Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Risalatul Muawanah Karya Habib Al Haddad

Bersyukur

(وعليك) بالشكر لله على ما أنعم به عليك، وما بك من نعمة في ظاهرك وباطنك ودينك ودنياك إلا وهي من الله، قال الله تعالى: (وما بكم من نعمة فمن الله) ولله عليك من النعم ما تعجز عن عده وحده وإحصائه فضلاً عن القيام بشكره (وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها) ولو أن الفقير المريض من الموحدين تفكر فيما لله عليه من النعم لشغله أداء شكره عن مكابدة الصبر فعليك ببذل الاستطاعة في شكر ربك ثم بالاعتراف بالعجز عن القيام بما يجب عليك من شكره.

(واعلم) أن الشكر سبب لإبقاء النعم الموجودة ووسيلة إلى حصول النعم المفقودة. قال الله تعالى: (لئن شكرتم لأزيدنكم) والله تعالى أكرم من أن ينزع نعمه عن شاكر. وقال تعالى: (ذلك بأن الله لم يك مغَيِّراً نعمة أنعمها على قوم حتى يغيروا ما بأنفسهم) أي بترك الشكر عليها، وقد أمر الله عباده بشكره في عدة مواضع من كتابه، قال الله تعالى: (كلموا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون) وقال تعالى: (كلوا من رزق ربكم واشكروا له) وقال عليه الصلاة والسلام: “ليتخذ أحدكم لساناً ذاكراً، وقلباً شاكراً) وقال عليه السلام: “الإيمان نصفان نصف صبر ونصف شكر).

(واعلم) أنه كما يجب عليك أن تشكر الله على النعم الخاصة بك كالعلم والصحة، كذلك يجب عليك أن تشكره على النعم العامة كإرسال الرسل وإنزال الكتب ورفع السماء وبسط الأرض.

وأصل الشكر معرفة القلب بالنعم وأنها من الله وحده لم يصل إليها شيء منها بحوله وقوته بل بفضل الله ورحمته. وغاية الشكر أن تطيع الله بكل نعمة أنعم بها عليك فإن لم تطعه بها فقد تركت الشكر عليها وإن عصيته بها فقد وقعت في الكفران، وعنده تتبدل النعم بالنقم ومن بقيت عليه نعمة مع عصيانه لله بها فهو مستدرج. قال الله تعالى: (سنستدرجهم من حيث لا يعلمون) (إنما نملي لهم ليزدادوا إثماً).

وفي الحديث: “إن الله يملي للظالم حتى إذا أخذه لم يفلته”

ومن الشكر كثرة الثناء على الله والفرح بالنعم من حيث أنها وسيلة إلى نيل القرب من الله أو من حيث أنها دالة على عناية الله بعبده.

ومن الشكر تعظيم النعمة وإن كانت صغيرة، يروى عن الله أنه قال لبعض أنبيائه: إذا سُقت إليك حبة مسوَّسة فاعلم أني قد ذكرتك بها فاشكرني عليها.

ومن الشكر التحدث بالنعم من غير خروج إلى ما يوهم تزكية النفس في الدينيات والتبجح بالدنيا في الدنيويات، والأعمال بالنيات والخير كله في الاقتداء بالسلف الصالح في جميع الحالات والله تعالى أعلم.

Hendaklah engkau selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadamu secara lahir dan batin serta yang berhubungan denganagamadan duniamu. Ingatlah, semuanikmatadalah dari Allah &.

Maha benar Allah dalam firman-nya:

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (QS. an-Nahi: 53)

Nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadamu tak akan mampu kau jumlah dan kau hitung, apalagi kau syukuri dengan sempurna.

“Dan jika kamu Bean nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. an-Nahl: 18)

Orang fakir atau sakit seumpamanya mau berpikir nikmat apa saja yang dikaruniakan Allah kepada mereka niscaya mereka akan disibukkan dengan bersyukur dari sabar terhadap musibah yang dia alami.

Maka hendaknya engkau selalu mensyukuri nikmat Tuhanmu semaksimal mungkin, kemudian mengakui ketidakmampuanmu dalam melaksanakan syukur sesuai yang diwajibkan atasmu.

Ketahuilah bahwa syukur itu dapat mengekalkan nikmat dan mengundang nikmat-nikmat yang lain.

Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Dan Allah tak akan mencabut nikmat-Nya dari orang-orang yang mau bersyukur.

Firman Allah SWT:

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekalikali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (yakni hingga mereka tidak mau bersyukur).” (QS. al-Anfal: 53)

Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah menyuruh supaya manusia bersyukur kepada-Nya.

Maha benar Allah dalam firman-Nya:

“Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

“Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.” (OS. Saba’: 15)

Dalam hal ini Rasulullah Saw menegaskan:

“Iman ada dua bagian. Pertama, sabar. Kedua, syukur.” (HR. Baihagi dari Anas)

Ketahuilah, sebagaimana wajib bagimu mensyukuri nikmat Allah yang khusus dianugerahkan kepadamu, seperti ilmu dan kesehatanmu, demikian juga engkau wajib mensyukuri nikmat umum, seperti terutusnya para rasul, turunnya beberapa kitab suci, terangkatnya langit dan terbentangnya bumi.

Ketahuilah, pengetahuan hati dengan beberapa rangkaian nikmat, yaitu nikmat apa pun tidak akan sampai dengan daya dan kekuatan seseorang, kecuali dengan fadilah dan rahmat Allah. Pengetahuan ini juga merupakan perwujudan rasa syukur.

Rasa syukur secara maksimal dapat engkau tunjukkan dengan ketaatanmu kepada Allah SWT atas setiap nikmat yang diberikan kepadamu. Jika engkau tidak mentaati Allah dengan nlkmat-nikmat itu, maka engkau telah meninggalkan syukur nikmat. Dan jika engkau mempergunakan nikmat-nikmat itu untuk durhaka kepada-Nya, maka engkau telah jatuh ke dalam kekufuran, yaitu kufur nikmat yang senantiasa mengantarkan kita pada siksa Allah SWT.

Barangsiapa masih tetap dalam kenikmatan meskipun ia bergelimang maksiat, maka sebenarnya ia telah ditarik oleh Allah SWT ke arah kebinasaan secara berangsur-angsur.

“Nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. al-A’raf: 182)

Dan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.” (QS. Ali-Imran: 178)

Nabi Saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah sengaja menangguhkan siksa orang-orang zalim sehingga jika Allah sudah menyiksa mereka, maka Dia tidak akan melepaskannya lagi.” (al-Hadis)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya memperbanyak pujian dan Syukur pada Allah atas kelapangan dan kebahagiaan yang diberikan padanya adalah merupakan alat pendekatan diri kita kepada-Nya dan penyebab tercurahnya pertolongan dari-Nya.

Hendaklah engkau selalu mengagungkan nikmat, walaupun nikmat tu kecil nilainya.

Allah SWT berfirman kepada para nabi-Nya:

“Apabila Aku memberikanmu sebuah biji yang berulat sekalipun, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku masih mengingatmu, maka berSyukurlah kepada-Ku.”

Ketahuilah bahwa seringnya membicarakan nikmat Allah SWT atas diri kita bukan berarti kita ingin membanggakan diri kita, baik nikmat yang berhubungan dengan keagamaan maupun keduniaan.

Setiap amaliyah tergantung pada niatnya, sedangkan seluruh kebaikan dalam segala hal hendaknya selalu mengikuti tuntunan para salaf.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker