Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Selanjutnya, perbedaan antara wujud, nafsu, dan setan pada magam penyaksian (nusyahadah) bahwa pada mulanya wujud itu sangat gelap: jika sedikit jernih, ia tampak di depanmu dalam bentuk mendung hitam, bila menjadi singgasana setan, ia akan berwarna merah: manakala sudah membaik dan kerendahannya menghilang, tinggallah kebenarannya.

Sehingga ia semakin jernih dan putih layaknya kapas. Apabila nafsu itu terlihat, warnanya biru ibarat langit. Ia memiliki sumber seperti memancar dari pusat mata air. Apabila ia menjadi singgasana setan, ia seolah mata kegelapan dan api. Mata airnya lebih kecil karena setan sama sekali tak membawa kebaikan.

Sementara itu, pancaran nafsu itu kepada wujud, dan wujud dididik olehnya. Jika nafsu ini jernih dan bersih, ia pancarkan kebaikan kepada wujud. Ketika nafsu memancarkan keburukan, maka lahirlah keburukan dari wujud.

Dengan demikian, setan adalah api yang tak jernih, bercampur dengan gelapnya kekufuran tingkat tinggi. Sehingga terkadang setan mewujud di depanmu dalam bentuk lelaki tinggi yang berwibawa. Ia berjalan seakan mencari jalan masuk ke dalam dirimu.

Jika kau menghendakinya pergi, ucapkanlah dalam hatimu “Wahai yang Maha Menolong orang-orang yang meminta pertolongan, berilah pertolongan kepadaku.” Maka setan pun meninggalkanmu.

Tasawuf

Tasawuf berarti mencampakkan nafsu dalam ibadah dan menggantungkan hati dengan hal-hal Ilahiah. Ada yang mengatakan, tasawuf adalah menyembunyikan kemiskinan dan melawan penyakit.

Berkaitan dengan hukum seorang sufi, selayaknya kefakiran menjadi perhiasannya, sabar menjadi minumannya, ridha menjadi binatang tunggangannya, dan tawakal menjadi tingkah lakunya. Hanya Allah swt. yang memberinya kecukupan. Ia gunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan.

Ia potong syahwat dan bersikap zuhud terhadap dunia, wara’ pada segala jatah nafsu, dan sama sekali tak memiliki keinginan pada dunia.

Jika ia harus mengambil dunia, keinginan tersebut tidak melampui batas kecukupannya. Hatinya bersih dari noda, sangat mencintai Tuhannya, dan berlari kepada Allah dengan sirri-nya. Segala sesuatu berlindung dan damai bersamanya, tetapi ia sama sekali tidak berlindung kepada sesuatu.

Dalam arti, ia tidak memiliki kecenderungan terhadap apa pun, tidak merasa tenteram bersama apa pun selain sesembahannya, sembari berpegang kepada yang lebih utama dan lebih penting. Ia pun senantiasa lebih berhati-hati dalam urusan agama, dan mendahulukan Allah atas segalanya.

Sahl bin “Abdullah berkata, “Seorang sufi adalah orang yang hatinya bersih dari noda-noda dan penuh pikiran. Baginya, tak ada bedanya antara emas dan batu.” Ada pula yang mengatakan, “Tasawuf berarti menjernihkan hati dari pertemanan dengan makhluk, meninggalkan akhlak yang biasa, memadamkan sifat-sifat kemanusiaan, melawan ajakan-ajakan nafsu, menetapi sifat-sifat ruhaniah, berpegang kepada ilmu-ilmu hakiki, dan mengikuti syariat Rasulullah saw.”

Seseorang berkata, “Sufi adalah orang yang selalu membersihkan waktu dari noda dengan menyucikan hati dari kotoran nafsu. Sedangkan yang membantunya adalah kefakirannya yang terus-menerus kepada tuannya. Dengan kefakirannya yang terus-menerus, ia mampu mengetahui noda.

Setiap kali nafsu bergerak dan muncul dalam satu perilaku, ia segera mengetahui dengan mata hatinya yang waskita, lalu segera berlari dari nafsu menuju Tuhannya. Dengan selalu membersihkan hati terjadi kesatuan, dan dengan gerak nafsu terjadi perpecahan dan noda. Dia berpijak kepada hati bersama Tuhannya, dan dengan berpijak pada nafsu bersama hatinya. Allah swt. berfirman,

“Wahaiorang-orang yangberiman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.” (QS. al-Ma ‘idah (5): 8)

Inilah kewajiban nafsu kepada Allah yang dapat terwujud melalui tasawuf.

Dasar-dasar Tasawuf

Dasar-dasar tasawuf di antaranya: Mengonsumsi makanan halal, mengikuti akhlak, perbuatan, perintah, dan sunah Rasulullah saw. Dalam hal ini, barang siapa tidak menghafal al-Quran dan tidak menulis hadis, maka ia tak bisa dijadikan panutan. Karena ilmu kita terikat oleh Kitab dan Sunah. Dan mazhab ini diambil dengan wara’ dan ketakwa, an, bukan dengan pengakuan-pengakuan.

Pada awalnya tasawuf adalah ilmu, tengahnya amal dan akhirnya pemberian. Ilmu bisa mengungkap tujuan, amal membantu mencari, dan pemberian mencapai puncak harapan.

Sementara pengikut tasawuf ada tiga tingkatan, ting. katan murid yang sedang mencari, tingkatan menengah yang sedang berjalan, dan tingkatan puncak yang telah wushul. Murid adalah pemilik waktu, yang menengah pemilik hal, dan tingkat puncak adalah pemilik keyakinan. Hal yang paling utama bagi mereka adalah menghitung nafas.

“KEBANYAKAN ORANG MENYESAL KARENA BICARA, TETAPI SEDIKIT ORANG YANG MENYESAL SEBAB DIAM.”

Magam murid adalah mujahadah dan mukabadah (bersusah payah), mencicipi kepahitan dan melawan kesenangan, serta hal-hal yang mengikuti nafsu. Magam golongan menengah, mengalami berbagai kesulitan dalam mencari murad (yang dikehendaki), memelihara kejujuran, dan mengenakan adab dalam berbagai magam.

Ia dituntut berpegang pada adab dari berbagai tingkatan, dan termasuk orang yang mengalami bermacam-macam hal karena masih berpindah dari satu hal ke hal lain. Maka, inilah yang disebut pertambahan.

Keadaan golongan puncak adalah kejernihan, keteguhan, memenuhi setiap panggilan Allah, dan telah melampaui berbagai magam. Ia berada pada posisi yang kokoh (tamkin): tidak berubah oleh berbagai kesulitan, dan tidak terpengaruh dengan beragam ahwal.

Tak ada bedanya antara keadaan sulit maupun lapang, ditahan maupun diberi, kesulitan maupun kesetiaan. Makannya seperti laparnya, tidurnya layaknya terjaganya. Semua kebahagiaannya (huzhuzh) telah Fana” dan yang tersisa tinggal hak-haknya (hugug).

Lahirnya bersama makhluk, sedangkan batinnya bersama Allah. Inilah ahwal Nabi saw. Sekiranya seseorang dari tingkatan puncak ini berdiri di atas dataran bumi tertinggi, lalu tertiup angin kencang, ia tetap bergeming seujung rambut pun.

Sehingga ada yang mengatakan bahwa mereka disebut sufi karena berada di barisan terdepan di hadapan Allah, dengan ketinggian tekad dan penghadapan mereka kepada Allah. Berdiri di hadapan Allah dengan hati mereka.

Golongan Malamafiyah:

Dalam hukum Mulamati, seseorang dituntut untuk tidak memamerkan kebaikan dan tidak menyembunyikan keburukan. Dengan ungkapan lain, otot-otot seorang Mulamati telah mencicipi rasa ikhlas dan mengetahui kejujuran secara pasti. Ia merasa tidak senang ketika ada seseorang yang mengetahui ahwal dan amalnya.

Bagi mereka, Malamatiyah merupakan keistimewaan yang lebih dalam berpegang teguh dan ikhlas. Mereka berpandangan untuk menyembunyikan ahwal dan menikmati penyembunyian tersebut sehingga jika amal dan ahwal mereka terlihat seseorang, mereka merasa gerah layaknya orang durhaka yang merasa gerah karena perbuatan maksiatnya terungkap. Jadi, Mulamati adalah markas terbesar untuk tempat dan posisi ikhlas, serta berpegang dan bersandar kepadanya. Dan, seorang sufi akan lebur dalam keikhlasan.

Abu Ya’qub as-Sausi berkata, “Ketika mereka menyaksikan ikhlas dalam keikhlasan mereka, maka keikhlasan tersebut membutuhkan keikhlasan.” Seorang sufi berkata, “Kebenaran ikhlas adalah lupa melihat makhluk karena selalu menyaksikan Allah swt., sedangkan Mulamati itu melihat makhluk hingga amal dan ahwal-nya tak tampak.”

Selain itu, Ja’far al-Khaladi berkata, “Aku bertanya kepada Abu Oasim al-Junaid, “Apakah ada perbedaan antara ikhlas dan jujur?” Ia menjawab, “Benar, kejujuran adalah pangkal dan yang pertama, sedangkan ikhlas merupakan cabang yang mengikutinya.” Lantas, ia berkata, “Ada perbedaan antara keduanya.

Karena ikhlas itu tidak terjadi melainkan setelah melakukan amal.” Ia juga berkata, “Sesungguhnya, itu tiada lain adalah pemurnian keikhlasan, dan kemurnian keikhlasan terletak dalam pemurnian. Oleh karena itu, di dalam keikhlasan ini terletak hal orang Mulamati, dan pemurnian keikhlasan merupakan hal orang sufi.

Kemurnian yang berada dalam pemurnian menjadi buah akhir (mukhalasah) keikhlasan, yaitu fana -nya hamba dari bentuk dirinya karena melihat keberdiriannya. Sebab yang Maha Berdiri, bahkan tidak melihat keberdiriannya karena tenggelam dalam Dzat darijejak-jejak dan lepas dari noda ketertutupan. Inilah ahwal seorang sufi. Sementara seorang Mulamati tinggal di dalam ruang-ruang keikhlasannya, tanpa melihat hakikat keikhlasannya.

Inilah perbedaan tegas antara Mulamati dan sufi. Seorang Mulamati, meski berpegang teguh kepada tali keikhlasan dan beralaskan hamparan kejujuran, ia masih mengalami sisa penglihatan terhadap makhluk.

Alangkah bagusnya sisa tersebut mewujudkan keikhlasan dan kejujuran. Dan, sufi adalah kebersihan dari sisasisa amal ini. Meninggalkan dan beruzlah dari makhluk secara total dengan mata fana” dan tidak abadi. Ia melihat kejernihan tauhid dan menyaksikan rahasia firman Allah, “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah” (QS. al-Qashash (28): 83)

Sebagaimana seorang sufi dalam ketidaksadarannya mengatakan, “Di dunia dan akhirat ini tidak ada wujud selain Allah,” penyembunyian ahwal oleh seorang Mularmnati karena salah satu dari dua hal: pertama, untuk memastikan keikhlasan dan kejujuran, kedua —yang lebih sempurnauntuk menutupi ahwal dari selainnya dengan jenis selain dirinya. 

“HIKMAH ADA SEPULUH BAGIAN: SEMBILAN DI ANTARANYA DALAM DIAM TERHADAP APA YANG TAK BERGUNA, DAN YANG KESEPULUH TERLETAK DALAM UZLAH DARI MANUSIA.”

Sebab, orang yang menyepi bersama kekasih tidak suka dilihat oleh selain dirinya. Bahkan karena kesungguhan cintanya, sampai-sampai ia tidak rela seseorang melihat cintanya kepada kekasih. Halini meski sudah tinggi, tetapi di jalan orang sufi masih ada penyakit dan kekurangan. Dengan demikian, seorang Mulamati lebih maju dari orang yang bertasawuf, dan lebih tertinggal daripada seorang sufi.

Ada yang mengatakan, salah satu dasar para penganut Malamatiyah adalah zikir yang terdiri dari empat macam, zikir secara lisan, zikir dengan hati, zikir dengan sirri, dan zikir secara ruh. Jika zikir ruh sudah benar, hati dan lidah berhenti berzikir. Kondisi ini disebut zikir haibah. Apabila zikir hati sudah benar maka lisan tak mampu berzikir. Inilah zikir anugerah dan nikmat. Dan, jika hati lalai dari zikir maka lisan mulai berzikir, dan ini menjadi zikir kebiasaan.

Masing-masing zikir di atas memiliki penyakit. Penyakit zikir ruh adalah dilihat oleh sirri. Penyakit zikir sirri dilihat oleh hati, penyakit zikir hati dilihat oleh nafsu, penyakit zikir nafsu yaitu melihat zikir dan mengagungkannya sekaligus meminta pahala, atau menyangka dengan zikir itu ia telah mencapai suatu magam.

Bagi mereka, manusia yang paling rendah nilainya adalah orang yang ingin menampakkan zikirnya, dan menarik simpati manusia dengan berzikir. Rahasia dari prinsip yang mereka jadikan pijakan adalah zikir ruh merupakan zikir kenikmatan: zikir sirri adalah zikir sifat-sifat: zikir hati dari anugerah dan kenikmatan yaitu zikir terhadap jejak-jejak sifat, zikir nafsu itu terancam penyakit.

Jadi, arti ucapan mereka, “Melihatnya sirri kepada ruh” menunjukkan kesungguhan fana” ketika zikirnya Dzat. Pada saat itulah, zikir kebesaran (haihah) adalah zikir sifatsifat atau hadirnya kebesaran. Sedangkan adanya haibah menuntut wujud atau bekas, dan hal itu berlawanan dengan kondisi fana”.

Dengan demikian, zikir sirri disebabkan hadirnya kebesaran. Ia adalah zikir sifat-sifat yang menyadarkan kedekatan. Sementara itu, zikir kedekatan yang juga zikir anugerah dan kenikmatan menyadarkan akan jauhnya sesuatu yang menyibukkan, guna mengingatkan kenikmatan dan kelalaian terhadap Pemberi nikmat. Sibuk dalam melihat pemberian dan lupa terhadap Sang Pemberi merupakan bentuk jauhnya derajat.

Dan, memerhatikan nafsu karena melihat tujuan menjadi persiapan bagi wujudnya amal. Inilah kekurangan sesungguhnya. Demikian macam-macam golongan sufi. Sebagian lebih tinggi dari sebagian lain. Dan, Allah Mahatahu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker