Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Risalatul Muawanah Karya Habib Al Haddad

Hendaklah engkau selalu sabar, karena sabar adalah sendi dasar yang harus kau miliki selama kamu hidup di dunia ini. Ia pun termasuk akhlak yang mulia dan keutamaan-keutamaan yang agung.

Maha benar Allah dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Maha benar Allah dalam firman-Nya:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” (QS. as-Sajdah: 24)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar: 10)

Sabda Rasulullah Saw:

“Sabar itu menjadi panglima tinggi, bala tentaranya orang yang beriman,” (al-Hadis)

Beliau bersabda:

“Bersabar atas sesuatu yang engkau benci itu mengandung kebaikan yang berlimpah ruah.” (al-Hadis)

Nabi Saw pernah bersabda kepada Ibnu Abbas :

“Dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran dan suka cita itu beserta duka cita, serta kemudahan itu beriring dengan kesulitan.” (al-Hadis)

Ketahuilah, cita-cita dapat diraih dengan sukses bila ia sering mendekatkan diri kepada Allah. Realisasi pendekatan dapat dilaksanakan dengan mengikuti yang hak dan menjauhi kebatilan selama-lamanya.

Nafsu manusia ditinjau dari faktor asalnya senantiasa membenci yang hak dan cenderung menjalankan kebatilan. Orang yang keinginannya hanya untuk memperoleh kebahagiaan, selalu

membutuhkan kepada sikap sabar. Terkadang ia memaksa dirinya

Untuk mengikuti kebenaran, dan terkadang memaksanya untuk menjauhi kebatilan.

Sabar itu sendiri terbagi atas empat bagian:

  1. Sabar mengerjakan ketaatan,

Secara batin diperoleh dengan cara bersikap ikhlas, tulus hati dan khusyuk. Dan secara lahir diwujudkan dengan kerutinan, kerajinan dan selalu berpijak pada syariat agama. Motif yang mendorong timbulnya kesabaran ini ialah janji Allah SWT akan adanya pahala di dunia dan akhirat. Barangsiapa selalu melaksanakan kesabaran, maka sampailah ia menuju derajat pendekatan kepada Allah, sehingga ia pun mampu merasakan kemanfaatan dan kelezatan dalam melaksanakan ketaatan dan ia pun tak akan tenang, kecuali selalu mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan scbaiknya dia hanya fokus kepada Allah bukan pada rasa kelezatan dalam beribadah.

  1. Sabar akan kemaksiatan.

Nampak nyatanya ialah dengan menjauhi dan meninggalkan perbuatan-perbuatan itu, sedangkan hasil lahiriah yang ia peroleh jalah kemampuan menghilangkan bisikan hati dan kecondongan padanya, karena awal suatu dosa ialah bisikan hati.

Mengingat dosa-dosa yang telah lalu. Bila akan menimbulkan rasa takut dan sesal, maka lakukanlah. Tetapi, bila tidak, maka lebih baik tinggalkan. Hal-hal yang membangkitkan kesabaran ini ialah mengingat ancaman siksa Allah di dunia dan akhirat.

Barangsiapa dalam hal ini dapat sabar terus menerus, maka Allah akan memuliakannya dengan memberikan rasa enggan padanya dalam melaksanakan kemaksiatan sehingga ia berpendapat lebih baik masuk ke dalam api daripada mengerjakan maksiat walaupun sedikit.

  1. Sabar akan segala sesuatu yang tak diinginkan.

Ada 2 macam bentuk:

Pertama, sesuatu yang datangnya langsung dari Allah tanpa perantara, seperti penyakit, kemalangan, hilangnya harta benda, meninggalnya orang orang yang mulia dari sanak keluarga dan sahabat.

Yang dapat dicapai dalam kesabaran ini secara batin ialah dengan tanpa adanya gerutu, kebosanan dan keluhan, sedangkan hasil secara lahir jalah tanpa adanya pengaduan pada sesama makhluk.

Masih dalam kesabaran bila seseorang menderita penyakit kemudian ia pergi ke dokter untuk memeriksakan penyakitnya, atau berlinang air matanya ketika tertimpa musibah, tetapi jangan sampai ia melakukan hal-hal yang berlebihan, misalnya merobek robek baju dan memukul-mukul pipi.

Bentuk kesabaran seperti ini dapat memberi pengertian bahwa kegelisahan hati yang menyesakkan jiwa itu dapat menghapus pahala dan menimbulkan datangnya siksa.

Sesungguhnya orang yang mengadu kepada sesama makhluk yang tak dapat memberi manfaat serta jalan keluar merupakan tindakan yang bodoh.

Sifat inilah yang dimiliki oleh setiap makhluk, karena mengeluh merupakan tanda bahwa seseorang belum merasa cukup atas pemberian Allah SWT yang kemuliaan dan kerajaan-Nya melebihi segala-galanya. Allah telah menyebutkan adanya pahala yang besar bagi mereka yang mau bersabar menghadapi bencana dan cobaan itu.

Ingatlah, Allah lebih mengetahui dengan yang lebih manfaat bagi hamba-Nya. Karena itu, bersabarlah!

Maha benar Allah dalam firman-Nya:

‘Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan bei Ikanlah bei Ita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mercka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

Kedua, sabar akan sesuatu yag tak diinginkan datangnya dari sesama makhluk, seperti diganggu jiwa, kehormatan dan hartanya. Kesempurnaan dalam kesabaran ini ialah dengan menahan diri dari sikap murka pada si pengganggu jika ia seorang muslim.

Jangan sekali kali kau balas dia dengan kejahatan dan jagalah lidahmu untuk tidak mendoakannya dengan doa-doa yang tidak baik ataupun menyiksanya. Bersabarlah dan kendalikan dirimu dan maafkan tindakannya agar engkau mendapatkan pertolongan dan pahala dari Allah.

Dengan kesabaran seperti ini, ia akan mengetahui keutamaan mengekang kemarahan dan kebengisan, mengetahui hikmah disakiti orang lain dan keistimewaan memberi maaf pada orang lain.

Firman Allah SWT:

“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. asy-Syuura: 40)

Di ayat selanjutnya Allah SWT menegaskan:

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. asy-Syuura: 43)

Sabda Rasulullah Saw:

“Barangsiapa mampu mengekang kemarahannya padahal ia dapat melaksanakannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan kesejahteraan dan keimanan.” (al-Hadis)

Beliau juga menegaskan:

“Pemanggil di hari kiamat berseru, “Silakan berdiri siapa saja yang pahalanya atas (tanggungan) Allah.” Maka berdirilah orang-orang yang memaafkan (kesalahan) manusia.” (al-Hadis)

Siapa saja yang senantiasa sabar di bagian ini, Allah akan memuliakannya dengan akhlak mulia yang merupakan induk keistimewaan dan pemilik kesempurnaan.

Sabda Nabi Saw:

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat ditimbang di akhirat daripada berakhlak mulia. Dan sesungguhnya hamba Allah niscaya sampai dengan akhlaknya yang mulia ke derajat orang yang ahli solat dan ahli puasa.” (al-Hadis)

Beliau juga bersabda:

“Yang paling aku cintai dan paling dekat denganku tempat duduknya di hari kiamat adalah kamu yang paling mulia akhlaknya.” (al-Hadis)

Ibnu Mubarak berkata, “Akhlak yang mulia dapat ditunjukkan dengan wajah yang berseri-seri, berusaha mengabdikan dirinya demi kebaikan dan tidak menyakiti sesama makhluk.”

Imam al Ghazali berkata, “Akhlak yang mulia ialah kemantapan hati yang dapat menghasilkan aktivitas-aktivitas positif dengan mudah.”

Sabar dari Syahwat

Sedangkan kesabaran diri dari kesenangan dunia yang masih diperbolehkan oleh agama dapat dicapai dengan sempurna secara batin dengan menjauhkan diri kita untuk tidak berpikir dan cenderung ke arah sana, secara lahir ialah dengan tidak mencari dan mengejarnya.

Dari kesabaran ini muncul kesadaran bahwa mencari dan memanfaatkan kesenangan dunia dapat melalaikan seseorang dari mengingat Allah serta beribadah kepada-Nya. Lagipula hal ini dapat menjerumuskannya dalam kesyubhatan, keharaman, ketamakan pada dunia.

Sulaiman ad Darani berkata, “Meninggalkan suatu syahwat lebih bermanfaat bagi hati daripada beribadah setahun.”

Barangsiapa bersabar untuk menjauhi hal hal yang menimbulkan syahwat, Allah SWT akan memuliakannya dengan mengeluarkan syahwat dari hatinya hingga ia mampu berkata seperti perkataan sebagian orang-orang makrifat, yaitu:

“Aku menginginkan supaya aku dapat meninggalkan segala sesuatu yang kuinginkan sehingga tak satu pun keinginan yang ada dalam diriku.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker