Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Risalatul Muawanah Karya Habib Al Haddad

Rela dengan ketentuan Allah

وعليك بالرضا بقضاء الله تعالى فإن الرضا بالقضاء من أشرف ثمرات المحبة والمعرفة، ومن شأن المحب أن يرضى بفعل محبوبه حُلواً كان أو مُراً، وقد قال صلى الله عليه وسلم عن الله: “من لم يرض بقضائي ولم يصبر على بلائي فليلتمس رباً سواي”.

وقال عليه الصلاة والسلام: “إن الله إذا أحب قوماً ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط”.

فالواجب عليك أيها المؤمن أن تعلم وتعتقد أن الله تعالى هو الذي يهدي ويضل ويشقي ويسعد ويقرب ويبعد ويعطي ويمنع ويخفض ويرفع ويضر وينفع، فإذا علمت ذلك وآمنت به فالواجب عليك أن لا تعترض على الله في شيء من أفعاله لا ظارهاً ولا باطناً، ولسان الاعتراض أن تقول لم كان هذا، ولأي شيء كان هذا، وهلا كان هذا كذا، وبأي ذنب استحق فلان ما جرى علي.

فمن أجهلُ ممن يعترض على الله في مُلكه وينازعه في سلطانه، وهو مع ذلك يعلم أنه تعالى هو المنفرد بالخلق والأمر والحكم والتدبير يفعل ما يشاء ويحكم ما يريد (لا يسأل عما يفعل وهم يسألون) بل الواجب عليك أن تعتقد أن جميع أفعال الله تعالى وقعت على وجه لا أحكم منه ولا أعدل ولا أفضل منه ولا أكمل.

وهذا حكم الرضى بأفعال الله تعالى على وجه الإجمال، وأما على وجه التفصيل، فإن الأمور التي تخصك على قسمين (منها) ما يلائمك كالصحة والغنى وهذا القسم لا يتصور فيه سخط إلا من حيث نظرك إلى من فضل عليك في ذلك فالواجب عليك عنده أن ترضى بما قسم الله لك من حيث أن له سبحانه وتعالى أن يفعل في ملكه ما يشاء أو من حيث أنه تعالى قد اختار لك ما هو الأصلح لك والأنسب لحالك وهذا أكمل (ومنها) مما لا يلائمك كالمصائب والأمراض والآفات فحرام عليك أن تتبرم بشيء من ذلك أو تجزع عنده، بل الأكمل لك أن ترضى وتسلّم فإن لم تستطع فلتصبر ولتحتسب، قال النبي صلى الله عليه وسلم: “اعبد الله تعالى بالرضا فإن لم تستطع ففي الصبر على ما تكره خير كثير”.

وليس من الرضا في شيء ما يجده بعض الأغبياء من الطمأنينة عند ترك بعض المأمورات وارتكاب بعض المحظورات فإن فعل المعاصي وترك الطاعات مما يسخط الله تعالى فكيف يرضى هو بشيء لا يرضى الله به قال الله تعالى: (إن تكفروا فإن الله غنيٌّ عنكم ولا يرضى لعباده الكفر وإن تشكروا يرضَه لكم) وإنما رضي هذا المسكين عن نفسه وظن أنه رضي عن ربه، والرضا عن الله وعن النفس يبعد أن يجتمعا في موطن واحد.

وما أحسن ما قاله الإمام الغزالي رضي الله عنه في رسالته إلى أبي الفتح الدمشقي رحمه الله: الرضا هو أن ترضى بما يفعل الله باطناً وتفعل ما يرضيه ظاهراً. فإن أراد العبد أن يعرف ما عنده من الرضا فلْيلتمسه عند نزول المصائب وورود الفاقات واشتداد الأمراض فسوف يجده هناك أو يفقده.

وكثيراً ما تسمع من سَفلة أبناء الزمان حين يقال لهم ما لكم تتركون الطاعات وتفعلون المحرمات فيقولون هذا شيء قد قضاه الله علينا وقدَّره لنا ولا محيص لنا عنه وإنما نحن عبيد مقهورون فهذا هو مذهب الجبرية بعينه، ومنتحله قائل بلسان حاله إن لم يقل بلسان مقاله: لا فائدة في إرسال الرسل وإنزال الكتب، ويا عجباً كيف يصدر ممن يدعي الإيمان الاحتجاج لنفسه على ربه ولله الحجة البالغة على جميع خلقه، أم كيف يرضى المؤمن لنفسه أن يتشبه بالمشركين القائلين: (لو شاء الله ما أشركنا ولا آباؤنا ولا حرمنا من شيء) أولا يسمع ما رد الله عليهم به إذا يقول لنبيه (قل هل عنكم من علم فتخرجوه لنا إن تتبعون إلا الظن وإن أنتم إلا تخرصون).

ثم إنه لا يسع المشركين إذا رجعوا إلى الله أن يحتجوا بهذه الحجة الداحضة عند الله بل يقولون: (ربنا غلبت علينا شقوتنا وكنا قوماً ضالين) (ربنا أبصرنا وسمعنا فارجعنا نعمل صالحاً إنا موقنون).

(واعلم) أن الدعاء والإلحاح فيه لا يقدح في الرضا بل هو من الرضا والدعاء معرب عن التحقق بالتوحيد وهو لسان العبودية وعنوان التحقق بالعجز والاضطرار والذل والافتقار، ومن تحقق بهذه الأوصاف عرف ووصل، وعلى غاية القرب من الله حصل، وقد ورد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الدعاء مخ العبادة وسلاح المؤمن ونور السماوات والأرض أن من لا يسأل الله يغضب عليهم”. وقال مولانا جلت قدرته: (ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها) (وقال ربكم ادعوني أستجب لكم).

وما وقع من الخليل عليه السلام من الإمساك عن الدعاء حين طرح في النار إنما ذلك لسرٍّ يختص بتلك الحال وإلا فقد حكى الله عنه الدعاء في مواضع عديدة من كتابه بل لم يحك عن أحد من الأنبياء أكثر مما حكاه عنه، فتفقه في كتاب الله واستخرج العلوم منه فإنها بجملتها مودعة فيه لا يشذ منها دقيق ولا جليل ولا جلي ولا خفي. قال الله تعالى: (ما فرطنا في الكتاب من شيء) (وأنزلنا عليك الكتاب تبياناً لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين).

Hendaknya engkau pun selalu rela dengan ketentuan Allah SWT, karena kerelaan merupakan hasil dari mahabbah dan makrifat yang paling mulia.

Orang yang cinta sudah sewajarnya rela dengan tindakan kekasihnya, manis atau pahit baginya sama saja.

Allah SWT berfirman dalam hadis gudsi:

“Barangsiapa tidak rida dengan gadha-Ku dan tidak sabar atas cobaan-Ku, maka carilah Tuhan selain-Ku.” (HR. Ibnu Hibban, Thabrani, Abu

Dawud dan Ibnu Asakir)

Sabda Rasululiah Saw:

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Allah memberi cobaan kepada mereka. Maka, barangsiapa rida (atas cobaan-Ku), baginya keridaan(Ku). Dan barangsiapa murka (atas cobaan-Ku), baginya kemurkaan-Ku.” (al-Hadis)

Oleh karena itu, wajib bagi dirimu, wahai orang yang beriman Intuk mengetahui dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa hanya Allah yang memberi petunjuk dan kesesatan, kesusahan dan kebahagiaan, mendekatkan dan menjauhkan, memberi dan menahan, merendahkan dan meninggikan, memberi mudharat dan manfaat. Bila kesemuanya telah engkau ketahui dan engkau beriman padanya, maka wajib bagimu untuk tidak menentang Allah secara lahir dan batin, atau dengan perkataan yang bersifat memprotes Allah SWT.

Mengapa ini terjadi? Untuk apa hal ini terjadi? Apa sebabnya hal ini terjadi? Dosa apa yang menyebabkan si Fulan mendapat cobaan seperti itu?

Tak ada perbuatan yang lebih bodoh daripada menentang Allah atas kerajaan dan kekuasaan-Nya. Padahal ia telah mengetahui bahwa hanya Allah yang berkuasa dalam penciptaan, pemerintahan, penghukuman serta pengaturan atas setiap makhluk. Ia pun berhak melakukan segala sesuatu yang Ia inginkan dan menghukum siapapun yang Ia kehendaki.

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatnya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. al-Anbiya’: 23)

Dalam hal ini wajib bagimu untuk yakin bahwa semua pekerjaan Allah pasti terjadi dan tak ada hukum yang lebih kuat, lebih adil dan lebih sempurna selain dari-Nya. Penjelasan di atas mengandung pengertian rida dengan ketentuan Allah secara global.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita amati lebih rinci pengertian rida (rela) yang dalam hal ini terbagi menjadi dua bagian.

Pertama, segala sesuatu yang selalu menyertaimu seperti kesehatan dan kekayaan. Pada bagian ini tak akan terbayang bagimu rasa sesal dan rasa tidak senang kecuali bila engkau memandang pada orang: orang yang memiliki kelebihan dalam kedua masalah ini.

Maka dari itu, wajib bagimu rida dengan kesehatan dan kekayaan yang telah diberikan oleh Allah, telah memilihkan sesuatu yang membawa kemaslahatan dan paling sesuai dengan keadaanmu.

Kedua, sesuatu yang jarang sekali menimpa dirimu seperti bencana, nyakit dan kemiskinan. Dilarang mengeluh dan menyesali keadaan, yang terbaik bagimu ialah bersikap rida dan tawakal, dan bila engkau ak mampu melakukannya, maka bersabarlah dan puas dengan pemberian Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda: 

“Sembahlah Allah dengan rida. Bila engkau tak mampu, maka bersabarlah atas segala sesuatu yang tak engkau sukai karena di dalamnya banyak mengandung nilai kebaikan.” (al-Hadis)

Lain halnya dengan orang-orang bodoh yang senantiasa merasa tenang dengan meninggalkan perintah Allah dan menjalankan larangan-Nya dan mereka pun berdalih bahwa mereka rida dengan ketentuan Allah SWT.

Melakukan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan tak akan menimbulkan rida Allah, bahkan murka-Nya yang akan mereka peroleh. Oleh karena itu bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa mereka rida pada Allah padahal Allah sendiri tidak rida kepada Mereka,

Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya, danjika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuran itu.” (QS. az-Zumar: 7)

Sesungguhnya keridaan mercka hanya tercurah pada diri mereka sendiri, tetapi mereka justru mengira hahwa mereka telah rida pada Allah SWT Maka, perlu kita ketahui bahwa rida pada nafsu dan rida pada ketentuan Allah SWT tak akan pernah menyatu.

Imam al Ghazali berkata kepada Abil Fathi ad Dimsygi, “Rida akan ketentuan Allah, secara batin ialah engkau rela menerima segala sesuatu yang dikerjakan oleh Allah SWT Sedangkan secara lahir ialah engkau selalu rida mengerjakan segala sesuatu yang diridai-Nya.”

Untuk mengetahui tingkat keridaan seseorang akan qadha Allah SWT. maka perhatikan bagaimana sikapnya ketika ia tertimpa musibah berupa penyakit dan kemiskinan. Pada saat itulah engkau dapat menilai kadar keridaannya pada Allah SWT.

Pada saat sekarang ini, jika engkau bertanya pada orang-orang yang melakukan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, “mengapa engkau berbuat seperti itu?”

Mereka menjawab, “Tindakan kami ini sebenarnya telah ditakdirkan oleh Allah dan kami pun tak mampu melepaskannya karena kami hanyalah hamba-hamba yang tak berdaya.”

Ini adalah jawaban kaum Jabariyah. Kalau begitu kita harus mempertanyakan pula, “Apa perlunya Allah mengangkat rasul-rasul dan menurunkan beberapa kitab suci bagi mereka?”

Pendapat mereka telah nyata salah dan menyimpang dari kebenaran.

Bahkan sangat mengherankan sekali, mereka berhujjah dalam masalah keimanan dan mereka merasa hujjahnya lebih benar dari Allah SWT.

Seharusnya seorang mukmin tidak berkata seperti perkataan kaum musyrikin yang terdapat dalam firman Allah SWT:

“Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan nenek moyang kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” (QS. al-An am: 148)

Lalu Allah menjawab:

“Katakanlah (wahai Muhammad), apakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada Kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.” (QS. al-An’am: 148)

Dengan demikian di akhirat kaum musyrikin tak akan mampu berkomentar dengan dalih seperti di atas, bahkan mereka berkata:

“Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat.” (QS. al-Mukminun: 106)

“Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. as-Sajdah: 12)

Doa tak akan menodai kesucian rida pada ketentuan Allah. Bahkan ia berfungsi mendekatkan dan mengungkapkan rasa pengabdian. Fungsi Jain dari doa ialah menyatakan dan mengakui bahwa diri kita lemah, hina dan selalu butuh pertolongan-Nya. Bila hal ini engkau hayati dan amalkan, maka engkau akan merasa benar-benar telah dekat dengan-Nya.

Sabda Rasulullah Saw:

“Doa adalah kunci ibadah, senjata mukmin, cahaya langit dan bumi Barangsiapa tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (al-Hadis)

Maha benar Allah dalam firman-Nya:

“Allah mempunyai nama-nama baik, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS. al-A’raf: 180)

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan.” (QS. Ghafir: 60)

Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim tidak mengucapkan doa apa pun ketika ia dilemparkan ke dalam api Hal ini dikarenakan adanya sebab-sebab tertentu yang dialaminya dalam kondisi seperti itu.

Tetapi dalam peristiwa-peristiwa lain beliau senantiasa berdoa kepada Allah SWT bahkan kisah-kisahnya yang banyak terungkap di dalam Al-Qur’an daripada nabi-nabi lainnya. Oleh sebab itu, kaji dan perdalami ilmu-ilmu yang terdapat dalam Al-Qur’an yang merupakan sumber dari segala ilmu. Pelajari secara menyeluruh yang rumit dan umum serta yang nyata dan abstrak.

“Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Qur’an.” (QS. al-An’am: 38)

Dan dalam firman-Nya yang lain:

“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an untuk menjelaskan sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. an-Nahi: 89)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker