Tawakkal
(وعليك) بالتوكل على الله، فإن من توكل على الله كفاه وأغناه وتولاه (ومن يتوكل على الله فهو حسبه) والتوكل من ثمرات صدق التوحيد وثباته في القلب واستيلائه عليه. قال الله تعالى: (رب المشرق والمغرب لا إله إلا هو فاتخذه وكيلاً) فانظر كيف بدأ بإثبات الربوبية ثم بإثبات الانفراد بالإلهية ثم أمرنا بالتوكل عليه جل وعلا فلم يبق في تركه عذر للبرية، وقد أمر الله عباده بالتوكل عليه ورغبهم فيه بقوله: (وعلى الله فليتوكل المؤمنون) وبقوله تعالى: (فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لو توكلتم على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خِمَاصاً وتروحُ بطاناً”.
(واعلم) أن أصل التوكل على الله معرفة القلب بأن الأمور كلها بيد الله ما ينفع منها وما يضر وما يسوء منها وما يسر وأن الخلق لو اجتمعوا كلهم على أن ينفعوه بشيء لم ينفعوه إلا بشيء قد كتبه الله له أو على أن يضروه بشيء لم يضروه إلا بشيء قد كتبه الله عليه.
ويشترط لصحة التوكل أن لا تعصي الله بسببه وأن تجتنب ما نهاك عنه وتفعل ما أمرك به معتمداً في جميع ذلك عليه ومستعيناً به ومفوضاً إليه.
ولا يقدح في توكلك دخولك في شيء من الأسباب الدنيوية إذا كنت معتمداً على الله دونه.
نعم مَن صدق توكله ضعف دخوله في الأسباب الدنيوية، وأما التجرد عنها بالكلية فلا يحمد إلا في حق من دام إقباله على الله وطهر قلبه عن الالتفات إلى غير الله ولم يضيع بسببه من هم عيال عليه من خلق الله، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “كفى بالمرء إثماً أن يضيِّع من يعول”.
(واعلم) أن الادخار والتداوي من الأمراض لا يقدحان في أصل توكل من يعلم أن المغني والنافع والضار هو الله وحده وقد ادخر رسول الله صلى الله عليه وسلم لعياله لبيان الجواز، وأما هو صلى الله عليه وسلم فما كان يدخر لنفسه شيئاً إلى غد وربما ادخر له غيره فنهاه عند الشعور به. ولما سئل عليه الصلاة والسلام عن السبعين الألف الذين يدخلون الجنة بغير حساب من أمته فقال: “هم الذين لا يسترْقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون”.
وللمتوكل الصادق ثلاث علامات: “الأولى” أن لا يرجو غير الله ولا يخاف إلا الله، وعلامة ذلك أن لا يدع القول بالحق عند من يرجى ويخشى عادة من المخلوقين كالأمراء والسلاطين. “والثانية” أن لا يدخل قلبه همّ الرزق ثقة بضمان الله بحيث يكون سكون قلبه عند فقد ما يحتاج إليه كسكونه في حال وجوده وأشد. “والثالثة” أن لا يضطرب قلبه في مظان الخوف علماً منه أن ما أخطأه لم يكن ليصيبه وما أصابه لم يكن ليخطئه.
ومن هذا القبيل ما حكي أن سيدي الشيخ عبد القادر الجيلاني نفع الله به كان يتكلم في القدر فسقطت عليه حية عظيمة ففزع الحاضرون فَرقاً فالتفَّت على عنق الشيخ ودخلت من أحد كميه وخرجت من الآخر والشيخ نفع الله به ثابت لم يضطرب ولم يقطع كلامه.
وقيل لبعض الشيوخ وقد طُرح للسبع ليأكله فلم يؤذه: في أي شيء كنت تفكر حين طُرحت للسبع قال في حكم سؤر السباع من العلم. وحسبنا الله ونعم الوكيل.
Hendakhya engkau selalu bertawakal kepada Allah SWT Karena barangsiapa tawakal dan pasrah kepada Allah SWT, maka ia pun akan dicukupi, ditolong dan selalu dikasihani-Nya.
Janji Allah:
“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. ath-Thalaq: 3)
Tawakal tumbuh dari buah tauhid yang mantap dan sudah mendarah daging dalam hati dan diterapkan dalam kehidupan seharihari.
Maha benar Allah dalam firman-Nya:
“(Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. al-Muzammil: 9)
Renungkan ayat di atas, mengapa Allah menetapkan sifat ketuhanan dan keesaan-Nya, lalu Ia memerintahkan kepada kita untuk bertawakal dan mencari perlindungan pada-Nya.
Oleh karena itu, tak ada lagi alasan bagi setiap makhluk untuk tidak selalu bertawakal, bahkan Allah pun selalu memerintahkan mereka untuk itu karena Ia sangat mencintai orang-orang yang bertawakal sesuai dengan firman Nya,
“… dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.” (QS. al-Maidah: 11)
Allah berfirman:
“Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orangorang yang bertawakal kepada-Nya.” (OS. Ali Imran: 159) Sabda Rasulullah Saw:
“Andaikan kamu bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, niscaya Dia memberi rezeki kepadamu laksana rezeki yang diberikan kepada burung, di waktu pagi kosong perutnya dan waktu sore perutnya penuh dengan makanan.” (al-Hadis)
Ketahuilah bahwa inti tawakal kepada Allah SWT ialah sadarnya hati bahwa segala sesuatu berada di tangan Nya, baik yang bermanfaat, bermudharat, yang menyusahkan serta yang membahagiakan. Sangat meyakini bahwa seandainya seluruh makhluk dikumpulkan untuk memberi kemanfaatan ataupun kemudharatan, maka mereka sedikit pun tak akan mampu melaksanakannya kecuali dengan adanya ketetapan dan ketentuan dari Allah SWT.
Syarat-syarat tawakal ialah: Tidak bermaksiat, menjauhi segala larangan Allah SWT dan menjalankan setiap perintah-Nya dengan bersandar, memohon pertolongan dan selalu pasrah kepada-Nya, tidak Merusak sifat tawakal seseorang jika dia berkecimpung dalam urusanUrusan (sebab-sebab) dunia (seperti berdagang, bekerja) selama dia hanya bergantung kepada Allah dan tidak bergantung pada urusan dunia (pekerjaan, perdagangannya).
Barangsiapa konsekuen dalam bertawakal, maka ia tak akan berlebihan mencari keduniaan dan mampu menjauhinya semaksimal mungkin serta memantapkan dirinya pada Allah SWT dengan kesucian hati tanpa menelantarkan tanggungan keluarganya.
Rasulullah Saw bersabda:
“Cukuplah suatu dosa bagi seseorang yang menelantarkan tanggungannya (keluarganya).” (al-Hadis)
Ketahuilah, bahwa menyimpan makanan dan obat-obatan tak akan merusak dan menodai nilai tawakal seseorang selama ia menyadari bahwa hanya Allah yang memberi kekayaan, kemanfaatan dan kemelaratan pada makhluk-Nya. Bahkan Rasulullah pun menyimpan makanan untuk keluarganya dan ini beliau lakukan hanya untuk memberi penegasan bahwa penyimpanan makanan untuk keluarga diperbolehkan oleh agama. Akan tetapi beliau tidak melakukan hal itu untuk dirinya sendiri dan kadang orang lain menyimpankan makanan untuk Rasulullah, dan Rasulullah melarang sahabatnya melakukan hal serupa waktu beliau mengetahui hal tersebut.
Beliau pernah ditanya tentang tujuh puluh ribu orang umat beliau yang masuk surga tanpa hisab, maka beliau menjawab,
“Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah meminta mantera, tidak pernah memuji diri mereka dengan berlebihan serta tak pernah mempercayai ramalan-ramalan, dan kepada Tuhan, mereka selalu bertawakal.” (al-Hadis)
Tanda-tanda orang yang memiliki ketawakalan murni. Pertama, tidak berharap dan tidak takut kepada sesuatu selain Allah, berani menyampaikan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan kebaikannya dan ditakuti kejahatannya, yaitu para penguasa dan raja.
Kedua, tidak terlalu mementingkan masalah rezeki karena ia yakin bahwa kesemuanya adalah tanggungan Allah. Walaupun kebutuhannya tak terpenuhi, tetapi jiwanya tetap tenang seolah-olah segalanya telah terpenuhi. Ketiga, hatinya tak pernah merasa takut dan gentar karena ia yakin bahwa segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya pasti tak akan mengenainya, begitu juga sebaliknya.
Dikisahkan bahwa Syekh Abdul Oadir al-Jailany r.a ketika sedang memberikan penjelasan mengenai takdir, tiba-tiba jatuh seekor ular yang sangat besar menuju arah beliau, kemudian melingkari leher beliau lalu masuk ke salah satu lengan baju beliau dan keluar melalui lengan yang lain. Melihat kejadian seperti itu hadirin seketika meninggalkan tempat dengan ketakutan dan histeris yang memenuhi jiwa mereka, tetapi beliau tetap tegar melanjutkan penjelasannya.
Ada pula seorang ulama yang sengaja dilemparkan ke hadapan binatang buas, tetapi anehnya ia selamat, binatang itu pun tak berani menyakitinya.
Ketika ditanya, “Apa yang sedang kau pikirkan ketika engkau berada di depan binatang buas itu?” Ia menjawab, “Aku hanya khawatir kalau air liur binatang buas itu menempel padaku, tetapi aku tak pernah merasa takut padanya karena cukuplah bagiku Allah SWT sebaik-baik Pelindung.









One Comment