Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Raudhatut Thalibin Karya Imam Ghazali

Asma-asma di atas dan lainnya tidak keluar dari sepuluh bagian ini. Maka, analogikan asma yang belum kami sebutkan dengan yang telah kami sebutkan. Hal itu sebagai bentuk keluarnya asma-asma dari kesamaan arti, serta merujuk kepada sifat-sifat yang masyhur dan terhingga. Dan Allah Mahatahu. Mengertilah, makna asma-asma Allah itu terangkum dalam empat kata yang termasuk al-bagiyat ash-shalihat, yaitu: Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illa Allah wa Allahu Akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah: tiada Tuhan selain Allah: dan Allah Mahabesar).

Kalimat pertama, subhanallah. Dalam kalam Arab kalimat ini berarti penyucian dan pencabutan, peniadaan kekurangan dan aib dari Dzat dan sifat-sifat Allah swt Maka, di antara asma Allah yang berarti penegasian terma. suk kalimat seperti al-Guddus yang berarti suci dari aib, dan as-Salam yang bermakna selamat dari segala penyakit.

Kalimat kedua, al-hamdulillah. Kalimat ini mencakup penerimaan (itsbat) berbagai macam kesempurnaan pada Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Jadi, asma Allah yang mengandung makna penegasan, seperti al-Alim, al-Qadir, asSami’, dan al-Bashir, termasuk ke dalam kalimat ini. Dengan kalimat subhanallah, kita menafikan segala macam aib yang kita pikirkan dan segala kekurangan yang kita pahami.

Dan dengan alhamdulillah, kita tegaskan segala jenis kesempurnaan yang kita kenal dan segala bentuk keagungan yang kita ketahui. Di balik sifat yang kita tanggalkan dan sematkan terdapat hal-hal agung yang tak kita lihat dan saksikan. Karena itu, kita memastikannya secara menyeluruh dengan ucapan “Allahu Akbar.”

Allahu Akbar adalah kalimat ketiga. Artinya, Dia lebih Agung dari apa yang kita tiadakan dan yang kita adakan. Inilah makna sabda Rasulullah saw.,

“Aku tak bisa menghitung pujian terhadap-Mu. Engkau sebagaimana Engkau puji diri-Mu sendiri.”

Jadi, Asma Allah yang mengandung hal-hal yang tidak kita kenal dan tak kita ketahui, seperti al-A’la dan al-Muta’ali, tercakup dalam ucapan “Allahu Akbar” dalam wujud. Kita menafikan jika di antara maujud ini ada yang menyerupai atau menandingi Allah. Maka dari itu, kita pastikan hal ini dengan ucapan “La ilaha illa Allah.”

Kalimat keempat, Ia ilaha illa Allah. Karena uluhiyyah (ketuhanan) itu merujuk kepada hak untuk disembah, dan

“TAK SATU PUN PENGUASA YANG TIDAK DIRENDAHKAN OLEH ALLAH KARENA MENGIKUTI HAWA NAFSU, MELAMPAUI BATAS, DAN DURHAKA KEPADA TUANNYA.”

tak ada yang berhak disembah melainkan Dzat yang memiliki semua sifat yang telah kami tuturkan di atas. Jadi, Asma Allah yang mengandung semuanya secara global, seperti al-Wahid, al-Ahad, dan Dzul Jalal wa al-Ikram terangkum dalam ucapan “La ilaha illa Allah.”

Sesungguhnya, Dialah yang berhak disembah karena harus memiliki sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang tak bisa digambarkan oleh orang-orang yang menggambar, dan tak bisa dihitung oleh orang-orang yang menghitung. Jika kita memasuki al-bagiyat ash-shalihat dalam satu kalimat global, maka kalimat tersebut adalah “Alhamdulillah.” Semuanya terangkum di dalamnya.

Hal ini sebagaimana dikatakan as-Sayyid al-Jalil alImam al-Hafizh “Ali bin Abi Thalib ra., “Andai aku menghendaki untuk menenangkan unta dengan ucapan alhamdulillah, tentu akan kulakukan.”

Karena Alhamdulillah adalah pujian, dan pujian itu kadangkala terjadi dengan memastikan kesempurnaan terkadang dengan menampik (mencabut) kekurangan, kadang-kadang dengan mengakui ketidakberdayaan untuk menangkap pengetahuan, dan tidak jarang dengan mene. gaskan kesendirian dalam kesempurnaan. Dengan kata lain, kesendirian dalam kesempurnaan pujian dan kesem. purnaan puncak.

Sebagaimana telah kami sampaikan, kalimat alham, dulillah ini mencakup al-bagiyat ash-shalihat karena huruf alif dan lam (.  ) pada kalimat ini berfungsi menyapu-bersih seluruh jenis sanjungan dan pujian, baik yang kita ketahui maupun tidak.

Pujian ini tak akan sedikit pun keluar dari apa yang telah kami jelaskan. Tidak ada yang memiliki hak ketuhanan, kecuali Dzat yang memiliki semua sifat yang telah kami sampaikan. Tidak ada yang keluar dari keyakinan ini, bahkan malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus.

Tak satu pun penguasa yang tidak direndahkan oleh Allah karena mengikuti hawa nafsu, melampaui batas, dan durhaka kepada Tuannya. Mereka adalah kaum yang diliputi rendahnya hijab, diusir dari pintu, dan dijauhkan darisisi (Allah). Oleh sebab itu, manusia yang terhijab dari pengagungan dan makrifat kepada-Nya di dunia, ia layak terhijab dari penghormatan dan penyaksian-Nya di akhirat.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker