Pendahuluan
Ketahuilah, keterputusan makhluk dari Allah dikarenakan mereka bergantung kepada makhluk, diri sendiri, memandang amal, dan menyimpang dari akidah yang benar melalui berbagai keinginan yang menjadi kodrat nafsu setiap orang.
Demikian pula karena cinta kepada kedudukan, harta, dunia, kekuasaan, ketenaran, suka berangan-angan, suka menunda-nunda, kikir, hawa nafsu, kesombongan, makanan dan minuman, pakaian, keduniaan mereka yang rusak, dikuasainya hati mereka oleh keinginan nafsu.
Mengabaikan perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadatu an-nafs) juga turut andil dalam meningkatkan syahwat dan kebodohan diri, menghias diri karena manusia, berperangai dengan sifat-sifat tercela seperti dengki, iri hati, bodoh, dungu, riya”, dan munafik.
Selain itu, mengabaikan mujahadatu an-nafs juga menyebabkan anggota tubuh seperti mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki berbuat di luar ketaatan kepada Allah, mengakibatkan kemalasan, kelalaian, dan hal-hal lain yang dapat menjauhkan diri dari Allah swt.
Dia berfirman,
“Semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. al-Isra’ (17): 36)
Ruang Lingkup Kajian
Risalah ini terdiri atas beberapa bagian, pendahuluan, dan fasal. Bagian pertama berbicara perihal fondasi agama: bagian kedua makna adab, bagian ketiga makna suluk dan tasawuf, bagian keempat, wushul dan wishal, bagian kelima arti tauhid dan makrifat, bagian keenam jiwa, ruh, hati, dan akal, bagian ketujuh makna cinta (mahabbah), bagian kedelapan makna kedamaian bersama Allah swt.: bagian kesembilan arti malu (haya”) dan muragabah, bagian kesepuluh makna gurb (kedekatan).
Selain itu, kitab ini juga membicarakan berbagai aspek lain, seperti: bagian kesebelas, kemuliaan ilmu dan kewajiban mencarinya, bagian kedua belas, makna Asmaul Husna, bagian ketiga belas, meyakini dan berpegang teguh kepada akidah yang benar, bagian keempat belas, sifat-sifat Allah swt.
Bagian kelima belas, hakikat ikhlas: bagian keenam belas, bantahan terhadap kemungkinan berbuat dosa kecil bagi Nabi saw., bagian ketujuh belas, bisikan dan jenis-jenisnya, bagian kedelapan belas, makna ketergelinciran lidah (afat lisan), bagian kesembilan belas, menjaga perut, bagian kedua puluh, setan dan tipu muslihatnya,
Bagian kedua puluh satu, segala hal yang wajib dijaga: bagian kedua puluh dua, makna perilaku baik dan buruk, bagian kedua puluh tiga, arti berpikir, bagian kedua puluh empat, makna tobat, bagian kedua puluh lima, pengertian sabar, bagian kedua puluh enam, makna khauf (ketakutan): bagian kedua puluh tujuh, arti raja” (berharap), bagian kedua puluh delapan, makna fakir, bagian kedua puluh sembilan, pemahaman zuhudj: bagian ketiga puluh: makna muhasabah:
Bagian ketiga puluh satu, makna syukur, bagian ketiga puluh dua, arti tawakal: bagian ketiga puluh tiga, niat, bagian ketiga puluh empat, makna jujur, bagian ketiga puluh lima, pengertian ridha, bagian ketiga puluh enam, larangan ghibah, bagian ketiga puluh tujuh, makna futuwwah (kedermawanan).
Bagian ketiga puluh delapan, arti akhlak mulia: bagian ketiga puluh sembilan, rnakna qana’ah, bagian keempat puluh, perihal orang yang bertanya, bagian keempat puluh satu, berbelas kasih terhadap makhluk Allah swt.: bagian keempat puluh dua, keterjerumusan ke lembah dosa: dan bagian keempat puluh tiga, gambaran shalat orang-orang yang dekat dengan Allah swt.
Hal-hal Selain Allah Menjadi Penghalang dari-Nya
Ketahuilah, bersanding bersama makhluk dan hawa nafsu menjadi penghalang dari Allah swt. Sedangkan melihat perbuatan (diri sendiri) termasuk syirik, karena seluruh perbuatan hamba hanya layak diatributkan kepada Allah, penciptaan maupun pewujudannya.
Adapun yang diatributkan kepada hamba hanyalah usahanya, agar dia mendapat pahala jika taat kepada-Nya dan memeroleh hukuman jika bermaksiat. Ketika hamba bergantung kepada sesuatu yang diwujudkan Allah swt. maka hal itu disebut kasb (usaha). Karena kemampuan hamba hanyalah saat melakukan pekerjaan, bukan sebelumnya. Inilah pandangan Ahlus Sunnah.
Barang siapa mengatributkan kehendak dan usaha kepada diri sendiri, berarti ia termasuk golongan Qadariyah, Barang siapa menafikan kehendak dan usaha dirinya, ia tergolong Jabariyah. Dan siapa saja yang mengatributkan kehendak kepada Allah dan menyandarkan usaha kepada hamba, maka ia seorang Sunni sekaligus sufi yang lurus.
Demikianlah, permbahasan ini memerlukan dialog panjang, tetapi di sini bukan tempat yang tepat. Permasalahan ini akan kami bicarakan segera, insya Allah.
Adapun terjadinya penyimpangan akidah yang benar, disebabkan dominasi hawa nafsu terhadap hati dan fana tisme terhadap mazhab ahli bidah. Seorang imam berkata, “Banyak kaum yang diselamatkan oleh akidah, meskipun amalan mereka sedikit. Namun, tidak sedikit pula yang binasa karena akidah, walaupun amalan mereka banyak. Cinta kedudukan, harta, dan dunia adalah racun yang mematikan. Kekuasaan dan ketenaran melahirkan kesombongan dan menjerumuskan hamba ke dalam keduniaan. Keduanya merupakan perusak agama.”
Seorang imam lain mengatakan, “Aku tak melakukan satu pun amal yang disaksikan orang, kecuali amal tersebut kugugurkan (karena takut riya ‘, ed).”
Selain itu, panjang angan-angan akan menghalangi perbuatan baik dan kebenaran. Menunda-nunda amal menjadi salah satu tentara setan yang paling besar. Kikir, hawa nafsu, dan kesombongan adalah hal-hal yang menghancurkan.
Makanan haram membuat hati gelap dan keras, serta menjauhkan diri dari Allah swt. Sebaliknya, rnakanan yang baik (halal) membuat hati terang dan lembut, serta mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. al-Bagarah (2): 172)
Kata ath-thayyibat (yang baik-baik) dalam ayat di atas berarti makanan yang halal. Karena itu, perbaikilah makanan dan minumanmu. Jangan kautinggalkan shalat malam dan puasa di siang hari. Makanan yang baik menjadi fondasi utama bagi perjalanan suatu kaum.
Sekiranya seorang hamba melakukan shalat layaknya shalatnya budak, hal itu tak berguna sepanjang ia tidak mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya. Manusia yang paling cepat menyeberangi titian akhirat adalah yang paling wira’i terhadap dunia. Allah swt. berfirman,
“Hai hamba-Ku, laparkanlah dirimu niscaya kau melihat-Ku, bersikap wara’-lah pasti kau mengenal-Ku, dan telanjanglah (dari dunia) niscaya kau akan sampai kepada-Ku.”
Dan Dia berfirman,
“Adapun orang-orang yang wara’, Aku malu untuk menyiksa mereka.”









One Comment