihat amal, memperhitungkan pahala dan hukuman, serta mengharap karamah dan pemberian. Inilah syirik dalam keikhlasan bagi orang-orang khawash. Ini ikatan yang dimaksud Abu Yazid dan berusaha dia putuskan tadi.
Artinya, Abu Yazid berusaha memutus hawa nafsu dan “menyapihnya” dari segala penghalang dan penghambat. Ia berpaling dari makhluk, sampai-sampai ia “membunuh” semua nafsunya yang masih hidup, dan menghidupkan hatinya yang mati. la melakukan itu sampai mantap hanya Sang Oidam dan menganggap selain Dia tiada. Saat itulah, ia bertakbir empat kali untuk makhluk dan lari kepada Allah al-Hagg.
Ungkapan, “Aku bertakbir empat kali untu mereka,” maksudnya adalah, setiap orang yang mati itu dibacakan takbir empat kali. Selain itu, penghalang makhluk dari Allah pun ada empat hal: nafsu, keinginan, setan, dan dunia. Maka, ia mematikan hawa nafsu dan keinginannya serta mengusir setan dan dunianya. Ia pun membaca takbir untuk setiap yang telah mati dari dirinya sekali takbir, karena Dialah yang Mahaagung. Selain Dia adalah hina dan kecil.
Selanjutnya, pahamilah bahwa engkau tak akan mencapai posisi kedekatan (dengan Allah) sebelum memutus enam rintangan:
Pertama, mencegah anggota tubuh dari pembangkangan syariat, kedua, mencegah hawa nafsu dari kebiasaan, ketiga, mencegah hati dari kesenangan hawa nafsu, keempat, mencegah sirri (batin) dari noda-noda tabiat: kelima, mencegah ruh dari asap indrawi: keenam, mencegah akal dari imajinasi-imajinasi ilusif.
Dari rintangan pertama, engkau akan dapat meraih Sumber-sumber kebijaksanaan dalam hati. Dari rintangan kedua, kau akan mengetahui rahasia ilmu-ilmu laduni. Dari rintangan ketiga, akan tampak olehmu tanda-tanda munajat alam Malakut. Cahaya-cahaya munazalat gurbiyyah (kedekatan dengan Allah) akan muncul di hadapanmu pada rintangan keempat.
Lalu, pada rintangan kelima, purnama penyaksian (musyahadah) cinta akan muncul di hadapanmu. Dan dari rintangan terakhir, kau akan turun ke taman-taman kesucian (hadhrah qudsiyyah). Di sini, karena menyaksikan lembutnya kedamaian, kau “lenyap” dari hal-hal indrawi.
Bila Allah menghendaki untuk memilihmu, Dia akan memberimu seteguk minuman dari gelas cinta-Nya. Tetapi dengan minuman itu kau semakin haus. Dengan rasa minuman itu, kau semakin rindu. Kau semakin ingin mendekat, dan dengan ketenteraman itu kau semakin gelisah.
Seandainya kemabukan ini telah menguasaimu, kau akan dibuat kagum. Jika kau telah kagum, maka kau akan dibuat bingung. Di sini kau adalah murid (yang menginginkan). Manakala kebingunganmu bertahan lama, Dia akan mengambil dan menarikmu dari dirimu sendiri, sehingga kau tetap dalam keadaan majlub dan majdzub. Saat itulah kau menjadi murad (yang diinginkan).
Ketika dzatmu telah fana” (lenyap) dan sifat-sifatmu musnah, dan kau pun telah fana” dari kefana’anmu karena keabadian-Nya, maka Dia menganugerahimu pakaian “Dengan-Ku ia mendengar dan dengan-Ku ia melihat.” Dia pun menjadi pengendali dan pelindungmu.
Apabila kau berbicara, maka kau berbicara dengan ucapan-Nya, jika kau melihat, maka kau melihat dengan cahaya-Nya, bila kau bergerak, itu karena kemampuan dariNya, dan bila kau memukul, itu karena kekuatan dari-Nya.
Di sini, tak ada lagi dualisme atau jarak. Jika kakimu telah berdiri kokoh dan batinmu telah mantap, maka lenyaplah kemabukanmu itu.
Kukatakan, Jika rasa cintamu telah menguasaimu, dan batasan dirimu telah melampaui batasan diam, maka kau pun akan berkata, Pada kondisi pertama kau menjelma pribadi yang memiliki kedudukan kokoh (mutamakkin), dan kedua kau menjadi pribadi yang terus berubah-ubah (mutalawwin). Sampai di sini, pemahaman pun akan mengalami kemuskilan untuk mengurai simbol perbincangan ini.









One Comment