Jika ditanyakan, “Mengapa Rasulullah saw. melarang manusia untuk menyebarkan rahasia ruh dan mengungkap hakikatnya?” Jawabannya, “Karena ruh itu memiliki sifat-sifat di luar kapasitas pemahaman manusia pada umumnya. Karena manusia itu ada dua kategori, awam dan khusus (khash).
Bagi orang awam, ia tidak akan percaya bahwa sifat ruh itu menjadi sifat Allah, terlebih membenarkannya dalam sifat ruh manusia. Begitu pula kelompok Karamiyah, Hambaliyah, dan lain-lain yang tergolong awam, akan mengingkari kesucian Allah dari sifat jasmaniah dan aksiden. Karena mereka tak bisa memahami maujud kecuali memiliki tubuh yang bisa ditunjuk.
Maka, barang siapa sedikit lebih tinggi dari kelompok awam ini, ia akan menafikan unsur materi dari Allah beserta hal-hal yang dipastikan tak memiliki sifat-sifat jasmani tapi menetapkan arah. Lebih tinggi dari kelompok awam adalah kaum Asy’ariyah dan Muktazilah. Dan mereka pun menyucikan Allah dari kejisiman dan arah.”
Jika ditanyakan, “Mengapa rahasia ini tak boleh diungkap kepada mereka?” Jawabnya, “Sebab mereka memustahilkan jika sifat ini menjadi milik selain Allah. Karena bila engkau menyebut masalah ini, mereka akan menganggapmu kafir. Mereka berkata, “Ini adalah penyerupaan (tasybih) sebab engkau menggambarkan diri sendiri dengan sesuatu yang secara khusus menjadi sifat Allah swt. Inilah kebodohan terhadap sifat-sifat Allah yang paling khusus.”
Apabila dikatakan bahwa manusia itu hidup, mengetahui, kuasa, berkehendak, melihat, dan berbicara, sementara Allah juga demikian, hal ini tidak mengandung penyerupaan Allah dengan makhluk. Karena sifat-sifat ini bukan sifat Allah yang paling khusus. Demikian pula kebebasan dari tempat dan arah bukan sifat Allah yang paling khusus.
Sifat Allah yang paling khusus adalah Dia Berdiri Sendiri, dan selain Allah tidak. Maka, pada dirinya sendiri segala sesuatu hanyalah ketiadaan karena ia sekadar memiliki wujud pinjaman dari yang lain. Apa saja selain Allah mempunyai wujud—pinjaman—dari-Nya, sementara wujud Allah adalah wujud Dzati, bukan pinjaman. Dan sifat berdiri sendiri ini tidak ada yang memiliki kecuali Allah swt. Jika ditanyakan, “Apakah makna penisbatan ruh kepada Allah dalam firman-Nya, “Dan telah Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku.” (QS. al-Hijjr (15): 29)
Ketahuilah, ruh itu suci dari arah dan tempat. Ia memiliki potensi untuk mengetahui dan melihat segala objek yang diketahui. Hal ini sekaligus menjadi kesamaan dan kesesuaian yang tidak dimiliki seluruh materi. Karena itu, ia memperoleh keistimewaan dengan disandarkan kepada Allah swt.
“KEHIDUPAN MERUPAKAN PELITA, DARAH ADALAH MINYAKNYA, INDRA DAN GERAK MENJADI CAHAYANYA: SYAHWAT ADALAH SUHUNYA, MARAH MERUPAKAN ASAPNYA, POTENSI YANG MENCARI MAKANAN DAN TINGGAL DALAM HATI BERLAKU SEBAGAI PENJAGA DAN WAKILNYA.”
Lantas, apabila ditanyakan, “Apakah makna firman Allah swt. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS. al-Isra (17): 85), dan apa makna alam amar dan alam penciptaan?” Maka jawabannya, “Segala sesuatu yang memiliki jarak dan ukuran berarti materi dan aksiden, dan ini berarti alam penciptaan.
Penciptaan di sini dalam pengertian pengukuran, bukan pengadaan atau (proses) penciptaan. Karena di. katakan, “Penciptaan sesuatu” berarti ukurannya. Segala sesuatu yang tak memiliki kuantitas maupun ukuran, maka ia menjadi urusan rabbani. Dan perihal persamaan ini telah kami tuturkan.
Jadi, segala hal yang termasuk jenis ini, seperti ruh manusia dan malaikat disebut dengan alam amar. Dengan ungkapan lain, alam amar berarti wujud-wujud di luar jangkauan indra, imajinasi, arah, tempat, kecenderungan, jarak, dan ukuran. Karena hal-hal tersebut tidak memiliki kuantitas.
Jika dikatakan, “Hal ini mengesankan bahwa ruh itu kadim, bukan makhluk.” Jawabnya, “Pernyataan semacam ini adalah pemahaman orang-orang bodoh dan sesat. Barang siapa mengatakan ruh bukan makhluk karena tidak dibatasi kuantitas, tidak bisa dibagi-bagi, serta tidak butuh termnpat maka ia benar.
Akan tetapi, ruh adalah makhluk dalam pengertian sebagai sesuatu yang baru, bukan kadim. Sebab terjadinya ruh manusia itu tergantung pada kesiapan nuthfah, sebagaimana terjadinya gambar dalam cermin akibat jernihnya kaca, meski ia memiliki wujud yang mendahului terjadinya kejernihan kaca.”
Jika dikatakan, “Apakah makna sabda Rasulullah saw.
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti rupaNya. Menurut riwayat lain, seperti rupa ar-Rahman.” Maka jawabannya, rupa (shurah) adalah kata benda berkait (musytarak), yang kadangkala digunakan untuk menyebut urutan bentuk-bentuk, penyusunan, dan komposisi yang berbeda-beda. Dan ini adalah rupa yang dapat diindra. Terkadang juga digunakan untuk menyebut runtutan konsep-konsep yang tak terindra. Selain itu, konsep-konsep itu juga memiliki susunan, urutan, dan keserasian, yang disebut dengan shurah (rupa).
Sehingga dikatakan, “Gambaran persoalannya demikian…, gambaran peristiwanya semacam ini… dan gambaran ilmu-ilmu jasmaniah dan rasional seperti ini…”
Perihal gambaran yang disebutkan merupakan gambaran rasional dan konseptual, serta menyinggung tentang persoalan kesamaan yang telah kami jelaskan. Hal tersebut merujuk kepada Dzat, sifat-sifat, dan perbuatan.
Hakikat Dzat ruh adalah ia berdiri sendiri, bukan aksiden dan materi, bukan pula substansi yang membutuhkan tempat: tidak hinggap pada tempat maupun arah, tidak melekat pada tubuh dan alam, tidak pula terpisah, dan tidak berada di dalam atau di luar tubuh maupun alam. Kesemuanya ini adalah sifat-sifat Allah swt., yaitu: hidup, mengetahui, kuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berbicara.
Adapun perbuatan manusia bemula dari kehendak. Pertama-tama jejak-jejaknya tampak dalam hati. Menyebar melalui ruh hewani yang berupa uap lembut dalam lubang hati, lalu naik ke otak. Dari otak, jejak-jejak tersebut mengalir ke seluruh anggota tubuh sampai jari-jari. Kemudian, jari-jari itu pun bergerak dan menyebabkan geraknya pena, dan pena pun menggerakkan tinta. Dari tinta ini lahirlah gambar sesuatu yang ia kehendaki dalam perbendaharaan imajinasi untuk dituliskan di atas kertas.
Karena sesuatu itu tidak dibayangkan dalam imajinasi terlebih dahulu maka tidak mungkin diciptakan dari nol. Maka, barang siapa meneliti perbuatan-perbuatan Allah dan cara menciptakan berbagai binatang dan tetumbuhan di atas bumi, dengan cara menggerakkan bintang-bintang dan langit melalui perantara para malaikat, pasti mengetahui bahwa perilaku manusia di alamnya sendiri menyerupai perilaku Allah dalam makrokosmos (jagad besar). Dengan demikian, ia akan mampu memahamisabda Rasulullah saw,.,
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sepertirupa-Nya.”
Apabila dikatakan, “Jika arwah itu baru bersama jasad, lantas apa makna sabda Nabi Saw,
“Allah swt. menciptakan ruh dua ribu tahun sebelum menciptakan jasad.”
Dan sabda Nabi saw.
“Aku adalah Nabi yang paling pertama diciptakan dan paling akhir diutus. Aku sudah menjadi nabi, sementara Adam masih antara air dan tanah.”
Ketahuilah, sedikit pun sabda ini tidak menunjukkan kekadiman ruh, tapi sabda beliau “Aku adalah Nabi yang paling awal diciptakan” secara lahir bisa jadi menyiratkan kemendahuluan wujud ruh daripada jasad, sedangkan selainnya sudah jelas.
Maka dari itu, menakwilkan sabda ini adalah hal yang mungkin. Sementara dalil yang pasti tidak menolak petunjuk lahiriah, tetapi untuk mengendalikan penakwilan lahiriah, sebagaimana lahiriah penyerupaan berkaitan dengan Allah swt.
Sabda Nabi saw., “Allah swt. menciptakan ruh dua yibu tahun sebelum menciptakan jasad.” Artinya, arwah di sini adalah ruh para malaikat, dan yang dimaksud dengan materi (jisim) yaitu materi alam, seperti Arys, kursi, langit, bintang-bintang, udara, air, dan bumi.
Sedangkan sabda beliau, “Aku adalah Nabi yang paling pertama diciptakan,” mengandung arti bahwa penciptaan di sini adalah penentuan, bukan perwujudan. Karena sebelum Rasulullah dilahirkan oleh ibunya, beliau belum wujud dan tercipta. Namun tujuan dan kesempurnaan itu sudah lebih dahulu diukur (direncanakan), kemudian menyusul dalam wujudnya.
Demikianlah, Allah swt. terlebih dahulu mengukur dengan menggambarkan urusan-urusan Ilahiah di Lauh Mahfuzh berdasarkan ilmu-Nya. Jika engkau telah memahami dua macam wujud ini, maka Rasulullah telah ada sebelum adanya Adam as. Wujud pertama dalam perencanaan, bukan wujud indrawi yang nyata. Inilah perbicangan tentang makna ruh. Sungguh, Allah Mahatahu.









One Comment